Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"



Miss Be Providore located in Jl. Rancabentang No 11A Ciumbuleuit - Bandung, a place to eat with a unique design. Comprised of two buildings, the first building shaped greenhouse and a second building shaped home with vintage style.



I chose to ate at the second building, because i like things related with vintage. In addition, the building houses with classic style is suitable for a relaxed gathering with family or friends. During the meal, our eyes will be spoiled with classic furniture so that the atmosphere is like ate time immemorial house.











Don't worry, for the food and drink prices aren't expensive.
For the food price around 50k-100k.
For the drink price around 25k-50k.
The price is cheap with a cozy place and makes us want to linger there.

Menu available : Asia, Western, Indonesia.

Matcha Late

Chicken fish and chips

Lasagna

Other facilities provided are children's playground, Mushola, toilets, garden and a large parking.
In there place is also a small cake shop with vintage furniture design. The cookies look very tasty and suitable for souvenirs.











Unfortunately, I came on the eve Iftar so that the images which taken in place the less sharp and obvious.
But apart from that, this place highly recommended to visit :)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Short information : 
Sikunir adalah sebuah bukit yang terletak di Desa Sembungan-Dieng, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Destinasi wisata ini terkenal dengan golden sunrise-nya yang memukau. 


Lanjutan postingan dari "Trip to Dieng"...

Setelah puas mengunjungi kawah Sikidang, kami melanjutkan ke destinasi wisata utama kami yaitu Sikunir. Meskipun tidak mendapatkan golden sunrise yang cantik itu, hal tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk mengunjungi Sikunir (yeaaaaaah!). Banyak jalan menuju Sikunir, kami memulainya dari kawah Sikidang (ini jangan ditiru karena kami tersesat sebenarnya hahaha. Aturannya ke Sikunir dulu baru ke kawah Sikidang. Cari rute yang lebih dekat di google ya). Daripada planga-plongo, akhirnya iseng-iseng kami tanya ke tukang ojek disekitar kawah Sikidang.

Eng...ing..eng...tukang ojek tersebut tau jalan menuju Sikunir tapi dengan ongkos yang lumayan mahal yaitu 25ribu satu orang (aji gileeeeee). Kami tawar berkali-kali ngak mau. Akhirnya kesepakatan 20rbu. Deal. Tidak boleh ditawar lagi.

Jalan menuju Sikunir tidak mulus ternyata. Jalannya sempit, berbelok-belok dan terus menanjak. Saya sampai harus meemegang jok motor dengan kuat sekali. Sedikit lengah, saya bisa jatuh begitu saja (huaaaa). Dan yang lebih bikin deg-degan, tukang jeknya tuh lewat rue yang tidak biasanya. Sepi dan nggak ada orang lewat. Mana bau belerang lagi. Saya dan Trian sempat saling pandang dan ngeri-ngeri sedap. Takut di apa-apain sama si tukang ojeg. Apalagi muka tukang ojegnya rada-rada gimanaaaa gitu.
Sekitar 30 menit akhirnya kami tiba di Desa Sembungan. Untungnya tukang ojeknya baik hati. Kami diantar sampai pemberhentian pertama menuju Sikunir. Oh iya bagi yang mau tau desa Sembungan itu bagaimana. Saya foto nih.

Desa Sembungan. Jalan menuju Sikunir.


Ada sedikit tips nih dari saya : siapkan fisik karena mendaki bukit ini sama saja dengan mendaki gunung, meskipun tracknya tidak terlalu berat. Jangan lupa bawa minum dan gunakan sepatu yang alasnya tebal. Karena jalannya licin dan berbatu. Jika tidak terlalu banyak istirahat, perjalanan menuju puncak Sikunir hanya memakan waktu 30 menit. Menyenangkan!

Jika ingin melihat golden sunrise, kamu harus menginap semalam di hostel atau penginapan yang banyak tersedia di desa Sembungan atau membuat tenda layaknya orang kemping di sekitar lahan menuju Sikunir. Paginya sekitar pukul tiga atau empat kamu mulai mendaki. Jika beruntung, kamu akan mendapatkan golden sunrise itu.

Berfoto ditengah-tengah istirahat mendaki.

Disamping kiri itu jurang ya. Jadi hati-hati jalannya. Fokus saja pada petunjuk jalan yang sudah disediakan. Tidak akan tersesat, gaeeees.

Akhirnya kami tiba dipuncak Sikunir sekitar pukul 09.30 WIB. Sudah siang ya? Tapi tak apalah. Itu tidak mengurangi keindahan puncak Sikunir bagi saya.

Puncak Sikunir. Kalau pagi hari ini lebih indah!





Pemandangan setelah turun dari puncak Sikunir : 








Meskipun nggak dapet golden sunrise, yang jelas saya tidak menyesal mengunjungi Sikunir.
 One of the most beuatiful places. 

Sampai jumpa di jalan-jalan selanjutnya! :)


Cheeeers!
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pada tanggal 18 Mei 2014 (huaaa udah cukup lama ya hehehe), saya dan teman saya yang bernama Trian melakukan janji terpendam kita (yaela) untuk jalan-jalan ke Dieng. Awalnya teman saya yang satunya lagi yang bernama Pipit akan turut serta, tapi apa daya "tamu bulanan" dia mendadak membatalkan itu semua. Walhasil, hanya saya dan Trian yang akhirnya melakukan backpacker nekad ini. Kenapa dibilang nekad? Karena kita hanya berdua dan tanpa arah jalan yang jelas!

Tapi tunggu dulu....
Bukan berarti kita buta arah 100% loh, karena malamnya dengan mata yang terkantuk-kantuk karena kelelahan baru tiba dari Indramayu (FYI : saya memulai perjalanan ini dari Purwokerto, karena lebih dekat dan kebetulan Trian adalah mahasiswa UNSOED, jadi ada tebengan istirahat gratis hehehe) plus ada musibah kamera digital saya jatuh dijalan dan tidak ditemukan (huaaa sudah jangan dibahas!), pokoknya itu membuat mood saya sedikit kacau. Tapi akhirnya saya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Bagaimanapun saya sudah tiba disini. Masa mau pulang lagi?

Oke, langsung aja besoknya kita berdua langsung cuuus menuju terminal Purwokerto naik motor dan setelah tiba motornya di titipin ke petugas terminal. (Ini yang unik sebenarnya, saya baru tau kalau ada penitipan motor sampai berhari-hari diterminal dan dijamin nggak akan hilang. Enak banget kan? huh). Kita langsung naik bus menuju Wonosobo. Perjalanannya sekitar 3 jam. Atur waktu sendiri biar sampai Wonosobo nggak terlalu sore. Oh ya ongkosnya sekitar 20ribu.

Berhubung kami tiba di Wonosobo menjelang maghrib dan kendaraan menuju Dieng sudah tidak ada lagi, kami memutuskan untuk menginap semalam di hostel. Sempat bingung juga mencari hostel di tempat yang asing yang belum pernah dikunjungi. Mana kita berdua sempat jalan kesana kemari mirip orang kesasar plus digodain sama bapak-pak nggak jelas (Ih!). Untungnya ada smartphone (hahaha) tinggal ketik keyword di google "hotel murah Wonosobo", maka muncullah beberapa tempat sebagai rekomendasi.
Nah, untungnya kami mendapat hostel murah dekat alun-alun Wonosobo, namanya hotel Arjuna. Begitu selesai makan malam, kita langsung pergi karena berhubung badan udah pada pegel. Oh ya, tarifnya murah menurut saya, yaitu sekitar 60 ribu semalam hehehe. Tempatnya bersih lagi. Tapi kamar mandinya diluar. (Ah, bodo amet!).


Hotel Arjuna Wonosobo
Kamar tidur kami. Jangan harap ada kipas angin atau AC,
karena Wonosobo sudah dingiiiiin sekali.

Dapet sarapan sederhana tapi enak.

Setelah check out dari hotel besok paginya pukul 06.00, kami langsung cus menunggu mobil Metro (semacam mini bus) di depan alun-alun Wonosobo yang akan membawa kami ke Dieng. Sebelum itu, saya berfoto dulu di Wonosobo sebagai kenang-kenangan.



Setelah itu kami naik Metro. Ongkosnya 8ribu. Perjalanan Wonosobo-Dieng sekitar satu jam. Harusnya kami ke Sikunir dulu (tujuan utama), tapi berhubung sudah tidak mungkin melihat golden sunrise yang terkenal itu (hiks), jadi kami memutuskan untuk ke Candi Arjuna Dieng. Itu pun tersesat beberapa kali dan nanya berkali-kali. Halah!

Salah satu Candi Arjuna Dieng
Komplek Candi Arjuna


Puas berfoto-foto di Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang. Letaknya tidak jauh dari komplek Candi Arjuna. Tapi berhubung kami jalan kaki, ya terasa jauh. Udah mirip musafir kesasar heu.

Perjalanan menuju Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Kawah Sikidang ini lebih mirip kawah putih di Ciwidey Bandung tapi suasana pegunungan di kawah Sikidang ini lebih terasa. Jadi ada nilai plusnya hehe. Biaya masuknya 10 ribu ya. Sudah termasuk tiket masuk ke Candi Arjuna.

Note : Semua foto no filter. 


Perjalanan kami belum selesai...
Next, saya akan bahas tentang pendakian ke bukit Sikunir.

See you soon.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terlepas dari capres mana yang saya pilih dan siapa yang akan jadi pemenangnya, saya hanya ingin pemilihan presiden ini segera berakhir.

Sungguh, saya sudah sangat capek.
Setiap membuka media sosial (facebook, instagram, twitter dll), orang-orang beramai-ramai membicarakan capres dukungannya, baik itu melalui status facebook, gambar, kicauan twitter atau sekedar membagikan link berita.
Bagi saya tidak masalah, mau kampanye sepuasnya pun tidak apa-apa, selama menyampaikannya dengan bahasa yang sopan dan tidak menyebar berita fitnah dan bohong.

Tapi disitulah masalahnya,
saya perhatikan semakin dekat dengan pemilihan presiden bukannya semakin tenang dan menikmati prosesnya, malah semakin "brutal" dan meresahkan.
Pendukung masing-masing capres saling serang, saling hujat, saling mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan menganggap bahwa capres pilihannya adalah yang paling baik.
Akhirnya masyarakat biasa seperti saya, hampir tidak lagi bisa membedakan mana berita benar dan mana berita fitnah dengan tujuan menjatuhkan.
Dan pilihan bijak akhirnya saya terpaksa harus me-unfriend atau men-unfollow teman-teman yang dirasa kempanyenya tidak sopan. Itu sangat mengganggu. 

Bahkan piala dunia yang sudah berlangsung beberapa minggu pun --yang diharapkan dapat menjadi "penyejuk" ditengah kondisi pilpres yang "panas" ini-- justru tidak memberikan banyak efek. 
Berita tentang piala dunia masih kalah dengan berita pilpres. Bahkan gaungnya bisa saya rasakan tidak seseru empat tahun yang lalu.

Tiba saatnya bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan.
Saya berharap omongan tentang copras capres ini sedikit reda, karena sungguh disayangkan jika dibulan yang suci ini masih saja beredar manusia-manusia yang tidak menjaga lisan, penyebar fitnah dan penebar kebencian.
Sangat disayangkan juga jika kita tidak dapat menahan untuk ikut-ikutan berkata tidak pantas, menebar kebencian dan menyebarkan fitnah.

Tadi siang saya baru saja buka twitter dan sedih sekali ada follower saya yang di bully abis-abisan oleh teman-temannya sendiri karena berbeda pilihan.
Sampai sebegitunya kah?

Harusnya perbedaan pilihan tidak merusak pertemanan kan?
Memilih adalah masalah keyakinan.
Itu juga merupakan hak setiap orang.
Kita wajib menghargainya.
Jika karena berbeda pilihan, membuat hubunganmu dengan teman-temanmu tidak lagi baik, 
maka saya tegaskan ada yang salah dengan kamu.
You are fanatic! 

Jika tidak suka pada Jokowi, kenapa harus menjelek-jelekkan Jokowi?
Jika tidak suka pada Prabowo, kenapa harus menjelek-jelekkan Prabowo?

Toh, salah satu diantara mereka akan menjadi pemimpin negeri ini.
Pastilah mereka berdua yang terbaik.

Perlu di ingat, menjelekkan-jelekkan itu berbeda sekali dengan memberikan kritik atau saran.

So, kepada seluruh pendukung capres, silakan berkampanye dengan sehat dan positif.
Berikan data-data yang valid tentang capres yang kamu dukung.
Berdiskusilah dengan santun bukan saling serang dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
Menyebar fitnah dan menebar kebencian tidak akan ada gunanya.
Buang-buang energi plus menimbulkan penyakit hati.
Tidak akan menguntungkan kamu. Kepuasannya hanya sesaat.

Kita semua cinta Indonesia.
Jangan sampai hanya karena berbeda pilihan, kita saling bermusuhan dan melupakan tujuan fundamental kita yaitu ingin bangsa ini lebih baik lagi ke depannya.

Akhir kata,
Whatever you are left or right side,
You still my friends...


Jatibarang, 1 Juli 2014.
23;06 WIB
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sorry, for the late of this post.

Alhamdulillah,

On 7 June 2014 was an unforgettable moment. Location at Sasana Budaya Ganesha building Bandung, officially i have become a graduate of International Relations from Pasundan University. Thank you for your support and prayers.

Special thanks to my parents, my brother and sister, Defbry and best friends.
Without your help, I would not be there with pride.

This isn't the end of my journey but this was the beginning of my struggle.
















and thank you so much who had come to congratulate...







success for all :)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
On Wednesday April 30th, 2014 was an unforgettable moment! That day could be my last day of being a Internastional Relations Student and accounted my thesis by title "Pengaruh Kerjasama Budaya Indonesia-Polandia Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia di Polandia".

In this post I want to share my happiness even though a little late because of my busyness.

Enjoy :)


Selfie after arrived in the majors HI with Desti and Farah

before the trial began graduate

After that I was waiting to be called by the examiners.

...and then I got the last three innings of the eleven participants. LOL
I'm so sorry because I don't have some photos when I was presented my thesis.


Yudisium

Yeaaah finally, Amelia Utami, S.IP.


After Yudisium

Thank you so much to all my friends who come to support and wait until the event ends!

...and special thanks to Defbry because you have been giving your time to help and support me. You truly adorable! :)

 

Jatibarang, 7 Mei 2014.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hmmm dari kecil gue selalu nggak punya cita-cita tetep. Selalu berubah-ubah.
Pada awalnya cita-cita gue adalah dokter, itu juga gue pilih dokter karena teman-teman sebaya gue bercita-cita sama (waktu pas udah gede tau profesi dokter akan berhubungan dengan darah, mayat, dkk, gue nggak nyesel untung nggak lanjut hahaha).
Selanjutnya cita-cita gue adalah atlet bulu tangkis (gue nggak paham banget kenapa pilih jadi atlet bulu tangkis tapi waktu jaman gue sd gue hobi nonton taufik hidayat jadilah gue pengen jadi atlet, padahal ya olahraga aja males gilaaaa).
Cita-cita selanjutnya adalah reporter. Waktu kecil gue emang hobi banget niruin gaya reporter berita dengan sisir sebagai miknya dan kaca sebagai televisinya. Gue melaporkan tentang berita banjir dan wawancara boneka (yang dengan paksa gue jadiin sebagai manusia) sebagai narasumber.

Waktu pas masuk SMP, gue udah mulai suka beli novel teenlit dan setelah sering baca novel dengan judul novel yang berbeda-beda, gue buletin tekad untuk jadi penulis novel. Gue udah mulai hobi nulis cerita, cerpen atau coba-coba bikin novel dengan tema seputar pengalaman gue tanpa belajar ilmu menulis sedikit pun. Gue cuma mengandalkan imajinasi dan ingatan gue yang lumayan bagus. Setelah itu gue pikir, cita-cita gue pasti bakal berubah (maklum masih labil), apalagi gue suka foto-foto sendiri dan sempet pengen jadi model majalah (dan niatan itu langsung kandas karena badan gue yang kurus kering kaya tiang listrik).

Waktu terus berlalu, dan nggak kerasa gue udah duduk dibangku SMA, hobi menulis gue nggak pernah berubah dan cita-cita gue tetep sama. Dan yang paling seneng adalah pas kelas 2 SMA, ada tugas bikin cerita dan cerita gue dipuji bagus sama guru bahasa Indonesia dan dapet nilai tertinggi. Di SMA juga gue ikut klub teater, ini juga salah satu kesukaan gue yaitu berakting. Di teater gue bisa mengekspresikan perasaan gue dengan bebas. Jadi intinya gue suka seni! Di SMA juga gue baru sadar kalau gue punya "sesuatu" dengan fashion. Gue suka mix and match baju dan gue udah mulai berani pilih style vintage.

Tiba waktunya lulus dan pilih jurusan kuliah....
HAHAHA mungkin inilah sesuatu yang bakal gue ketawain sampe tua. Aduh maaak setelah bergulat kesana-kesini daftar dengan jurusan yang berbeda-beda (pendidikan bahasa inggris, pendidikan biologi, hukum sampe argoteknologi) tanpa mempedulikan dan mempertimbangkan jurusan apa yang cocok dengan bakat gue, akhirnya gue pilih........HUBUNGAN INTERNASIONAL! Sekali lagi, HUBUNGAN INTERNASIONAL! (Oh my god, pasti waktu itu gue lagi ngelindur panjang atau frustasi berat karena nggak masuk perguruan tinggi negeri sampai gue ambil keputusan masuk jurusan itu secara spontanitas dan nggak tau apa-apa tentang HI). Asal elo tau ya, gue anak IPA. HAHAHA. (ketawa itu maksudnya adalah saking keselnya kenapa juga gue harus susah-susah belajar Fisika, biologi atau kimia aaaaaaaaaarrgggh!)

Di HI gue mencoba untuk beradaptasi dan setelah dua semester berjalan, gue mulai menikmati (mulai lupa sama cita-cita gue dulu) dan kembali membuat cita-cita baru yaitu menjadi diplomat (tuh, kurang keren apalagi coba gue?). Gue diem-diem terlena dengan "janji-janji surga jurusan HI", yaitu menjadi seorang diplomat atau nggak kerja di kementrian luar negeri dan bisa keliling dunia.

Gue mulai sadar bahwa "ada sesuatu yang dipaksakan dari diri gue" adalah ketika semester empat gue mulai aktif jadi anggota SMKAA (Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika) Bandung. Waktu itu gue ikut klub menulis. Ikut klub ini pun tanpa sengaja karena awalnya gue ikut klub bahasa perancis tapi jadwalnya bentrok sama jadwal kuliah gue, akhirnya gue asal pilih (((ASAL PILIH))) klub menulis.
Disanalah gue mulai sadar...sadar sesadar sadarnya..kalau selama ini bakat gue itu di menulis.

Mungkin gue suka sama hal tentang HI, tapi gue nggak cinta. Gue cintanya sama menulis.

Dan gue semakin cinta menulis saat gue meneruskan ke klub Citizen Journalist. Disitu gue bener-bener bersyukur, gue nggak pernah ngerasain se-semangat itu untuk ngerjain suatu kegiatan. Gue bener-bener semangat (mau hujan, mau panas) gue dateng untuk belajar di klub itu. Disitu juga gue belajar untuk nggak pemalu, belajar berani ketemu orang banyak dan bertanggung jawab dengan segala tugas gue.

Well, akhirnya gue sadar... (lupakan tentang background pendidikan gue yang HI itu)  ada suatu kegiatan yang bener-bener gue sukai. Dan semoga itu jadi cita-cita gue ke depan. Menulis cerita masih gue tekuni sampai sekarang dan menampungnya di blog tercinta ini, selera fashion gue juga ga berubah (tetep suka vintage). Jadi gue berkesimpulan kalau gue suka tiga hal :

1. Menulis
2. Jurnalis
3. Fashion

Hmmmm gue udah mulai ngayal, kalau gue mau jadi reporter berita di salah satu televisi atau jadi fashion stylist di majalah fashion atau jadi penulis novel. HAHAHA

Yang jelas gue nggak nyesel masuk jurusan HI toh yang namanya bakat atau kemampuan tidak pernah berbohong. "dia" akan kembali mengusik elo meskipun elo mencoba berpaling darinya.

note : ini adalah tulisan mahasiswa tingkat akhir yang sedang menunggu revisi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
On last Wednesday, I interviewed with students Polish (Kasia and Maria) for my thesis about Indonesia Culture and Indonesia Language in Poland. I was excited because this is the first time I met with them and I felt nervous because I wasn't spoke english fluently. So? Lets's try to used Indonesia languange because they were students exchange who are studying about Indonesian at Pasundan University Bandung. Interested!







Ket. gambar dari kiri ke kanan : penulis, Maria dan Kasia.
Photo by Defbry

Btw, bahasa Indonesia mereka udah lumayan lancar, loh! Hahaha good job Maria and Kasia :)
Thanks a lots for your time
see you....



Soon, I will uploud my video with them.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hallo..hallo..

Finally, film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 sudah tayang daaaaan gue nonton dihari pertama (hahaha niat banget emang). Dari segi cerita, gue nggak terlalu penasaran sih karena gue udah baca novelnya. Yang bikin penasaran sejujurnya hmmm hmmm settingnya! Hahaha ya ya pemandangan eropanya, terutama di Cordoba dan Masjid Hagia Sophia di Turki.

Dan ketika gue duduk di kursi empuk bioskop, gue udah siap-siap. Ekspektasi gue walaupun nggak berlebihan tapi gue yakin film ini nggak mengecewakan. Dan disini juga gue berharap akting Acha Septriasa lebih "greget" lagi.

Jeng...jeng...jeng....

Di part 2 ini, kisah dimulai dari menceritakan keluarga Khan di Pakistan (pasti kalian nggak lupa dengan tokoh ini. Yes, he is kari man hahahha Stefan calls him it). Khan kecil hidup ditengah-tengah kondisi perang dinegaranya (gue nggak tau perang apa), yang pasti perangnya kejam dan memakan korban banyak. Pada suatu hari, Khan kecil berniat keluar menemui teman-temannya namun dicegah oleh ayahnya. Ayahnya tahu Khan berniat untuk belajar jihad untuk membalas dendam atas kematin kakaknya dan saudara-saudaranya. Namun Khan masih bersikeras, dia mengatakan dia tidak mau menjadi pengecut. Ayahnya dengan sabar tetap melarangnya dan malah memberikan sebuah pulpen merah kepada Khan dan mengatakan intinya berjihad dengan perang tidak akan mengubah keadaan negaranya, namun dengan sebuah pulpen ia mengatakan bahwa Khan bisa mengubah negaranya dengan itu. Maksudnya mungkin adalah dengan belajar yang rajin dan menjadi anak pintar (itu perkiraan gue hehehe).

Cerita selanjutnya bergulir seperti Khan yang sering bersitegang dengan Stefan (always about Stefan mempertanyakan aturan agamanya atau Khan balik mengkritik Stefan dan bla...bla...banyak adegan mereka berdua yang lucu dan mengundang tawa penonton), Rangga yang sibuk menyelesaikan disertasinya, Maria yang masih mencoba menggoda Rangga dan Hanum yang bekerja sebagai reporter.

Ada adegan yang tidak ada di Novel namun ada di film (mungkin untuk pemanis), yaitu adegan rasa cemburu Hanum saat melihat Maria memeluk Rangga diperpustakaan. Saat itu Hanum sedang membawa sebuah cake karena hari itu dia berulang tahun dan berniat merayakannya bersama Rangga. Adegan selanjutnya bisa ditebak Hanum pergi sambil menangis dan begitu Rangga tiba dirumah, mereka berdua bertengkar. Namun, pertengkaran itu reda setelah Rangga memberikan sebuh cd pada Hanum sebagai hadiah ulang tahunnya. Ternyata cd itu berisi video hari-hari Rangga selama di Vienna sebelum Hanum tinggal bersamanya. Dan itu membuat Hanum menangis. Dan gue...walaupun nggak nangis tapi terharu. Hehehe

Singkat cerita, Melanjutkan Perjalanan Mengungkap Rahasia Islam Rangga dan Hanum berlanjut ke Cordoba dan Granada (Yes, yes! Hahaha). Rangga dan Hanum mengunjungi Masquito yang dulunya adalah sebuah Masjid dan sekarang sudah berubah menjadi Gereja, namun --ini mirisnya- simbol-simbol islam seperti sengaja dihancurkan walaupun masih banyak sisa-sisa pahatan kaligrafi yang tersisa. Pemandangan di Cordoba ini seperti yang gue duga disuguhkan dengan luar biasa. Di film ini juga diceritakan dengan narasi tentang sejarah islam yang ada disana. Dan sayangnya, perjalanan di Cordoba ini sangat singkat dan tiba-tiba mereka berdua sudah kembali ke Vienna.

Dari sekian banyak adegan, yang berhasil membuat saya menangis adalah ketika Fatma membalas email Hanum setelah selama tiga tahun menghilang dan menyarankan Hanum untuk mengunjungi Turki sebelum ia dan Rangga kembali ke Indonesia. Setibanya mereka di Turki, disanalah semuanya terungkap, bahwa Ayse (anak Fatma yang cerewet dan menggemaskan itu) telah meninggal dunia lima bulan yang lalu dan sekarang Fatma sedang mengandung adik Ayse.
Bukan, bukan disitu gue nangis, tapi ketika adegan flash back yang menceritakan betapa lemahnya Ayse terbaring di tempat tidur melawan penyakitnya. Tidak berapa lama setelah ibunya membacakan kembali tentang email perjalanan Hanum, Ayse meninggal dunia. Ah Ayse, padahal dia anak yang pintar. Bahkan teman sekelasnya yang dulu sering menegejeknya, bernama Leon, memberikan surat pada Hanum untuk disampaikan kepada Ayse yang isinya dia sangat menyesal dan menginginkan Ayse tidak pindah sekolah.
Dan adegan selanjutnya yang lebih mengharukan ketika Hanum, Rangga dan Fatma mengunjungi makam Ayse dan disanalah Hanum menempati janjinya pada Ayse dulu untuk menutup aurat. :)
Oh ya, di Turki mereka bertiga mengunjungi Masjid Hagia Sophia yang sekarang dijadikan museum oleh pemerintah Turki. Disana mereka bertiga berkeliling "menghidupkan" kembali kejayaan Hagia Sophia saat masih menjadi sebuah masjid. Bagi gue, itu....bikin merinding!

Dan film ini ditutup dengan pemandangan Ka'bah di Mekah. Ya, Hanum dan Rangga menunaikan ibadah haji sebagai salah satu dari rangkaian perjalanan mereka. Sebuah "akhir" perjalanan yang mengharukan sekaligus memberikan banyak perjalanan.


****


Gue harus mengakui di Part 2 ini, film 99 Cahaya di Langit Eropa lebih "ngena" baik dari segi cerita (karena disini nggak ada lagi adegan Fatin ujug-ujug nongol lagi bikin video klip), setting maupun akting para pemain yang jauh lebih menghayati, terutama ya off course termasuk Stefan dan Khan hahaha. Oh iya di part 2 ini hebatnya gue berhenti membanding-bandingkan isi cerita di novel sama di filmnya. Ya, saking "terbawa" sama ceritanya otak gue nggak sempat untuk membandingkannya. Yang pasti film ini layak masuk daftar salah satu film terbaik Indonesia :)

Thanks mbak Hanum dan Mas Rangga, good job for you!

Love,
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hahaha ini bisa jadi postingan yang amat sangat terlambat karena kesibukan tertentu saya but saya masih merasakan suasana tahun baru, because now still february yeaaaah! Dan kali ini saya akan berbagi foto tentang acara tahun baru saya dengan teman-teman saya Miza, Luthfi dan Defbry di Car Free Night Bandung! We are very happy...


Me and Miza at Bandung Indah Plaza Mall. Before New Years Celebrate, we were spent time to play and dinner.

and finally....







sekali lagi, selamat tahun baru 2014
semoga kebaikan selalu menghampiri :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
REVIEW



Mau tempat makan yang cozy dengan konsep tema yang berbeda-beda? Nanny's Pavillon jawabannya. Awalnya saya tau tempat ini karena melihat salah satu foto teman saya di facebook dan langsung kepo tanya-tanya...oaaalah ternyata di Bandung juga ada! Nah, konsep Nanny's di Bandung ini temanya garden atau taman (dengan sangat menyesal saya lupa untuk memfotonya) letaknya dijalan RA. Martadinata. Tempatnya agak tersembunyi dan harus teliti nyarinya sampai ketemu hehehe...

Masih penasaran makan di Nanny's, akhirnya saat saya ada keperluan di Jakarta, saya dan Defbry memutuskan untuk kembali makan disana. Dan kita memutuskan untuk makan di Nanny's cabang Pondok Indah Mall dengan konsep Kitchen! Wow, menarik nih kayanya...






Daaaaaan inilah pesenan kita :





sebelum pulang, saya nggak lupa foto-foto dulu. Tidak mau melewatkan dekor yang bagus dari Nanny's Pavillon hehehe


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates