Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Source : twitter

Dua hari lalu, cuitan itu muncul di timeline saya. Tidak main-main datang dari penulis terkenal yang karyanya sudah tidak diragukan. Kenapa kok saya langsung tahu platform menulis dan tabloid yang dimaksud? Yup, karena cerpen saya beberapa bulan lalu diterbitkan di sana. Dan benar adanya bahwa tidak ada honor bagi penulisnya. Dipostingan ini saya tidak mau ikut mengkritisi atau mendadak menyerang salah satu pihak yang disebutkan. Ada dua alasan :
  1. Saya masih terikat kontrak kerja sama dengan platform menulis tersebut. Kerja samanya legal alias ada surat perjanjian resmi yang ditandatangani dan bermaterai. Saya juga punya hubungan baik dengan salah satu editor di sana karena saya pernah ikut program mentoring novel bersama beliau. Dan saya akui, banyak manfaat yang saya dapat. Berkat bantuan beliau juga karya saya bisa terbit secara daring dengan status premium. Pembagian royaltinya jelas dan saya sudah pernah mencairkannya (lumayan untuk tambahan jajan hehe)
  2. Saat saya mengirimkan cerpen itu, jujur saja saya tidak kepikiran honor. Saya awalnya ingin men-challenge apakah tulisan saya layak terbit dengan melalui tahap suntingan editor. Salahnya, saya memang tidak bertanya terkait honor (meskipun tidak ada dalam tujuan utama saya, sebagai penulis saya memiliki hak untuk bertanya). Dan sayangnya,  editor tidak memberitahu juga (apakah karena saya tidak bertanya? Mungkin saja). Buktinya, saat saya bertanya, beliau menjawab dengan lugas. Tidak ada honor.
Apakah ada rasa kecewa? Saya tidak menampik. Namun, kembali lagi ke tujuan awal. Saat cerpen diterbitkan cetak kali pertama, ada perasaan senang dan bangga. Ada karya fisik yang bisa saya perlihatkan pada ibu saya dan tentu saja pembaca di seluruh Indonesia. Cerpen itu saya buat tidak asal. Jadi, ketika terbit (walaupun tidak mendapat honor), saya tidak langung insecure bahwa karya saya tidak layak dibaca. 

Nah, balik lagi ke persoalan, bagaimana penulis pemula (seperti saya juga) memperlakukan karya kami? Ada yang bilang tujuan menulis bukan hanya soal uang. Ya ada betulnya. Makanya saya pernah buat cuitan kalau tujuan orang menulis itu beda-beda : ada yang cuma hobi aja (kemungkinan besar si penulis memiliki pekerjaan tetap sehingga soal honor tidak jadi soal, toh menulis bukan pekerjaan utama), ada yang cuma sharing sebagai bentuk pelampiasan perasaan, atau ada yang memang benar-benar menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama sehingga untuk kategori penulis ini honor dan royalti bukan lagi sebuah tujuan, tapi yang memberinya makan dan kebutuhan hidup lain. Khusus terakhir, setidaknya sudah memiliki karya yang dikenal dan penggemar sendiri sepertinya.

Struggle penulis pemula seperti saya adalah bagaimana cara saya meloloskan karya untuk diterbitkan? Bukan hanya berbentuk daring, tetapi juga berbentuk fisik. Itu adalah gerbang karya bisa dikenal secara luas. Karena saya sendiri sering bergelut pada pemikiran : sudah pantaskah tulisan saya mendapatkan honor? Bukankah saya masih banyak kekurangan? Sehingga ketika ada yang berminat menerbitkan, pikiran saya bukan lagi tertuju pada honor, tapi pada rasa bangga. Ini yang mungkin disebut terlalu idealis. Padahal, honor adalah hak penulis ketika karyanya berhasil diterbitkan. Honor juga bisa jadi sebagai pemicu semangat agar semakin banyak berkarya. Wow, berubah jadi realistis hehe.

Setelah saya menulis panjang kali lebar, saya mendapatkan kesimpulan, seandainya saya mengirimkan tulisan kembali, tentu saja kepada media yang menghargai hak penulis. Kalau mau menerbitkan gratis, ya lebih baik di blog pribadi.

Intinya, jangan kapok menulis.
Tertanda,
Penulis pemula yang sudah sering ditolak penerbit dan media lain, tapi tetap aja menulis. Mencoba berhenti, tapi nggak pernah lama. Akhirnya, balik lagi menulis karena kadung cinta (ceila).


Love,
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tidak terasa sudah lima bulan Bapak meninggalkan kami untuk selamanya. Jika itu terjadi saat usia saya masih kecil, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang dalam menghadapinya. Mungkin saya akan meraung setiap hari, tidak berhenti bertanya keberadaan Bapak, hingga perasaan sedih yang meninggalkan luka mendalam. Allah itu adil dalam memberi cobaan pada hambanya. Satu paket dengan hikmah yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia. Kehilangan salah satu orang tua di usia dewasa tidak memberikan saya banyak waktu untuk bersedih. Ada tanggung jawab besar yang menghadang lebih dari sekadar meratapi nasib : menjaga Ibu agar tetap sehat dan bahagia, merawat hubungan kakak adik agar semakin dekat, hingga memotivasi diri sendiri agar melanjutkan hidup lebih baik.

Hubungan saya dan bapak jauh dari kata sempurna. Sebagai anak, saya masih banyak kekurangan. Begitu juga Bapak sebagai orang tua. Perbedaan itu seringkali dalam beberapa hal menimbulkan selisih paham, sikap keras kepala dalam mempertahankan pendapat, dan mengurut dada karena tak sabar menahan emosi. Saya ingat di tahun 2017 kami tak saling bicara selama tiga hari. Hanya karena masalah ta’jil buka puasa yang telat disajikan. Bapak tiba-tiba marah  dan kami terpancing ikut-ikutan marah. Bapak “kabur” menginap di rumah nenek saya karena mungkin merasa kesal. Dampaknya melebar, yaitu Bapak tidak mau mengantar saya ke kantor dan tidak mau bicara dengan kami.

“Orang udah tua kok kelakuannya masih kaya bocah!”

Ya, saya pernah berkata demikian. Saya mempertahankan sifat “keras kepala” dengan satu alasan : saya benar dan tidak melakukan kesalahan. Saya ingin menjadi anak yang tidak hanya “diam” saat orang tua marah dengan alasan yang tidak masuk akal. Sebagai anak, saya memiliki hak membela diri. Tidak peduli siapa yang sedang dihadapi. Namun, pada akhirnya saya menyesal. Sebenarnya kami hanya butuh saling pengertian karena kami bukan tipikal orang yang suka berkata manis dalam mengekspresikan sesuatu. Bapak mungkin tidak tahu cara (atau gengsi) mengatakan tolong, maaf, atau terima kasih. Sementara kami (anak-anak dengan pemikiran yang jauh lebih modern) membutuhkan tiga kata penting itu demi tidak menyimpan luka batin berkepanjangan.

Komunikasi adalah hal terbesar yang mengganggu hubungan saya dan bapak. Lain hari, saya merasa kecewa dengan kata-kata yang beliau lontarkan. Juga dengan perbandingan-perbandingan yang mengecilkan hati saya sebagai anak karena merasa tidak dihargai. Stigma anak harus nurut dan orang tua selalu benar bagai pakem yang tidak bisa diubah, meski saya sudah melawan sekuat tenaga. Pada akhirnya, saya tetap mengalah karena tidak mau dianggap anak durhaka. Tapi jika direnungkan lagi dari sisi Bapak, mungkin ada banyak hal terlewat yang menyebabkan Bapak tidak luwes dalam menunjukkan kasih sayangnya pada anak. Kejadian masa lalu bisa jadi penyebabnya.

Bapak pernah bercerita, semasa hidupnya lebih banyak melewati hal-hal yang berat ketimbang moment-moment bahagia. Bapak bukan berasal dari keluarga kaya, tapi Bapak jelas pejuang hidup paling hebat. Bapak pernah makan telur ceplok dibagi dua dengan kakaknya, pernah berhenti sekolah selama setahun karena tidak ada biaya dan harus mengalah bergantian dengan saudaranya, serta pernah berjualan buah-buahan di stasiun kereta. Saking kerasnya kehidupan, mungkin Bapak tidak sempat merasakan kasih sayang dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Sehingga yang lebih sering keluar adalah sisi buruknya, ketimbang sisi lembutnya yang saya percaya jauh lebih banyak.

Saya pernah bilang ke salah satu teman, Bapak adalah orang paling galak, tapi Bapak juga orang yang sering membuat saya menangis hanya karena menatap wajahnya. Kedengarannya tidak masuk akal, apalagi jika sudah kesal dengan ucapan Bapak, saya bisa kecews sampai tidak mau keluar kamar. Namun, di moment-moment tertentu, ikatan batin ayah dan anak tidak bisa dibohongi. Bapak tetap terbaik. Bapak tidak bisa digantikan oleh laki-laki manapun.

Ketika saya sakit, orang yang siaga mengantar ke dokter 24 jam adalah Bapak. Ketika saya membutuhkan jemputan malam-malam setelah berpergian, Bapak rela menahan kantuk agar bisa mengantar saya selamat sampai rumah. Ketika hujan turun deras, Bapak rela menjemput dan mengantar saya ke kantor hanya bermodalkan jaket tipis. Sampai beberapa hari sebelum beliau meninggal, Bapak masih sempat menjemput saya ke kantor dan memastikan saya pulang dengan selamat. Ketika ada laki-laki yang main ke rumah, saya tahu beliau khawatir laki-laki itu tidak baik, tapi beliau tidak mau saya kecewa. Jadi, beliau hanya diam dan pura-pura bersikap galak.

Begitu juga dengan saya. Semarah-marahnya pada Bapak, saya tidak pernah tega membiarkan orang lain melukai hatinya. Setiap Bapak sakit, diam-diam saya pergi ke kamar hanya untuk mengecek apakah Bapak masih bernapas atau tidak. Saya kelihatannya anak yang cuek, tapi saya diam-diam khawatir jika Bapak belum pulang ke rumah atau Bapak pergi tanpa kabar. Lagi-lagi bentuk kasih sayang itu tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata langsung. Hanya berupa tindakan yang Bapak juga tidak pernah tahu. Maka tidak heran, Bapak sering bilang, saya tipe anak yang tidak peduli. Padahal setiap berdoa, nama beliau tidak pernah absen dari mulut saya. Meski dalam beberapa hal sikap Bapak menyebalkan, tapi saya selalu mencoba memberi perhatian kecil pada beliau.

Sebelum usia dewasa dan memasuki keras kepala, hubungan kami sesungguhnya jauh lebih hangat. Moment yang tidak akan saya lupakan adalah Bapak tidak pernah lupa membelikan kami oleh-oleh setiap pulang dinas kerja dari Lembang. Bapak adalah pekerja keras. Lebih dari puluhan tahun bolak-balik kerja Jatibarang-Cirebon hanya mengendarai motor. Kami sering meledek kulitnya berubah hitam karena sering terkena sinar matahari. Tapi dari tangan gigih Bapak, kami semua bisa kuliah di luar kota dan berhasil menyandang gelar sarjana. Sesuatu yang tidak bisa Bapak capai karena kendala biaya dan keadaan.

Ibu pernah cerita, Bapak tidak pernah mengambil cuti kerja karena lebih baik uang cutinya dipergunakan untuk biaya pendidikan. Kami pernah melewati masa-masa keuangan yang sulit hingga tidak punya kesempatan untuk pergi wisata atau membeli barang-barang canggih. Sampai akhir hidupnya, Bapak hanya memiliki ponsel nokia yang masih saya simpan hingga sekarang. Beliau belum sempat menyaksikan video youtube lebih lama, berkirim pesan lewat WhatsApp, atau mencari berita lewat pencarian google. Ketika saya berhasil membeli HP baru dari hasil berjualan baju secara online, Bapak sempat berkata : “Tadi-tadi HP lamanya buat Bapak aja.” Nada bicaranya bercanda, tapi saya tahu beliau menginginkannya.

Meski hubungan kami tak selalu harmonis, Bapak tetap meninggalkan memori indah bagi saya. Ketika beliau selesai membersihkan rumah, Bapak selalu bertanya pada saya : “Dapet nilai berapa, Mi?” dan saya pasti selalu menjawab dengan nilai sembilan karena Bapak memang paling apik dan rajin dalam membersihkan rumah. Saat beliau sudah tidak ada, tugas itu saya teruskan. Saya pastikan kaca jendela rumah selalu bersih, rumput di halaman dipangkas secara teratur, bunga-bunga disiram, dan mengepel lantai sesering yang beliau lakukan. Beliau juga rajin sekali sholat subuh berjamaah di Masjid, maka sebisa mungkin kami meneruskannya. Raga Bapak boleh saja pergi, tetapi kebiasaan baik Bapak saya pastikan tidak akan pernah hilang. Membayangkan Bapak sedang duduk di alam sana dengan tenang adalah upaya yang akan selalu kami lakukan.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi Bapak mengajarkan satu hal : cinta anak pada orang tua akan abadi selamanya.



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Gimana kabar kamu?"
"Gimana keadaan kamu?"

Seringkali kita mendapat pertanyaan seperti itu, baik dari teman lama atau sahabat dekat. Seringkali pula template jawaban kita selalu sama, meski dalam kondisi berbeda : alhamdulillah, sehat atau aku baik-baik aja. Dalam kondisi normal, menjawab "baik-baik" saja tentu sangat melegakan. Tidak ada kebohongan. Aura wajah terpancar jelas dari senyum lepas atau ketikan chat yang terbaca menyenangkan.

Lalu, bagaimana seandainya kita sedang tidak baik-baik saja? 

Beberapa hari lalu, Ibu bertanya dengan wajah heran, alasan kenapa saya tidak menangis padahal saya sudah kehilangan salah satu yang terdekat? Apa saya baik-baik saja? Apa saya sebenarnya sedang memendam sesuatu, tapi enggan bercerita? Pertanyaan itu bagi saya tidak mengherankan. Normalnya, orang yang baru saja kehilangan, pasti merasa patah hati dan menangis. Sayangnya, saya malah terlihat biasa saja. Berkegiatan seperti biasa, tertawa, tidur dengan nyenyak, dan makan masih lahap.

Saya jawab, sebenarnya saya tidak baik-baik saja. Setiap malam sebelum tidur, saya suka gelisah. Saya ingin menangis, tapi saya tidak bisa menangis. Saya tidak tahu mengapa air mata saya tidak mau keluar padahal hati saya sedih luar biasa. Ini mungkin yang membuat saya tampak baik-baik saja. Saya kadang sulit mengekspresikan sesuatu karena mungkin saya tipe anak yang terbiasa "dipaksa" legowo.

Mengaku "tidak baik-baik saja" bukanlah sebuah kesalahan atau menunjukkan kita makhluk paling lemah, tak berdaya, rapuh, dan tidak memiliki daya. 

"Saya sedih."
"Saya butuh waktu sendiri."
"Saya butuh teman ngobrol."
"Saya patah hati."
"Saya terpuruk."

Kalimat-kalimat tersebut bisa kita ucapkan secara jujur. Bukan sebuah kelemahan. Hanya menunjukkan bahwa kita manusia biasa. Kita mungkin tak sekuat manusia lain saat menghadapi cobaan hidup, tapi kita tidak boleh menyiksa diri sendiri dengan kebohongan-kebohongan yang semakin menumpuk. Mengaku jujur dengan kondisi kita akan memudahkan menemukan solusi. Berat memang. Tidak semua orang mengerti kondisi kita atau tidak semua orang mau memposisikan sebagai diri kita. But, who's care? Sebelum memikirkan apa kata orang, selamatkan diri kamu dulu. Sama halnya sebelum membahagiakan orang lain, bahagiain dulu diri kamu.

This is also a reminder for myself. 
I'm not ok and that is not a weakness.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pinterest
Saya masih ingat kejadian tahun 2012. Tahun paling buruk selama hidup saya dan sialnya saat itu saya masih kuliah semester empat dan tinggal jauh dari orang tua. Diawali dengan sakit flu karena begadang semalaman membaca sebuah novel, besok paginya semua mendadak berubah. Saya merasa seperti bukan diri saya, saya merasa jiwa yang bersemayam di tubuh bukan lah diri saya. Saya tidak mengenali siapa yang ada di dalam.

Pikiran waras saya berontak, tapi selalu berakhir dengan rasa letih luar biasa yang juga tidak saya kenali. Mood turun drastis. Rasanya berat sekali turun dari tempat tidur padahal seharian saya tidak melakukan kegiatan apa pun. Sekali lagi, saya masih berpikir waras. Mungkin saya memang sakit flu. Pergi lah saya ke apotek dekat kampus. Ajaibnya, dokter bilang tidak apa-apa hanya kelelahan saja. Sejujurnya, saya tidak puas dengan jawabannya karena saya merasa tidak lebih baik. Saya justru ketakutan. 

Hari-hari selanjutnya seperti mimpi buruk. Bukan hanya malas beranjak dari tempat tidur, saya juga jadi malas makan, mandi, dan bersih-bersih kamar kost. Cucian baju saya biarkan menumpuk dan kehilangan selera makan. Saya lebih sering menangis karena benar-benar merasa saat itu bukan lah diri saya. Saya suka kerapian dan kebersihan, makan saya lahap, dan saya lebih banyak tertawa. 

Saya masih terus melawan dengan berpikir positif dan bercerita ke teman-teman dekat. Namun, saya akui saat itu tidak banyak yang peduli. Ada yang bilang saya mulai gila. Saya tidak bisa juga menyalahkan mereka karena kondisi saya yang memang tidak stabil. Cerita ke orang tua juga sudah, tapi apa daya mereka juga fokus pada penyembuhan kakak laki-laki saya yang mengidap OCD. 

Saya sendirian. Saya tetap melawan. Meski semakin hari semakin tidak terkendali. Bayangkan, tubuh dan jiwa kamu letih, tapi mata kamu tetap tidak bisa terpejam. Besok paginya seperti keajaiban kamu tidak mengantuk sama sekali. Ya, itu yang saya rasakan. Belum lagi, saya harus tetap tampil seolah baik-baik saja agar kegiatan kuliah saya dan hubungan sosial dengan teman-teman tetap berjalan. Meski beberapa kali setiap mengobrol, saya sering tidak fokus. Atau ketika mengobrol saya merasa senang, tapi begitu sampai tempat kost saya mendadak menangis tanpa sebab. Bahkan saya sempat ada pikiran ingin bunuh diri dengan cara melompat ke salah satu jembatan di Bandung. Sad, but true. Sempat ada dalam kondisi seputus asa itu. Kalau ada yang bilang saya kurang ibadah ya miris banget, karena kenyataannya dalam kondisi mental paling buruk pun saya tidak pernah meninggalkan sholat dan mengaji.

Ada satu hal yang saya sesali hingga detik ini, betapa saya tidak pernah mendapatkan bantuan ahli untuk menemukan jawaban dari rasa "sakit" saya. Terbawa stigma yang mengatakan saya kurang dekat sama Tuhan atau ada dosa yang harus saya tebus. Maka ketika itu, tidak ada pilihan lain. Hal yang bisa saya lakukan hanya sekuat diri melawan semampu saya. Dengan menahan "sakit" dan halusinasi yang mulai muncul, saya berusaha untuk keluar dari situasi kacau. Saya paksa banyak melakukan kegiatan di luar yang membuat saya tidak sendirian. Saya paksa juga sering mengobrol dengan teman-teman kost agar saya tidak banyak melamun. Setiap kali gagal dan berakhir menangis, saya berusaha untuk tetap berkegiatan. Hingga tak terasa saya mulai "lepas" dari semua itu sekitar satu tahun kemudian dan saya merasa sudah normal kembali.

Itu mimpi buruk mengerikan yang tidak mau terulang!

***

Pertanyaannya, apakah saya benar-benar lepas dari perasaan depresi?  Tentu tidak. Namun, saya (sejauh ini) tidak memiliki perasaan "mengerikan" yang membuat saya "lumpuh total" seperti dulu. Bedanya juga, diri ini jauh lebih menerima. Saya tidak mau lagi memaksa diri saya untuk terus melawan, tapi saya ingin selalu menjadi "teman baik" untuk diri saya. Jika perasaan depresi muncul, saya ajak bicara baik-baik. Saya tawarkan dengan menggambar, membaca buku, menulis novel, jajan camilan, atau menonton drama korea yang membuat hati senang. Tidak selalu berhasil, kadang saya juga lemah dan keburu menyerah, hingga berakhir meringkuk di dalam kamar tanpa berkegiatan.

Kok bisa saya masih kelihatan normal, termasuk dalam bekerja dan bergaul dengan orang lain? Tentu saja bisa. Tapi tidak semua paham, bahwa orang dengan kondisi seperti saya kadang bisa "kelelahan" tanpa sebab. Dan yang dapat mengendalikan itu semua tentu saja balik lagi ke diri kita. Kalau memang tidak kuat, sebaiknya menghindar dulu untuk menenangkan diri.

Perlu diakui, suka atau tidak suka, setiap orang memiliki perasaan depresi sendiri akan suatu hal atau dalam menghadapi masalah. Belum lama saya kehilangan Bapak karena sakit. Bukan hanya perasaan yang hancur, tapi menjalani hari rasanya tidak semangat karena tidak ada lagi sosok yang setiap hari ada di rumah. Sosok yang bisa saya lihat, sentuh, atau diajak bicara. Tidak mau lagi terjebak dalam perasaan sedih berlarut-larut hingga pikiran depresi muncul kembali, saya selalu berkompromi dengan diri saya. Meyakinkan setiap hari jika semua sudah Kuasa Allah. Jika ditakdirkan terjadi, saya tidak mungkin bisa mencegah. Sekali lagi, itu tidak mudah. Tapi saya tidak mau menyerah.

Seringkali, saya tidak minta hal yang muluk-muluk seperti saya harus selalu ceria, tidak banyak mengeluh, atau harus selalu produktif setiap hari. Tidak, ada kalanya saya mengembuskan napas, mencerna beberapa kejadian dengan perasaan sedih, atau menangis beneran karena diri ini merasa nggak berharga. Maka saya hanya minta pada diri saya untuk terbiasa menerima. Menerima bukan berarti pasrah pada keadaan, bukan pula tidak mau berusaha. Menerima yang dimaksud seperti..."ya sudah tidak perlu berpikir keras untuk hal-hal yang bikin menyiksa diri". 

Jadi, melawan perasaan depresi itu tidak pernah mudah. Kamu bisa senang ketika berhasil melewati, tapi kamu juga harus siap ketika gagal dan hasilnya tetap belum berubah. 

Tidak apa-apa. 

Coba lagi.
Coba lagi.
Coba lagi.

Tidak perlu dipaksa. Tidak perlu terlalu keras sama diri kamu. Lebih baik pelan-pelan merangkul agar bisa melewati suatu kondisi bersama-sama. 

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hallo...
Wah, udah hari ke 2 di tahun 2019.
Gimana udah jalanin list resolusinya? Atau sama kaya tahun kemarin? 😛

Bagi saya sendiri, tahun 2019 tidak memiliki resolusi khusus karena ya...jujur saja tahun 2018 saya banyak menelan kekecewaan, banyak kehilangan, dan banyak mengalami hal-hal yang membuat down. Bersyukurnya, di tahun 2018 saya banyak mengambil keputusan-keputusan hidup dengan berani. Seperti yang pernah saya posting di Instagram, dua keputusan besar di antaranya : mengikuti mentoring menulis novel selama enam bulan (dengan biaya tidak murah 🤪) dan resign dari pekerjaan, kemudian membuka bisnis kecil-kecilan. Alhamdulillah sampai detik ini saya belum menyesalinya hahaha. Kadang-kadang saya takjub sama diri ini. Untuk tipe anak yang "comfort zone" kaya saya, keluar dari "tempurung" adalah sesuatu yang wow. Jadi, boleh lah sesekali saya bangga dengan diri sendiri.

Pencapaian lainnya (meskipun ini kecil) adalah saya sudah belajar masak dan bikin kue, bikin akun watttpad untuk mempublikasikan novel karangan saya, baca buku lebih banyak, sharing review buku di instastory, dan tentunya masih bisa travelling.

Tahun ini saya nggak mau terlalu ambisius. Saya lebih ingin menikmati proses yang saya lalui, menghargai setiap pencapaian kecil saya, melakukan sesuatu yang saya inginkan dan mengusahakannya dengan baik. Kalau rencana saya berhasil, saya bersyukur. Kalau gagal, coba lagi. Kalau dikasih di luar rencana, anggap lah itu bonus dari Allah atas kerja keras di tahun sebelumnya.

Banyak teman saya yang bertanya apakah saya berminat mencari pekerjaan lagi? Saya jawab, nggak menutup kemungkinan. Namun sementara ini saya lebih nyaman dengan keadaan saya sekarang. Apa ya dibilang bebas juga nggak, sih (bokek iya 😂), tapi lebih kepada ide-ide yang ada di kepala ini tersalurkan dengan baik *azeeek bahasanya nggak nahan.

Nothing big goals

Just enjoy, more cheerful, and be happy.
Sama satu lagi, semoga selalu sehat, baik fisik maupun mental.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pinterest

Tanggal 06 Oktober 2018 merupakan hari "bersejarah" bagi saya. Hari itu saya resmi mengundurkan diri. Setelah berkali-kali kata resign hanya ada di angan-angan dan diucapkan hanya sebatas omongan, nggak nyangka akhirnya sekarang malah menjadi kenyataan. 

Keinginan resign ini panjang banget kalau diceritain. Dari sekian banyak alasan, saya lebih memilih alasan personal yang melatarbelakanginya. Berhubung saya tipe introvert, yang lebih suka memendam perasaan ketimbang bicara, maka saya akan mencoba mengutarakan perasaan saya lewat tulisan.

***

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga konvensional, indikator kesuksesan seorang anak cenderung linear dan bersifat mengikuti norma-norma pada umumnya : lulus kuliah, kemudian bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Mindset ini tanpa sadar tertanam sejak dini, bahkan sekalipun saya memiliki cita-cita lain, pada akhirnya saya "terdampar" pada kenyataan dan menyerah pada mindset yang terlanjur ditanam. Sepintas memang tidak ada masalah, kan? Toh, gimana pun realitas memang berbicara begitu. Saya butuh uang untuk kebutuhan hidup, jadi saya sempat berpikir, "sudah lah takdir saya memang di bidang ini. Yang penting dapat gaji buat belanja, jalan-jalan, dan bantu orang tua. Itu udah bikin saya bahagia."

Tapi benar kata orang...
Ada beberapa kebahagiaan yang tidak bisa di ukur hanya dengan rezeki berbentuk materi. Kegelisahan itu muncul di tahun kedua saya bekerja. Untuk kali pertama saya menemukan diri saya tidak memiliki motivasi, tidak bersemangat, tidak tahu tujuan hidup saya apa, dan merasa kosong. Hidup seperti menekan tombol repeat : tidur, makan, berangkat kerja, tidur. Kalau pun ada yang membuat saya tetap waras, itu adalah hobi tercinta saya : menulis, nonton drakor, dan membaca buku **ditipuk.

Selama ini saya mencoba bertahan dengan pikiran serealistis mungkin : "mencari pekerjaan itu susah, loh. Kamu pernah merasakannya." Ya, saya pernah merasakan susahnya mencari pekerjaan. Sampai hal klise yang sering digaungkan banyak orang : "di luar sana masih banyak orang-orang yang berjuang mencari pekerjaan." Once again yes, thats true. Saya bukan tidak memikirkan. Saya berpikir ribuan kali. Dan pada akhirnya, saya memilih bertahan. Lebih pada ketakutan saya pada hal-hal yang akan terjadi dan ketidakberdayaan saya mengatasi rasa takut itu.

Sebagai seorang Muslim akhirnya saya hanya bisa berdoa. Doa yang paling saya ingat adalah doa setelah sholat dzuha yang isinya : "Ya Allah, jika pekerjaan saya adalah yang terbaik, tolong kuatkan saya untuk bertahan. Tapi jika tidak, tolong berikan yang lebih baik." Berkali-kali berdoa, berkali-kali diyakinkan untuk bertahan. Saya tetap berdoa. Saya tetap minta diyakinkan.

Kemudian pada awal bulan September saya mendapatkan email dari HRD bahwa saya akan di rolling ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Saya sudah punya feeling bahwa orang tua tidak akan mengizinkan. Terus tiba-tiba saya teringat oleh doa saya. Meskipun begitu saya ingin mencoba meminta izin. Saya ingin tahu jawaban mereka.
"Bu, aku dipindah ke kantor sana."
Ibu udah pasang tampang nggak enak (hahaha).
"Udah lah resign aja."
"Kenapa?"
"Kejauhan."
"Yakin?"
"Iya, lagian mungkin memang sudah jalannya. Bukan yang terbaik."

PERSIS SEPERTI DOA SAYA PEMIRSAAAH!

Kemudian coba ke Bapak. Biasanya beliau lebih cerewet karena nasehat-nasehatnya. Alamak, belum ngomong apa-apa mata saya udah berkaca-kaca. Ngebayangin mungkin ini akan melukai hati beliau yang selama ini setia mengantar jemput saya ke kantor.
"Pak..."
"Iya, udah keluar aja."
Ebuset belum ngomong apa-apa.
"Beneran?"
"Emang berani naik bus sendirian kalau pulang malam?"
"Ya nggak"
"Gaji kamu berapa?"
"Segini *sebutin angka*"
"Alah, bakal boros kalau ngekost juga."
HAHAHA PENGEN KETAWA.

KEMUDIAN MENATAP SEDIH SALDO TABUNGAN

Setelah itu saya jadi ingat ucapan teman : "Ami, kalau belum menikah ridho Allah ada di tangan orang tua. Jika orang tua ridho, maka Allah juga ridho."

INI KOK KAYA LAGI MENCARI JODOH YA?

Terakhir dan yang paling penting, adalah bertanya pada diri sendiri. Beberapa hari saya merenung. Mencoba mendengar isi hati meskipun saya orangnya nggak peka. Jangan kan mempelajari petunjuk semesta, isi hati aja sering diabaikan. Belum apa-apa pikiran buruk sudah menggelayuti (haha bahasanya berat)
"Aduh, gimana kalau nanti susah cari pekerjaan lagi?"
"Gimana kalau mau belanja di online shop?" (teteup ya teteuup)
"Gimana kalau mau travelling?" 
Dan seribu pertanyaan gimana gimana lainnya. Lambat laun keputusan itu datang, bersamaan dengan hati yang mantap. Ya pastinya ada banyak komentar.
"Yakin? Susah loh cari kerja tuh."
"Sayang banget udah karyawan tetap."
"Nggak mau coba dulu?"
"Harusnya bersyukur masih kerja."
Dan banyak lagi.
Awalnya jadi ragu lagi, tapi saya lebih memilih berpikir positif. Lagian banyak teman yang kasih semangat, jadi makin yakin dengan keputusan yang dibuat. Ini sih yang bikin terharu. Mereka nggak menghakimi keputusan saya.

Percayalah, nggak ada orang yang mau kehilangan pekerjaan. Se-nggaknyamannya dengan lingkungan kerja, jika dia masih memiliki alasan untuk bertahan, ya dia akan bertahan.

Saya tahu keputusan ini mengandung resiko besar, tapi saya ingin memberikan kesempatan pada diri saya untuk mencoba. Mencoba sesuatu yang saya yakini. Dan memutuskan resign di usia produktif bukan hal yang mudah. Ini seperti gambling. Kalau dibilang nggak takut itu bohong banget. Saya masih takut sampai sekarang. Gimana pun saya juga manusia biasa, bukan malaikat apalagi bidadari.

Di hari pertama saya tidak bekerja, pagi hari Ibu langsung bertanya :
"Ami, nggak lagi ingat kerja,kan?"
Saya tahu Ibu khawatir, padahal saya baik-baik saja. Saya akui, ada rasa kosong di dalam hati, tapi bagi saya itu wajar. Seperti kita beradaptasi dengan suasana baru. Perlu waktu. Dan saya yakin, saya bisa bangkit lagi.

Rasa takut biasanya di iringi dengan rasa berani dan rasa berani di iringi dengan keyakinan. Itu betul loh. Kalau takut gagal terus, kita nggak tahu kan kesempatannya datang kapan lagi? Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang dihadapi.

Jadi, kalau ada yang bertanya rencana saya selanjutnya apa, jawaban saya tetap sama : saya punya rencana, tapi sementara akan menjalani hidup dengan apa yang saya hadapi nanti. Saya tidak memaksa orang lain untuk mengerti jalan pikiran saya. Yang jelas saya menikmati kebebasan ini. Menikmati untuk memilih apa yang saya inginkan.

Mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang bukan hanya "sekadar hidup", tapi juga "benar-benar hidup". Manusia yang bukan hanya menerima manfaat, tapi juga dapat memberi manfaat.

I will walk on my way,
I will shining with my light,
and I will find my dreams.


Love,
Amelia Utami 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates