Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Semenjak saya memiliki smartphone (cieeee), saya memiliki beberapa akun media sosial. Mulai dari yang sering aktif, maupun yang jarang aktif. Dari semua jenis media sosial yang ada, saya hanya memiliki beberapa. Beberapa yang menurut saya menarik dan cocok untuk kebutuhan saya. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan. 

Berikut media sosial yang saya miliki :

1. Instagram
Beneran deh media sosial ini wajib banget kamu miliki, apalagi yang hobi fotografi atau sekedar selfie hahaha. Instagram bagi saya pribadi sih bukan hanya sekedar media sharing foto, tapi juga membuat saya lebih kreatif dalam mengolah foto saya sebelum di upload, sehingga keliatan lebih menarik. Misalnya, saya belajar mengatur tune image (brightness, contrast dan highlights) supaya foto saya lebih cerah secara alami. Tidak ekstrim macam pake camera 360 atau camera beauty plus. Terus kita bisa mengatur size foto sesuka hati kita. Kita juga bisa menambahkan efek pada foto kita. Selama tidak mencolok mata sih, itu oke-oke aja ya. Apalagi kalau kombinasinya pas, jatuhnya foto kita malah lebih keren.

Aplikasi foto yang biasa saya gunakan : Photo Grid, PicArt, Square InstaPic, VSCO Cam dan Snapseed. Dari semuanya, Snapseed juaranya!

Akun Instagram favorit saya : @lucedaleco (yang suka vintage seperti saya, she is queen of vintage from Indonesia), @indahnadapuspita dan @thataljundiah (blogger hijab favorit saya), @bestkdramas (yang suka nonton drama korea, akun ini sangat update dengan drama terbaru dan memberi rekomendasi mana drama yang seru ceritanya. Hati-hati spoiler ya hihi), @amrazing (fotonya keren-keren dan di jamin mupeng mulu untuk travelling), @chachathaib (selain anaknya gemesin banget, saya suka kepoin akun dia karena biasanya merekomendasikan online shop yang oke hehehe).

2. Blog
Yang kurang puas curhat atau berbagi cerita lewat media sosial lain karena jumlah katanya terbatas, blog bisa jadi pilihan. Apalagi yang hobi menulis seperti saya, blog sangat membantu sekali. Bahkan kalau postingan blog kita banyak pengunjungnya, bukan tidak mungkin blog bukan hanya sekedar lahan menulis, tapi juga dapat dijadikan sebagai pekerjaan. Sebutannya adalah blogger. Udah baca kan kisahnya Raditya Dika? doi bisa sukses sekarang berawal dari postingan-postingan dia di blog. 
Tapi sebagai orang yang suka menulis blog, saya nggak terlalu mikir sukses sih. Bisa di baca orang aja udah bersyukur. Intinya sukses itu bonus. Bonus dari kerja keras kita. Yang lebih penting kita tetap konsisten menulis eaaaaaaa. *mulai alay*.

Blogger favorit saya : Anastasia Siantar, Dramatroll, Andra Alodita dan Amrazing

3. Path
Dibandingkan dengan teman-teman, saya termasuk telat memiliki akun Path. Baru beberapa bulan saya bergabung dengan Path. Awalnya nggak ngerti fungsi Path ini apa. Setelah liat postingan-postingan temen, akhirnya saya  paham. Intinya sih kita bisa "pamer" lokasi kita sekarang dimana, lagi baca buku apa, dengerin musik apa, nonton film apa (bareng siapa juga penting nih ya hehehe). Kita juga bisa share quotes (yang jumlah katanya nggak terbatas seperti twitter), foto dan video. Sampai saat ini Path masih seru ya, asal jangan hobi nge-tag berjamaah aja. Oh ya, path ini juga katanya lebih private karena jumlah pertemanan yang di terima nggak banyak dan list friends-nya ya temen-temen yang kita kenal aja.

4. Twitter
Pertama aktif di twitter tahun 2009. Dari tahun 2010-2013 adalah masa seru-serunya twitter. Belum ada twitwar (tau twitwar? itu loh maksudnya perang di twitter. Lagian perang ko di twitter?), belum ada iklan-iklan sampah yang menyebalkan juga. Nggak bisa di pungkiri, semakin banyak media sosial baru bermunculan, twitter jadi sepi. Setidaknya di twitter saya. Kadang saya kangen mention-mention sama temen-temen, retweet twit mereka atau bikin twit galau-galau hahaha. Sekarang buka twitter cuma buat baca berita, kepoin twit selebtwit atau ngetwit ala kadarnya. *muka sedih*

5. Facebook
Setelah Friendster udah redup pamornya, nah penggantinya adalah facebook. Meskipun udah nggak setenar tahun-tahun awal kemunculannya, facebook di bilang masih banyak pengikutnya sampai sekarang, termasuk saya. Waktu awal main facebook, saya akui, saya sangat alay sekali. Sering update status galau-galau nggak jelas. Tapi sekarang sih fungsi facebook bagi saya lebih ke mini blog. Berhubung saya udah me-remove teman-teman yang nggak saya kenal dan sebagai gantinya saya add akun-akun yang bermanfaat.

Akun facebook favorit saya : Alfathri Adlin (beliau suka bahas filsafat, agama dan cerita kehidupan yang menginspirasi), Hendi Jo (yang suka sama sejarah tapi males baca buku, bisa kepoin akun beliau. Beliau juga suka sharing foto jaman sejarah yang jarang ada di buku), Mas Hendrajit (Politik), Kafil Yamin (suka aja sama pengetahuan yang beliau share, terutama tentang jurnalistik), Sidrotun Naim dan Dedi Priadi (suka dengan cara beliau berdua mendidik anaknya dan terutama bu Naim suka sharing tentang politik juga).
notes : saya nggak kenal secara pribadi sama pemilik akun-akun tersebut, tapi bagi saya itulah salah satu fungsi media sosial yang positif, yaitu saling menginspirasi, meski tak saling kenal di dunia nyata.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai, semenjak notebook saya error, saya jarang post tulisan baru untuk #30hariproduktifmenulis. Ketinggalan jauh deh sama temen saya, Rini, huhuhu. Tapi untungnya ada laptop punya teteh yang nganggur kalau dia lagi di kantor atau nggak lagi dia pake. *peluk teteh*.

Nah, sekarang saya mau bahas tentang masa lalu. Bukan bersama mantan ya *ehm*. Jadi, dari remaja saya punya kebiasaan aneh, yaitu suka ngumpulin barang-barang jaman dulu. Jaman saya masih kecil. Beruntung saya menghabiskan masa kecil pada tahun 90an, dimana konon katanya masa itu adalah masa paling bahagia bagi anak-anak di seluruh dunia. Barang yang masih di simpan nggak banyak sih karena rumah saya pernah di renovasi besar-besaran, jadi banyak yang nggak tau deh pada kemana.

Ini barang-barang yang masih saya selamatkan dan saya simpan serapih-rapihnya. Beberapa barang udah pernah saya posting di instagram :

1. Perangko

Koleksi Pribadi
Hayo siapa yang dulu hobi pergi ke kantor pos? pasti nggak asing deh sama benda yang satu ini. Lihat harganya masih 300 sampai 500 perak. Dengan harga perangko yang murah itu, di jamin surat kita bakal sampai ke tempat tujuan.

2. Mengirim Surat ke Artis Cilik

Koleksi Pribadi
Masa kecil kamu pokoknya belum lengkap kalau belum mengalami masa-masa ngirim surat ke artis cilik. Dulu saya bela-belain beli majalah bobo untuk dapetin alamat rumah artis. Terus dengan pedenya saya kirim surat ke mereka sama minta foto. Biasanya di balas satu-dua minggu. Rasanya tuh seneng banget kalau ada pak Pos dateng ke rumah. 

3. Kaset


Koleksi Pribadi. Lebih tepatnya punya kakak.
Kayanya barang ini dari jaman ayah ibu kita masih muda udah pada punya deh. Secara belum ada dvd atau cd. Waktu saya kecil toko kaset masih berjaya. Saya banyak ngoleksi kaset lagu anak-anak tapi nggak tau pada hilang kemana :(. Udah paling kesel kalau pita kasetnya udah mulai kusut. Terus dengan sabarnya di benerin dengan cara diputer pake pulpen sampai rapih lagi. Hahahaha

4. Bola Bekel


Koleksi Pribadi
Permainan wajib anak perempuan tahun 90an nih. Lawannya bisa temen, kakak atau bahkan ibunya. Paling gemes kalau lawan kita nggak "mati-mati". Kapan kita mainnya? hihi

5. Tiket Timezone

Koleksi Pribadi
Hiburan paling mewah pada zamannya sih menurut saya. Karena waktu saya kecil aja tiketnya bisa di bilang mahal dan Timezone ini hanya ada di mall-mall besar. Jadi, anak 90an kalau udah main kesini tuh keren banget. Meskipun tiketnya pas di tukar cuma dapet pulpen atau penghapus. 

6. Kartu

Koleksi Pribadi
Sebenarnya saya nggak tau namanya kartu apa. Saya suka beli di abang kloneng-kloneng waktu SD. Btw, tau abang kloneng-kloneng nggak? itu loh abang yang jual mainan keliling dengan pake sepeda. Kenapa di panggil kloneng-kloneng? karena itu bunyi bel sepedanya. *terserah lo deh, ami*.

7. Origami Paper


Koleksi Pribadi
Ini sih biasanya di pake buat pelajaran KTK. Buset deh nyebutnya ktk keliatan banget sd nya udah lama hahaha. Atau biasanya di pake buat minta no telfon rumah temen cewek atau cowok yang kita suka. Cieeeee!

8. Kamera 

Koleksi Pribadi
Meskipun sering kesel karena waktu di cetak hasil gambarnya buram, blur atau bahkan kebakar, percayalah bahwa benda ini sangat sangat berguna untuk mengabadikan moment pada jamannya. Banyak orang tua yang rela nabung buat beli benda ini untuk ngambil gambar anak-anaknya. 

9. Monopoli


Koleksi Pribadi
Bagi kalian yang dibesarkan oleh keluarga sederhana seperti saya, mungkin bisa pergi ke luar negeri hanyalah mimpi di siang bolong. Maka berterima kasihlah pada orang yang sudah menciptakan permainan Monopoli, sehingga bisa mewujudkan mimpi anak-anak kecil seperti saya dulu untuk jalan-jalan ke luar negeri tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

10. Lupus


Koleksi Pribadi
Untuk anak-anak atau remaja 90an pasti masih inget dong kata-kata gaul macam : bokis, ngibul, ngedumel, eike dan lain-lain.  Kata-kata itu banyak berasal dari novel Lupus karya Hilman. Dijamin kamu bakal ketawa guling-guling pas baca. Hilman emang jagonya bikin cerita kocak waktu itu. Cerita Lupus juga udah di bikin film dan sinetron. Yang terkenal sih, Lupus Millenia. Tayang awal tahun 2000-an di Indosiar. Tuh kan saya masih inget, jadinya kangen pengen nonton lagi.

11. Komik

Koleksi Pribadi
Sumber imajinasi saya waktu kecil. Sebenarnya selain komik ada lagi buku-buku bergambar yang ceritanya anak perempuan banget, seperti Cinderella, Alibaba dan 40 Penyamun. Angsa Emas, Gadis Penjual Korek Api dan lain-lain. Dan yeah sayang banget itu hilang tak berbekas. :(

12. Tazos


Koleksi Pribadi
Ini sih banyak anak-anak kecil tahun 90an yang rela beli chiki banyak-banyak supaya dapet hadiah tazos dan di adu sama temen-temennya. Makin lusuh tampilan tazos, makin keren katanya sih. 

13.  Kartu Nabati

Koleksi Pribadi
Kalau kartu ini dapet hadiah dari biskuit nabati yang kalau nggak salah harganya 300 perak atau berapa itu. Agak lupa.

14. Pensil Gambar Luna


Koleksi Pribadi
Salah satu kebahagiaan anak-anak 90an adalah ketika pelajaran menggambar disekolah dan mewarnai pake pensil gambar Luna. Jangan harap deh mau di pinjemin. Yang ada berantem dulu hahaha.

15. Radio


Koleksi Pribadi
Kalau sekarang nggak ada kegiatan atau lagi bete biasanya main HP terus buka media sosial. Waktu saya kecil kalau lagi nggak ada kegiatan atau biasanya nih kalau bete nungguin adzan maghrib pas bulan Ramadhan, ya mending dengerin radio sambil request lagu kesukaan. Jangan lupa titip salam buat temen-temen ya, hehehe.


Love.
Amelia Utami
#30hariprodukifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
How are you today?
At least this morning I'm fine.

How do you feel today?
I'm feeling pretty good. That's because I have not moved on from Korean Drama "Healer" and I still listen to the Original Soundtrack with the title Eternal Love. It's my mood booster these day. I know I'm being "crazy" when I begin idolize something or someone. But it makes me happy, though not for long.

It's time for you to question the actual question...

1. Who are you?
Me? "you" don't know me? hey, "you" should who I am. My name is Amelia Utami.

2. What kind of people are you?
Honestly, this is a difficult question. I was one of those people who have difficulty when having to explain it. I don't really know what kind of person I'm. Whether I'm kind person or not. I'm not sure. Till now I live with what I believe is right.

3. What your daily activities?
Searching a job, reading, writing and watching Korean Drama. Sometimes I do chores, such as sweeping, watering flowers and help my mom to cooking in the kitchen. Ah, I'm really busy.

4. What activities do you like most?
Go to bed, turn off lamp, close my eyes and listening to the music until I fell asleep. Usually before I fall asleep, I will imagining anything that is my mind. Sometimes I imagine travelling to my favorite country and I will upload plane ticket photo on Instagram, Path or other media social. And then I will photo with hashtag ootd. I will forget about it when I was asleep and wake up the next morning.

5. What your plan in the near future?
Getting a job.

6. What things would you want in the near future?
Repair damage my notebook, replace the hardisk and buy a hardisk external so that I can collect Korean Drama. Fix!

7. What dreams are you have?
It was very much really. Beyond reality, I have many dreams. I wanna be an actress, because I love acting and when high school I joined a theater group. I wanna be model because I like to pose. When I annoyed with Indonesia soap opera, I wanna be screenwriter with a few stories that I created in my mind. If I have a lot of money, I want to open a food cafe with vintage decor or I open bookstore because where I live there are no bookstore with a collection of the complete book. But I think, from these dreams, I wanna be novelist.

8. Who your motivator?
Myself. I tried hard no to dependence on other.

9. What makes you happy?
Basically, I'm a person who is happy, even with trivial things. When there a new Korean Drama, I'm happy. When I buy a new book, I'm happy. Not hard to makes me happy. And for this one, I most understand.

10. What makes you sad?
See people that I love sad.

11. What makes you difficult to tell other people?
Oh I hate this question. Hmmm about my family. I feel there is a heavy load on my back when I had to tell  my family condition now. Even I don't dare to give a bit hint. It's not something that is easy to tell. Maybe I will tell five or ten years to come. But I'm not promise.

12. What weakness and excess do you have?
I have many weakness, sometimes I still like irritable and lazy to do something. But fortunately, I'm trying to change it. I don't want much tell about my excess, maybe the only thing that makes me proud is that I always try to do best for all the things I do. 

13. Are you grateful with your life?
Yes, of course. In another hemisphere or outside my home there are still many people whose live have difficulty. That's what makes me not much to complain with all the difficulties that are being experienced.

Thank you...
"I" hope the questions can help you.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ngomongin soal idola, pasti setiap orang punya idola. Tapi sejujurnya saya adalah termasuk orang yang tidak memiliki idola. Lebih tepatnya idola saya suka berganti-ganti. Saya nggak pernah setia sama satu idola. Yeaaah, I know I'm freak hahaha. Hari ini bisa suka banget sama Vino G. Bastian, besoknya saya bisa suka sama yang lain. Ya begitulah. Berganti-ganti idola adalah kebiasaan saya. Makanya saya susah mencerna setiap ada orang yang histeris nonton konser band A atau teriak-teriak ketemu sama artis B. Sorry guys, what are you doing? hihi.

Idola yang lumayan nempel di hati saya cuma Sheila On 7. Saya mengoleksi lengkap albumnya. Tapi ya biasa aja. Nggak fanatik sampai cari info jadwal konsernya atau selalu update berita terbaru. Bagi saya menikmati karyanya sudah cukup membahagiakan. Bahkan saya belum pernah nonton konsernya. Pengen sih, tapi belum ada kesempatan. Terus sekarang saya lagi tergila-gila sama aktor korea Ji Chang Wook gara-gara nonton drama Healer. Saya tau, setelah saya selesai menonton dramanya, saya akan lupa dengan wajahnya. Bahkan mungkin saya akan melupakan namanya yang susah di inget itu. 

Sheila On 7
Ini bukan hanya berlaku pada idola, tapi pada jenis musik, buku dan genre film. Apa jenis musik kesukaan saya? nggak ada. Jenis musik bagi saya cuma ada dua kategori : enak di dengar dan nggak enak di dengar. Mau dangdut, pop, jazz, rock atau apapun lah selama di telinga saya enak di dengar ya saya suka. Bagaimana dengan buku? sama aja. Mau buku teenlit, terjemahan, politik, sejarah, agama dan lain-lain. Selama enak di baca, ya pasti saya suka. Genre film pun begitu, mau film horror atau apapun, selama bagi saya ceritanya bagus, ya saya suka. Meskipun saya keliatannya suka banget sama drama korea, tapi sebenarnya biasa aja. Lebih pada karena saya nggak ada kerjaan (curhat sedikit ye, haha).

Ketidakkonsistenan saya menyukai suatu hal atau mengidolakan seseorang membuat saya suka nggak update. Saya nggak tau film apa yang sekarang sedang main di bioskop atau lagu apa yang sedang hits? heeeey, kasih tau! *ditipuk rame-rame*. Kadang pengen banget ngerasain kaya apa rasanya jadi fans, tapi gagal mulu. Dan oleh karena itu saya salut dengan teman-teman yang memiliki idola tetap. Rela nabung buat nonton konsernya atau bergabung dengan fans club :).

Yaudah deh sekian dulu tulisan random saya. Saya mau lanjut nonton Healer. Hahahaha.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hampir setiap siang ada dua anak kecil tetangga yang menawarkan donat di rumah saya. Donatnya emang enak dan ukurannya kecil, jadi sekali lahap langsung abis. Topingnya pun cuma gula putih. Awalnya saya dan orang-orang di rumah rutin membelinya. Alasan lain selain donatnya enak, juga nggak tega. Kadang sampe sore daganganya masih banyak banget.

Tapi lama kelamaan cara jualan mereka semakin annoying. Mulai dari teriak-teriak memanggil nama ibu saya. Teriakannya nggak bakal berhenti sebelum ibu saya atau saya yang keluar rumah. Dasar saya orangnya nggak tegaan, berkali-kali saya terpaksa membelinya meskipun lagi nggak pengen makan donat. Besoknya, kejadian seperti itu terulang lagi. Yang membuat saya kesal adalah karena saya lagi enak tidur siang dan langsung bangun karena mendengar suara teriakan mereka. Saya masih bersabar karena mereka masih kecil dan dengan senyum agak maksa, akhirnya saya beli lagi tuh donat.

Kesabaran saya abis ketika besoknya mereka datang lagi. Tetep berteriak dan langsung duduk di lantai teras rumah saya. Astaga, tiap hari saya nggak mungkin ngemil donat, kan? saya keluar rumah dan dengan muka sedikit jutek, saya bilang : "Nggak, neng. Makasih. Saya nggak beli". Terus mereka pergi begitu saja. Tau nggak rasanya setelah bilang gitu? legaaaaa banget. Akhirnya saya bisa berani tegas bilang "TIDAK!". 

Banyak contoh yang hampir sama di kehidupan sehari-hari seperti itu : nggak berani bilang TIDAK. Sering menolong kepentingan orang lain, tapi diri kita sendiri sering mengalami kesulitan. Kepentingan orang lain kelar, kepentingan kita yang nggak kelar-kelar. Setiap di tanya, jawabnya pasti nggak tega, kasihan atau nggak enak, bla bla bla. Saya pun pernah mengalaminya. Sekarang sih sedang berusaha untuk nggak lagi. Terserah deh ya orang mau bilang saya gimana-gimana. Menolong orang lain memang kewajiban, tapi jangan menyiksa diri sendiri juga. Kalau kita nggak sanggup atau terganggu karena misalnya lagi sibuk, kenapa nggak bilang aja? kalau saya memang sanggup, tanpa di minta pun saya pasti menolong. Dan sayangnya di luar sana sudah banyak orang-orang nggak tau diri. Sekali di tolong, ketagihan minta tolong terus. Nggak sekali, dua kali. Tapi hampir di semua urusan dia. Nggak peduli perasaan kita gimana. Nah, yang begini yang harus kita tegasin. Minta tolong atau manfaatin sih?

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan daripada yang telah kau lakukan. Menjadi lebih kecewa dengan hal-hal yang tidak pernah kau lakukan daripada hal-hal yang telah kau lakukan. Jadi, bebaskanlah. Berlayarlah meninggalkan pelabuhan yang aman. Sambutlah angin yang menerpa layar. Menjelajah. Bermimpilah. Temukanlah".   (Mark Twain)  

Berbekal kalimat quotes tersebut, saya memberanikan diri untuk mengikuti Hijab Hunt 2015. Saya mendaftar sebagai peserta melalui online di website resminya dan memilih tempat audisi yang paling dekat yaitu Bandung. Saya sempat ragu untuk mengikuti ajang pemilihan model hijab ini, karena selain saya nggak punya pengalaman sebagai model, bakat yang saya miliki hanya menulis. (Semua orang bisa nulis, kan? hahaha) Tapi, keraguan itu sirna setelah saya berhasil meyakinkan hati saya dengan berdoa berkali-kali, meminta saran teman-teman dekat dan ya balik lagi ke quotes tadi. Cari pengalaman daripada penasaran.

Nah, ada kejadian di luar perkiraan saya pada hari keberangkatan saya ke Bandung. Karena audisi akan di selenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2015. Maka dari itu saya berangkat dari Jatibarang hari Jumat pukul setengah sebelas siang naik bis Damri. Anehnya saya udah nunggu bis itu hampir satu jam, tapi bis nggak dateng-dateng. Oke, damri emang sering datang nggak sesuai jadwal. Saya jadi gelisah sendiri. Kesel juga sama supir damri. Kesel juga sama yang lewat di depan saya dan nanya terus : "Udah dateng belum bisnya?". Ish!. Iseng-iseng saya cek HP. Ada dua panggilan tak terjawab euy, dari nomer rumah. Saya afal banget nomer itu. Nomer dari panggilan kerja. Akhirnya saya telfon balik, lah iya bener saya ada panggilan tes tahap selanjutnya dan di haruskan menghadap dulu sekarang juga. Ini gimanaaaa? tengok berkali-kali, bis belum dateng juga. Bingung ini gimana. Akhirnya atas saran ibu (karena firasat ibu biasanya selalu bener ya), saya memutuskan nggak jadi berangkat dan memilih menghadap untuk tes pekerjaan.

Anehnya, sampai rumah setelah balik, saya nggak merasa menyesal. Saya malah lebih antusias untuk mengikuti tes panggilan kerja. Yaudah deh saya bongkar lagi baju-baju di dalam tas, terus makan dan abis itu main ke rumah temen. Sepulang dari main, teteh saya pulang dari kerja dan bilang : "Mi, pergi gih ikut audisi. Nih, teteh tambahin duit jajannya". Waktu itu masih tetep kekeuh nggak ikut, apalagi besok registrasinya jam sepuluh pagi. Nggak akan keburu. Tapi Allah ngajak "bercanda". Ternyata tes kerjanya hari Senin. Oke. Saya memutuskan untuk ikut audisi dan pergi ke Bandung naik travel besoknya jam dua pagi!!!. Perasaan saya waktu dalam perjalanan adalah biasa aja. Nggak seantusias sebelumnya. Tapi saya punya firasat kalau saya akan bertemu sesuatu yang menarik.

Make up by Okvi and Ajeng
Oh ya, tempat audisinya di Ballroom Hotel Ibis Bandung

Antrian yang panjang

Sempat nggak percaya diri karena pas dateng, penampilan peserta lain wow banget. Sedangkan saya cuma pake outer dan celana jeans hahaha. Jauh bedalah sama penampilan peserta lain. Mana bakat mereka itu keren-keren. Ada yang melukis, menyanyi, tari tradisional dan lain-lain. Wah, saya bagaikan butiran debu.
Insiden salah antri membuat saya harus ngantri dari awal dan itu panjaaaaanaaag banget. Ngantri jam setengah sebelas siang, dapet nomor peserta jam setengah satu. Kaki rasanya udah mati rasa.

Nomor Peserta

Dapet Hadiah dari Sponsor.

Talkshow bersama Dian Pelangi.
Saya dapet sesi foto untuk juri pukul setengah empat sore. Muka udah kusam, perut udah laper banget plus make up yang udah pudar. Rasanya udah hilang semangat. Salah satu yang membuat saya bertahan adalah karena ya udah terlanjur dateng jauh-jauh dan ngantri panjang. Sayang banget kalau nggak di selesaikan.

Foto untuk juri
Tibalah saya masuk ke ruang audisi. Dag dig dug seeeeer. Dan ketika nomor peserta saya di panggil dan masuk ruang audisi, saya udah nervous banget. Daaaaaaaaan....saya dapet juri yang super duper jutek banget. Dua perempuan. Setelah saya memperkenalkan diri dan cerita tentang bakat saya yang menurut mereka garing banget dan nggak menarik, mereka tanya apalagi bakat saya. Hmmm saya ragu sih jawabnya. Abis saya nggak punya bakat lain yang bisa di banggakan. Menyanyi? waduh, di jamin bikin kuping juri sakit. Menari? hahaha badan kaku begini mau nari apa. Akhirnya saya jawab nggak ada. Dan itu bikin juri tambah jutek. Ya udah deh terserah.

Pukul delapan malam baru di umumin siapa yang lolos ke tahap selanjutnya. And then, saya nggak lolos ke tahap selanjutnya. Saya udah nyangka sih. Kecewa nggak? sedikiiiit. Karena kabar baiknya, selain dapet pengalaman, saya juga bertemu dengan teman-teman baru. Bagi saya bertemu teman baru itu sebuah bonus. Seneng aja gitu karena bisa ngobrol tentang apa aja, ngeluh bareng, makan bareng, seharian kemana-mana bareng. Berbagi wawasan dan tentunya sharing cerita.


Teman baru di Hijab Hunt 2015. Dari kiri ke kanan : Syfa, Septi, Virna dan saya
Selfie sama Dian Pelangi
Rasanya nggak pernah kepikiran bakal selfie sama Dian Pelangi. Boro-boro selfie sambil cengar cengir atau monyong-monyong, ketemu aja kayanya nggak kepikiran. Tapi makasih banget sama Kak Dian karena aslinya orangnya baik banget dan ramah. Sabar ngadepin fans alay kaya saya yang rela ngantri untuk foto bareng hahahaha.

Itulah cerita pengalaman saya mengikuti acara Hijab Hunt 2015. Secara keseluruhan acaranya seru, menarik dan nggak bosenin. Semoga tahun depan bisa berkesempatan untuk ikut lagi :)

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Akhir-akhir ini banyak berita yang mengerikan dan membuat saya bertanya-tanya : dimana hati nuraninya? orang tua yang tega menelantarkan anak-anaknya dengan sengaja, seorang ayah yang memperkosa anak kandungnya dan seorang nenek yang tega menyiksa cucu kandungnya. Ada apa dengan orang-orang saat ini? jika dengan keluarga atau kerabat dekat saja begitu, bagaimana dengan perlakuannya pada orang lain?

Memang benar kata orang, jaman semakin edan dan banyak orang yang mengaku waras tapi sebenarnya kehilangan akal sehat. Dan orang edan jaman sekarang ini jauh lebih membahayakan. Kalau orang gila yang telanjang di jalan dan nggak tau malu, itu jelas keliatan gila. Nah, kalau sekarang ini  banyak "gila" yang nggak keliatan. Sama orang lain baik banget, tapi sama anak sendiri kejam banget. Misalnya, kasus yang lagi heboh sekarang. Suami-istri yang menelantarkan kelima anaknya. Baca beritanya di sini : Kronologi Kasus Orangtua "Usir" Anak Terungkap. Yang mirisnya adalah ketika mengetahui bahwa ayah sang anak berprofesi sebagai seorang dosen dan keadaan ekonominya baik. Hal ini dapat diliat dari mereka tinggal di perumahan elit dan memiliki dua buah mobil. Gemes!

Saat di interogasi polisi, pasangan suami istri tersebut dengan kompak menolak tuduhan bahwa mereka telah menelantarkan anak-anaknya. Baca beritanya di sini : Ini Pengakuan Orangtua dari Lima Anak yang Ditelantarkan. Dan setelah di selidiki lebih jauh lagi, ternyata mereka menggunakan narkoba jenis sabu : Pasutri yang Telantarkan Anak di Cibubur Kerap Isap Sabu di Rumah. 

Waktu baca berita ini tuh rasanya saya ikut-ikutan sebel dan pengennya maki-maki tuh orang tua. Saya memang belum menikah dan belum punya anak, tapi saya bisa bayangin gimana rasanya jadi anak-anak tersebut. Pasti mereka ketakutan banget. Orang tua yang harusnya melindungi dan menyayangi mereka, kenyataanya malah memperlakukan mereka dengan semena-mena. Saat ini mungkin nggak terlalu keliatan dampaknya, tapi lima sampai sepuluh tahun yang akan mendatang si anak pasti masih menyimpan memori yang menyakitkan tersebut. Dan yang perlu di ingat lagi, masih banyak orang tua di luar sana yang berjuang untuk bisa hamil dan memiliki anak. Jadi, bagi orang tua yang sudah di anugerahi anak oleh Tuhan harusnya merasa bersyukur, kan? huft.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebenarnya ini juga berlaku untuk semua orang darimanapun ia berasal, tapi berhubung saya tinggal di kampung dan sering sekali menjumpai hal-hal yang akan saya bahas di bawah ini. Semua ini berdasarkan pengamatan pribadi saya dan cerita orang-orang terdekat. Dengernya lumayan bikin kesel, sebel dan gemes. Berikut tingkah laku orang kampung yang menurut saya kampungan dan nggak boleh di tiru :

1. Menerobos lampu merah.
Mentang-mentang tinggal di kampung yang jarang ada polisi berjaga dan kondisi jalan yang lengang karena tidak banyak kendaraan lewat di jalan raya, masih banyak banget yang nekat menerobos lampu merah. Kalau di tanya alasannya, pengendara berdalih kalau dari arah jalan yang berlawanan tidak banyak kendaraan, jadi tidak akan berbahaya jika menerobos lampu merah. 
Bah, bisa aja! Ini bukan masalah keselamatan aja sih, tapi juga kedisiplinan dalam berlalu lintas. Situ lulus tes waktu bikin SIM, kan? huh!

2. Buang Sampah Sembarangan
Saya sering melihatnya di pasar atau di toserba. Nggak heran kalau pasar-pasar di kampung tuh jorok banget dan bau. Penjual dan pembeli sama-sama betah banget buang sampah di samping dagangan mereka atau di pinggir jalan yang di lalui sama pejalan kaki. Saya yang sering ke pasar juga jarang tuh liat tempat sampah yang di sediakan. Yang kasihan jelas petugas kebersihan yang setiap pagi harus menyapu jalan dan mengangkut sampah-sampah berserakan yang banyak banget. Huek!
Terus yang lebih nggak paham, di toserba yang notabene tempatnya lebih bersih dari pasar dan menyediakan tempat sampah, tetep aja masih banyak yang bandel buang sampah seenak jidatnya. Padahal saya pernah liat ibu-ibu dengan penampilan rapih, tapi abis selesai makan dengan santai buang sampah sembarangan. Duh :(

3. Males Ngantri
Kalau ini dapet curhatan dari kakak saya yang kerja di bank yang sering kesel banget sama kelakuan nasabah yang nggak sabar ngantri. Pengennya di layani cepat dengan alasan yang macem-macem ; lagi buru-buru lah, dia kenal sama pejabat bank-nya lah sampai kadang nekat berdiri aja di depan meja Costumer Service. Kalau di tegur tetep nggak bergeming, giliran di panggil satpam marah-marah nggak terima. Deuh, yang lain aja ngantri, situ ko males? kampungan!

4. Ngebut-ngebutan
Hahahaha kalau ini emang udah melekat banget sama orang kampung yang kampungan, terutama pengendara motor. Entah apa maksudnya doyan ngebut-ngebutan di jalan yang bikin pengendara lain cuma bisa ngelus-ngelus dada. Mungkin dia pikir jalan raya itu sama aja kaya sirkuit balapan liar, jadi ya mau ngebut pun nggak masalah, meskipun nyawa dia juga jadi taruhannya. Udah ngebut, nggak pake helm dan motornya pun kadang nggak ada kaca spion-nya. Bye aja deh!

5. Nggak punya sopan santun
Ngeliat perempuan lewat, di godain laki-laki sambil di tanya-tanya : siapa namanya? rumahnya dimana? udah punya pacar belum? oke, misalnya itu bercanda, tapi please itu bikin orang yang dengernya risih banget. Norak kalau menurut saya. Mulutnya terlalu pengangguran dan pasti jarang banget ngeliat perempuan jadi ya begitu. Dan saya pernah dapet cerita dari temen saya katanya pernah di ikutin laki-laki nggak di kenal sampai depan rumahnya. Ya awalnya begitu, di godain iseng-iseng. Kan serem :(

Jadi, menurut saya, walaupun kita tinggal di kampung atau desa sekalipun, tapi tingkah lakunya jangan malu-maluin. Oke? sekian dan terima kasih.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebenarnya hari ini saya mau absen nulis untuk #30hariproduktifmenulis. Saya lagi sakit kepala sejak tadi sore. Ini bukan sakit kepala yang biasa dan bagi saya cukup merepotkan. Kenapa merepotkan? karena datangnya suka mendadak dan nggak tau apa penyebabnya. Iya, beneran. Misalnya kaya tadi, sepanjang hari ini saya nggak ngerjain apa-apa selain benerin laptop saya yang (lagi-lagi) error. Tapi sore tadi kepala saya mendadak pening banget. Kalau udah begitu biasanya saya nggak bisa ngapa-ngapain selain tidur. Mau makan pun nggak selera. Karena sakit kepala saya ini ada masa puncaknya, yaitu ketika saya sudah muntah berkali-kali dan badan saya lemas selemas-lemasnya. Jadi, percuma aja mau isi perut sama makanan juga. 

Ko bisa afal banget? Iyalah, orang sakit kepala saya yang nggak biasa ini saya alamin dari jaman kuliah. Sekarang sih enak ya udah tinggal di rumah, bisa di urus sama ibu atau di pijitin bapak. Waktu jaman kuliah dulu saya cuma minum obat, terus pasrah deh nahan sakit yang rasanya tuh kaya kepala pengen pecah. Periksa berkali-kali ke dokter, kata dokternya nggak apa-apa. Katanya cuma kecapean. Lah, kecapean darimana sih? kan saya kadang seharian cuma diem dikosan -_-.

Setelah saya teliti sendiri, sakit kepala saya ini selalu datangnya sore hari. Antara jam tiga atau empat sore lah. Nah, yan bikin repot itu nahan sakitnya karena ini berlangsung bisa semaleman. Belum lagi kalau udah muntah-muntah, udah deh saya cuma bisa diem dan tidur. Kadang sebel sendiri karena banyak waktu saya yang terbuang sia-sia. Ya mau gimana lagi. Untungnya sih ya selama ini sakit kepala saya selalu hilang ketika saya bangun di pagi hari. Itu pun badan saya masih suka "drama". Lemaslah, nggak semangatlah, nafsu makan masih nggak stabil dan lain-lain. Kalau udah sehat kembali, biasanya saya rutin olahraga lagi dan minum air putih yang banyak. Terus saya menghindari pikiran-pikiran yang bikin cepet stress (oke, ini curhat).

Intinya, pelajaran yang saya ambil dari sakit kepala saya ini adalah yang tau kondisi tubuh kita itu adalah ya kita sendiri. Kalau badan udah mulai drop, itu tandanya tubuh kita udah mulai protes karena kecapean. Mau nggak mau ya harus istirahat. Lebih bagus lagi, kita cepat tanggap apa yang harus kita lakukan kalau tubuh kita udah mulai nggak sehat. Bisa pergi ke dokter atau melakukan pemulihan di rumah. 

Udah sih segitu aja curhat saya tentang sakit kepala hahahaha.
Saya mau istirahat.
Oh ya, jangan lupa jaga kesehatan ya, :)

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai, saya ngetik tulisan ini sambil nonton drama korea Princess Hours. Drama yang booming banget pada tahun 2006 dan menjadi salah satu drama favorit saya sepanjang masa. Saya nggak akan bahas tentang drama ini, tapi secara garis besar ada hubungannya sama hal yang mau saya tulis.

Saya mulai suka nonton drama korea sekitar tahun 2002, waktu kelas lima SD. Drama korea pertama yang saya tonton adalah My Love Patzzi (Salah satu ost-nya berjudul Sweet Dream masih easy listening sampai sekarang!), kemudian di lanjut Winter Sonata, Endless Love dan lain-lain sampai sekarang. Jaman tahun segitu drama korea belum banyak seliweran di tv. Kalau pun ada, jam tayangnya di atas jam sembilan malam. Dvd bajakannya pun belum banyak di jual. Kalau mau nonton drama korea ya saya harus nyewa di toko rental Dvd, tapi kasetnya original loh (bangga! haha).

Para pemain My Love Patzzi (2002). Gambar di ambil dari sini

Hal-hal yang membuat saya menjadi big fans dari drama korea adalah dari segi cerita beda dan unik, pemainnya cantik dan ganteng (plus makeup wajah mereka nggak lebay. Kalau masalah operasi plastik saya nggak begitu peduli sih hehe ) dan ini yang membuat saya betah yaitu jumlah episode dari sebuah drama korea itu nggak banyak. Jadi, saya nggak bosen dan inget alur ceritanya.

Dari alasan-alasan itu saya jadi agak susah untuk membandingkannya dengan sinetron Indonesia. Saya jadi inget salah satu dosen saya pernah bertanya : "Mengapa drama korea lebih di kenal di mancanegara di bandingkan dengan sinetron Indonesia?". Beliau melanjutkan : "Karena drama korea memiliki ciri khas yang menunjukkan bahwa itu drama berasal dari Korea". Ada benarnya juga, perhatikan saja pada setiap adegan drama korea, semodern apapun pakaian dan ceritanya, setiap bertemu dengan orang lain mereka akan menundukkan kepala sedikit sembari mengucap salam. Itu baru drama dengan cerita modern, belum lagi drama kolosal yang mengisahkan jaman kerajaan dulu di Korea. Inget dong dengan drama Jewel in the Palace, Dongyi Jewel in the Crown, The Great Queen of Seondeok? beuh, juara!.

The Great Queen of Seondeok. Gambarnya dari sini

Bagaimana dengan sinetron Indonesia? bukannya menjelek-jelekkan, tapi maaf aja sinetron Indonesia masih belum layak di tonton. Menurut pengamatan saya pribadi, sinetron Indonesia itu cerita awalnya saja yang menarik, tapi kesana-sananya.....blas! Ngawur. Tokoh A yang tadinya udah tobat jadi orang jahat, entah kenapa tiba-tiba berubah lagi jadi orang yang lebih jahat. Belum lagi tar muncul tokoh baru si B, C, D dan lain-lain yang kadang nggak tau apa hubungannya sama si tokoh. Dan yang lebih nggak ngerti (entah apa yang ada di pikiran para sutradara sinetron), semakin laris sinetron itu maka semakin panjanglah episodenya. Padahal ceritanya udah nggak nyambung. Contoh : Tukang Bubur Naik Haji, Emak Ijah apaaa gitu saya lupa. Kenapa harus di paksain sih? huh!

Lebih sedihnya lagi nih ya, masih menurut pengamatan pribadi, beberapa adegan di sinetron Indonesia ini sangat tidak layak untuk di tiru. Masa iya ke sekolah pake sepatu high heels? Lah, situ mau ke sekolah atau mau fashion show? belum lagi dialog, pakaian dan aktingnya kadang niru serial-serial barat. Kenapa nggak khas Indonesia aja sih? kita kan punya budaya sendiri. Ditambah lagi, adegan kekerasan yang nggak di sensor. Seperti, ibu tiri yang menyiksa anaknya sampai babak belur. Meskipun pada akhirnya sang ibu tiri di penjara atau kena azab, tapi tetep aja itu nggak layak di tonton. Apalagi jam tayangnya itu sekitar jam lima sore-delapan malam, yang dimana jam-jam tersebut anak-anak di bawah umur belum pada tidur.

Salah satu sinetron Indonesia. Gambar dari sini
Akhirnya itu lah yang membuat saya malas menonton sinetron Indonesia dengan segala drama dan akting pemainnya yang berlebihan. Saya lebih rela beli dvd bajakan drama korea atau download drama korea berjam-jam. Selama kualitas sinetron Indonesia belum di perbaiki, rasanya saya akan terus menjadi fans setia drama korea. Dan harusnya para produser dan sutradara sinetron Indonesia belajar dari mereka, jangan bisanya hanya menjiplak saja *eh.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Beberapa jam yang lalu, saya memposting foto selfie saya (again and again hahaha) terus bingung mau kasih caption apa. Mau kasih gambar emo aja ko ya kayanya nggak menarik, terlalu sederhana. Padahal fotonya emang sederhana hehe. 
Tiba-tiba saya ingat dengan twit orang yang saya retweet di twitter (ya Allah ribet!) Bunyinya begini:

"Beauty is not about makeup or fancy clothes. It's about personality, capacity, charm and talents".

Terus saya mikir lagi, woman without makeup? HAHAHAHA (ketawa jahat). Nggak mungkin! Meskipun makeup bukan prioritas, tapi makeup penting untuk wanita. Dian Sastro yang mukanya udah cantik natural aja masih butuh makeup, apalagi remahan rempeyek macam kita. Jujur saja, saya bukan tipe wanita yang suka dandan. Saya memutuskan untuk berdandan itu waktu kuliah semester tujuh. Itu pun masih belajar pake pensil alis, eyeliner dan lipstik. Sebelumnya saya nggak paham sama alat-alat makeup begitu. Berangkat kuliah cuma pake bedak bayi, day cream sama lipbalm. 
Kenapa akhirnya berdandan? ya sadar diri aja. Udah mulai dewasa. Udah harus memperhatikan penampilan. Muka sedikit dipoles makeup biar nggak pucat atau biar keliatan lebih fresh. Simply, karena itu aja. 
Jadi, makeup penting tapi nggak berlebihan. Saya setuju. Dan tau apa kegunaan makeup dan kapan harus di gunakan. Jangan lagi nonton drama korea di rumah pakai daster, tapi muka full makeup. Mau kemana, cyiiiin? 

Akhirnya saya meralat kalimatnya dengan begini :

"Beauty is not always  about makeup or fancy clothes. It's about personality, capacity, charm and talents... dengan tambahan... then most importantly, you can bring a positive energy to the people around you"

Siapa yang nggak mau di bilang cantik? rasanya ada kebanggaan sendiri ya kalau di puji begitu. Tapi apa cantik itu hanya sebatas penampilan fisik saja? Iya, jika memang bagi kamu penampilan fisik adalah segala-galanya. Tapi tidak bagi saya. Oleh karena itu saya menulis caption tersebut. 

Beauty is about personality...
Personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. 

What your personality? ramah, asik di ajak ngobrol, mudah bergaul, tertutup, doyan ngomong bla...bla...bla...bla... apapun personality kamu, selama itu baik, maka itu akan menjadi bagian dari kecantikan diri kamu. Personality kita akan selalu di ingat orang. Jadi kalau di rasa punya personality yang kurang baik, rubah sekarang, karena personality yang baik menurut saya bisa di bangun selama kita ada keinginan untuk berubah.

Beauty is about capacity...
Pernah denger ejekan : "Percuma punya wajah cantik tapi isi otaknya kosong?" nah, maka dari itu cantik fisik bukan segala-galanya. Meskipun misalnya kita bukan orang yang pintar atau terlahir cerdas, tapi bukan alasan kita malas menggali kemampuan yang kita miliki. Karena itu akan menjadi nilai tambah saat kita berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Jangan sampai ketika di tanya harga makeup berapa kita bisa jawab dengan lancar, eh giliran ditanya ada berita terbaru apa tentang Indonesia, kita malah bengong. Hehehe

Beauty is about charm, is not about fancy clothes...
Kamu mau pake baju merk ternama dari desainer terkenal atau menenteng tas Hermes dengan harga ratusan jutaan, tapi kalau kamu nggak punya pesona, kamu akan terlihat seperti biasa saja. Pernah liat orang dengan penampilan sederhana? yang mungkin bajunya aja beli di pasar baru. Tapi liat muka dia tuh kayanya nyenengin dan penampilannya nggak keliatan kampungan. It's charm! Menampilkan pesona kan nggak mesti dari barang-barang yang kita pake. Pesona timbul dari hati kita, dari dalam diri kita sendiri. Misalnya kalau kamu suka berpikir positif, maka orang lain akan melihat pesona kamu sebagai wanita yang bersemangat. Sehingga kamu menularkan energi positif kepada mereka.

Beauty is about talents...
Saya percaya bahwa setiap orang pasti memiliki bakat di bidangnya masing-masing. Dan bakat yang kita miliki pasti akan membuat kita lebih percaya diri bahwa kita adalah wanita yang cantik seutuhnya.

Jadi, kesimpulannya....
Cantik bagi saya adalah kombinasi antara penampilan fisik dan apa yang ada di dalam diri kita. Penampilan fisik tentu tidak terbatas soal makeup dan wajah cantik, tapi penampilan yang sopan dan tentunya dengan style masing-masing. Sehingga orang lain akan menilai kita bukan hanya sebagai pribadi yang menjaga dan mencintai diri sendiri, tapi juga akan mengingat kita sebagai pribadi yang unforgettable.  
How about you?

Love.
Amelia Utami
#30hariprodukifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates