Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Kedua tanganku sedang menggenggam angin
Tapi yang satunya ingin aku lepaskan, karena anginnya terlalu menusuk tulangku.
Angin yang satunya ingin aku genggam dengan kuat, 
dan tanganku yang kosong ingin aku isi dengan harapan ;
 semoga angin lain yang aku tunggu bersedia berhembus ke arah tanganku yang kosong.
Agar aku dapat memilih angin mana yang dapat aku genggam sepenuhnya
Walaupun aku sadar, angin yang aku tunggu sudah ada yang menggenggam dan
tidak akan semudah itu akan melepaskannya
Karena menggenggam angin itu sulit,
Sekali terlepas, 
angin itu akan berhembus ke arah mana saja yang dia mau dan belum tentu kembali.
Jika aku berhasil menggenggamnya, aku akan mempertahankannya 
agar tetap berhembus ke arahku, 
meskipun anginnya menusuk tulang sekalipun.
Aku tak peduli.
Sekalipun aku harus mati karena angin!.


Jatibarang, 2011.


Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sore tadi saya iseng liat-liat foto following saya di Instagram, ada beberapa foto yang berhasil menarik perhatian saya, yaitu foto orang-orang Indonesia yang sedang melanjutkan kuliah di luar negeri dengan jalur beasiswa. Siapa yang nggak mau? udah kuliahnya gratis, kita juga bisa sambil travelling dan mempelajari budaya masyarakat dari negara lain. Hati kayanya ikut termotivasi saat itu juga.

Hmmm saya jadi inget Defbry yang sekarang sedang menempuh studi S2 di Freiburg, Jerman. Sirik nggak? siriiiiiiik! saya juga paling sirik tuh ngeliat temen-temen yang bisa travelling dari tempat satu ke tempat lain. Life dream banget, kan? 

Tapi kemudian saya sadar bahwa itu hanya keinginan saya yang sementara, siriknya saya juga hanya sebatas itu saja. Saya sadar bahwa sekarang belum saatnya saya pergi travelling kemana-mana, saya juga sadar kalau saya belum punya keinginan untuk melanjutkan kuliah. Selain itu, saya juga sadar diri bahwa saya belum mampu, baik secara materi maupun kualitas diri saya

Saya nggak mau memaksakan diri bahwa itu semua harus di wujudkan hanya untuk memuaskan keinginan yang mungkin saja itu datang dari nafsu saya, bukan dari hati saya. Jika pun saya mau, saya akan memperjuangkannya di waktu dan saat yang tepat. 

Jadi, sekarang ini saya let it flow aja. Bukan berarti nggak ada target atau rencana ke depannya. Memiliki target harus dan rencana pasti ada. Tapi sekarang lebih pada mengerjakan apa yang saya bisa, apa yang saya mampu dan apa yang saya butuhkan. Sekarang yang saya butuhkan adalah pekerjaan, maka saya akan memperjuangkannya. Saya sekarang mampunya menulis, maka saya  akan menikmatinya. Selebihnya, saya akan mempercayakan sepenuhnya pada Allah. 

Yaaa semua pasti balik lagi, bahwa setiap orang memiliki prioritas hidup masing-masing yang ia perjuangkan. Apa yang orang lain kerjakan, belum tentu mampu untuk saya kerjakan. Kalau hanya liat hidup orang lain terus, saya nggak bakal fokus sama hidup saya. Teman-teman yang sudah sukses, orang-orang yang sudah berhasil, cukup saya jadikan motivasi untuk diri saya sendiri. Karena kamu, saya dan mereka memiliki sesuatu yang berbeda-beda untuk di perjuangkan. Dan tentunya tujuan hidup yang tidak sama :)

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebenarnya dari pagi masih belum kepikiran mau nulis apa buat hari ini. Nggak ada ide. Nungguin sampai siang hari tetep nggak ada ide. Barbie bimbang :( tadinya mau nunggu sampai sore, eh pas jam dua siang tadi denger kabar tetangga yang rumahnya dua blok dari rumah saya meninggal dunia. Tadinya ya, tadinya nih, saya mau cerita tentang beliau. Karena saya punya cerita. Tapi ya berhubung sekarang malem jumat, nggak jadi deh. Saya takut sendiri.

Ko bisa akhirnya kepikiran mau bahas celengan?

Jadi begini, beberapa menit yang lalu salah satu teteh di kosan saya dulu pasang pm tentang celengan. Terus akhirnya jadi inget kalau saya juga punya celengan yang di beli beberapa minggu yang lalu. Ukurannya nggak besar sih. Harganya pun amat sangat murah. Hanya 1500 rupiah. Belinya di toko buku di pasar. Nggak sengaja beli. Hari minggu abis olahraga sama ibu dan teh puji, pulangnya mampir ke pasar untuk sarapan bubur ayam paling enak se-Jatibarang. *sengaja pamer*. APE LU? APE LU? ;p

Nggak tau kenapa abis beli celengan saya jadi semangat sekali buat nabung. Karena saya suka risih sendiri kalau nyimpen uang receh di dompet, jadi saya suka nyimpen begitu aja di sembarang tempat (sombong ya mentang-mentang uang receh hahahaha)
Beda dengan nabung di Bank yang gampang banget tergoda buat di ambil dengan alasan macem-macem, misalnya buat belanja di online shop, beli sepatu baru, make up baru...bla...bala...ora uwis-uwis. Belum uang kita kepotong tiap bulannya buat bayar administrasi. 
Celengan, meskipun bisa di sobek atau di pecah sekalipun, jumlahnya nggak akan terlalu banyak (apalagi yang isinya duit receh 100 perak), jadi nggak akan terlalu menggoda. Ya kecuali kalau kamu kepepeeeeet bangeeeeeet. Misalnya buat gosok punggung waktu masuk angin.


Penampakan Celengan Saya

Oh iya, kelebihan dari nabung di celengan ini bisa melatih kesabaran kita, loh. Karena butuh beberapa bulan bahkan bertahun-tahun supaya isi celengannya penuh. Terus melatih kita untuk konsisten juga. Konsisten memasukkan uang ke dalam celengan. Dan nggak boleh males. Huhuy!

Ada seseorang yang berkata, terciptanya sebuah mimpi berawal dari hal-hal yang kecil. Maka saya punya mimpi untuk bisa travelling lagi pake duit hasil nabung di celengan. Sekarang sih jumlah uangnya masih sedikit, tapi lama-lama inshaa Allah nggak kerasa akan penuh daaaaan....tibalah hari itu. Hari dimana saya akan merobek-robek celengan itu dengan kejam dan tadaaaaaa menghitung jumlah uangnya. Mudah-mudahan bisa buat main ke luar negeri ya. Amiin. 

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada beberapa jenis teman yang ada di dunia ini :

1. Sahabat
2. Teman dekat
3. Teman biasa
4. Teman yang hanya sekedar kenal.

Dari ke empatnya, saya termasuk orang yang menganggap teman-teman saya dengan jenis yang berubah-ubah. Misalnya, teman yang tadinya sekedar kenal, jadi teman dekat. Teman dekat, jadi teman yang hanya sekedar kenal. Teman biasa, jadi sahabat. Atau sahabat yang akhirnya jadi teman biasa saja. 

Tidak. Saya tidak membenci mereka. Saya memiliki alasan sendiri. Temen yang tadinya jauh jadi dekat, karena saya dan dia memiliki hobi yang sama, memiliki pemikiran yang sama dan enak aja di ajak ngobrol meskipun obrolannya nggak penting. Teman yang tadinya dekat jadi jauh karena kehadiran mereka lebih banyak menularkan energi negatif, jarang ketemu tapi sekalinya ketemu malah pinjem duit, komunikasi yang terputus atau pure karena saya butuh teman baru. Ya, seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya usia, saya tidak mau bohong bahwa saya butuh lingkaran teman yang baru. Yang menularkan energi positif, membawa saya pada hal-hal yang baru dan pastinya saya nyaman berada bersama mereka.

Apakah saya melupakan teman-teman saya yang sebelumnya? Tentu tidak. Saya tetap berhubungan baik dengan mereka. Tapi dengan kapasitas dan feel yang berbeda. Maka dari itu saya tidak memiliki banyak teman. Karena ya itu tadi, sekalinya teman saya itu tingkahnya membuat saya tidak nyaman, maka saat itulah saya akan memutuskan untuk menjaga jarak. Bukan memutuskan silaturahmi.

Masalah jumlah teman saya yang sedikit bukan hanya itu saja penyebabnya. Sejak kecil saya tipe orang yang suka menghabiskan banyak waktu di dalam rumah bersama keluarga daripada bermain di luar bersama teman-teman. Kalau kata salah satu teman saya, saya ini adalah anak rumahan. Suka diem di rumah tapi nggak pernah bosen. Sebenarnya sih ya nggak gitu juga. Saya pergi keluar untuk main ya kalau ada yang ngajakin aja, kalau nggak yo wis di rumah atau di kosan aja. 

Sampai saat ini teman saya masih suka berubah-ubah, yang tidak pernah berubah adalah orang-orang yang saya anggap sebagai "saudara". Saya bertemu dengan mereka saat kuliah. Jumlahnya hanya empat orang. Sedikit kan? hehe. Saya menganggapnya saudara karena mereka lebih dari sekedar teman dekat atau sahabat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hati yang baik. Baiknya tidak bisa saya deskripsikan. Saya jarang bertemu dengan mereka, berkomunikas di HP pun jarang. Tapi saya memiliki keyakinan dalam hati, bahwa kami begitu dekat. Bahwa kami saling mendoakan satu sama lain. Dan bagi saya, itu lebih indah dari hubungan persahabatan manapun.

I don't care what people judge me ; agree or not, like it or not.
However, I'm happy.
I'm happy with the way I choose.

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Abang, jangan terlalu mencintaiku.
Cinta sesama manusia tidak ada yang abadi.
Cintai aku sesuai kadarnya. Tidak usah berlebihan.
Cinta yang berlebihan hanya akan menyesatkan dan tidak akan bertahan lama
Kita tidak perlu saling mengumbar cinta,
kita hanya perlu saling mengucap doa.
Untuk kita berdua...

Kelak, suatu hari nanti, saat Tuhan mengetuk palu takdir untuk kita ;
apakah kita akan berjodoh atau tidak.
Maka di sanalah kita akan berdiri.
Dengan mulut membisu.
Tanpa ada penyesalan, hanya bulir-bulir air mata yang keluar.
Kemudian kita hanya saling menatap satu sama lain.
Menghabiskan sisa-sisa cinta.

Tapi....
Sebelum itu terjadi, mari kita berpegangan tangan dengan erat.
Agar Tuhan dapat melihat kita.
Bahwa kita berdua pantas untuk di persatukan.


----------

Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Hari ini saya nggak akan posting yang serius-serius, tapi nggak tau ya kalau kalian anggap ini serius saya nggak tanggung jawab! *muka galak*
Karena postingnya nggak serius, saya akan bercerita dengan panggilan "gue-elo". Alasannya ya biar lebih santai aja di bacanya atau bisa sambil haha hihi hehe.

OKE MULAI...

Pernah nggak sih lo mengalami kejadian di masa lalu yang saat itu buat elo takut atau merasa tidak berdaya? atau lebih begonya lagi, elo cuma bisa diem atau nurut tanpa bisa berbuat apa-apa? 

GUE PERNAH!!! 

Sebenarnya banyak sih ya, tapi gue mau ceritain yang menurut gue paling "apeu banget!".

Kejadiannya waktu SMP. Udah lama nggak sih? beloooooom! kalau gue jawab udah lama, ketahuan deh kalau gue udah tua. 

Selayaknya murid baru, gue di wajibkan untuk memilih ekstrakulikuler yang ada di sekolah. Tanpa banyak tanya sana sini, akhirnya gue pilih eskul paskibra. Kenapa? karena gue pengen ngibarin bendera. Waktu SD gue selalu kebagian jadi petugas pembaca doa setiap upacara. Dan gue bete abis karena temen-temen gue jarang ada yang dengerin. Keburu cape kali ya karena kelamaan berdiri. Nah, kalau ngibar bendera kan mata temen-temen gue pasti akan terpusat di gue, apalagi kalau gue dapet bagian bawain bendera. Beuh keren! Maklum ye namanya juga anak ABG masih bau kencur, eksistensi adalah nomer satu. 

Awalnya gue pikir bakal have fun. Ya namanya juga eskul kan kaya main aja gitu. Eh, nggak tau nya gue salah pilih eskul euy kayanya. Boro-boro have fun, yang ada gue tekanan batin. ESKUL INI BANYAK ATURANNYA!

Dari sekian banyak aturan, gue akan menyoroti hubungan antara senior dan junior yang udah mirip hubungan antara ibu tiri yang jahat dan anak tiri yang malang. Salah sedikit, langsung di tegur. Mukanya jutek, di omongin. Terlalu banyak senyum, di kira kegenitan. Pokoknya serba salah banget kaya lagunya Raisa. Terus nih ya, junior di wajibkan untuk menyapa seniornya dengan ucapan "SELAMAT PAGI", "SELAMAT SIANG", SELAMAT SORE" setiap ketemu mereka di lingkungan sekolah. Kalau sekedar menyapa sih ya nggak masalah, tapi ini SAMBIL HORMAT DAN SENYUM. Jengkel nggak sih? Bangeeeeeeet. Gue sama temen-temen gue sering banget tuh bela-belain ngumpet kalau ketemu mereka. 
Kalau ketemu mereka terus pura-pura nggak lihat, lebih gawat lagi ; DI BENDING DI TEMPAT! 
Gue bener-bener nggak berdaya saat itu. 


APAKAH PENDERITAAN GUE HANYA SEGITU?

TIDAAAAAAK!

Puncaknya adalah ketika pelantikan capas a.k.a Calon Paskibra. Jadi, semua eskul, termasuk paskibra ngadain kemping gitu. Gue masih inget banget itu kelas dua SMP dan tempatnya di Cibereum. Di sinilah "penderitaan" gue di mulai. Belum apa-apa, gue diwajibkan untuk membeli barang-baang yang di perintahkan pelatih di warung dengan uang receh plus harus di kasih kuitansi. Lo tau? yang bikin sengsara adalah uang receh itu tulisannya harus tahun 1991. YA KALIIIIIII CARI DIMANA! Akhirnya gue muterin dari warung satu ke warung lain demi uang receh 1991. 

Singkat cerita, kita udah sampai di tempat perkemahan. Siang hari masih wajar, sore hari masih wajar. Malem hari......"pembantaian" di mulai!

Para senior mulai drama dan cari-cari kesalahan. 

Yang namanya push up, bending, lari-lari udah nggak keitung lagi. Padahal gue cuma salah sebut jawaban sedikit aja. Nangis nggak? Nggaaaaaak! Dalam hati gue sumpah serapahin tuh para senior yang udah mirip nenek sihir.
Tapi ada satu moment yang paling gue inget malem itu. Yaitu saat senior gue tanya begini :

"Kamu cinta Indonesia nggak?"
"Ya, kang".
"Cium tanah kalau kamu cinta Indonesia".

Gue diem. Senior gue diem. 

Akhirnya gue cium tanah...di depan senior gue!!!!
Hilang sudah lah harga diri gueeeeeeee.

Ada lagi yang lebih nggak penting....

"Ami, kamu udah punya pacar belum?"
Hening.
"Udah belum?"
Masih hening.
"Kalau bohong dosa, loh".
Buset, bisaan aja ngancemnya. 
"U...udah teh".
"Namanya?"
Gue sebutin tuh namanya. Lengkap dengan kelas dan eskul yang dia ikuti.
*BEGO TINGKAT INTERNASIONAL!*
"Sekarang kamu lari keliling sepuluh kali sambil teriak kencang "aku cintaaaa......*sebutin nama pacar*

SUMPAH YA, KALAU KETEMU DIA LAGI GUE PENGEN BANGET NYEKEK LEHERNYA KALAU BOLEH!

Besok paginya kita hiking. Nah, di hiking ini nggak terlalu kejam ya. Karena emang agendanya itu edukatif. Jawab pertanyaan tentang paskibra atau tentang Indonesia di setiap pemberhentian pos. Kalau salah ya paling di bending atau push up lima kali.

Selesai hiking, baru deh "penyiksaan" di mulai lagi......

Satu grup hiking itu kan terdiri dari sekitar lima orang. Nah, tiap grup ini biasanya di kasih pertanyaan yang menurut gue nggak masuk akal banget. Misalnya : "Kamu tau lagu manuk dadali? coba nyanyikan lagu itu dengan menggunakan bahasa inggris. Saya hitung sampai sepuluh. satu, dua, tiga....." MATI NGGAK TUH? MANA CAPE KAN ABIS HIKING!

Kalau nggak bisa jawab hukumannya macem-macem :

Gue kebagian dapet hukuman harus beli minuman fanta pake es tapi di kasih duitnya seribu. Lo tau kan harganya lebih mahal dari itu? tapi senior gue nggak peduli, pokoknya harus dapet fanta dengan duit segitu plus di kasih kuitansinya. MODYAAAR!

Temen gue ada yang dapet hukuman suruh hormat sama tukang baso. Dan tangannya nggak boleh turun sebelum tukang baso itu hormat balik. Dan nggak boleh di kasih tau. Temen gue udah mirip orang gila!

Tapi yang paling kasihan itu salah satu temen deket gue, dia dapet hukuman suruh hitung semua jumlah pohon pinus di sekitar hutan perkemahan kita. YA TUHAN ITU BANYAK BANGET! Dan jumlahnya harus tepat. Dengan oonnya, temen gue itu akhirnya nurut. Doi bener-bener ngitung! Nggak boleh di bantuin lagi. Udahlah, kalau gue jadi dia, gue lebih milih pulang aja. Nggak akan selesai sampai lebaran juga. Fufufufu.

-----------------------------

Itulah sepenggal ceria gue yang "apeu banget!". Kalau di inget-inget lagi sekarang nggak kesel lagi, yang ada malah ketawa ngakak. Ko mau aja di gituin? kenapa nggak protes? HAHAHAHA.


Love.
Amelia Utami
#30hariprodukifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tanggal 30 April 2015 kemarin nggak kerasa udah satu tahun saya menjadi pengangguran :(

Perasaannya gimana? hmmm campur aduk. Yang pasti sih nggak nyangka bakal selama ini. Awal-awal mencari pekerjaan, saya masih santai. Masih berpikir kalau mencari pekerjaan itu nggak akan terlalu sulit. Tapi memasuki bulan ke-enam, saya mulai khawatir. Apalagi beberapa kali mengalami kegagalan. Dan tiap kali mengalami kegagalan ---yeah, I'm just human--- saya sedih, pesimis dan ngeluh sambil sesekali nangis. Hahaha ngaku!

Apakah saya mulai menyerah? Nggak! Tapi capek, iya. Bosan juga. Selama setahun ini yang namanya ngirim surat lamaran pekerjaan, baik online maupun melalui surat udah nggak keitung lagi jumlahnya. 

Untungnya saya nggak mau berlarut-larut dalam kondisi yang nganggur. Dari awal lulus, saya mulai merancang kegiatan yang produktif. Satu hari penuh. Tujuannya jelas, agar pikiran saya tidak "mati". Maka saya memilih kegiatan produktif yang saya sukai, yang kira-kira saya senang melakukannya.

Apa saja kegiatannya?

Pagi : Olahraga (bayangin, yang seumur hidup saya males banget olahraga, jadi rajin olahraga. bonusnya berat badan saya turun beberapa kg), terus biasanya saya lanjutin dengan nonton drama korea atau baca buku. 

Siang : buka internet untuk cari lowongan pekerjaan atau biasanya saya selingin dengan belajar bahasa inggris. Ya maklum, bahasa inggris saya belum terlalu jago hehehe. kalau saya ngantuk, saya tidur. kalau nggak ngantuk, ya saya nulis cerita. pengen kelarin cerita yang saya buat dari bulan Februari kemarin. Mudah-mudahan nggak males ya. 

Malem : nonton tv atau lanjutin nulis atau lanjutin baca buku. kadang ngobrol santai di selingi curhat sama teteh atau ibu. Hahaha maklum ye, bo! 

Kegiatan kaya gitu hampir tiap hari saya lakukan, kecuali kalau saya lagi pergi ke luar kota atau ada acara. Kelihatannya memang sangat sederhana dan sepele apalagi kegiatannya full di dalam rumah, tapi dampaknya bagi saya luar biasa. Seperti, saya lebih tenang, lebih bersemangat, pikiran tetap positif dan yang lebih penting otak saya tetap bekerja. Menyalurkan ide, menantang diri sendiri untuk melakukan something new dan mudah-mudahan bisa mengeluarkan karya.

Dan kemarin tiba-tiba tercetuslah ide untuk membuat #30hariproduktifmenulis. Jadi, selama 30 hari ke depan mulai hari ini saya akan menulis apa saja yang saya mau. Tidak terbatas dengan tema. Asal jangan melanggar norma-norma yang berlaku di media sosial ya. 

So, I would like to invite you who has a blog to join me in #30hariproduktifmenulis. You can share your posts on social media and hopefully we can inspire each other. 
Let's write to live a more productive! xoxo.


Love.
Amelia Utami
#30hariproduktifmenulis
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Akhirnya bisa posting blog terbaru setelah adaaaa saja yang menghambat, seperti kecapean baru pulang dari Bandung, beresin kamar, sakit, sampai males gerak. *ALESAN!* hahaha kemudian di keplak.



Kali  ini saya mau posting tentang teman dekat saya --ehm ehm sebenarnya sih pacar (hahaha), yaitu Defbry yang senin kemarin terbang ke Jerman untuk melanjutkan studi S2. Bikin envy kaaaaaan? Sebenarnya doi udah lama memiliki rencana mau S2 disana, tapi sempat ada hambatan yang hampir buat dia give up, yaitu nilai TOEFL yang katanya masih kurang dan harus memenuhi standar mereka. Ribet pokoknya!

Untungnya nih ya, masalah itu bisa di selesaikan dan akhirnya dia resmi di terima sebagai mahasiswa di Albert Ludwig University of Freiburg. Susah amet ya Tuhan nyebutin namanya -___-

Aku di kabarin sekitar dua minggu sebelum doi berangkat, nyebelin banget kan? terlalu mepet. Ya tapi apa mau di kata, karena tanggal 20 April dia udah mulai kuliah dan harus buru-buru sampai sana untuk registrasi ulang dan lain-lain. 

Dengan di temani oleh tim hore, yaitu yang terdiri dari aku, Mama Defbry, Iyan, Jerry. Elsy, Imam, Andre dan Imay, kita semua meluncur rame-rame ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantar Defbry. Maklum ye rame-rame karena Defbry ini kan perginya lumayan lama yaitu sekitar dua tahun, plus jauh lagi jadi nggak bisa sering-sering main.


Baru sampe bandara langsung foto-foto. Sempet bikin orang lewat bingung, mungkin mikirnya :
"rombongan dari kampung mana ini?" HAHAHA


Beres makan langsung foto-foto.
Emang dasar dari oroknya pada doyan selfie sukaesih ....



Nah kalau ini judulnya kapan lagi bisa foto berduaaa 
*kemudian nyanyi...




Nungguin Defbry lagi check in, udah mirip musafir kesasar di bandara.
Ini masih santai ya, belum nangis tapi hati aku udah deg-degan.
Hmmm rasanya...gila bentar lagi berangkat. Nangis nggak ya. Nangis pasti.

Tapi akhirnya selfie dulu........


Beres check in, Defbry keluar lagi untuk ngambil HP-nya yang lagi di cas. Suasana udah mulai haru, apalagi Defbry ngasih nasehat ini itu sama aku. Mata udah berkaca-kaca. Bukan, ini bukan drama. Tapi beneran terharu. Sedih juga. Bangga juga. Pokoknya campur aduk jadi satu. Perasaannya susah di jelasin, karena aku tau dan semua yang nganter Defbry tau, kalau dia orang baik. Ya gitu deh gimana aja rasanya di tinggal orang baik, meskipun cuma sementara. *jadi curhat*

Di suruh foto dengan tiket dan paspor dia. Tuh liat, muka udah merah dan mata berkaca-kaca.
Huaaaaaaaaaa

It's time say good bye....


Udah di tahan-tahan tetep aja nangis. Hahahahaha

Selamat menimba ilmu di negeri orang, Defbry.
Semoga Allah senantiasa melindungimu.



Love.
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Well, setelah berhijab selama tiga tahun, tiba-tiba saya pengen cerita aja bagaimana awal saya mengenakan hijab. Saya yakin setiap orang yang sudah memutuskan untuk berhijab pasti memiliki cerita tersendiri.

Oke, ini cerita saya.

Sebelumnya mengenakan hijab sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya. Selain keluarga saya yang nggak pernah memaksa, saya juga merasa nggak berkewajiban mengenakan hijab. Saya pikir waktu itu yang penting melaksanakan ibadah wajib, seperti sholat, puasa, mengaji dan berbuat baik pada orang lain. Intinya, kalau pun berhijab saya akan mengenakanya ketika tua nanti. Apalagi saya punya cita-cita pengen jadi ibu dan istri yang gaul (ceilaaaaa).

Hijab sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya. Waktu kecil saya sudah mengenakan hijab (atau lebih tepatnya kerudung) ketika pergi ke sekolah Madrasah. Kemudian waktu SMP dan SMA saya juga mengenakan kerudung ke sekolah, meskipun terpaksa. Ya, terpaksa. Alasannya karena kebijakan pemerintah kab. Indramayu yang mewajibkan seluruh siswa SMP dan SMA mengenakan kerudung ke sekolah. 

Tentang kebijakan ini saya pernah ngedumel ke Defbry : 
"Ngapain sih ada kebijakan kaya gitu? padahal pengen banget ke sekolah dengan rok abu-abu pendek dan gaya rambut yang keren". Hahahaha tipikal anak SMA banget ya.

Balik lagi, tapi yaaa saya mengenakan kerudung hanya sebatas di sekolah aja, di luar sekolah sih lepas lagi. Nggak sedikit orang yang menyangka saya mengenakan hijab karena saya bandel dan pergaulannya nggak bener. Orang yang sudah mengenal saya sih nggak percaya. Ya karena memang kenyataannya saya tipikal anak baik. Sebelum pake hijab pun saya nggak pernah pake baju yang aneh-aneh sampai terbuka gitu. 

Terus kenapa pake hijab?

Nah, singkat cerita saya kuliah kan di Bandung. Salah satu yang buat saya seneng banget bisa kuliah di Bandung adalah saya bisa bebas. Pakaian nggak perlu pake hijab apalagi kerudung. Saya juga sempet ngedumel panjang lebar ketika ada himbauan untuk mengenakan hijab ketika mata kuliah Pendidikan Agama Islam atau apa gitu saya lupa. Katanya kalau nggak pake hijab, nilainya jelek. Ngeselin nggak, sih? belum lagi di wajibkan untuk ikut mentoring. Bagi saya pake hijab itu nggak bisa di paksa. Titik. 

Dari situ saya mulai rada antipati sama orang yang berhijab, terutama dengan hijab yang panjang. Duh, saya jadi inget saya pernah ikut ngeledek salah satu guru di SMA dengan sebutan guru batman, karena beliau kalau pake hijab panjang banget sampai hampir menyapu lantai. Ya mirip jubah batman. Maaf ya bu hehehe.

Pokoknya sebelnya saya sama orang berhijab tuh bener-bener sebel yang nggak bisa di jelasin. Sebel aja gitu. Bagi saya mereka tuh orang-orang ribet. Norak. Fanatik. Dan nggak bisa menikmati hidup. Apalagi saya pernah di katain yang nggak-nggak sama teteh-teteh berhijab panjang. Makin sebel lah saya sama mereka. Makanya tiap orang nanya ke saya : "Ami, kapan pake hijab?". Saya selalu bilang dengan asal: "Nanti kalau udah nikah". "Nanti suatu saat nanti, masih lama banget". 
Jujur saja sebelumnya saya termasuk penganut garis keras "Hijabin dulu hatinya" atau "Lebih baik orang yang nggak berhijab tapi baik, daripada orang berhijab tapi hatinya busuk". Sinis banget, kan? Hahahaha.

Banyak orang yang nggak percaya saya sesinis itu sama orang yang pake hijab, tapi rajin sholat dzuha, tahajud, puasa senin kamis dan lancar ngaji Al-Quran (Ini bukan pamer ya). Saya sih waktu itu cuma ketawa aja terus dengan santainya bilang : "Asal jangan pake hijab aja". Duh, hahahaha.

Kemudian saya masih inget banget, waktu itu tanggal 30 April 2012, saya sakit. Bukan sakit biasanya kaya demam atau pilek. Bukan hanya sakit badannya, tapi juga jiwanya. Ya, saya serius. Boleh percaya atau nggak. Baru kali itu saya ngalamin hati yang galau banget. Bukan galau ala-ala anak ABG labil, tapi galau yang "apa iya hidup saya udah di jalan yang benar?". Nggak tau kenapa hati saya kaya "di usik-usik". Dibikin bingung, dibikin suruh mencari. Selama itu saya kesiksa banget. Setiap malam hampir selalu tidur setelah adzan subuh, jarang makan, jadi males banget dan tiba-tiba kehilangan minat buat ngelakuin apa-apa.

Defbry dan teman saya, Eyi, adalah saksi bagaimana saya sering bolak-balik ke dokter bahkan ke rumah sakit cuma pengen tau apa penyakit saya. Dokter bilang katanya saya cuma maag terus di kasih obat. Nyatanya? obat itu nggak bikin saya tenang. Saya makin gelisah dan makin down. Hidup rasanya kaya nggak berguna.

Satu bulan kemudian, saya masih juga gelisah luar biasa. Kuliah nggak konsen, kegiatan organisasi jadi nggak fokus dan saya semakin tertutup sama orang lain. Kerjaan saya tiap hari cuma curhat sama Eyi, Defbry atau sama teh Yossi hahahaha. Sempet juga saya dan Eyi mikir mungkin saya katanya di guna-guna (kalau inget itu konyol banget) karena pernah PHP-in cowok. Terus saya juga sempet pengen ke psikolog atau ustad. Pokoknya kemana aja asal hati saya tenang.

Nah, pada saat itu (saya lupa tanggalnya), saya nggak sengaja baca twit dari Ustad Felix. Kebetulan beliau lagi bahas tentang hijab gitu. Yang saya inget twitnya itu begini :

Hidayah pake hijab tuh di jemput, bukan di tunggu.

Pake hijab dulu, kesiapan hati pasti menyusul.

Waktu itu saya baca twitnya berkali-kali. Udah di kasih sakit begitu tuh, saya masih sempet-sempetnya sinisin nih ustad hahaha. Saya bilang : "Ustad macam apa sih, kerjaannya nyindir-nyindir terus". Padahal sih dalam hati jleb banget karena twitnya tuh bener-bener saya banget.

Abis itu saya intropeksi. Saya nangis. Saya mikir barangkali ini semua "teguran" dari Allah atau bisa jadi bentuk kasih sayang Allah sama saya untuk menyempurnakan ibadah saya, yaitu dengan menutup aurat.

Singkat cerita satu bulan kemudian, tepatnya bulan Juni 2012 saya secara spontan memutuskan untuk pake hijab. Waktu itu mau balik ke Bandung, saya bilang ke ibu (waktu itu ibu saya belum berhijab) : "Bu, Ami mau pake hijab". Ibu kira saya bercanda, tar paling di lepas lagi. Tapi ternyata saya beneran. Saya pake tu hijab dalam perjalanan Jatibarang-Bandung. Waktu saya tiba di terminal Caheum dan di jemput Defbry, dia sempet kaget dengan penampilan saya karena sebelumnya saya nggak ngomong apa-apa. "Ini bener mau seterusnya pake hijab?". Tanpa ragu saya bilang "iya".

Yaudah akhirnya saya pake hijab kemana-kemana. Teman-teman saya di kampus sempet kaget tapi rata-rata mereka seneng. Saya tambah seneng lagi begitu tau ada beberapa temen kampus saya yang tadinya nggak berhijab, lalu berhijab. Saya merasa ada temen aja gitu. Temen penguat untuk tetep istiqomah pake hijab.

Saat itu juga secara ajaib saya berangsur-angsur sembuh. Hati saya pelan-pelan mulai tenang dan saya jadi semangat lagi.

Pernah tergoda untuk lepas hijab?

Pernaaaaah. saya kadang kangen pergi kuliah pake kaos pendek atau rambut di gerai hahaha. Tapi alhamdulillah Allah selalu menguatkan hati saya. Saya berkali-kali bilang ke hati saya : "Ini buat tabungan di akhirat. Nggak apa-apa banyak godaannya, Nggak apa-apa saya jadi nggak punya banyak temen. Yang penting ada Allah".

Kalau di inget-inget, saya bersyukur sekali diberi hidayah cepat oleh Allah untuk berhijab. Meskipun saya belum sempurna, setidaknya saya terus belajar untuk lebih baik lagi. Inshaa Allah.

----

Dari semua kejadian itu, saya banyak megambil hikmah. Bener kata Allah, kita nggak boleh terlalu sebel sama sesuatu atau seseorang karena bisa jadi kita akan seperti mereka. Saya sudah membuktikannya. Masih mending saya kemakan omongan sendiri ke arah yang lebih baik, nah kalau nggak? nauudzubillah mindalik.

Oh ya semenjak berhijab juga saya jadi lebih toleran, terutama kepada mereka yang belum berhijab. Saya nggak mau buru-buru menghakimi, sok menasehati atau memaksa mereka mengenakan hijab. Saya yakin, setiap orang punya jalannya masing-masing. Ada batas dimana kita boleh menasehati dan ada batas dimana kita nggak boleh ikut campur sama sekali.

Karena mengenakan hijab adalah masalah hati, jadi silakan tanya pada hati kalian masing-masing : tidakkah ingin menjadi manusia lebih baik lagi? :))))))


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Green Tea Holic

Jl. Sultan Agung
(seberang sekolah St. Aloysius Bandung)

Buka pukul : 10.00 -21.00 WIB

Gambar di ambil dari travel.kompas.com

Mau tau jajanan yang lagi hits di kota Bandung? Jawabannya sudah tentu kue cubit Green Tea!.
Penasaran, akhinya saya coba mencicipi kue hits tersebut di salah satu kedai bernama Green Tea Holic. Jangan khawatir tentang harga deh, karena disini harganya tergolong murah dan menunya bervariasi. 



Nah, ini menu yang saya pesan. Kue cubit green tea dengan toping lengkap dan bowl of ice cream.



Mau tau harganya ?

Kue cubit green tea toping lengkap : Rp. 15.000
Bowl of ice cream : Rp 17.000

Gimana? murah kaaan untuk mencicipi kue dengan rasa unik?

Pulangnya jangan lupa belanja ya karena disekitar kedai banyak distro bertebaran. 


Cheeeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Lokasi : 
Jalan by pass Brigjen Dharsono.
  Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon.

Tiket Masuk :
Rp. 8000-,/orang


Hallo...

Kalau kamu berkesempatan berkunjung ke kota Cirebon, jangan lewatkan nih wisata cagar budaya yang sudah ada sejak beberapa abad silam. Yup, namanya Taman Sari Gua Sunyaragi atau masyarakat lebih akrab menyebutnya Gua Sunyaragi atau Taman Air Sunyaragi. 

Sekilas tentang Gua Sunyaragi 

Nama "Sunyaragi" berasal dari kata "sunya" yang artinya adalah sepi dan "ragi" yang berarti raga. Keduanya di ambil dari bahasa Sanskerta. Tujuan utama di dirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para sultan Cirebon dan keluarganya. 

(dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Gua_Sunyaragi). 
Baca selengkapnya disana ya. hehehehe. 




Karena saya berkunjung pada sore hari (plus seharian udah jalan-jalan ke tempat lain hehe), saya nggak punya banyak waktu untuk berkeliling ke seluruh kompleks gua. Ini artinya saya hanya berkunjung ke bagian depan saja, padahal di bagian belakang nya masih luaaas. Huhuhu tapi apa daya kaki saya udah keburu pegel dan tenggorokan ini rasanya haus banget kaya abis jalan-jalan ke gurun. 







Meskipun hanya sebentar mengunjungi Gua Sunyaragi, tapi saya berkali-kali berdecak kagum pada arsitekturnya, terutama pada batu-batu putih yang menempel itu.  Ko bisa ya gue baru kesini padahal ini deket dari Indramayu?. HAHAHAHA.

Intinya, tempat wisata Gua Sunyaragi wajib masuk ke list kamu kalau berkunjung ke kota Cirebon!








Cheeeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates