Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Tidak terasa sudah lima bulan Bapak meninggalkan kami untuk selamanya. Jika itu terjadi saat usia saya masih kecil, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang dalam menghadapinya. Mungkin saya akan meraung setiap hari, tidak berhenti bertanya keberadaan Bapak, hingga perasaan sedih yang meninggalkan luka mendalam. Allah itu adil dalam memberi cobaan pada hambanya. Satu paket dengan hikmah yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia. Kehilangan salah satu orang tua di usia dewasa tidak memberikan saya banyak waktu untuk bersedih. Ada tanggung jawab besar yang menghadang lebih dari sekadar meratapi nasib : menjaga Ibu agar tetap sehat dan bahagia, merawat hubungan kakak adik agar semakin dekat, hingga memotivasi diri sendiri agar melanjutkan hidup lebih baik.

Hubungan saya dan bapak jauh dari kata sempurna. Sebagai anak, saya masih banyak kekurangan. Begitu juga Bapak sebagai orang tua. Perbedaan itu seringkali dalam beberapa hal menimbulkan selisih paham, sikap keras kepala dalam mempertahankan pendapat, dan mengurut dada karena tak sabar menahan emosi. Saya ingat di tahun 2017 kami tak saling bicara selama tiga hari. Hanya karena masalah ta’jil buka puasa yang telat disajikan. Bapak tiba-tiba marah  dan kami terpancing ikut-ikutan marah. Bapak “kabur” menginap di rumah nenek saya karena mungkin merasa kesal. Dampaknya melebar, yaitu Bapak tidak mau mengantar saya ke kantor dan tidak mau bicara dengan kami.

“Orang udah tua kok kelakuannya masih kaya bocah!”

Ya, saya pernah berkata demikian. Saya mempertahankan sifat “keras kepala” dengan satu alasan : saya benar dan tidak melakukan kesalahan. Saya ingin menjadi anak yang tidak hanya “diam” saat orang tua marah dengan alasan yang tidak masuk akal. Sebagai anak, saya memiliki hak membela diri. Tidak peduli siapa yang sedang dihadapi. Namun, pada akhirnya saya menyesal. Sebenarnya kami hanya butuh saling pengertian karena kami bukan tipikal orang yang suka berkata manis dalam mengekspresikan sesuatu. Bapak mungkin tidak tahu cara (atau gengsi) mengatakan tolong, maaf, atau terima kasih. Sementara kami (anak-anak dengan pemikiran yang jauh lebih modern) membutuhkan tiga kata penting itu demi tidak menyimpan luka batin berkepanjangan.

Komunikasi adalah hal terbesar yang mengganggu hubungan saya dan bapak. Lain hari, saya merasa kecewa dengan kata-kata yang beliau lontarkan. Juga dengan perbandingan-perbandingan yang mengecilkan hati saya sebagai anak karena merasa tidak dihargai. Stigma anak harus nurut dan orang tua selalu benar bagai pakem yang tidak bisa diubah, meski saya sudah melawan sekuat tenaga. Pada akhirnya, saya tetap mengalah karena tidak mau dianggap anak durhaka. Tapi jika direnungkan lagi dari sisi Bapak, mungkin ada banyak hal terlewat yang menyebabkan Bapak tidak luwes dalam menunjukkan kasih sayangnya pada anak. Kejadian masa lalu bisa jadi penyebabnya.

Bapak pernah bercerita, semasa hidupnya lebih banyak melewati hal-hal yang berat ketimbang moment-moment bahagia. Bapak bukan berasal dari keluarga kaya, tapi Bapak jelas pejuang hidup paling hebat. Bapak pernah makan telur ceplok dibagi dua dengan kakaknya, pernah berhenti sekolah selama setahun karena tidak ada biaya dan harus mengalah bergantian dengan saudaranya, serta pernah berjualan buah-buahan di stasiun kereta. Saking kerasnya kehidupan, mungkin Bapak tidak sempat merasakan kasih sayang dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Sehingga yang lebih sering keluar adalah sisi buruknya, ketimbang sisi lembutnya yang saya percaya jauh lebih banyak.

Saya pernah bilang ke salah satu teman, Bapak adalah orang paling galak, tapi Bapak juga orang yang sering membuat saya menangis hanya karena menatap wajahnya. Kedengarannya tidak masuk akal, apalagi jika sudah kesal dengan ucapan Bapak, saya bisa kecews sampai tidak mau keluar kamar. Namun, di moment-moment tertentu, ikatan batin ayah dan anak tidak bisa dibohongi. Bapak tetap terbaik. Bapak tidak bisa digantikan oleh laki-laki manapun.

Ketika saya sakit, orang yang siaga mengantar ke dokter 24 jam adalah Bapak. Ketika saya membutuhkan jemputan malam-malam setelah berpergian, Bapak rela menahan kantuk agar bisa mengantar saya selamat sampai rumah. Ketika hujan turun deras, Bapak rela menjemput dan mengantar saya ke kantor hanya bermodalkan jaket tipis. Sampai beberapa hari sebelum beliau meninggal, Bapak masih sempat menjemput saya ke kantor dan memastikan saya pulang dengan selamat. Ketika ada laki-laki yang main ke rumah, saya tahu beliau khawatir laki-laki itu tidak baik, tapi beliau tidak mau saya kecewa. Jadi, beliau hanya diam dan pura-pura bersikap galak.

Begitu juga dengan saya. Semarah-marahnya pada Bapak, saya tidak pernah tega membiarkan orang lain melukai hatinya. Setiap Bapak sakit, diam-diam saya pergi ke kamar hanya untuk mengecek apakah Bapak masih bernapas atau tidak. Saya kelihatannya anak yang cuek, tapi saya diam-diam khawatir jika Bapak belum pulang ke rumah atau Bapak pergi tanpa kabar. Lagi-lagi bentuk kasih sayang itu tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata langsung. Hanya berupa tindakan yang Bapak juga tidak pernah tahu. Maka tidak heran, Bapak sering bilang, saya tipe anak yang tidak peduli. Padahal setiap berdoa, nama beliau tidak pernah absen dari mulut saya. Meski dalam beberapa hal sikap Bapak menyebalkan, tapi saya selalu mencoba memberi perhatian kecil pada beliau.

Sebelum usia dewasa dan memasuki keras kepala, hubungan kami sesungguhnya jauh lebih hangat. Moment yang tidak akan saya lupakan adalah Bapak tidak pernah lupa membelikan kami oleh-oleh setiap pulang dinas kerja dari Lembang. Bapak adalah pekerja keras. Lebih dari puluhan tahun bolak-balik kerja Jatibarang-Cirebon hanya mengendarai motor. Kami sering meledek kulitnya berubah hitam karena sering terkena sinar matahari. Tapi dari tangan gigih Bapak, kami semua bisa kuliah di luar kota dan berhasil menyandang gelar sarjana. Sesuatu yang tidak bisa Bapak capai karena kendala biaya dan keadaan.

Ibu pernah cerita, Bapak tidak pernah mengambil cuti kerja karena lebih baik uang cutinya dipergunakan untuk biaya pendidikan. Kami pernah melewati masa-masa keuangan yang sulit hingga tidak punya kesempatan untuk pergi wisata atau membeli barang-barang canggih. Sampai akhir hidupnya, Bapak hanya memiliki ponsel nokia yang masih saya simpan hingga sekarang. Beliau belum sempat menyaksikan video youtube lebih lama, berkirim pesan lewat WhatsApp, atau mencari berita lewat pencarian google. Ketika saya berhasil membeli HP baru dari hasil berjualan baju secara online, Bapak sempat berkata : “Tadi-tadi HP lamanya buat Bapak aja.” Nada bicaranya bercanda, tapi saya tahu beliau menginginkannya.

Meski hubungan kami tak selalu harmonis, Bapak tetap meninggalkan memori indah bagi saya. Ketika beliau selesai membersihkan rumah, Bapak selalu bertanya pada saya : “Dapet nilai berapa, Mi?” dan saya pasti selalu menjawab dengan nilai sembilan karena Bapak memang paling apik dan rajin dalam membersihkan rumah. Saat beliau sudah tidak ada, tugas itu saya teruskan. Saya pastikan kaca jendela rumah selalu bersih, rumput di halaman dipangkas secara teratur, bunga-bunga disiram, dan mengepel lantai sesering yang beliau lakukan. Beliau juga rajin sekali sholat subuh berjamaah di Masjid, maka sebisa mungkin kami meneruskannya. Raga Bapak boleh saja pergi, tetapi kebiasaan baik Bapak saya pastikan tidak akan pernah hilang. Membayangkan Bapak sedang duduk di alam sana dengan tenang adalah upaya yang akan selalu kami lakukan.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi Bapak mengajarkan satu hal : cinta anak pada orang tua akan abadi selamanya.



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Gimana kabar kamu?"
"Gimana keadaan kamu?"

Seringkali kita mendapat pertanyaan seperti itu, baik dari teman lama atau sahabat dekat. Seringkali pula template jawaban kita selalu sama, meski dalam kondisi berbeda : alhamdulillah, sehat atau aku baik-baik aja. Dalam kondisi normal, menjawab "baik-baik" saja tentu sangat melegakan. Tidak ada kebohongan. Aura wajah terpancar jelas dari senyum lepas atau ketikan chat yang terbaca menyenangkan.

Lalu, bagaimana seandainya kita sedang tidak baik-baik saja? 

Beberapa hari lalu, Ibu bertanya dengan wajah heran, alasan kenapa saya tidak menangis padahal saya sudah kehilangan salah satu yang terdekat? Apa saya baik-baik saja? Apa saya sebenarnya sedang memendam sesuatu, tapi enggan bercerita? Pertanyaan itu bagi saya tidak mengherankan. Normalnya, orang yang baru saja kehilangan, pasti merasa patah hati dan menangis. Sayangnya, saya malah terlihat biasa saja. Berkegiatan seperti biasa, tertawa, tidur dengan nyenyak, dan makan masih lahap.

Saya jawab, sebenarnya saya tidak baik-baik saja. Setiap malam sebelum tidur, saya suka gelisah. Saya ingin menangis, tapi saya tidak bisa menangis. Saya tidak tahu mengapa air mata saya tidak mau keluar padahal hati saya sedih luar biasa. Ini mungkin yang membuat saya tampak baik-baik saja. Saya kadang sulit mengekspresikan sesuatu karena mungkin saya tipe anak yang terbiasa "dipaksa" legowo.

Mengaku "tidak baik-baik saja" bukanlah sebuah kesalahan atau menunjukkan kita makhluk paling lemah, tak berdaya, rapuh, dan tidak memiliki daya. 

"Saya sedih."
"Saya butuh waktu sendiri."
"Saya butuh teman ngobrol."
"Saya patah hati."
"Saya terpuruk."

Kalimat-kalimat tersebut bisa kita ucapkan secara jujur. Bukan sebuah kelemahan. Hanya menunjukkan bahwa kita manusia biasa. Kita mungkin tak sekuat manusia lain saat menghadapi cobaan hidup, tapi kita tidak boleh menyiksa diri sendiri dengan kebohongan-kebohongan yang semakin menumpuk. Mengaku jujur dengan kondisi kita akan memudahkan menemukan solusi. Berat memang. Tidak semua orang mengerti kondisi kita atau tidak semua orang mau memposisikan sebagai diri kita. But, who's care? Sebelum memikirkan apa kata orang, selamatkan diri kamu dulu. Sama halnya sebelum membahagiakan orang lain, bahagiain dulu diri kamu.

This is also a reminder for myself. 
I'm not ok and that is not a weakness.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pinterest
Saya masih ingat kejadian tahun 2012. Tahun paling buruk selama hidup saya dan sialnya saat itu saya masih kuliah semester empat dan tinggal jauh dari orang tua. Diawali dengan sakit flu karena begadang semalaman membaca sebuah novel, besok paginya semua mendadak berubah. Saya merasa seperti bukan diri saya, saya merasa jiwa yang bersemayam di tubuh bukan lah diri saya. Saya tidak mengenali siapa yang ada di dalam.

Pikiran waras saya berontak, tapi selalu berakhir dengan rasa letih luar biasa yang juga tidak saya kenali. Mood turun drastis. Rasanya berat sekali turun dari tempat tidur padahal seharian saya tidak melakukan kegiatan apa pun. Sekali lagi, saya masih berpikir waras. Mungkin saya memang sakit flu. Pergi lah saya ke apotek dekat kampus. Ajaibnya, dokter bilang tidak apa-apa hanya kelelahan saja. Sejujurnya, saya tidak puas dengan jawabannya karena saya merasa tidak lebih baik. Saya justru ketakutan. 

Hari-hari selanjutnya seperti mimpi buruk. Bukan hanya malas beranjak dari tempat tidur, saya juga jadi malas makan, mandi, dan bersih-bersih kamar kost. Cucian baju saya biarkan menumpuk dan kehilangan selera makan. Saya lebih sering menangis karena benar-benar merasa saat itu bukan lah diri saya. Saya suka kerapian dan kebersihan, makan saya lahap, dan saya lebih banyak tertawa. 

Saya masih terus melawan dengan berpikir positif dan bercerita ke teman-teman dekat. Namun, saya akui saat itu tidak banyak yang peduli. Ada yang bilang saya mulai gila. Saya tidak bisa juga menyalahkan mereka karena kondisi saya yang memang tidak stabil. Cerita ke orang tua juga sudah, tapi apa daya mereka juga fokus pada penyembuhan kakak laki-laki saya yang mengidap OCD. 

Saya sendirian. Saya tetap melawan. Meski semakin hari semakin tidak terkendali. Bayangkan, tubuh dan jiwa kamu letih, tapi mata kamu tetap tidak bisa terpejam. Besok paginya seperti keajaiban kamu tidak mengantuk sama sekali. Ya, itu yang saya rasakan. Belum lagi, saya harus tetap tampil seolah baik-baik saja agar kegiatan kuliah saya dan hubungan sosial dengan teman-teman tetap berjalan. Meski beberapa kali setiap mengobrol, saya sering tidak fokus. Atau ketika mengobrol saya merasa senang, tapi begitu sampai tempat kost saya mendadak menangis tanpa sebab. Bahkan saya sempat ada pikiran ingin bunuh diri dengan cara melompat ke salah satu jembatan di Bandung. Sad, but true. Sempat ada dalam kondisi seputus asa itu. Kalau ada yang bilang saya kurang ibadah ya miris banget, karena kenyataannya dalam kondisi mental paling buruk pun saya tidak pernah meninggalkan sholat dan mengaji.

Ada satu hal yang saya sesali hingga detik ini, betapa saya tidak pernah mendapatkan bantuan ahli untuk menemukan jawaban dari rasa "sakit" saya. Terbawa stigma yang mengatakan saya kurang dekat sama Tuhan atau ada dosa yang harus saya tebus. Maka ketika itu, tidak ada pilihan lain. Hal yang bisa saya lakukan hanya sekuat diri melawan semampu saya. Dengan menahan "sakit" dan halusinasi yang mulai muncul, saya berusaha untuk keluar dari situasi kacau. Saya paksa banyak melakukan kegiatan di luar yang membuat saya tidak sendirian. Saya paksa juga sering mengobrol dengan teman-teman kost agar saya tidak banyak melamun. Setiap kali gagal dan berakhir menangis, saya berusaha untuk tetap berkegiatan. Hingga tak terasa saya mulai "lepas" dari semua itu sekitar satu tahun kemudian dan saya merasa sudah normal kembali.

Itu mimpi buruk mengerikan yang tidak mau terulang!

***

Pertanyaannya, apakah saya benar-benar lepas dari perasaan depresi?  Tentu tidak. Namun, saya (sejauh ini) tidak memiliki perasaan "mengerikan" yang membuat saya "lumpuh total" seperti dulu. Bedanya juga, diri ini jauh lebih menerima. Saya tidak mau lagi memaksa diri saya untuk terus melawan, tapi saya ingin selalu menjadi "teman baik" untuk diri saya. Jika perasaan depresi muncul, saya ajak bicara baik-baik. Saya tawarkan dengan menggambar, membaca buku, menulis novel, jajan camilan, atau menonton drama korea yang membuat hati senang. Tidak selalu berhasil, kadang saya juga lemah dan keburu menyerah, hingga berakhir meringkuk di dalam kamar tanpa berkegiatan.

Kok bisa saya masih kelihatan normal, termasuk dalam bekerja dan bergaul dengan orang lain? Tentu saja bisa. Tapi tidak semua paham, bahwa orang dengan kondisi seperti saya kadang bisa "kelelahan" tanpa sebab. Dan yang dapat mengendalikan itu semua tentu saja balik lagi ke diri kita. Kalau memang tidak kuat, sebaiknya menghindar dulu untuk menenangkan diri.

Perlu diakui, suka atau tidak suka, setiap orang memiliki perasaan depresi sendiri akan suatu hal atau dalam menghadapi masalah. Belum lama saya kehilangan Bapak karena sakit. Bukan hanya perasaan yang hancur, tapi menjalani hari rasanya tidak semangat karena tidak ada lagi sosok yang setiap hari ada di rumah. Sosok yang bisa saya lihat, sentuh, atau diajak bicara. Tidak mau lagi terjebak dalam perasaan sedih berlarut-larut hingga pikiran depresi muncul kembali, saya selalu berkompromi dengan diri saya. Meyakinkan setiap hari jika semua sudah Kuasa Allah. Jika ditakdirkan terjadi, saya tidak mungkin bisa mencegah. Sekali lagi, itu tidak mudah. Tapi saya tidak mau menyerah.

Seringkali, saya tidak minta hal yang muluk-muluk seperti saya harus selalu ceria, tidak banyak mengeluh, atau harus selalu produktif setiap hari. Tidak, ada kalanya saya mengembuskan napas, mencerna beberapa kejadian dengan perasaan sedih, atau menangis beneran karena diri ini merasa nggak berharga. Maka saya hanya minta pada diri saya untuk terbiasa menerima. Menerima bukan berarti pasrah pada keadaan, bukan pula tidak mau berusaha. Menerima yang dimaksud seperti..."ya sudah tidak perlu berpikir keras untuk hal-hal yang bikin menyiksa diri". 

Jadi, melawan perasaan depresi itu tidak pernah mudah. Kamu bisa senang ketika berhasil melewati, tapi kamu juga harus siap ketika gagal dan hasilnya tetap belum berubah. 

Tidak apa-apa. 

Coba lagi.
Coba lagi.
Coba lagi.

Tidak perlu dipaksa. Tidak perlu terlalu keras sama diri kamu. Lebih baik pelan-pelan merangkul agar bisa melewati suatu kondisi bersama-sama. 

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Photo by Pinterest
Sebagai mbak-mbak kantoran yang sudah bekerja lebih dari dua tahun, bohong banget kalau selama itu saya selalu menikmati pekerjaan saya. Ada kalanya saya dalam keadaan tertekan, stress karena jumlah pekerjaan yang banyak, bosan dengan rutinitas kerja yang itu-itu saja atau karena sedang tidak sepaham dengan rekan kerja. Jika ada yang berkata : "Gue mah nggak pernah stress di tempat kerja", yang langsung ada di benak saya : "Seriously? Gimana caranya? Ko saya nggak bisa? Bahkan saya pernah nangis ketika tiba dari rumah selepas pulang kerja". Biasanya karena keletihan yang luar biasa menguras fisik atau karena simply saya merasa pekerjaan semakin nggak terkendali.

Pernah merasakan? Tenaaang kamu nggak sendirian. Sesekali mengeluh itu manusiawi. Toh kita manusia biasa. Bukannya kita tidak bersyukur dengan pekerjaan yang kita miliki, tapi ada keadaan yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ya nggak apa-apa. Di keluarkan saja. Kalau mau nangis, ya nangis. Mau marah, ya silakan (asal jangan di depan orang lain atau malah sering kebablasan nggak sadar seperti saya? Haha). Intinya kalau udah merasa stress atau tertekan, nggak usah sok-sokan tegar atau kuat. Kita memang bukan superman atau supergirl ko. 

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari rasa stress itu, minimal kita tau apa yang harus kita lakuin saat stress melanda kembali 😂 menurut pengalaman pribadi, stress dapat di atasi ketika kita tahu penyebab atau pemicunya. Misalnya, saya biasanya akan stress ketika menjelang akhir bulan. Kenapa? Karena kerjaan numpuk bak air bah hahahha lebay tapi serius. Terus biasanya menjelang datang bulan. Bagi perempuan, pasti tau banget deh rasanya gimana. Mood kacau, tapi kerjaan harus tetap selesai tepat waktu. Kemudian saat bos beres cuti atau meeting dari luar kota, karena pekerjaan saya membutuhkan tanda tangan beliau, otomatis kalau beliau nggak ada pekerjaan saya terpending dan akan super busy beberapa hari kemudian.

AAAAARRGGGHHH!!!!

Atasan saya di kantor pernah bilang, saat rekannya bertanya dia harus bagaimana saat stress menghadapi pekerjaan, beliau dengan enteng menjawab : "Ya nggak gimana-gimana. Di kerjakan lah". Dari situ saya mikir. Ada benarnya juga ya. Maksudnya gini loh, saat kita stress menghadapi pekerjaan jalan satu-satunya ya memang harus di hadapi dan di kerjakan. Kalau cuma diem dan meratapi juga percuma. Pekerjaan nggak kelar-kelar, stress juga nggak berkurang. Yang ada malah nambah. Tapi ketika kita berhasil menyelesaikan pekerjaan kita (dengan di iringi rasa tertekan, marah yang membuncah, mengeluh dan bla bla bla), setidaknya beban kerjaan kita berkurang daaan biasanya rasa stress juga ikut berkurang.

Inget aja mantra : "This is just a bad day, not a bad life" sambil menyelesaikan pekerjaan. Pokoknya saat sedang stress di tempat kerja, sebisa mungkin saya bilang dalam hati : "Ini akan segera berlalu" atau "Kalau dikerjakan nanti, bakal numpuk ni kerjaan dan yang ada gue makin stress". Haha sejauh ini sih ampuh. Oh iya, yang paling penting istirahat sejenak saat mulai merasa letih. Biasanya sih saya ngobrol sama rekan kerja atau jajan di warung depan kantor 😁

Memiliki hubungan baik dengan atasan dan rekan kerja juga sangat penting dalam mengatasi stress di tempat kerja. Justru keduanya berperan besar saat kita berada di lingkungan kerja. Kebayang dong makin stressnya kalau kerjaan numpuk, punya atasan yang nyebelin atau rekan kerja yang annoying? Hih! gaji besar juga rasanya percuma ya. Maka beruntunglah kamu jika hanya sekedar stress dengan pekerjaan, tapi memiliki atasan yang masih memberikan support atau rekan kerja yang masih bersedia membantu.



Semangat bekerja!

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Iseng-iseng ngadain pooling di Instagram mau bikin postingan apa di blog, dua dari lima DM yang masuk, menyarankan untuk posting review skincare. Baiklaaah, posting pertama akan bahas skincare dulu. 

DAN LANEIGE LAGI!

APAKAH INI EFEK BRAND AMBASSADOR-NYA YANG BARU NIKAH? 🤣

Nggak, dasar aja saya ketagihan *elus-elus dompet* 

Setelah postingan sebelumnya membahas Laneige Anti-Pollution Care kali ini saya akan membahas Laneige Good Night Care Kit dan Sun Cream. Semuanya kemasan kit ya alias travel size. 

1. Lip Sleeping Mask


Ini favorit banget. Super love! Jangan judge ukurannya yang super mini. Isinya padat dan sekali colek bisa buat olesin seluruh bibir. Digunakan sebelum tidur. Wangi stroberinya harum dan lembab di bibir. Sampai bangun tidur pun masih terasa lembab. Sebelumnya, saya suka pake lip balm dulu sebelum pake lisptik karena bibir saya kering dan suka ngelupas. Sejak pake Lip Sleeping Mask, saya bisa langsung pake lipstik yeeey! 😄

2. Eye Sleeping Mask


Kabar baik untuk yang memiliki mata panda 🐼. Eye Sleeping Mask bisa membantu kamu mengurangi lingkaran hitam dibawah mata. Bentuknya gel. Setelah menggunakan kurang lebih 2 minggu, terlihat lingkaran hitam dibawah mata saya memudar. Hilang keseluruhan sih belum ya, tapi setidaknya nggak keliatan hitam banget. Kesannya lelah banget ya booo menjalani hidup yang berat ini #tsaaaaah.

3. Water Sleeping Mask


Sleeping Mask sudah di bahas di postingan sebelumnya ya. Bedanya hanya di aroma saja, yaitu Lavender. Karena ini kali kedua saya pake sleeping mask, sesuai anjuran dari web resmi Laneige, cukup digunakan 3 sampai 4 kali dalam seminggu.

KEBAYANG NGGAK TUH SEBELUM TIDUR PAKE 3 SKINCARE SEKALIGUS! 🤣🤣🤣

4. Watery Sun Cream


Awalnya iseng beli ini karena sun cream saya abis. Saya pikir bentuknya gel atau air gitu, ternyata bentuknya krim padat. So far sih cocok di wajah saya karena belum ada efek samping kaya wajah merah atau timbul jerawat. Meskipun cocok, tapi saya merasa kurang nyaman digunakan diwajah saya dibandingkan dengan sun cream sebelumnya dengan merk lain. Nggak nyamannya karena saat di aplikasikan di wajah, saya merasa wajah saya tebal kaya pake bb cream (btw, saya nggak suka pake bb cream karena nggak cocok). Belum lagi creamnya agak basah (mungkin karena watery) jadi saat ditimpa pake bedak, ya bedaknya kurang nempel. Selama ini solusinya, setelah pake laneige sun cream, saya diemin dulu beberapa menit baru setelah itu ditimpa bedak. Untuk daya tahan okelah, karena dipake aktivitas siang hari sampai sore muka masih tetap cerah 😃

Sekian review-nya, sekali lagi balik ke kondisi kulit wajah masing-masing ya. Belum tentu cocok atau nggak cocok. Kalau saya tipe orang yang nekad kalau cobain skincare. Beli dulu, baru tau hasilnya. Tapi ada baiknya baca review produknya dulu.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu kurus (42 kg saat awal kuliah) kemudian melesat hebat sampai di angka 58 kg hahaha. Dengan tinggi 165 cm sebenarnya nggak terlalu masalah sih bb segitu, tapi ya tetep ngeri kalau udah mendekati 60 kg. Apalagi pola makan saya tuh berantakan banget. Ngemil sepuasnya, makan sepuasanya, jajan sepuasnya. Duh Gusti :(

Oke, memutuskan untuk diet karena selain ingin bb turun, juga untuk memperbaiki pola makan yang seenaknya jidat ini. Masalahnya memilih program diet yang cocok untuk tubuh saya yang menderita maag kronis sungguhlah tidak mudah. Makanya ketunda terus. Mau diet ini, takut maagnya kambuh. Mau diet itu, ko ya ribet amet. Setelah research di internet bolak balik sampai mata jereng, akhirnya di pilihnya diet GM. Kenapa? Alasan utamanya saya masih bisa kenyang dengan menu-menunya, jadi aman untuk lambung saya.

Yang mau tau tentang diet GM bisa search di google aja ya. Penjelasan dan menunya lengkap.  

Oh ya, diet GM ini hanya boleh dilakukan satu bulan sekali selama 7 hari.


  • Hari pertama
Di hari pertama hanya boleh makan buah-buahan (selain pisang) sampai kenyang. Di sarankan makan buah melon dan semangka.


Bagi saya hari pertama adalah yang paling berat karena lambung saya mau nggak mau harus beradaptasi hanya dengan asupan buah-buahan. Tanpa nasi, lauk apalagi cilok dan bakso ikan haha. Rasanya kaya orang puasa beneran. Sempet lemas, tapi saya hajar pake dua buah apel. Alhamdulillah kenyang sampai malem.

  • Hari Kedua
Di hari kedua hanya boleh makan sayur-sayuran sampai kenyang. Boleh di oseng, rebus atau di bikin sop. Kalau saya untuk sarapan buat sop kentang dan wortel. Makan siang bawa bekel osengan jagung, jamur kuping, wortel dan sawi hijau.


Note : jamur kuping itu di luar menu diet GM ya. Saya tambahin sendiri biar nggak enek. Jangan di tiru 😁

  • Hari Ketiga
Di hari ketiga boleh makan sayuran dan buah-buahan (selain pisang). Nah, di hari ketiga ini lambung saya sudah bisa di ajak beradaptasi tanpa makan nasi. Ternyata lambung saya baik-baik saja. Saya tetap merasa kenyang.


Menu sayuran dan buahnya tetap sama seperti hari pertama dan kedua. Biar nggak bosan di variasiin aja cara masaknya. Misalnya jagungnya di bikin sop atau cuma di rebus kaya di gambar.

  • Hari Keempat
Di hari ke empat hanya boleh makan pisang dan susu. Saya sempet diare di hari ke empat karena ternyata efek susu dan pisang itu melancarkan pencernaan. 



Di sarankan pisangnya enam buah untuk sehari. Tapi saya cuma beli lima dan ternyata saya cuma makan tiga dan udah kenyang seharian. Untuk susu pilih yang low fat. Rasanya nggak enek.

  • Hari Kelima
Di hari kelima sudah boleh makan ikan atau daging ayam tanpa kulit dengan buah tomat. Kalau saya pilih daging ayam dada (padahal saya lebih suka paha ayam hiks). Tomatnya saya buat sambal.



  • Hari Keenam
Di hari keenam menunya adalah daging ayam tanpa kulit atau ikan dengan sayuran. Sayangnya saya lupa foto hiks. Saya makan pake ikan mujaer dan kangkung 😁

  • Hari Ketujuh
Di hari terakhir diet GM ini makan sayur, buah dan nasi merah. Karena saya nggak ada persediaan nasi merah, jadi saya ganti tempe. Tetep kenyang ko.

Fotonya asal aja haha

Review seputar diet GM :

  • Tantangan terbesar dalam menjalankan diet GM adalah menghindari ngemil. Jujur saja, saya beberapa kali kecolongan ngemil. Pie susu, tahu bulat, surabi dan terakhir risoles. Haha jangan di tiru ya. Sebagai manusia biasa aku tak kuasa menahan godaan :( *alasan
  • Persiapan diet GM saya terbilang mendadak. Jadi saya nggak sempet stok buah dan sayur yang banyak. Akibatnya menu yang di masak itu-itu aja. 
  • Jangan pasang ekspektasi berlebihan. Misalnya turun 10 kg dalam seminggu. Itu nggak mungkin. Yang paling penting badan jauh lebih sehat dan segar karena makanan yang masuk terkontrol.
  • Imbangi dengan olahraga. Sebelum berangkat kerja saya biasanya melakukan olahraga ringan dan lari di tempat. 
  • Berterima kasih lah kepada diri sendiri karena sudah berusaha semangat dan konsisten menjalankan diet. Nggak menyerah di tengah jalan.
Taraaa... bb saya turun 3kg dalam waktu seminggu. Target selanjutnya sih 51kg 😁



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates