Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Tidak terasa sudah lima bulan Bapak meninggalkan kami untuk selamanya. Jika itu terjadi saat usia saya masih kecil, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang dalam menghadapinya. Mungkin saya akan meraung setiap hari, tidak berhenti bertanya keberadaan Bapak, hingga perasaan sedih yang meninggalkan luka mendalam. Allah itu adil dalam memberi cobaan pada hambanya. Satu paket dengan hikmah yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia. Kehilangan salah satu orang tua di usia dewasa tidak memberikan saya banyak waktu untuk bersedih. Ada tanggung jawab besar yang menghadang lebih dari sekadar meratapi nasib : menjaga Ibu agar tetap sehat dan bahagia, merawat hubungan kakak adik agar semakin dekat, hingga memotivasi diri sendiri agar melanjutkan hidup lebih baik.

Hubungan saya dan bapak jauh dari kata sempurna. Sebagai anak, saya masih banyak kekurangan. Begitu juga Bapak sebagai orang tua. Perbedaan itu seringkali dalam beberapa hal menimbulkan selisih paham, sikap keras kepala dalam mempertahankan pendapat, dan mengurut dada karena tak sabar menahan emosi. Saya ingat di tahun 2017 kami tak saling bicara selama tiga hari. Hanya karena masalah ta’jil buka puasa yang telat disajikan. Bapak tiba-tiba marah  dan kami terpancing ikut-ikutan marah. Bapak “kabur” menginap di rumah nenek saya karena mungkin merasa kesal. Dampaknya melebar, yaitu Bapak tidak mau mengantar saya ke kantor dan tidak mau bicara dengan kami.

“Orang udah tua kok kelakuannya masih kaya bocah!”

Ya, saya pernah berkata demikian. Saya mempertahankan sifat “keras kepala” dengan satu alasan : saya benar dan tidak melakukan kesalahan. Saya ingin menjadi anak yang tidak hanya “diam” saat orang tua marah dengan alasan yang tidak masuk akal. Sebagai anak, saya memiliki hak membela diri. Tidak peduli siapa yang sedang dihadapi. Namun, pada akhirnya saya menyesal. Sebenarnya kami hanya butuh saling pengertian karena kami bukan tipikal orang yang suka berkata manis dalam mengekspresikan sesuatu. Bapak mungkin tidak tahu cara (atau gengsi) mengatakan tolong, maaf, atau terima kasih. Sementara kami (anak-anak dengan pemikiran yang jauh lebih modern) membutuhkan tiga kata penting itu demi tidak menyimpan luka batin berkepanjangan.

Komunikasi adalah hal terbesar yang mengganggu hubungan saya dan bapak. Lain hari, saya merasa kecewa dengan kata-kata yang beliau lontarkan. Juga dengan perbandingan-perbandingan yang mengecilkan hati saya sebagai anak karena merasa tidak dihargai. Stigma anak harus nurut dan orang tua selalu benar bagai pakem yang tidak bisa diubah, meski saya sudah melawan sekuat tenaga. Pada akhirnya, saya tetap mengalah karena tidak mau dianggap anak durhaka. Tapi jika direnungkan lagi dari sisi Bapak, mungkin ada banyak hal terlewat yang menyebabkan Bapak tidak luwes dalam menunjukkan kasih sayangnya pada anak. Kejadian masa lalu bisa jadi penyebabnya.

Bapak pernah bercerita, semasa hidupnya lebih banyak melewati hal-hal yang berat ketimbang moment-moment bahagia. Bapak bukan berasal dari keluarga kaya, tapi Bapak jelas pejuang hidup paling hebat. Bapak pernah makan telur ceplok dibagi dua dengan kakaknya, pernah berhenti sekolah selama setahun karena tidak ada biaya dan harus mengalah bergantian dengan saudaranya, serta pernah berjualan buah-buahan di stasiun kereta. Saking kerasnya kehidupan, mungkin Bapak tidak sempat merasakan kasih sayang dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Sehingga yang lebih sering keluar adalah sisi buruknya, ketimbang sisi lembutnya yang saya percaya jauh lebih banyak.

Saya pernah bilang ke salah satu teman, Bapak adalah orang paling galak, tapi Bapak juga orang yang sering membuat saya menangis hanya karena menatap wajahnya. Kedengarannya tidak masuk akal, apalagi jika sudah kesal dengan ucapan Bapak, saya bisa kecews sampai tidak mau keluar kamar. Namun, di moment-moment tertentu, ikatan batin ayah dan anak tidak bisa dibohongi. Bapak tetap terbaik. Bapak tidak bisa digantikan oleh laki-laki manapun.

Ketika saya sakit, orang yang siaga mengantar ke dokter 24 jam adalah Bapak. Ketika saya membutuhkan jemputan malam-malam setelah berpergian, Bapak rela menahan kantuk agar bisa mengantar saya selamat sampai rumah. Ketika hujan turun deras, Bapak rela menjemput dan mengantar saya ke kantor hanya bermodalkan jaket tipis. Sampai beberapa hari sebelum beliau meninggal, Bapak masih sempat menjemput saya ke kantor dan memastikan saya pulang dengan selamat. Ketika ada laki-laki yang main ke rumah, saya tahu beliau khawatir laki-laki itu tidak baik, tapi beliau tidak mau saya kecewa. Jadi, beliau hanya diam dan pura-pura bersikap galak.

Begitu juga dengan saya. Semarah-marahnya pada Bapak, saya tidak pernah tega membiarkan orang lain melukai hatinya. Setiap Bapak sakit, diam-diam saya pergi ke kamar hanya untuk mengecek apakah Bapak masih bernapas atau tidak. Saya kelihatannya anak yang cuek, tapi saya diam-diam khawatir jika Bapak belum pulang ke rumah atau Bapak pergi tanpa kabar. Lagi-lagi bentuk kasih sayang itu tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata langsung. Hanya berupa tindakan yang Bapak juga tidak pernah tahu. Maka tidak heran, Bapak sering bilang, saya tipe anak yang tidak peduli. Padahal setiap berdoa, nama beliau tidak pernah absen dari mulut saya. Meski dalam beberapa hal sikap Bapak menyebalkan, tapi saya selalu mencoba memberi perhatian kecil pada beliau.

Sebelum usia dewasa dan memasuki keras kepala, hubungan kami sesungguhnya jauh lebih hangat. Moment yang tidak akan saya lupakan adalah Bapak tidak pernah lupa membelikan kami oleh-oleh setiap pulang dinas kerja dari Lembang. Bapak adalah pekerja keras. Lebih dari puluhan tahun bolak-balik kerja Jatibarang-Cirebon hanya mengendarai motor. Kami sering meledek kulitnya berubah hitam karena sering terkena sinar matahari. Tapi dari tangan gigih Bapak, kami semua bisa kuliah di luar kota dan berhasil menyandang gelar sarjana. Sesuatu yang tidak bisa Bapak capai karena kendala biaya dan keadaan.

Ibu pernah cerita, Bapak tidak pernah mengambil cuti kerja karena lebih baik uang cutinya dipergunakan untuk biaya pendidikan. Kami pernah melewati masa-masa keuangan yang sulit hingga tidak punya kesempatan untuk pergi wisata atau membeli barang-barang canggih. Sampai akhir hidupnya, Bapak hanya memiliki ponsel nokia yang masih saya simpan hingga sekarang. Beliau belum sempat menyaksikan video youtube lebih lama, berkirim pesan lewat WhatsApp, atau mencari berita lewat pencarian google. Ketika saya berhasil membeli HP baru dari hasil berjualan baju secara online, Bapak sempat berkata : “Tadi-tadi HP lamanya buat Bapak aja.” Nada bicaranya bercanda, tapi saya tahu beliau menginginkannya.

Meski hubungan kami tak selalu harmonis, Bapak tetap meninggalkan memori indah bagi saya. Ketika beliau selesai membersihkan rumah, Bapak selalu bertanya pada saya : “Dapet nilai berapa, Mi?” dan saya pasti selalu menjawab dengan nilai sembilan karena Bapak memang paling apik dan rajin dalam membersihkan rumah. Saat beliau sudah tidak ada, tugas itu saya teruskan. Saya pastikan kaca jendela rumah selalu bersih, rumput di halaman dipangkas secara teratur, bunga-bunga disiram, dan mengepel lantai sesering yang beliau lakukan. Beliau juga rajin sekali sholat subuh berjamaah di Masjid, maka sebisa mungkin kami meneruskannya. Raga Bapak boleh saja pergi, tetapi kebiasaan baik Bapak saya pastikan tidak akan pernah hilang. Membayangkan Bapak sedang duduk di alam sana dengan tenang adalah upaya yang akan selalu kami lakukan.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi Bapak mengajarkan satu hal : cinta anak pada orang tua akan abadi selamanya.



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Gimana kabar kamu?"
"Gimana keadaan kamu?"

Seringkali kita mendapat pertanyaan seperti itu, baik dari teman lama atau sahabat dekat. Seringkali pula template jawaban kita selalu sama, meski dalam kondisi berbeda : alhamdulillah, sehat atau aku baik-baik aja. Dalam kondisi normal, menjawab "baik-baik" saja tentu sangat melegakan. Tidak ada kebohongan. Aura wajah terpancar jelas dari senyum lepas atau ketikan chat yang terbaca menyenangkan.

Lalu, bagaimana seandainya kita sedang tidak baik-baik saja? 

Beberapa hari lalu, Ibu bertanya dengan wajah heran, alasan kenapa saya tidak menangis padahal saya sudah kehilangan salah satu yang terdekat? Apa saya baik-baik saja? Apa saya sebenarnya sedang memendam sesuatu, tapi enggan bercerita? Pertanyaan itu bagi saya tidak mengherankan. Normalnya, orang yang baru saja kehilangan, pasti merasa patah hati dan menangis. Sayangnya, saya malah terlihat biasa saja. Berkegiatan seperti biasa, tertawa, tidur dengan nyenyak, dan makan masih lahap.

Saya jawab, sebenarnya saya tidak baik-baik saja. Setiap malam sebelum tidur, saya suka gelisah. Saya ingin menangis, tapi saya tidak bisa menangis. Saya tidak tahu mengapa air mata saya tidak mau keluar padahal hati saya sedih luar biasa. Ini mungkin yang membuat saya tampak baik-baik saja. Saya kadang sulit mengekspresikan sesuatu karena mungkin saya tipe anak yang terbiasa "dipaksa" legowo.

Mengaku "tidak baik-baik saja" bukanlah sebuah kesalahan atau menunjukkan kita makhluk paling lemah, tak berdaya, rapuh, dan tidak memiliki daya. 

"Saya sedih."
"Saya butuh waktu sendiri."
"Saya butuh teman ngobrol."
"Saya patah hati."
"Saya terpuruk."

Kalimat-kalimat tersebut bisa kita ucapkan secara jujur. Bukan sebuah kelemahan. Hanya menunjukkan bahwa kita manusia biasa. Kita mungkin tak sekuat manusia lain saat menghadapi cobaan hidup, tapi kita tidak boleh menyiksa diri sendiri dengan kebohongan-kebohongan yang semakin menumpuk. Mengaku jujur dengan kondisi kita akan memudahkan menemukan solusi. Berat memang. Tidak semua orang mengerti kondisi kita atau tidak semua orang mau memposisikan sebagai diri kita. But, who's care? Sebelum memikirkan apa kata orang, selamatkan diri kamu dulu. Sama halnya sebelum membahagiakan orang lain, bahagiain dulu diri kamu.

This is also a reminder for myself. 
I'm not ok and that is not a weakness.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pinterest
Saya masih ingat kejadian tahun 2012. Tahun paling buruk selama hidup saya dan sialnya saat itu saya masih kuliah semester empat dan tinggal jauh dari orang tua. Diawali dengan sakit flu karena begadang semalaman membaca sebuah novel, besok paginya semua mendadak berubah. Saya merasa seperti bukan diri saya, saya merasa jiwa yang bersemayam di tubuh bukan lah diri saya. Saya tidak mengenali siapa yang ada di dalam.

Pikiran waras saya berontak, tapi selalu berakhir dengan rasa letih luar biasa yang juga tidak saya kenali. Mood turun drastis. Rasanya berat sekali turun dari tempat tidur padahal seharian saya tidak melakukan kegiatan apa pun. Sekali lagi, saya masih berpikir waras. Mungkin saya memang sakit flu. Pergi lah saya ke apotek dekat kampus. Ajaibnya, dokter bilang tidak apa-apa hanya kelelahan saja. Sejujurnya, saya tidak puas dengan jawabannya karena saya merasa tidak lebih baik. Saya justru ketakutan. 

Hari-hari selanjutnya seperti mimpi buruk. Bukan hanya malas beranjak dari tempat tidur, saya juga jadi malas makan, mandi, dan bersih-bersih kamar kost. Cucian baju saya biarkan menumpuk dan kehilangan selera makan. Saya lebih sering menangis karena benar-benar merasa saat itu bukan lah diri saya. Saya suka kerapian dan kebersihan, makan saya lahap, dan saya lebih banyak tertawa. 

Saya masih terus melawan dengan berpikir positif dan bercerita ke teman-teman dekat. Namun, saya akui saat itu tidak banyak yang peduli. Ada yang bilang saya mulai gila. Saya tidak bisa juga menyalahkan mereka karena kondisi saya yang memang tidak stabil. Cerita ke orang tua juga sudah, tapi apa daya mereka juga fokus pada penyembuhan kakak laki-laki saya yang mengidap OCD. 

Saya sendirian. Saya tetap melawan. Meski semakin hari semakin tidak terkendali. Bayangkan, tubuh dan jiwa kamu letih, tapi mata kamu tetap tidak bisa terpejam. Besok paginya seperti keajaiban kamu tidak mengantuk sama sekali. Ya, itu yang saya rasakan. Belum lagi, saya harus tetap tampil seolah baik-baik saja agar kegiatan kuliah saya dan hubungan sosial dengan teman-teman tetap berjalan. Meski beberapa kali setiap mengobrol, saya sering tidak fokus. Atau ketika mengobrol saya merasa senang, tapi begitu sampai tempat kost saya mendadak menangis tanpa sebab. Bahkan saya sempat ada pikiran ingin bunuh diri dengan cara melompat ke salah satu jembatan di Bandung. Sad, but true. Sempat ada dalam kondisi seputus asa itu. Kalau ada yang bilang saya kurang ibadah ya miris banget, karena kenyataannya dalam kondisi mental paling buruk pun saya tidak pernah meninggalkan sholat dan mengaji.

Ada satu hal yang saya sesali hingga detik ini, betapa saya tidak pernah mendapatkan bantuan ahli untuk menemukan jawaban dari rasa "sakit" saya. Terbawa stigma yang mengatakan saya kurang dekat sama Tuhan atau ada dosa yang harus saya tebus. Maka ketika itu, tidak ada pilihan lain. Hal yang bisa saya lakukan hanya sekuat diri melawan semampu saya. Dengan menahan "sakit" dan halusinasi yang mulai muncul, saya berusaha untuk keluar dari situasi kacau. Saya paksa banyak melakukan kegiatan di luar yang membuat saya tidak sendirian. Saya paksa juga sering mengobrol dengan teman-teman kost agar saya tidak banyak melamun. Setiap kali gagal dan berakhir menangis, saya berusaha untuk tetap berkegiatan. Hingga tak terasa saya mulai "lepas" dari semua itu sekitar satu tahun kemudian dan saya merasa sudah normal kembali.

Itu mimpi buruk mengerikan yang tidak mau terulang!

***

Pertanyaannya, apakah saya benar-benar lepas dari perasaan depresi?  Tentu tidak. Namun, saya (sejauh ini) tidak memiliki perasaan "mengerikan" yang membuat saya "lumpuh total" seperti dulu. Bedanya juga, diri ini jauh lebih menerima. Saya tidak mau lagi memaksa diri saya untuk terus melawan, tapi saya ingin selalu menjadi "teman baik" untuk diri saya. Jika perasaan depresi muncul, saya ajak bicara baik-baik. Saya tawarkan dengan menggambar, membaca buku, menulis novel, jajan camilan, atau menonton drama korea yang membuat hati senang. Tidak selalu berhasil, kadang saya juga lemah dan keburu menyerah, hingga berakhir meringkuk di dalam kamar tanpa berkegiatan.

Kok bisa saya masih kelihatan normal, termasuk dalam bekerja dan bergaul dengan orang lain? Tentu saja bisa. Tapi tidak semua paham, bahwa orang dengan kondisi seperti saya kadang bisa "kelelahan" tanpa sebab. Dan yang dapat mengendalikan itu semua tentu saja balik lagi ke diri kita. Kalau memang tidak kuat, sebaiknya menghindar dulu untuk menenangkan diri.

Perlu diakui, suka atau tidak suka, setiap orang memiliki perasaan depresi sendiri akan suatu hal atau dalam menghadapi masalah. Belum lama saya kehilangan Bapak karena sakit. Bukan hanya perasaan yang hancur, tapi menjalani hari rasanya tidak semangat karena tidak ada lagi sosok yang setiap hari ada di rumah. Sosok yang bisa saya lihat, sentuh, atau diajak bicara. Tidak mau lagi terjebak dalam perasaan sedih berlarut-larut hingga pikiran depresi muncul kembali, saya selalu berkompromi dengan diri saya. Meyakinkan setiap hari jika semua sudah Kuasa Allah. Jika ditakdirkan terjadi, saya tidak mungkin bisa mencegah. Sekali lagi, itu tidak mudah. Tapi saya tidak mau menyerah.

Seringkali, saya tidak minta hal yang muluk-muluk seperti saya harus selalu ceria, tidak banyak mengeluh, atau harus selalu produktif setiap hari. Tidak, ada kalanya saya mengembuskan napas, mencerna beberapa kejadian dengan perasaan sedih, atau menangis beneran karena diri ini merasa nggak berharga. Maka saya hanya minta pada diri saya untuk terbiasa menerima. Menerima bukan berarti pasrah pada keadaan, bukan pula tidak mau berusaha. Menerima yang dimaksud seperti..."ya sudah tidak perlu berpikir keras untuk hal-hal yang bikin menyiksa diri". 

Jadi, melawan perasaan depresi itu tidak pernah mudah. Kamu bisa senang ketika berhasil melewati, tapi kamu juga harus siap ketika gagal dan hasilnya tetap belum berubah. 

Tidak apa-apa. 

Coba lagi.
Coba lagi.
Coba lagi.

Tidak perlu dipaksa. Tidak perlu terlalu keras sama diri kamu. Lebih baik pelan-pelan merangkul agar bisa melewati suatu kondisi bersama-sama. 

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Photo by Pinterest
Sebagai mbak-mbak kantoran yang sudah bekerja lebih dari dua tahun, bohong banget kalau selama itu saya selalu menikmati pekerjaan saya. Ada kalanya saya dalam keadaan tertekan, stress karena jumlah pekerjaan yang banyak, bosan dengan rutinitas kerja yang itu-itu saja atau karena sedang tidak sepaham dengan rekan kerja. Jika ada yang berkata : "Gue mah nggak pernah stress di tempat kerja", yang langsung ada di benak saya : "Seriously? Gimana caranya? Ko saya nggak bisa? Bahkan saya pernah nangis ketika tiba dari rumah selepas pulang kerja". Biasanya karena keletihan yang luar biasa menguras fisik atau karena simply saya merasa pekerjaan semakin nggak terkendali.

Pernah merasakan? Tenaaang kamu nggak sendirian. Sesekali mengeluh itu manusiawi. Toh kita manusia biasa. Bukannya kita tidak bersyukur dengan pekerjaan yang kita miliki, tapi ada keadaan yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ya nggak apa-apa. Di keluarkan saja. Kalau mau nangis, ya nangis. Mau marah, ya silakan (asal jangan di depan orang lain atau malah sering kebablasan nggak sadar seperti saya? Haha). Intinya kalau udah merasa stress atau tertekan, nggak usah sok-sokan tegar atau kuat. Kita memang bukan superman atau supergirl ko. 

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari rasa stress itu, minimal kita tau apa yang harus kita lakuin saat stress melanda kembali 😂 menurut pengalaman pribadi, stress dapat di atasi ketika kita tahu penyebab atau pemicunya. Misalnya, saya biasanya akan stress ketika menjelang akhir bulan. Kenapa? Karena kerjaan numpuk bak air bah hahahha lebay tapi serius. Terus biasanya menjelang datang bulan. Bagi perempuan, pasti tau banget deh rasanya gimana. Mood kacau, tapi kerjaan harus tetap selesai tepat waktu. Kemudian saat bos beres cuti atau meeting dari luar kota, karena pekerjaan saya membutuhkan tanda tangan beliau, otomatis kalau beliau nggak ada pekerjaan saya terpending dan akan super busy beberapa hari kemudian.

AAAAARRGGGHHH!!!!

Atasan saya di kantor pernah bilang, saat rekannya bertanya dia harus bagaimana saat stress menghadapi pekerjaan, beliau dengan enteng menjawab : "Ya nggak gimana-gimana. Di kerjakan lah". Dari situ saya mikir. Ada benarnya juga ya. Maksudnya gini loh, saat kita stress menghadapi pekerjaan jalan satu-satunya ya memang harus di hadapi dan di kerjakan. Kalau cuma diem dan meratapi juga percuma. Pekerjaan nggak kelar-kelar, stress juga nggak berkurang. Yang ada malah nambah. Tapi ketika kita berhasil menyelesaikan pekerjaan kita (dengan di iringi rasa tertekan, marah yang membuncah, mengeluh dan bla bla bla), setidaknya beban kerjaan kita berkurang daaan biasanya rasa stress juga ikut berkurang.

Inget aja mantra : "This is just a bad day, not a bad life" sambil menyelesaikan pekerjaan. Pokoknya saat sedang stress di tempat kerja, sebisa mungkin saya bilang dalam hati : "Ini akan segera berlalu" atau "Kalau dikerjakan nanti, bakal numpuk ni kerjaan dan yang ada gue makin stress". Haha sejauh ini sih ampuh. Oh iya, yang paling penting istirahat sejenak saat mulai merasa letih. Biasanya sih saya ngobrol sama rekan kerja atau jajan di warung depan kantor 😁

Memiliki hubungan baik dengan atasan dan rekan kerja juga sangat penting dalam mengatasi stress di tempat kerja. Justru keduanya berperan besar saat kita berada di lingkungan kerja. Kebayang dong makin stressnya kalau kerjaan numpuk, punya atasan yang nyebelin atau rekan kerja yang annoying? Hih! gaji besar juga rasanya percuma ya. Maka beruntunglah kamu jika hanya sekedar stress dengan pekerjaan, tapi memiliki atasan yang masih memberikan support atau rekan kerja yang masih bersedia membantu.



Semangat bekerja!

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Iseng-iseng ngadain pooling di Instagram mau bikin postingan apa di blog, dua dari lima DM yang masuk, menyarankan untuk posting review skincare. Baiklaaah, posting pertama akan bahas skincare dulu. 

DAN LANEIGE LAGI!

APAKAH INI EFEK BRAND AMBASSADOR-NYA YANG BARU NIKAH? 🤣

Nggak, dasar aja saya ketagihan *elus-elus dompet* 

Setelah postingan sebelumnya membahas Laneige Anti-Pollution Care kali ini saya akan membahas Laneige Good Night Care Kit dan Sun Cream. Semuanya kemasan kit ya alias travel size. 

1. Lip Sleeping Mask


Ini favorit banget. Super love! Jangan judge ukurannya yang super mini. Isinya padat dan sekali colek bisa buat olesin seluruh bibir. Digunakan sebelum tidur. Wangi stroberinya harum dan lembab di bibir. Sampai bangun tidur pun masih terasa lembab. Sebelumnya, saya suka pake lip balm dulu sebelum pake lisptik karena bibir saya kering dan suka ngelupas. Sejak pake Lip Sleeping Mask, saya bisa langsung pake lipstik yeeey! 😄

2. Eye Sleeping Mask


Kabar baik untuk yang memiliki mata panda 🐼. Eye Sleeping Mask bisa membantu kamu mengurangi lingkaran hitam dibawah mata. Bentuknya gel. Setelah menggunakan kurang lebih 2 minggu, terlihat lingkaran hitam dibawah mata saya memudar. Hilang keseluruhan sih belum ya, tapi setidaknya nggak keliatan hitam banget. Kesannya lelah banget ya booo menjalani hidup yang berat ini #tsaaaaah.

3. Water Sleeping Mask


Sleeping Mask sudah di bahas di postingan sebelumnya ya. Bedanya hanya di aroma saja, yaitu Lavender. Karena ini kali kedua saya pake sleeping mask, sesuai anjuran dari web resmi Laneige, cukup digunakan 3 sampai 4 kali dalam seminggu.

KEBAYANG NGGAK TUH SEBELUM TIDUR PAKE 3 SKINCARE SEKALIGUS! 🤣🤣🤣

4. Watery Sun Cream


Awalnya iseng beli ini karena sun cream saya abis. Saya pikir bentuknya gel atau air gitu, ternyata bentuknya krim padat. So far sih cocok di wajah saya karena belum ada efek samping kaya wajah merah atau timbul jerawat. Meskipun cocok, tapi saya merasa kurang nyaman digunakan diwajah saya dibandingkan dengan sun cream sebelumnya dengan merk lain. Nggak nyamannya karena saat di aplikasikan di wajah, saya merasa wajah saya tebal kaya pake bb cream (btw, saya nggak suka pake bb cream karena nggak cocok). Belum lagi creamnya agak basah (mungkin karena watery) jadi saat ditimpa pake bedak, ya bedaknya kurang nempel. Selama ini solusinya, setelah pake laneige sun cream, saya diemin dulu beberapa menit baru setelah itu ditimpa bedak. Untuk daya tahan okelah, karena dipake aktivitas siang hari sampai sore muka masih tetap cerah 😃

Sekian review-nya, sekali lagi balik ke kondisi kulit wajah masing-masing ya. Belum tentu cocok atau nggak cocok. Kalau saya tipe orang yang nekad kalau cobain skincare. Beli dulu, baru tau hasilnya. Tapi ada baiknya baca review produknya dulu.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu kurus (42 kg saat awal kuliah) kemudian melesat hebat sampai di angka 58 kg hahaha. Dengan tinggi 165 cm sebenarnya nggak terlalu masalah sih bb segitu, tapi ya tetep ngeri kalau udah mendekati 60 kg. Apalagi pola makan saya tuh berantakan banget. Ngemil sepuasnya, makan sepuasanya, jajan sepuasnya. Duh Gusti :(

Oke, memutuskan untuk diet karena selain ingin bb turun, juga untuk memperbaiki pola makan yang seenaknya jidat ini. Masalahnya memilih program diet yang cocok untuk tubuh saya yang menderita maag kronis sungguhlah tidak mudah. Makanya ketunda terus. Mau diet ini, takut maagnya kambuh. Mau diet itu, ko ya ribet amet. Setelah research di internet bolak balik sampai mata jereng, akhirnya di pilihnya diet GM. Kenapa? Alasan utamanya saya masih bisa kenyang dengan menu-menunya, jadi aman untuk lambung saya.

Yang mau tau tentang diet GM bisa search di google aja ya. Penjelasan dan menunya lengkap.  

Oh ya, diet GM ini hanya boleh dilakukan satu bulan sekali selama 7 hari.


  • Hari pertama
Di hari pertama hanya boleh makan buah-buahan (selain pisang) sampai kenyang. Di sarankan makan buah melon dan semangka.


Bagi saya hari pertama adalah yang paling berat karena lambung saya mau nggak mau harus beradaptasi hanya dengan asupan buah-buahan. Tanpa nasi, lauk apalagi cilok dan bakso ikan haha. Rasanya kaya orang puasa beneran. Sempet lemas, tapi saya hajar pake dua buah apel. Alhamdulillah kenyang sampai malem.

  • Hari Kedua
Di hari kedua hanya boleh makan sayur-sayuran sampai kenyang. Boleh di oseng, rebus atau di bikin sop. Kalau saya untuk sarapan buat sop kentang dan wortel. Makan siang bawa bekel osengan jagung, jamur kuping, wortel dan sawi hijau.


Note : jamur kuping itu di luar menu diet GM ya. Saya tambahin sendiri biar nggak enek. Jangan di tiru 😁

  • Hari Ketiga
Di hari ketiga boleh makan sayuran dan buah-buahan (selain pisang). Nah, di hari ketiga ini lambung saya sudah bisa di ajak beradaptasi tanpa makan nasi. Ternyata lambung saya baik-baik saja. Saya tetap merasa kenyang.


Menu sayuran dan buahnya tetap sama seperti hari pertama dan kedua. Biar nggak bosan di variasiin aja cara masaknya. Misalnya jagungnya di bikin sop atau cuma di rebus kaya di gambar.

  • Hari Keempat
Di hari ke empat hanya boleh makan pisang dan susu. Saya sempet diare di hari ke empat karena ternyata efek susu dan pisang itu melancarkan pencernaan. 



Di sarankan pisangnya enam buah untuk sehari. Tapi saya cuma beli lima dan ternyata saya cuma makan tiga dan udah kenyang seharian. Untuk susu pilih yang low fat. Rasanya nggak enek.

  • Hari Kelima
Di hari kelima sudah boleh makan ikan atau daging ayam tanpa kulit dengan buah tomat. Kalau saya pilih daging ayam dada (padahal saya lebih suka paha ayam hiks). Tomatnya saya buat sambal.



  • Hari Keenam
Di hari keenam menunya adalah daging ayam tanpa kulit atau ikan dengan sayuran. Sayangnya saya lupa foto hiks. Saya makan pake ikan mujaer dan kangkung 😁

  • Hari Ketujuh
Di hari terakhir diet GM ini makan sayur, buah dan nasi merah. Karena saya nggak ada persediaan nasi merah, jadi saya ganti tempe. Tetep kenyang ko.

Fotonya asal aja haha

Review seputar diet GM :

  • Tantangan terbesar dalam menjalankan diet GM adalah menghindari ngemil. Jujur saja, saya beberapa kali kecolongan ngemil. Pie susu, tahu bulat, surabi dan terakhir risoles. Haha jangan di tiru ya. Sebagai manusia biasa aku tak kuasa menahan godaan :( *alasan
  • Persiapan diet GM saya terbilang mendadak. Jadi saya nggak sempet stok buah dan sayur yang banyak. Akibatnya menu yang di masak itu-itu aja. 
  • Jangan pasang ekspektasi berlebihan. Misalnya turun 10 kg dalam seminggu. Itu nggak mungkin. Yang paling penting badan jauh lebih sehat dan segar karena makanan yang masuk terkontrol.
  • Imbangi dengan olahraga. Sebelum berangkat kerja saya biasanya melakukan olahraga ringan dan lari di tempat. 
  • Berterima kasih lah kepada diri sendiri karena sudah berusaha semangat dan konsisten menjalankan diet. Nggak menyerah di tengah jalan.
Taraaa... bb saya turun 3kg dalam waktu seminggu. Target selanjutnya sih 51kg 😁



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar

Waktu kecil ketika malam minggu tiba, Bapak hampir selalu mengajak saya dan kakak perempuan saya keluar rumah naik motor yang setia menemaninya bekerja bolak balik Jatibarang-Cirebon. Saya selalu duduk di depan, sedangkan kakak saya di belakang. Kami bertiga tidak pergi jauh. Biasanya hanya mengunjungi sebuah toko untuk membeli beberapa kue atau es krim. Terkadang kami juga makan bakso dan es teler bersama di samping bangunan sebuah bioskop yang sudah tidak terpakai.

Pada suatu malam minggu, saya yang masih duduk di bangku SD merengek minta dibelikan sekotak susu merk terkenal saat kami sedang memilih es krim di sebuah toko. Saat itu dengan percaya diri Bapak mengambil kotak susu yang saya inginkan dan membawanya ke hadapan kasir tanpa bertanya harganya terlebih dahulu.

"Ini harganya 55, pak" kata kasirnya

Dengan polos Bapak bertanya lagi, "5.500?"

"Bukan, 55 ribu"

Bapak langsung terdiam. Wajahnya nampak bingung sambil menatap wajah saya. Sepertinya Bapak tidak membawa cukup uang. Dan entah bagaimana dengan reflek saya mengambil kotak susu tersebut dari kasir dan menukarnya dengan merk susu harga 11.000 :)

Wajah Bapak nampak lega. Saat tiba di rumah Bapak mengatakan bahwa saya sudah menyelamatkannya dari rasa malu hehehe.

Sebenarnya saya sudah mengerti bahwa bukannya Bapak tidak membawa uang cukup, tapi Bapak belum mampu membeli.

Sejak itu saya mulai membiasakan diri membeli barang dengan bertanya harganya terlebih dahulu. Bukan karena takut malu, tapi saya ingin membeli barang sesuai dengan kemampuan saya. Kalau memang belum mampu, ya sudah. Memaksakan memiliki sesuatu padahal belum mampu hanya akan menyulitkan hidup kita sih :)


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Nggak kerasa tanggal 17 Januari 2017 masa berlaku paspor saya sudah habis. Sedih, padahal belum sempet travelling ke Eropa :( *dikeplak*

Awalnya saya nggak berniat untuk perpanjang paspor dalam waktu dekat. Mengingat mengurus paspor itu butuh waktu yang nggak sebentar dan saya males izin kerja. Tapi bener kata orang, godaan travelling emang suka dateng pas paspor sudah expired. Dan godaan itu datang dari kakak perempuan saya. Sempet nggak tergoda karena takut nggak di bolehin cuti lama, tapi akhirnya saya tergoda. *anaknya emang gampang dirayu*

Oke, tanggal 13 Juli 2017 saya berangkat jam tujuh dari rumah ke kantor imigrasi Cirebon yang memakan waktu sekitar satu jam. Dari sini drama di mulai. Sebenarnya udah ada tanda-tanda nggak enak. Di mulai dari Bapak saya minta pulang lagi karena pengen pipis dan pengennya pipis di rumah.

Ya Allah padahal udah agak jauh jalannya :(

Sabar....

Yaudah lah kita balik lagi kerumah dan baru berangkat jam setengah delapan. Sampe kantor imigrasi jam setengah sembilan. Dan yeah walaupun mencoba untuk nggak mempercayai berangkat ke imigrasi harus pagi-pagi -karena percaya proses di imigrasi udah lebih baik, toh akhirnya tetep nggak dapet no antrian.

"Harus nyampe sini jam setengah enam pagi, Neng. Loket antrian sudah buka" kata petugas imigrasi.

Ebuset, dari rumah jam berapa tuh? Hmm

Akhirnya saya dapet no antrian Waiting List no 07 tanggal 28 Juli 2017. Jadi, petugas imigrasi itu ngasih kita 2 opsi antrian. Mau antri subuh-subuh atau pake antrian WL itu. Yaudahlah saya pilih antrian WL, mau gimana lagi? Terlalu capek kalau besok harus dateng lagi. Subuh-subuh pula. Hikmahnya, saya disarankan untuk mengecek berkas-berkas persyaratan. Dan ternyata saya kurang syarat, yaitu surat referensi dari perusahaan tempat saya bekerja. Fiuuuuh untung, nggak terlalu sia-sia sebenarnya.

Note : bagi yang berstatus karyawan, ada yang bilang nggak perlu pake surat referensi kerja, tapi saya saranin untuk bawa karena petugas imigrasi nggak mentolerir berkas persyaratan yang kurang. 

Walaupun sudah dapet antrian WL, saya tetep berangkat pagi-pagi dari rumah. Saya pengen urusan ini cepet beres. Yakaliii bolak balik mulu dikira nggak pegel :( dan sampai imigrasi saya langsung menukar antrian WL saya. Dapet lah antrian no 1.

Perlu diketahui, loket antrian memang buka dari jam setengah enam pagi, tapi pelayanan buka jam setengah sembilan. Itu artinya kita tetep aja nunggu sampai kantor buka. Untungnya ada fasilitas kantin, tempat duduk, toilet yang bersih dan Musholla. Jadi, nggak terlalu betelah nunggunya.

Jam 8 lebih saya langsung masuk kantor imigrasi dan disuruh menunggu didepan loket pelayanan informasi. Nah, nanti no antrian kita dipanggil sama petugas untuk verifikasi berkas persyaratan.

Dan tibalah giliran saya....
  • Kartu Keluarga asli dan fotokopi, oke.
  • E-KTP asli dan fotokopi, oke. Oh ya just info, harus E-KTP ya. Soalnya saya lihat ada yang di suruh balik lagi karena pake KTP Dishub alias KTP sementara. Jadi, nggak bisa di proses hari itu.
  • Paspor lama asli dan fotokopi bagian depannya saja.
  • Surat referensi pekerjaan asli. 
  • Akta kelahiran asli dan fotokopi. 
Jreng...jreng...drama lainnya pun di mulai.

Awalnya proses verifikasi berkas berjalan lancar sampai petugas bertanya : "Nama ibunya sebenarnya siapa?"

Hah? Sempet nggak ngeh dan jawab dengan muka polos...SITI URIPAH.

"Kenapa di akte kelahirannya diketiknya nyonya uripah?"

WADUH.

KERINGAT DINGIN.

DEG-DEGAN.

Jujur aja, saya nggak pernah betul-betul ngecek akta kelahiran saya. Yang penting nama ejaan saya bener. Udah gitu doang.

MASA IYA KUDU BALIK LAGI KAYA ORANG DI SAMPING GUE? :(

Alamaaak jujur aja waktu bikin paspor lama nggak seketat ini. Seinget saya nggak pernah ditanyain sampai detail gitu. Jeli juga mata petugasnya hmmm.

Tapi kepanikan saya hanya sesaat, dengan pede saya jawab : "Waktu bikin paspor lama nggak masalah tuh". Padahal dalam hati dag dig dug deeer!

Petugas yang udah bapak-bapak tua itu pun akhirnya nginyem dan meloloskan saya ke tahap selanjutnya. Fiuuuuuh!
Oh ya, jangan lupa beli surat pernyataan bermaterai di koperasi imigrasi. Jangan kaya saya yang memang udah lupa ngurus paspor, disuruh beli dulu ke koperasi saat sedang verifikasi berkas berlangsung.

Tahap selanjutnya kita dapet no antrian lagi untuk wawancara dan foto di hari itu juga. Yaaas untuk yang satu ini saya harus mengakui proses di imigrasi jauh lebih baik dari waktu saya bikin paspor pertama kali di Bandung. Udah mana ngantrinya berjam-jam cuma buat verifikasi berkas. Dijamin bikin emosi lah :(

Begitu no antrian kita di panggil, kita di minta berkas-berkas persyaratan yang asli lagi. Diperiksa lagi. Degdegan lagi wkwk. Abis itu kita foto sambil di wawancara rencana kunjungan kita kemana. Harus jawab jujur ya karena (katanya) akan mempengaruhi paspor kita bakal disetujui terbit atau tidak.

Beres wawancara dan foto, saya harusnya dikasih dua lembar print out : buat ngambil paspor nanti dan billing pembayaran. Dan sialnya, giliran saya print out billing pembayaran sedang maintenance alhasil kode billing nggak muncul.

Yaelaaa, drama apalagi iniiiiiii....

Sama petugas dikasih tau kalau kode billing nanti di sms. Saya nggak tau sih kalau di kantor imigarsi lain, tapi kalau di imigasi Cirebon ada no yang bisa di hubungi untuk sms gateway. Jadi kalau mau tau info tentang proses paspor kita bisa hubungi no tersebut dan di balesnya cepet loh. Sangat membantu.

Balik lagi, ternyata drama belum berakhir. Sudah 2 hari sejak wawancara dan foto, saya belum juga disms kode billingnya. Ya gimane mau bayar kalau nggak ada kode billingnya? Oh ya, sekarang pembayaran paspor bisa melalui semua bank dan kantor pos. Jadi, nggak cuma bank BNI aja. Total pembayaran Rp. 355.000 untuk jenis paspor biasa 48 halaman.

Hari Senin tanggal 31 Juli 2017 saya memutuskan untuk mengirim sms gateway untuk mendapatkan kode billing pembayaran paspor saya. Cukup lama balesnya nggak seperti biasa. Anjiiiir saya selalu degdegan aja jadinya. Satu jam kemudian hp saya bunyi dan yaaaaa saya dikasih tau kode billingnya. Tanpa pikir panjang saya langsung bayar dan nunjukin kode billing ke teller BRI. Kenapa BRI? Karena ada di samping kantor saya. Tinggal jalan kaki haha.

Dan drama masih berlanjut. Saat menunggu antrian di bank saya sempet dicaperin sama CSnya. Pantes dari saya masuk bank gelagatnya udah aneh. Ya nawarin nulis slip di mejanya lah, pura-pura nanya no antrian dan terakhir minta no hp dengan alasan harus ditulis di slip pembayaran.

Kemudian....dia whatsapp. Nanyain saya udah berkeluarga atau belum.

Cape deeeeh!

Dari pihak bank kita dapet slip pembayaran dan print out bukti penerimaan negara atau apa gitu saya lupa hehe. Nah nanti dua-duanya dibawa saat pengambilan paspor beserta print out dari imigrasi itu. Paspor sudah jadi tiga hari setelah pembayaran. Disarankan pengambilan paspor jam satu siang.

Dan taraaaaa....paspor baru saya sudah jadi.

Paspor Baru

Pengambilan paspor nggak lama ko. Dan nggak pake no antrian. Bagi kamu yang paspor lamanya ingin dikembalikan seperti saya, saat disuruh fotokopi paspor baru, kamu akan disuruh juga untuk membeli surat pernyataan pengembalian paspor lama bermaterai dan fotokopi satu lembar.

Paspor Lama

Semoga informasinya bermanfaat ya :)




Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Hari ini saya mau narsis. Kenapa? Karena saya akan cerita tentang diri saya. 

Pede ya? Hahahaha.

Tulisan ini sebenarnya berakar dari pertanyaan beberapa teman yang bertanya bagaimana mulanya saya hobi membaca buku dan menulis -sampai memutuskan untuk membuat personal blog dan masih konsisten menulis postingan terbaru. Waktu itu nggak pede jawabnya karena saya cuma blogger biasa yang doyan nulis hal-hal yang receh :(

Tapi yaudah saya sharing lewat blog aja deh ya, barangkali juga ada yang mengalami hal yang sama seperti saya. 

Awal suka membaca buku itu (udah pernah saya post di status facebook kalau nggak salah) karena waktu kecil saya suka di beliin buku-buku dongeng macam Alibaba dan 40 Penyamun, Angsa Emas, Hansel dan Gretel, Gadis Korek Api dan sejenisnya. Terus berlanjut baca komik serial Detective Conan (sampai sekarang sih). Perkenalan saya dengan novel fiksi itu di mulai dari SD saat membaca novel serial Lupus milik kakak saya. Dari situ saya mulai "kecanduan" baca buku. Kalau ada kesempatan pergi sama orang tua, saya pasti minta mampir ke toko buku. Dan ya seiring berjalannya usia, buku bacaan favorit saya itu emang buku fiksi macam novel-novel Indonesia hihi.

Sedikit curhat, nih. Sepanjang membeli, membaca dan mengoleksi novel-novel Indonesia atau buku fiksi lainnya, saya sering banget dapet "celaan" : "Duh, bacaannya ko nggak berbobot". Sempet sedih sih ya. Tapi kemudian teringat oleh twit Ika Natassa, salah satu penulis novel best seller.

Twitnya mewakili diri saya banget. Jadi saran aja, bacalah buku yang kamu suka. Referensi orang tentu dibutuhkan, tapi balik lagi. Buku yang kamu baca belum tentu bagus di mata orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Kemudian terkait dengan hobi menulis. Benar kata orang, kalau kita hobi membaca maka secara tidak langsung akan hobi menulis juga. Iya, saya juga begitu. Karena sering baca novel, maka saya lebih suka menulis cerita dan hal-hal ringan tentang personal life. Mungkin kalau saya hobi baca buku "serius", maka mungkin saya juga akan terbiasa menulis hal-hal "serius". Bagi saya pribadi, buku yang kita baca itu sangat berpengaruh terhadap tulisan yang kita tulis.

Tapi dibalik alasan-alasan basic seperti itu, ada alasan personal kenapa saya suka menulis. Dari kecil saya nggak punya banyak teman dan sering mengalami kesulitan dalam bergaul. Temen dekat saya sampai sekarang bisa dihitung dengan jari. Banyak orang yang menganggap saya ini cepet akrab sama orang, ceriwis, suka ketawa dan kadang suka ngelucu. Ya memang. Tapi untuk ke beberapa orang saja. Selebihnya saya tipe penyendiri. Lebih suka didalam rumah kalau nggak ada keperluan diluar. Menghabiskan waktu didalam kamar. Entah membaca buku, menulis, mendengarkan musik, menonton film, ngobrol dengan keluarga atau mengkhayal sambil ngemil. Aduh yang terakhir jangan ditiru ya hahaha.

Jadi begitulah...

Tahun 2012 saat pulang travelling dari Singapore, saya memutuskan untuk membuat personal blog. Dan sejak itu....

Kalau lagi sedih, saya nulis.
Kalau lagi galau, saya nulis.
Kalau lagi bahagia, saya nulis.
Kalau abis mendengarkan cerita orang dan menginspirasi, ya saya nulis.
Kalau lagi suntuk sama kerjaan, saya kadang nulis.
Apalagi kalau abis baca buku dan pulang travelling, ya pasti saya nulis.

Bagi saya, menulis itu selain bisa menjadi "teman" saat kesepian, juga bisa dijadikan "pelampiasan" segala perasaan yang sedang dirasakan. Ya daripada saya nangis atau marah-marah nggak jelas, lebih baik energi negatifnya saya salurkan lewat tulisan kan? Kalau kata penulis novel sih, lebih baik energi negatifnya disalurkan lewat karya. Kalau saya sih belum punya karya, jadi nulis sebatas di blog aja.

Aduh jadi panjang gini ya tulisannya. Maaf atuh. Yaudah segitu aja kali ya. Abis nggak tau lagi apa yang mau ditulis.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Teman saya pernah cerita bahwa beberapa hari sebelum menikah dia mendapatkan pesan dari salah satu temannya. Pesannya kira-kira berbunyi bahwa temannya tersebut menanyakan berapa isi amplop uang kondangan yang teman saya berikan kepada dia saat menikah, karena menurut pengakuannya, nama teman saya tidak ada dalam catatan tamu undangan yang memberikan amplop kondangan. Teman saya seketika terkejut karena tidak terbiasa dengan pertanyaan tersebut. Lebih terkejut lagi karena temannya itu bertanya secara terang-terangan meskipun hanya melalui pesan bbm.


Dengan kikuk teman saya menjawab bahwa dia lupa. Dia bukan pura-pura lupa, tapi beneran lupa karena dia bukan tipikal orang yang mengingat-ingat berapa isi amplopnya setiap pergi kondangan dan dia juga tidak punya catatan seperti yang temannya katakan.

Tapi temannya tetep kekeuh bertanya dan teman saya akhirnya menjawab bahwa setiap kondangan biasanya dia selalu memberikan uang sebesar sekian. Dan coba tebak apa jawaban temannya? Temannya tersebut berkata bahwa mungkin dia akan memberikan uang kondangan lebih kecil dari yang teman saya berikan.

TEMAN SAYA BUKAN HANYA TERKEJUT LAGI, TAPI LANGSUNG ILFIL SEJADI-JADINYA!

Ya coba aja kalau kamu jadi teman saya, tanpa basa basi di tanya seperti itu, gimana perasaannya? Kalau saya sih bakal jawab : "ELO NGGAK DATENG JUGA NGGAK MASALAH!" *kibas hijab*

Hmmm hmmm saya jadi inget cerita ibu saya beberapa bulan lalu kalau ada tetangga kami yang berantem gara-gara uang kondangan. Jadi ceritanya begini, tetangga A memberikan uang kondangan sebesar 200 ribu ke tetangga B, berapa hari kemudian tetangga B mendatangi rumah tetangga A untuk menagih. IYA, MENAGIH. MENAGIH APA COBA? MENAGIH UANG KONDANGAN YANG KURANG! Lengkap dengan membawa catatan. Ternyata tetangga A hanya memberikan uang kondangan sebesar 100 ribu. Dan kemudian mereka tidak saling bertegur sapa.

Waktu diceritain ini, saya dan kakak perempuan saya sampai tertawa terbahak-bahak. Apa ya? Konyol gitu. Hanya perkara uang kondangan jadi merusak hubungan antar tetangga.

Saya sendiri juga kalau pergi kondangan (entah ke teman dekat atau teman yang saya kenal baik), pasti memberikan sesuatu. Entah kado atau sejumlah uang di amplop. Tapi ya nggak pernah di catat dan nggak pernah di ingat. Kalau tanya kenapa, ya karena saya niat kondangan tuh ikhlas. Mau ngasih sesuatu sebagai bentuk rasa ikut bahagia atas pernikahan mereka. Sembari sambil silaturahmi karena bisa ketemu sama teman-teman yang lain. Ya sesimpel itu dan sejujurnya saya nggak mengharapkan balasan. Jika suatu saat saya menikah dan teman yang saya kondangin ini nggak hadir (entah apapun alasannya), inshaa alllah saya nggak akan mempermasalahkan. Balik lagi ke niat awal, saya pergi ke pernikahan teman untuk apa. 

Jadi rasanya bagi saya pribadi aneh jika ada orang yang mau pergi ke pernikahan teman atau saudara, tapi banyak pertimbangan seperti : "saya nggak mau hadir karena dia juga nggak dateng ke nikahan saya" atau "saya mau dateng tapi bisanya cuma ngasih uang kondangan segini karena dia juga ngasih ke saya segini". Eh ya Allah dasar centong nasi, kalau bisa dateng mah ya dateng ajalah. Ribet amet. Kecuali memang ada halangan atau keperluan yang membuatnya nggak bisa dateng. 

Kenapa harus bales-balesan gitu sih? Tradisi atau niatnya yang memang nggak ikhlas?

Kalau ngasih uang kondangan 20 ribu, dia bales ngasih 20 ribu lagi.
Kalau ngasih satu juta, bales satu juta lagi gitu?
Kalau kita nggak dateng ke pernikahan mereka, mereka juga nggak mesti dateng ke pernikahan kita?

Hahahaha i'm so sorry, terlepas dari itu adalah tradisi atau sebuah "kepantasan", saya tetap merasa janggal dan ya merasa gimana gitu. Apalagi kalau niatnya pamrih. Naudzubillah mindalik. Kalau saya jadi tuan rumah yang ngadain pesta pernikahan sih, saya pengennya semua orang yang dateng tuh happy dan nggak usah terbebani sama isi amplop undangan atau isi kado. Doa yang tulus walaupun kesannya ko ya munafik banget kaya nggak butuh duit, setidaknya di ucapkan dengan ikhlas. Daripada ngasih kado atau uang tapi di permasalahkan sampai merusak hubungan pertemanan.

Balik lagi ke niat. Balik lagi ke niat.

Apalagi dalam ajaran agama islam sudah di katakan bahwa tujuan mengadakan pesta pernikahan adalah untuk memberitahukan kepada lingkungan sekitar agar tidak menimbulkan fitnah. Mengadakan pesta pernikahan memang butuh modal, tapi ya nggak sampai segitunya sih 😂 Dan oh ya kita sebagai yang datang ke pesta pernikahan tesebut juga sudah selayaknya berniat baik untuk kedua mempelai. Memberikan sesuatu sudah sepantasnya, tapi kalau sampai meyinggung perasaan orang yang mengundang kita atau sampai ribut karena uang atau kado kondangan, IMHO mending nggak usah dateng deh ya. 


Love
Amelia Utami.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jadi, malem ini mood saya lagi nggak bagus. Padahal tadi pagi saya berangkat kerja dengan semangat dan perasaan optimis, meskipun 5 hari ke depan harus membantu pekerjaan teman saya yang sedang cuti menikah. It's okay. Dan hari ini pun saya melewati hari yang cukup lancar. Pekerjaan beres, pulang kerja nggak terlalu sore dan sebenarnya nggak terlalu capek sih. 

Tapi nggak tau kenapa ketika sampai di dalam kamar, sudah berganti pakaian dan hanya duduk santai, mood saya mendadak kacau. Down begitu saja. Pernah nggak kalian mengalami hal ini? Tanpa sebab, tiba-tiba mood jadi nggak bagus. Mendadak mellow. Mendadak ingin nangis. Mendadak capek pikiran luar biasa. Dan yeah, sore tadi saya mengalami itu. Dari kantor padahal sudah excited ngerencanain begitu sampai rumah langsung mandi, terus malemnya nonton drakor seperti biasa.

Tapi...

Yang saya lakuin cuma main hp, diem, main hp lagi, diem. Sampai akhirnya saya nggak mood nonton drakor dan coba tebak, saya baru mandi tepat jam 9 malem! Taraaaa...

Setelah mandi pikiran lumayan segar. Mood juga agak membaik. Kemudian saya merenung *berat ya hidup gue? Hahaha*, menjalani rutinitas yang sama setiap hari itu kadang menjenuhkan. Bangun pagi - kerja - pulang kerja - malemnya tidur lagi. Besok tinggal tekan tombol repeat. Ya semua itu memang sudah konsekuensi orang yang bekerja, tapi merasa jenuh itu manusiawi ko. Apalagi saya libur hanya di hari minggu (kadang kala masuk piket), butuh usaha keras untuk tetap happy dan semangat. Meskipun saya akui banyak gagalnya. Kalau gagal biasanya saya marah-marah (wkwk) atau tiba-tiba nangis dan pengen teriak "please gue capek. Give me a break!"

Kadang ya (kadang loh), saya kangen masa pengangguran. Bukan karena kangen nggak punya penghasilan (ih, siapa juga coba yang nggak sedih kalau nggak punya duit), tapi lebih kepada kangen masa-masa produktif saya. Berarti kerja nggak produktif? Ya produktif dan tentu saja menghasilkan, tapi seperti yang sudah saya katakan. Tinggal tekan tombol repeat! 

I miss random schedule. Dari bangun pagi sudah punya rencana mau ngapain dan mau kemana. I mean, saat sudah bekerja kita mungkin masih bisa melakukan hal yang sama seperti itu, tapi nyatanya saya sendiri lebih sering memilih menggunakan hari libur untuk istirahat. Badan capek dan pikiran capek. Kadang mau keluar rumah pun harus mikir 2x. "Hari ini mau tidur siang aja" atau mau ngelakuin kegiatan mengisi waktu luang juga lebih banyak malesnya. Beberapa kali emang berhasil, tapi kebanyakan gagal.

Mungkin saya butuh waktu lebih dari 24 jam? HAHAHA

....

Pada akhirnya ini hanyalah tulisan random pelepas penat dan lelah. Mungkin saya nggak sendirian. So, if you want judge saya nggak bersyukur, nggak apa-apa. Berarti kamu manusia strong. Kalau saya sih manusia yang masih banyak ngeluh dan sedikit-sedikit curhat macam penonton mamah dedeh. 

"JAMAAAAH....."

Mari tidur karena besok masih hari jumat ~


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sore ini saya membaca salah satu postingan media sosial teman sebaya saya yang sudah memiliki...2 anak. Yup, dia menikah sekitar umur 22 tahun. Kalau tanya saya lagi ngapain di umur segitu, jawabannya saya baru kelar sidang skripsi dan sedang menunggu wisuda.

Apakah saat umur 22 saya memikirkan pernikahan? Hanya terlintas atau hanya jadi bahan candaan bersama teman-teman kuliah. "Cie...udah lulus kuliah. Mau kerja atau nikah nih?" Candaan jayus antar kami. Dengan yakin saya bilang. "Kerja lah. Mau ngerasain punya penghasilan sendiri".

Dan sampailah saya pada hari ini. Umur 25 tahun dan belum menikah.

Saya pikir saya akan merasa stress karena akan sering ditanya "kapan menikah?", "sudah punya calon belum? Atau "kerja udah dapet, mau nunggu apalagi?". Tapi nyatanya sampai detik ini, saya masih enjoy dan happy dengan segala rutinitas yang saya lakukan di usia 25 tahun. Saya masih nangis dan ketawa kalau nonton drama korea, saya masih plin plan kalau beli tas atau sepatu atau sereceh saya uring-uringan kalau lagi download film udah 99 % tapi gagal.

I'm abnormal? Maybe 
I'm like a teenagers? Oh of course, my soul still forever young xoxo

Saya punya pacar dan ya biasa aja. Nggak setiap hari merasa terbebani dengan pikiran "harus menikah secepat mungkin". Rencana menikah pasti ada, tapi lebih pada berdoa dan berusaha. Nggak menggebu-gebu karena di kejar target umur.

Nggak takut di katain perawan tua dan nggak laku?

Nggak. Sama sekali nggak. Norak banget kalau masih ada yang ngatain perempuan dewasa yang belum menikah karena nggak laku. Emangnya barang jualanan pake laku nggak laku.

Bagi saya (terlepas dari faktor umur), seseorang dalam memutuskan untuk menikah itu nggak sembarangan. Ada pertimbangan yang sifatnya personal. Nggak ujug-ujug "saya udah umur segini, saya harus cepat nikah" atau "pacaran bertahun-tahun harus cepet nikah tar nggak jodoh, lagi". Nggak, bukan begitu. Kamu menikah muda di usia 22 tahun mungkin saja karena sudah siap, baik secara finansial maupun mental. Kamu belum menikah di usia 25 tahun, bisa jadi ada hal yang masih di jadikan prioritas utama seperti keluarga, impian, karir, pendidikan atau alasan receh macam "gue masih mau sendiri". Pertimbangan-pertimbangan tersebut sangat personal dan saya pikir tidak semua orang bisa memahami dan menerima.

Kamu akan menikah bukan dengan lingkungan kamu yang bilang perempuan yang belum menikah di usia 25 tahun atau lebih adalah perempuan yang kurang beruntung.

Kamu akan menikah bukan dengan keluarga besar kamu atau teman-teman yang suka resek nanya kapan nikah mulu.

Kamu akan menikah bukan dengan pikiran sempit kamu yang mengatakan belum menikah = nggak laku.

Kamu akan menikah dengan laki-laki pilihan kamu. Yang terbaik. Nggak ada yang namanya menikah telat karena umur. Yang ada hanyalah kamu belum menikah ya simpel karena memang belum waktunya. Dan perlu diingat, nggak semua perempuan dengan mudah memutuskan "Ya, besok saya mau menikah".

Makan tuh centong mejikjer...

.
.
.

Jadi, sebenarnya tulisan ini agak berbau curhat pribadi sih. Hahaha tapi serius loh apa cuma saya doang yang sudah umur 25 tahun tapi kelakuan masih receh nan menggemaskan? * ditipuk*

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Hai, gaes....

Di penghujung bulan Juni ini dan besok udah mulai masuk kerja (hmmm mendadak bete 😂), saya akan membahas tentang Self Reward. Yang udah baca tulisan saya tentang Sharing : Uang Gaji Kalian di Pergunakan untuk apa? pasti kalian sudah tau bahwa setiap bulannya saya selalu menyisihkan uang gaji saya untuk memberikan achievement kepada diri saya sendiri atau biasa disebut self reward.

Apa itu self reward?

Secara sederhana self reward bisa di artikan sebagai memberikan penghargaan kepada diri sendiri karena sudah bekerja keras, berusaha melakukan yang terbaik atau mencapai target dalam hidup atau pekerjaan. Bentuknya macam-macam : seperti pergi berlibur, pergi ke salon atau spa, membeli tas, baju, sepatu, make up dan lain-lain. Intinya, self reward itu menyenangkan diri sendiri. Jadi biasanya kita melakukan dan membeli barang yang sebenarnya nggak terlalu kita butuhkan, lebih kepada yang kita inginkan. Hehehe namanya juga menyenangkan diri sendiri. Ya kan? *alasan supaya nggak di bilang boros*.

Seperti bulan ini saya membeli sepatu yang saya pengenin dari beberapa bulan yang lalu sebagai self reward. Bukan hanya bulan ini, tapi setiap bulan saya hampir melakukan self reward. Beli buku, baju, beli makanan yang di pengenin atau belanja online.

Bagi saya pribadi, self reward itu penting sebagai menghargai diri sendiri karena sudah bekerja keras selama satu bulan : menghadapi pekerjaan menumpuk, stress saat ada sesuatu yang terjadi diluar kendali, emosi yang keluar tak terkontrol ataupun karena berhasil bekerja sesuai target yang direncanakan. Self reward semacam "hiburan" agar hati tetap senang atau pikiran tetap positif seperti..."nggak apa-apa hari ini pulang lembur, nanti pas gajian saya mau beli baju yang saya mau di online shop". 

Yes, self reward being keep positive.

Apakah self reward bisa di lakukan saat mengalami kegagalan?

Sangat bisa dan disarankan agar terhindar dari self punishment. Saat gagal, kita cenderung menghukum diri sendiri dengan mengatakan kata-kata negatif seperti..."saya gagal karena saya ceroboh atau usaha saya tidak maksimal". 

Self reward bisa mengalihkan pemikiran negatif tersebut dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Saya pernah melakukannya ketika gagal interview kerja tahun 2014 lalu. Ketika nama saya tidak ada dalam daftar peserta yang lolos interview, saya otomatis kecewa dan menangis. Terlebih karena itu bukanlah kegagalan saya yang pertama. Kemudian saya mengajak Defbry untuk jalan-jalan naik motor di malam hari. Kita keliling kota Bandung nggak tentu arah. Selama di perjalanan, saya berusaha menghibur diri saya dengan kata-kata positif..."nggak apa-apa Ami, gagal itu hal biasa. Kamu udah melakukan yang terbaik". Sampai akhirnya saya minta berhenti di warung nasi padang dan makan di sana. Besoknya? Saya udah happy lagi 😊

Jadi, buat teman-teman, khususnya yang pekerjaanya penuh under pressure seperti saya, nggak ada salahnya melakukan self reward setiap bulan. Bukan pemborosan, tapi lebih ke upaya agar diri kita tetap semangat bekerja atau melalui hari-hari dengan perasaan gembira. Memang sih motivasi bukan hanya dari self reward saja, tapi setidaknya selain diri kita, siapa lagi yang bisa lebih di andalkan? So, doing self reward! Xoxo

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai, I'm comeback! 

Ramadhan Story kali ini saya akan membahas tentang salah satu buku fiksi Indonesia yang melegenda, khususnya untuk anak-anak atau remaja tahun 80-90an. Yup, siapa yang tidak kenal tokoh Lupus? Bocah SMA yang terkenal dengan penampilan rambut jambul ala vokalis Duran-Duran, tas selempang yang talinya sengaja dipanjangin dan hobi banget makan permen karet.

Lupus tidak seperti tokoh fiksi yang di gambarkan dalam novel-novel jaman sekarang : cakep, tajir, punya geng, naksir cewek cantik dan hobi foya-foya. Bagi saya sendiri khususnya, salah satu daya pikat yang membuat tokoh Lupus masih di kenang hingga sekarang adalah karena banyak sifat dan kehidupan sehari-hari Lupus (yang keliatan sepele) tapi bisa di jadikan teladan.

Dalam seri novelnya, Lupus diceritakan sebagai anak SMA yang apa adanya (kadang terlalu polos), ceria dan hobi ngebanyol (bercanda). Dia hanya tinggal bersama Mami dan adik semata wayangnya bernama Lulu. Keluarga Lupus sederhana tapi membahagiakan. Lupus juga memiliki teman akrab bernama Boim (yang hobi ngutang di warung dan gombalin cewek-cewek) dan Gusur yang kalau makan bisa ngabisin nasi satu bakul.

Salah satu cerita yang paling membekas di ingatan saya adalah Pameran Foto Tunggal (dalam serial novel Makhluk Manis Dalam Bus). Di sana di ceritakan bahwa Anto, teman sekelas Lupus, mempertanyakan mengapa Lupus sangat di sukai oleh teman-teman dan para Guru? Padahal Lupus tidak pintar (tidak pernah masuk ranking 20 besar), hobinya bercanda, puisi-puisi buatannya sederhana, tapi berhasil di tempel di mading. 

Salah satu puisi Lupus dengan judul Sayur Asem :

Sayur asem adalah sayur kesenanganku
Eh, karena kebanyakan makan sayur asem 
semut-semut yang biasanya mengerubungi air seniku, kini tidak lagi karena...asam....

Entah selera humor saya yang receh atau gimana, tapi saya ketawa baca puisinya. Apa adanya gitu loh walaupun garing. 

Dan dari sana Anto menemukan salah satu hal yang patut di tiru daari Lupus adalah...Lupus selalu memandang hidup itu indah.

Saya sebagai pembaca novel Lupus dari seri anak, remaja hingga dewasa, dapat merasakan energi positif dari tokoh fiksi tersebut. Lupus memang tidak pintar dalam akademik, tapi dia pintar menulis dan membuat puisi. Dia tidak malu magang di kantor penerbit dan alasannya sederhana : royalti dari nulisnya dia beliin permen karet, membelikan cokelat toblerone untuk adiknya atau membeli kacamata untuk ibunya. Dalam pergaulan sehari-hari, Lupus selalu menjadi dirinya sendiri. Selalu saja ada ide konyol untuk ngisengin temennya atau ngobrol hal-hal yang seru yang membuat teman-temannya tertawa. Keluarga Lupus bukan keluarga kaya, tapi keluarganya sangat hangat, suka bercanda dan saling membantu. Maminya tidak pernah menuntut Lupus menjadi anak pintar, Mami hanya ingin Lupus tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia.

Dan yeah....

I'm learning a lot from Lupus.

Yang paling penting bukan lah hidup yang sempurna, tapi hidup yang bahagia.

Dengan segala kekurangan kita, tapi tidak rendah diri. 
Dengan segala kelebihan kita, tapi tidak menyombongkan diri.

Kalau kata Lupus : "Selama kita masih bisa melihat matahari pagi, berarti kita masih di berikan kesempatan untuk menikmati hidup. Jadi bersyukur dan berbahagialah".




Oh ya, jika ada yang bertanya, buku apa yang tidak akan pernah saya jual dan berikan kepada orang lain?

Yup, tentu saja, Lupus.


Saya mengoleksi buku Lupus sejak tahun 1997, beberapa ada yang warisan dari kakak saya, beberapa ada yang beli sendiri. Karena saya tipe orang yang kalau suka sama sesuatu, bakal saya simpan dengan sebaiknya-baiknya 😊 Oh ya, awal saya suka membaca dan menulis juga karena terinspirasi dari Lupus.

*nggak ada yang nanya, woooy*

AHAHAHAH


*mudah-mudahan suatu saat bisa ketemu sama penulis aslinya, Hilman.

Amin.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates