Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Nggak pernah sebelumnya saya kepikiran untuk membahas ini atau mungkin banyak orang yang sudah membahasnya dan saya ketinggalan. hahaha

Well, semenjak saya punya twitter tahun 2009 saya jarang mem-follow artis-artis terkenal atau public figure lainnya. Followers saya cuma teman-teman saya dan following saya adalah mereka juga dan beberapa akun acara telivisi yang memang menjadi favorit saya. Ini lah mungkin yang membuat saya nggak update atau ketinggalan berita. Isi TL saya orang-orang itu aja. hehehe.

Sampai pada akhirnya teman saya di twitter sering me-retweet twit-twit satu orang yang menurut saya kata-katanya ko saya banget ya. Akhirnya saya buka akun tersebut. Wow jumlah followersnya banyak banget. Pasti dia artis atau orang terkenal. Pikir saya ketika itu. Dan detik itu juga saya langsung menekan tulisan follow!.

Saya sering me-retweet twit-twit dia karena ya saya akui kata-kata dia itu seringkali "saya banget" dan pas aja gitu sama keadaan yang sedang atau pernah saya alami.
Sampai saat itu saya masih berpikiran dia artis. Daaaan pada suatu hari....*jreng jreng* ketika saya sedang iseng men-stalking TL dia, saya kaget karena ternyata dia selebriti twitter atau sering disingkat selebtwit.

WHAT? EMANG ADA YA?

Itulah pertanyaan saya.
Saya mencoba mendefinisikan sendiri "Apa itu selebtwit?", "Kenapa mereka di sebut begitu?". Dan dengan analisa seadanya (halah!) saya menyimpulkan bahwa selebtwit adalah orang-orang yang doyan nge-twit dan twitnya disukai oleh orang-orang sehingga followersnya banyak.
Profesi asli mereka macam-macam, ada yang dokter, penulis (kebanyakan sih) dan lain-lain. Twit-twit random mereka lah yang di sukai. Karena terkadang kita merasa twit mereka mewakili perasaan kita. Welah!

Langsung aja ya ini lah beberapa selebtwit yang saya follow. Saya punya alasan sendiri kenapa saya mem-follow mereka. Tapi rata-rata karena ikut-ikutan sih....hihihi.

1. Fala! (@falla_adinda)


Hmmm...hmmm. Okelah selebtwitt yang pertama saya follow adalah dia. Awalnya saya tau dia dari teman saya yang sering me-retweet twit-twit dia.
Yaaaaah saya akui kebanyakan twit dia itu mewakili perasaan saya! saya nggak tau kenapa dia bisa nge-twit pas begitu sama keadaan saya tapi yang jelas saya menyukai kata-kata dia yang spontan, lucu dan kadang memberikan informasi yang berguna.
Selebihnya, kebanyakan sih dia nge-twit tentang kisah hidupnya. Terutama sama suaminya.

2. Annisa N. Nugraha (@chachathaib)


Awal saya mem-follow dia adalah karena dia sering berkirim mention dengan fala tadi. Ya karena penasaran juga saya akhirnya buka profil dia  dan stalking-stalking sebentar (eh nggak taunya lama hehe). Sampai saya tau dia adalah penulis novel Semata Cinta. Hmmm saya akui saya tidak tau tentang novelnya tersebut. (siap-siap dimarahin penggemarnya).
Oke kembali ke sosok chacha ini. Akhirnya saya follow dia. Instagramnya juga saya follow (chachathaib).
Pada saat itu saya menganggap dia sama seperti selebtwit lainnya yang doyan nge-twit. Eh nggak taunya saya suka sama cara berpakaian dia, euy! Dia pake hijab tapi tetap modis. Mix and match pakaiannya juga saya akui keren dan beberapa menjadi inspirasi saya, terutama cara pake hijab dia hehehe.
 Dan setelah itu saya resmi jadi fansnya! Hahaha fans yang sebenarnya. (apeu lagi!)

3. Alexander Thian (@amrazing)



Dan dia lah selebtwit yang baru saya follow (yaelaaaa kemane aje hahaha). Dan seperti biasa setelah stalking TL nya saya memutuskan untuk follow dia. Ternyata dia penulis buku The Amazing. Memang saya pernah melihat bukunya di toko buku Gramedia. Tapi belum minat untuk membelinya hehehe (ditipuk penggemarnya).
Ada satu yang unik dari twit-twit dia yaitu tentang pembahasannya mengenai zodiak. I dont believe zodiak but pembahasannya mengenai zodiak saya akui 99 persen benar dan yeaaaah itu saya banget!. Saya tidak menyebutnya ini ramalan zodiak (dia juga menyebutnya begitu), tapi saya lebih menganggap ini adalah pembacaan karakter.  So, jangan di anggap terlalu serius ya *senyumlebar*.


Masih banyak lagi selebtwit lainnya yang beredar di twitter dan tidak mungkin saya membahasnya disini satu persatu. Saya berusaha jujur dalam menilai mereka. Yang pastinya menurut pandangan dan pendapat saya. Tiap orang punya pandangan dan pendapat beda-beda kan? hehehe

Dengan hadirnya mereka (selebtwit) kita merasa terhibur dan yaaah  saya merasakan beberapa manfaatnya di kehidupan nyata. Misalanya saya jadi tau eyeliner merk apa yang bagus karena salah satu selebtwit pernah membahasnya. Dari situ saya jadi kepikiran dandan dan langsung beli alat-alat make-up (hahaha ngaku deh saya).
Kebanyakan dari mereka juga rata-rata menulis buku dan beberapa bukunya sudah beredar di pasaran. Entah aji mumpung atau benar-benar mereka berbakat menulis saya tidak tau. Itu bukan ranah saya untuk membahasnya.

Namun ada beberapa yang menurut saya katakanlah saya tidak begitu setuju, yaitu jam terbang mereka dalam nget-twit. Hmmm entah ini hanya saya yang merasakan atau yang lain juga, tapi ko mereka seperti nggak cape-cape nge-twit ya? Hmmm salut banget mereka bisa membagi waktu dengan pekerjaan yang lain. Saya aja buka twitter paling lama satu jam. Setelahnya saya kembali ke dunia nyata. hehehe

Terlepas dari itu semua,  anggap saja kehadiran mereka sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yang perlu di ingat adalah jangan sampai kita terlena dan lebih menikmati dunia maya daripada dunia nyata yaaaa. Bagaimanapun dunia nyata jauh lebih menyenangkan!. Peace ^^.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bismillah,

"Wahai Nabi katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Al Ahzab : 59)

Mengenakan hijab di usia muda mungkin sebelumnya tidak pernah terlintas oleh ke-enam perempuan ini. Masa-masa muda yang biasanya identik dengan "sesuka hati gue", justru mengantarkan mereka pada satu titik dimana mereka menemukan "ya, inilah jalan yang benar".

Lalu bagaimana cerita selengkapnya hingga mereka memutuskan untuk mengenakan hijab? 
Saya telah merangkumnya melalui wawancara pribadi. Semoga bermanfaat!

1. Dini Anggraeni (21tahun, Universitas Indonesia)

"Awalnya saya tahu berhijab adalah salah satu kewajiban seorang wanita terhadap sang Pencipta-nya dan inilah salah satu cara saya mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepada saya". Ungkap dara cantik kelahiran Jakarta, 20 Januari 1992.

Dini mengaku banyak perubahan yang ia rasakan ketika sudah mengenakan hijab. Dirinya mengaku merasa lebih di hormati oleh orang-orang sekitar, lebih giat beribadah dan lebih hati-hati dalam melakukan tindakan.

"Hijab itu aura kecantikan wanita paling alami"

Ketika disinggung masih banyak muslimah yang masih ragu mengenakan hijab, gadis yang juga berprofesi sebagai entrepreneur  ini memiliki cara sendiri untuk berdakwah yaitu dengan menceritakan banyak hal positif seputar hijab yang sudah banyak ia rasakan dan juga orang-orang disekitarnya.

 twitter : @dinidjoemikko, instagram : dinidjoemikko 


2. Trian Aprillianti (21tahun, Universitas Jenderal Soedirman)


Hijab bukanlah hal yang baru bagi gadis yang berulang tahun setiap tanggal 25 April ini. Dari SMP hingga SMA, sekolahnya mewajibkan semua murid perempuan yang beragama Islam untuk mengenakan kerudung. Begitu juga dengan dirinya.

"Baru ketika SMA yaitu tahun 2008 aku mantep mengenakan hijab bukan hanya di lingkungan sekolah saja tapi juga diluar. Ini tidak terlepas dari peran dan bimbingan salah satu guru di sekolah ku".

Dia mengaku Mama-nya sempat melarang dirinya mengenakan hijab, karena pada saat itu hijab masih dianggap tabu. "Nanti cari kerjanya susah". Begitu kata Mama ku. Namun akhirnya Mamanya mengerti bahwa hijab bukanlah hambatan untuk melakukan berbagai aktivitas.

 "Aku merasa setelah berhijab aku semakin di hargai sebagai perempuan".

Trian berpesan bahwa jika mengenakan hijab jangan lah menunggu hidayah datang, karena hidayah itu di cari. "Cari hidayah itu step by step. Insya allah dari setiap step akan dapat hidayah, meskipun sedikit. Saya juga masih dalam tahap belajar untuk mencapai tahap yang lebih baik". Ujarnya menutup pembicaraan.

twitter : @aprildualima, instagram : aprildualima


3. Fauziah Utami (25tahun, Pegawai Swasta)

Perempuan yang bekerja di salah satu Bank ini bercerita bahwa keputusannya mengenakan hijab spontan begitu saja, selain karena memang dirinya sudah siap mengenakannya.

Dia pun bersyukur instansi tempatnya bekerja tidak melarang karyawannya mengenakan hijab. Dirinya juga merasa di dukung karena banyak teman-teman satu kantornya yang sudah berhijab.

"Hidup terasa lebih nyaman karena lebih sopan dan tertutup". Ujarnya saat ditanya perubahan yang dirasakan setelah berhijab.

"Hijab itu tidak hanya sebagai kewajiban perempuan muslim, tapi juga sebagai bentuk menghargai diri sendiri..."

Gadis yang akrab disapa Fuji ini pun memberikan pendapat akan masih banyaknya perempuan muslim yang masih ragu-ragu dalam berhijab. "Jika ingin berada di area yang lebih baik, maka lebih cepat lebih baik". Pesannya sambil tersenyum.

twitter : @fauziahutami


4. Kania Kusumalia (20tahun, Universitas Padjajaran)


Proses yang lumayan panjang akhirnya mengantarkan Kania untuk mantap mengenakan hijab. "Hijab membuat sikap aku lebih teratur nggak semaunya kaya dulu, terus aku jadi lebih giat ibadah". Ungkap gadis yang baru saja lulus dari bangku kuliah ini.

Awalnya ia mengaku berat mengenakan hijab apalagi banyak anggapan yang mengatakan "ngapain pake kerudung kalau kelakuan belum bener". Menurutnya hijab dan akhlak itu adalah dua hal yang berbeda.

"Wanita berhijab itu memang belum tentu baik, tapi wanita berakhlak baik sudah pasti berhijab"

Dirinya menegaskan bahwa sampai kapan pun kata siap untuk berhijab tidak akan pernah muncul jika tidak dicoba dan dijalankan. Apalagi menurutnya yang namanya kewajiban itu harus dijalankan.

twitter : @kaniakanihe, instagram : kaniakusumalia


5. Anita Nur Anugrah (23tahun, Tim Creative SCTV)


"Awalnya waktu mendekati ultah yang ke 22 pengen ngasih sesuatu yang spesial untuk diri sendiri. Jadilah spontan berhijab". Ujar perempuan asal Ciamis ini.


Alumni Jurusuan Ilmu Komunikasi ini mengatakan
bahwa banyak sekali perubahan yang di alami setelah berhijab, khususnya yang berhubungan dengan hobi travelingnya. "Aku kan doyan traveling dan kadang-kadang sendirian harus lari desak-desakan di terminal, dengan hijab alhamdulillah jadi lebih aman dijalan".

Anita memiliki pendapat sendiri ketika ditanya masih banyak teman-teman muslimah lain yang masih ragu mengenakan hijab. "Ga selalu harus menjilbabi hati dulu soalnya itu pasti bakal butuh waktu lama. Nunggu sampe siap, itu juga kita ga tau kapan bakal muncul.

...dengan mengenakan hijab, otomatis kita punya pengingat buat menjaga hati tetap inget Allah"

twitter : @riotanitnot, instagram : riotanitnot


6. Dhiny Octavia (20tahun, Universitas Pasundan)


Dhiny mengaku mengenakan hijab sebetulnya telah menjadi pemikiran panjangnya semenjak duduk dibangku SMP, namun hal itu baru terealisasikan setelah ia menjadi mahasiswi.
"Bisa dibilang ini sebagai hidayah dari Allah karena saya menggunakan hijab setelah bermimpi di datangi oleh sesosok wanita muslimah yang menyuruh saya  mengenakan pakaian wajib wanita muslim tersebut".

Mahasiswi Hubungan Internasional ini mengaku setelah berhijab ia merasa lebih mengkontrol dirinya untuk melakukan suatu tindakan dan ia juga merasa aman dari pandangan laki-laki.

"Sebelum kamu berpikir untuk menghijabkan dulu hatimu sebelum menghijabkan auratmu maka ingatlah satu kutipan ini ; tutuplah auratmu sebelum kain kafan memaksamu untuk menutupinya".

Terlebih menurutnya hijab merupakan pakaian wajib wanita muslim. "Semakin terbuka auratnya maka semakin hilang misteri yang ada dalam dirinya".

twitter : @dee-octa, instagram : dhinyoctavia


(Terima kasih kepada narasumber yang sudah terlibat ^^)

Love
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kalau bicara mengenai cita-cita tentu semua orang ingin mewujudkannya. Ya, ya, termasuk saya.
Percayalah kalau kita yakin dan mau terus berusaha, jalan menuju ke sana pasti dibukain sama Tuhan.
Saya sendiri termasuk orang yang kalau ditanya cita-cita pasti jawabnya : "nggak tau. terserah nasib", "aduh apa ya bingung" bla...bla...bla... kalau ditanya bakat apalagi : "ah saya nggak punya bakat".

tapi itu duluuuu....
karena hidup bukan hanya sekedar "terserah nasib" tapi harus ada yang diperjuangkan. itu lah yang membuat saya termotivasi untuk membuat "sesuatu" yang nanti akan saya perjuangkan.
Dari kecil saya suka menulis, nggak tau bakat itu darimana, yang jelas mengalir apa adanya.
saya baru berani mengasahnya ketika iseng bikin cerpen dan novel tapi belum berani mempublikasi atau cerita-cerita ke orang. Itu di simpen aja di laptop. Saya belum percaya diri.

Sekali lagi kembali pada "sesuatu" yang diperjuangakan, saya akhirnya membuat blog dan pelan-pelan mulai percaya diri nampilin tulisan saya. Nggak sengaja saya juga ikut klub Menulis di Museum Konperensi Asia Afrika. Ya, Tuhan selalu menunjukkan jalan untuk cita-cita saya. Klub itu jalan awal dari "perjuangan" saya. Saya banyak belajar menulis dan finally...jadi tertarik dengan dunia jurnalis!

Dari klub menulis saya berlanjut ke klub Citizen Journalist. Entahlah saya semakin "gila" menekuni dunia baru saya. saya seperti baru menemukan passion terpendam saya. dari hari ke hari saya semakin semangat belajar, berbagi dengan yang orang banyak, berlatih dan bekerja keras.

Mau tau liputan pertama saya apa? NGELIPUT ULANG TAHUN KAA! saya nggak peduli orang lain beranggapan bahwa itu belum ada apa-apanya.
bagi saya itu sudah pengalaman yang luar biasa. saya nggak masalah kalau belajar dari nol. bukankah harusnya begitu?
Tuhan sudah membukakan jalan untuk cita-cita saya saja sudah bersyukur apalagi kalau jalan itu berhasil saya lalui dan sampai pada tujuan.

Yang jelas saya nggak mau menyesal di hari tua karena ketika muda tidak melakukan apa-apa. saya ingin merasakan "perjuangan" dalam meraih apa yang saya inginkan. sepele tapi nggak mudah :)

Love,
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ide untuk nulis cerita ini adalah berkali-kali gue mimpi ketemu temen-temen SD gue. dan gue inget kalau gue punya sahabat yang sampai sekarang gue nggak bisa lupa...

Yaaa ngomongin masa kecil memang nggak ada habisnya. Setelah lo udah dewasa, sometime lo pasti pernah tiba-tiba inget masa kecil lo. Kangen sama suasananya, teman-teman sepermainan and of course missed with traditional games as congkak, kelereng, petak umpet, slodoran dan sejenisnya yang pasti buat lo senyum-senyum sendiri atau ketawa-ketawa nggak jelas.

Semua orang pasti punya cerita sendiri tentang masa kecilnya.
Yes, me too...

Tinggal di lingkungan yang kata orang ndeso dan kampung tapi justru disitu gue punya banyak cerita tentang masa kecil gue yang unforgettable.

Waktu kecil gue punya sahabat namanya Nur. The complete name is Nur Leila. Jarak rumahnya cuma beda dua rumah dari rumah gue. Nur bukan cuma sahabat dirumah aja, tapi sahabat gue di SD dan sekolah ngaji juga (baca : madrasah).

Ngomongin soal madrasah (tentu saja berkaitan dengan Nur), gue pernah keseeeel banget sama tu bocah. Ceritanya waktu itu lagi tanggal merah, kalau nggak salah hari Waisak. Seperti biasa kalau sekolah ngaji libur, gue selalu main "rumah-rumahan" sama teh puji (kakak perempuan gue). Kita lagi asyik-asyik main, tiba-tiba pintu rumah diketuk dan muncullah Nur dari balik pintu (lengkap dengan seragam warna hijaunya).

"Ami...berangkat sekolah ngaji yuk".

Gue bengong. Teh Puji juga ikutan bengong. (Kenapa coba dia ikutan bengong? Yang sekolah ngaji kan gue).

"Loh, bukannya libur ya, Nur? Ini kan tanggal merah".
"Ah kata siapa? Masuk ko".

Gue bingung dong. Di sisi lain gue lagi asyik main "rumah-rumahan" tapi di sisi lain gue nggak enak sama Nur karena udah nyampe rumah gue walaupun dalam hati gue males banget sekolah ngaji di hari libur.Akhirnya setelah dibujuk rayu oleh kata-kata Nur (yang notabene anaknya ustad), gue memutuskan untuk berangkat sekolah ngaji dan merasa nggak enak sama teteh gue yang lagi asyik berperan pura-pura jadi ibu gue dalam main "rumah-rumahan".

Dan apa yang terjadi? SEKOLAH NGAJI LIBUR DOOOOOONG!!!

Gue kesel setengah mampus sama Nur. Udah jarak rumah gue ke madrasah itu lumayan jauh dan gue harus jalan kaki. Ibu nggak bolehin naik becak. Yo wes aku balik lagi...

Dan lo tau apa yang membuat gue males berangkat sekolah ngaji? Jadwalnya! Ya gue dapet jadwal siang jam satu. Saat lagi panas-panasnya, saat lagi enak bobo siang dan ini yang bikin gue pengen nangis, gue nggak bisa nonton telenovela kesayangan gue, Amigos X Siempre. Rasanya gue mau berhenti sekolah ngaji detik itu juga!

Saat kenaikan kelas tiga SD, Nur dinyatakan tidak naik kelas. Saat itu lah dia pindah sekolah dan gue belum pernah lagi ketemu sama dia. Ah, Nur...:)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Gambar di ambil dari goodreads.com

Saya harus akui, buku ini sangat luar biasa memotivasi saya. Awalnya saya tidak mengerti dengan judulnya "23 Episentrum" tapi begitu membacanya...saya takjub, termenung bahwa kisah-kisah dalam buku ini pernah saya alami dan saya yakin hampir semua orang pernah mengalaminya.


Tentang kesempatan, mimpi, pekerjaan yang dicintai....and all about your dream!

Dibungkus dengan perjalanan mata, hati dan hari para tokohnya yaitu Matari, Awan dan Prama. Sangat menggugah dan inspirasi. Dan pesan dibuku ini begitu menggaung di pikiran saya :

"Lakukan banyak kebaikan, lalu lupakan. Jangan pernah mengingatnya kembali.."

"Menyumbang bukan hanya dengan uang, tapi dengan motivasi, dorongan dan memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk bermimpi".


"Sesuatu yang datang dari hat, akan selalu menghasilkan enegi yang tak pernah mati".

Episentrum itu sendiri dapat diartikan seperti getaran. Ya, dan getaran itu merambat kepada pikiran dan hati saya untuk bermimpi dan mewujudkannya. Thanks for your suplemen mba Adenita!

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
NOVEL/FILSAFAT
Penulis   : Jostein Gaarder
Penerbit : mizan



"Kata banyak orang,filsafat itu sulit. Siapa bilang? Bacalah buku Dunia Sophie ini, dan anda akan tahu, filsafat itu amat mudah dipahami"

Sinopsis :

Sophie, seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahun. Suatu hari sepulang sekolah, dia mendapat sebuah surat misterius yang hanya berisikan satu pertanyaan : "Siapa kamu?"

Belum habis keheranannya, pada hari yang sama dia mendapat surat lain yang bertanya : "Dari manakah datangnya dunia?"

Seakan tersentak dengan rutinitas hidup sehari-hari, surat-surat itu membuat Sophie mulaimemperta yakan soal-soal mendasar yang tak pernah dipikirkannya selama ini. Dia mulai belajar filsafat.

*****

Hampir delapan bulan saya menyelesaikan membaca novel ini! Huaaaa selama itu, iya kalau sekedar membaca mungkin sebentar tapi ini bukan novel biasa. Novel ini butuh pemahaman walaupun saya akui, novel filsafat ini bahasanya mudah dipahami untuk ukuran orang yang tidak terlalu suka filsafat seperti saya.

Pembahasannya menarik dikemas dengan petualangan tokoh bernama Sophie bersama guru filsafatnya bernama Alberto Knox. Dalam petualangan Sophie, kalian diajak pada pemahaman tentang filsafat mulai dari dasar sampai bertemu dengan tokoh-tokoh dari berbagai abad seperti Aristoteles, Democritus, Plato dan lain-lain dengan teori-teori yang mereka bawa pastinya.

Jalan cerita novel ini pun tak kalah menarik, membuat saya larut seakan-akan saya adalah Sophie. Dan kejutan pun diberikan di akhir cerita! Mau tau? Hmmm saya sarankan anda membacanya dan silakan pahami  . saya yakin setelah selesai membaca kamu akan berubah pikiran bahwa ternyata belajar filsafat tidak sesulit yang dipikirkan. Lewat Sophie, kamu  bisa belajar dan tentunya pengetahuan kamu tentang filsafat akan bertambah bukan? :)

Oh iya novel ini sebenarnya novel lama, sekitar tahun 1991-an tapi karena best seller jadi dicetak ulang sampai sekarang. Hebat!

Selamat membaca 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata "disabilitas"? Takutkah? Atau justru termotivasi?
Hmmm ada baiknya kita simpan dulu pikiran-pikiran dibenak kita karena saya akan mengajak kalian mengenal penyandang disabilitas lebih dekat lagi.

Awalnya saya mendapat tugas dari klab menulis Museum KAA untuk meliput rangkaian kegiatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2012 di Museum KAA, diantaranya seminar, pameran, nonton bareng(nobar) dan diskusi film serta peluncuran dan diskusi buku. Saya memilih untuk meliput kegiatan seminar yang bertema "Kita Ada, Kita Berbagi" yang diadakan di Ruang Pameran Tetap Museum KAA. Sebelum acara seminar dimulai, para peserta yang hadir disuguhkan oleh penampilan dari sebuah komunitas penyandang disabilitas.

Penampilan mereka sederhana. Hanya berupa pertunjukkan semacam  teater dengan memerankan lakon masing-masing. Lewat lakon yang mereka perankan, mereka seolah-olah "berbicara" pada kita bahwa sampai saat ini penyandang disabilitas masih belum mendapatkan tempat yang setara bahkan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Jujur saja saat itu saya terharu dan entah kenapa ingin mengenal mereka lebih dekat lagi. Saya seperti menemukan teman baru yang istimewa.



Penampilan Bengkel Kreasi Gapat di Museum KAA Bandung (dok pribadi)


Ide cerdas pun langsung muncul dikepala saya : saya harus wawancara mereka! Tanpa pikir panjang saya langsung meninggalkan bangku tempat saya duduk. Kemudian saya meminta salah satu panitia untuk mengantarkan saya menemui mereka. Wah, saya sangat bersemangat sekali ketika itu. Walaupun saya agak gugup karena ini pertama kalinya bertemu mereka.

Ketika pintu tempat istirahat mereka dibuka, coba tebak apa yang terjadi? Mereka semua tersenyum kepada saya! Dengan kesan pertama yang ramah tersebut, rasa gugup saya benar-benar hilang. Saya membalas senyum mereka dengan memperkenalkan diri saya dan menyampaikan tujuan saya menemui mereka.

Mereka mempersilakan saya duduk. Sebelum mengajukan beberapa pertanyaan, saya terlebih dahulu memuji penampilan mereka yang berhasil membuat saya terkesan.

"Ngomong-ngomong kalian semua ini berasal dari mana ya?" . saya membuka obrolan

"Kami berasal dari Bengkel Kreasi GaPat". jawab salah satu angota dari mereka dengan ramah.

Kemudian saya bertanya nama mereka satu persatu dan (maaf) menyandang disabilitas apa. Kang Yayat (32 tahun) merupakan penyandang disabilitas tuna daksa. Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan otot dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio dan lumpuh. Kang yayat sakit polio ketika berumur dua tahun sehingga menyerang saraf kaki kirinya yang menyebabkan kelumpuhan saraf.

Saya memperhatikan orang disebelah kang Yayat yang terlihat malu-malu tapi tidak mau diam. Dia adalah Opik (35 tahun). Selanjutanya ada Budi (26 tahun) dan Sarif (24 tahun), dua orang ini terlihat paling pendiam. Kemudian perhatian saya tertuju pada perempuan satu-satunya diantara mereka. Dia adalah Amelia (24 tahun). Ternyata namanya sama dengan saya! Dia suka sekali tersenyum dan tertawa selama wawancara berlangsung. Terakhir dan paling muda diantara mereka adalah Nana (19 tahun).

Opik, Budi, Sarif, Amelia dan Nana adalah penyandang disabilitas tuna daksa celebral palsy ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetapi masih bisa ditingkatkan melalui terapi.

Saya semakin santai berada ditengah-tengah mereka. Kesan yang ada dipikiran saya selama ini atau mungkin kebanyakan orang bahwa mereka sensitif, tidak saya rasakan ketika itu. Saya justru bersemangat bertanya  awal mula didirikannya komunitas mereka.

Bengkel Kreasi GaPat adalah suatu komunitas remaja dan dewasa yang bersifat ingklusif dan lebih berorientasi kepada kegiatan kreativitas seni dan budaya. Didirikan pada tanggal 7 Januari 2004. Nama GaPat sendiri menurut kang Yayat merupakan nomer rumah yaitu tiga dan empat. 

Pada awalnya komunitas ini hanya merupakan suatu kelompok bermain dan berkumpul yang berkebutuhan khusus. Kebetulan Opik, Budi, Sarif, Amelia dan Nana berasal dari sekolah yang sama yaitu YPAC. Kemudian komunitas ini di fasilitasi oleh Yayasan Sidikara yang bertempat di Jl. Bbk. Jeruk 1 no 9. 

Melihat latar belakang mereka membuat saya semakin tertarik untuk lebih tau tentang mereka. Dan pernyataan kang Yayat cukup membuat saya termenung.

"Awal di dirikannya komunitas ini sebenarnya kami semua ingin mandiri dan tidak ketergantungan terutama pada orang tua, karena kami tau suatu saat orang yang ada di dekat kami tidak akan terus selalu bersama-sama kami"

Rasanya saya tidak mau keluar dari ruangan ini. Saya merasa sedang tidak berbicara pada orang-orang yang berkebutuhan khusus. Mereka semua menyenangkan dan lucu. Saya dibuat tertawa terus karena sesekali mereka melontarkan candaan disela-sela obrolan. 

Sebagai komunitas yang berorientasi pada seni dan budaya, tentunya mereka sering tampil  beberapa acara. Hmmm saya jadi penasaran mereka sudah tampil dimana saja, dan....saya lumayan terkejut ternyata jadwal tampil mereka cukup padat! Mereka biasanya tampil di acara pementasan maupun event-event. Kemudian opik menunjukkan sebuah buku kepada saya. Ternyata dia baru meluncurkan sebuah buku. Sejenak saya merasa malu pada diri sendiri, saya juga punya cita-cita suatu saat saya bisa meluncurkan buku tapi terkadang sampai sekarang saya masih malas menulis. Ah saya seperti di “ingatkan” pada cita-cita saya itu.

Menelusuri latar belakang mereka, aktivitas dan prestasi mereka membuat saya semakin percaya bahwa Tuhan itu maha adil. Kita semua sebenarnya diciptakan sama. Lengkap dengan kekurangan dan kelebihan. Hanya karena terlahir dengan fisik dan mental yang tidak sempurna, tidak menjadikan mereka lantas berputus asa dan berpangku tangan. Bengkel Kreasi GaPat adalah salah satu contoh nyata untuk kita bahwa penyandang disabilitas pun dapat memberikan kontribusi untuk orang lain lewat kreasi mereka.

Hari Disabilitas Internasional (HIPENDIS) yang jatuh setiap tanggal 3 Desember memiliki makna sendiri bagi penyandang disabilitas. Begitu juga dengan Bengkel Kreasi GaPat, mereka menjadikan HIPENDIS ini sebagai media sosialisasi untuk masyarakat bahwa mereka (penyandang disabilitas) juga memiliki hak yang sama, baik dalam hak pendidikan maupun dalam pembangunan masyarakat.

Sehubungan dengan Hari Penyandang Disabilitas Internasional, saya ingin sekali mengetahui harapan mereka ke depannya . Harapan mereka diwakili oleh Kang yayat,

“Perjuangan dengan rekan-rekan penyandang disabilitas akan terus berjalan. Jangan malu dam minder bagi penyandang disabilitas. Dan bagi masyarakat, don’t judge cover! Karena kita sama seperti yang lain”



Foto bersama anggota Bengkel Kreasi GaPat di Museum KAA Bandung (dok pribadi)

Pada akhirnya saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Dapat diberikan kesempatan berbincang dengan Bengkel Kreasi GaPat membuat saya semakin mensyukuri hidup. Secara fisik mereka memiliki keterbatasan, namun saya yakin kekayaan hati mereka dalam menjalani hidup jauh melebihi saya. 

Mulai sekarang saya akan melihat mereka, bukan hanya dengan mata…tapi juga dengan hati.


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hello, udah lama ya rasanya gue nggak nulis tentang jalan-jalan. Yaaah jalan-jalan yang mau gue share belum jauh-jauh dari bandung siiih hehe. Awalnya gue nggak mau share tentang nih tulisan tapi berhubung di suatu malem gue inget kejadian yang lucu saat gue ke tempat ini, akhirnya gue share deeeh...
Enjoy :)

Mungkin kalian sudah tidak asing dengan tempat wisata ini. Yuhuuu, RUMAH STROBERI. Yang isinya pasti tentang stroberi, bukan singkong! Inget.

Dari awal kuliah entah kenapa gue penasaran banget sama objek wisata yang satu ini. Mungkin karena tempatnya di daerah Lembang yang sudah terkenal dengan objek wisata alamnya yang tidak diragukan lagi. Berkali-kali gue ngerencanain pergi, berkali-kali juga gue gagal pergi (firasat nggak enak nih hahaha)

Pada suatu hari akhirnya gue jadi pergi ke tempat ini bareng temen gue. Wah nggak kebayang dong semangatnya gue dari kosan (bawa kamera pula...niat emang!). Berhubung nggak ada kendaraan pribadi, akhirnya gue menerima tantangan dari temen gue dengan naik...angkot!

Awalnya seru karena ceritanya kaya backpackeran (so pasti kita buta arah dan mengandalkan bertanya) tapi lama-lama ya nggak tau kenapa gue pegel karena kelamaan di angkot dan berkali-kali ganti angkot saking jauhnya tu tempat. Tapi bayangan indahnya rumah stroberi membuat gue tidak patah semangat. Bagaimanapun ini udah setengah jalan, masa mau balik lagi!

Singkat kata, gue dan temen gue akhirnya sampe ke tempat tujuan daaaaan.....TEMPATNYA BIASA AJA!    malah gue dan temen gue pusing sendiri nyari dimana letak kebun stroberi nya yang menjadi landmark tempat wisata ini. begitu sampai tujuan yang kita lihat langsung adalah restorant dan pengunjung yang lagi pada asik makan.
Tapiiii sekali lagi karena sudah terlanjur sampai tujuan, ya gue memutuskan untuk foto-foto dulu hahaha  kebetulan emang viewnya bagus.



Setelah foto, gue dan temen gue tetep penasaran dimana letak kebun stroberinya. Bolak balik kita puterin tuh tempat dari depan, belakang sampai samping. Tidak ada tanda-tanda letak kebunnya. Berkali-kali kita tanya ke pegawainya tapi tetep nggak nemu!

Tapi harus gue akui tempat wisata tersebut unik. tempat-tempat makan dengan view yang bagus banget emang selalu jadi daya tarik wisatawan apalagi untuk masuk tempat ini gratis. gue saranin siih jangan makan disitu, harganya mahal banget. kecuali kalau lo emang niat makan disitu hahaha gue sih ogah. Tempat wisata ini juga menyediakan ruang VIP yang bisa di sewa satu keluarga. 


Puas foto2 akhirnya kita nemu kebunnya dan apa coba tulisannya? SEMUA STROBERI DI KEBUN INI SUDAH DIPESAN! Haaaah apa gue nggak salah baca nih? Gila ya pantes di gembok gerbang kebunnya. Jujur waktu itu gue kecewa berat. Kalau temen gue nggak usah ditanya, dia mah lempeng aja, giliran gue yang gondok nahan kesel.

Yah sudahlah singkat cerita kita nggak lihat kebun stroberinya apalagi buat metik tu stroberi hiks. Gue dan temen gue berjanji untuk nggak mengunjungi tempat itu lagi. selain karena disana memang tidak ada yang begitu menarik.

Untuk mengobati kekecewaan, akhirnya kita foto dulu sebelum pulang. Lumayan kaaaan ada dokumentasi hehe


Nampaknya kesialan gue hari itu belum abis. gue dan temen gue bingung mau pulang naik apa. secara kita  nggak tau kalau ternyata angkot yang lewat situ itu jarang banget. aaaaah -_-

akhirnya gue dan temen gue jalan kaki sekitar satu jam. Ini beneran! dan nggak ada angkot yang lewat. kaki udah nggak tau rasanya kaya apa. pokoknya jalan teruuuus sambil di dalam hati mengutuki kenapa tempat wisatanya di pelosok gitu. hahaha sepanjang jalan kaki itu gue abis lah di omelin sama temen gue itu. gue sampai dongkol dengerin ocehan dia. mana perut gue laper.

dan keajaiban datang. gue memutuskan untuk beli baso sambil temen gue nanya kendaraan ke daerah ledeng. 
Yippiiii...akhirnya dapet angkot sambil makan baso. temen gue? dia malah asik ngobrol sama ibu-ibu yang bawa balita. hahha biar lah...

saran gue sih kalau ke tempat ini mendingan naik kendaraan pribadi karena tempatnya lumayan jauh dan jarang kendaraan umum yang lewat. ya setidaknya lo nggak akan ngerasain sial kaya gue dan temen gue haha
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Setiap manusia memiliki masa lalu,
Membicarakannya dan membahasnya tidak akan pernah ada habisnya
Mengingatnya pun mungkin akan menorehkan luka

Ada saja sesuatu yang tidak bisa diterima, tidak bisa di ikhlaskan
walaupun waktu terus berjalan menguburnya, menggantinya dengan kebahagiaan lain.
Tapi tetap masa lalu menjadi "hantu" yang masih menakutkan

Ya, masa lalu tidak akan bisa dihapus
"Dia" akan selalu mengiringi langkah kita
tapi tidak di tempat yang sama, dengan posisi yang berbeda
Karena tempat tertinggi hanya milik masa depan

Maka jalan satu-satunya adalah memaafkan kemudian melanjutkan hidup
Jangan dengarkan orang-orang yang menghakimu karena masa lalu mu,
jangan pula memikirkan orang-orang yang menilaimu karena masa lalu mu.

Masih banyak orang yang menerima mu apa adanya,
Karena setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah lebih baik, begitu pula dengan mu.
Jadikan pelajaran, tata kembali kehidupan, jangan menengok kembali ke belakang.
"Dia" sudah jauh tertinggal, di belakang sana...



Bandung, 15 Oktober 2012

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Just sharing :)

Duuuh..pasti seneng banget kan kalau kita dibilang pintar sama orang lain? minimal ada rasa bangga sedikit bahwa kita "lebih" dari yang lain. Coba bandingkan perasaan kita kalau di bilang "bodoh" atau "kurang pinter" sama orang lain, wah itu pasti ekspresi muka langsung asem. siapa sih yang mau dibilang "bodoh" atau "kurang pinter"? hehehe.
Tapiiii bagi yang pernah dibilang "bodoh" atau "kurang pinter" jangan terburu-buru langsung down ya. tenaaang, semua orang pernah merasakannya (termasuk saya hehe), kecuali anak yang memang cerdas, karena cerdas itu pembawaan dari lahir. sudah bakat. 

Hmmm jadi sebenarnya kita pintar atau nggak itu dapat di ukur darimana sih?
apa kita harus juara olimpiade dulu? atau apa kita harus ranking satu dulu di kelas? 

Menurut saya pintar itu luas. Camkan ya, L-U-A-S! hahaha
Pintar itu tidak terbatas dengan bidang akademik tapi juga non akademik. namun sayangnyaaaa...seringkali kita "dipaksa" untuk pintar dalam bidang akademik. grrrrrr -_-
sehingga kita tidak sadar bahwa sudah "mengabaikan" atau malas menggali potensi yang sebenarnya banyaaaak sekali kita miliki tapi masih di "kubur",  tentunya diluar akademik ya seperti  menari, menulis, melukis, berpidato dan lain-lain. Itulah yang disebut dengan bakat. mungkin kita sudah lupa bahwa bakat itu pernah "muncul" atau bahkan "berjaya" tapi seiring dengan bertambahnya usia dan mengharuskan kita menghabiskan hampir delapan jam disekolah dengan materi-materi akademik (bayangkan!) kita seolah "lupa" untuk mengembangkan potensi kita itu, terlena dengan prestasi akademik (juara kelas,  nilai rapor harus bagus dll). Duh...pantes aja orang lain lebih suka menilai kepintaran kita hanya satu sisi yaitu akademik. semacam kita tidak memiliki kemampuan lain saja.

Lalu benarkah jika dibidang akademik kita kurang, lantas kita kurang pintar?
Eittts belum tentu. Tau kah kamu bahwa justru bakat yang kita miliki itu lebih banyak diluar jalur akademik? Jika orang yang pintar di akademik harus belajar sungguh-sungguh dulu baru mendapatkan hasilnya. Tapi jika bakat, kita tidak perlu susah-susah belajar, hanya diperlukan kekonsisitensian kita dalam mengembangkan bakat kita agar menjadi potensi yang luar biasa. Ya, sebab bakat adalah anugerah dari Tuhan yang rugi bangeeeet kalau nggak di gunakan semaksimal mungkin dan disia-siain begitu aja.

Kita sah-sah saja memilih "pintar" dalam akademik tapi alangkah bijaksananya jika kita juga memperhatikan kemampuan kita yang lain. selain agar kita memiliki banyak ilmu, juga agar kita tidak hanya dipandang sebelah sisi. Tunjukkan kepada orang lain, bahwa kita juga memiliki "sesuatu" yang lain yang dapat dibanggakan, dengan begitu orang lain akan menilai kita lebih luas lagi :)

Saya percaya setiap manusia itu memiliki bakat masing-masing. Itulah yang membuat manusia itu unik dan memiliki karakter. Yang membedakannya dengan yang lain.
So jika sudah begitu tidak ada lagi istilah "orang bodoh" atau "kurang pintar". Yang ada hanyalah "orang malas" hehehe



By : Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates