Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Halloooo....

Minggu kemarin perusahaan tempat saya bekerja mengadakan Employee Gathering ke Yogyakarta. Iya, rame-rame. Naik bus. Macam anak sekolah mau study tour hahaha. Karena ini Employee Gathering, jadi jangan harap saya akan review ala backpacker mengenai lokasi wisatanya, harga tiket masuk wisatanya berapa, harga penginapannya berapa atau cerita saya tersesat hingga bertanya jalan pada rumput yang bergoyang. Nggak, nggaaak saya nggak akan cerita begitu. Hal-hal yang begitu mah udah di atur sama EO dan tour guide hahaha. Yaaa singkatnya saya tinggal duduk manis manjah saja. 

Apakah Employee Gathering bisa seseru ala traveler? Oh tentu saja bisa! Sejak awal saya mendaftar menjadi peserta gathering, saya bertekad untuk menjadikan gathering ini sebagai perjalanan wisata yang menyenangkan bagi saya. Di mulai dari tidak membawa pakaian yang terlalu banyak (karena di samping berat, juga tidak efektif), tidak membawa koper (kecuali gue berjiwa inces syahrini) dan berjanji dalam hati UNTUK TIDAK BANYAK SELFIE. Bagi saya, berfoto selfie yang terlalu banyak hanya akan mengganggu kenyamanan saya dalam menikmati tempat wisata dan bisa membuat saya kehilangan moment-moment indah yang seharusnya bisa di abadikan lewat kamera. Ya kaliiii semua foto isinya full muka semua hmmmm.

Oh ya, untuk lokasi wisata google sendiri aja yaaaa *pemalas* hihi.

  • Oke, tempat wisata pertama yang di kunjungi adalah Pantai Indrayanti. Lumayan jauh sih di daerah Gunung Kidul apa ya. Pokoknya daerah pegunungan dan sepanjang jalan menuju sana tuh dingin. Tapi ya sampai pantai tetep panas. Hal pertama yang saya lakukan setibanya di lokasi adalah cari toilet umum untuk mandi. YA ALLAH MUKA DEDEK KUCEL DAN BADAN BAU KECUT KARENA NGGAK MANDI SEMALEMAN *CRYYY*. Murah loh harga mandinya cuma 3 ribu rupiah padahal saya udah ngabisin air sekitar lima ember.
 
Abis mandi, ku terus foto.
Pantainya bagus, pasirnya putih. Sayang nyampe sana udah siang jadi kerasa banget panasnya. Untung bawa kacamata hitam dan sudah pake cream tabir surya *ngga penting*.

 
Akibat tidak siap di foto.
Pose ala anggota F4. GUSTIIIIIII!
Geng F4 dari samping HAHAHAHA
  • Lokasi kedua yang di kunjungi adalah De Mata 3D Trick Eye Museum. Sebenarnya lokasi ini nggak masuk list awalnya karena harusnya kita ke Lava Tour, tapi waktunya nggak cukup akhirnya di ganti ke De Mata. Ya saya sih seneng-seneng aja ya karena waktu ke Semarang saya lupa berkunjung ke Museum 3D di Kota Lama jadi anggap aja ini penyeselan yang terbayar hehehe. 

 

Ada 3 kategori : ada De Mata 1, 2 dan 3. Setiap kategori beda harganya. Sayangnya, kita cuma masuk ke De Mata 1. Nggak papa sih bagi saya tetep seru. Apalagi posenya gokil-gokil.

 




POSE FAVORIT HAHAHHAA

Di sekitar De Mata banyak street food, jadi kalau laper bisa jajan dulu. Berhubung karena ini rombongan, jadi saya nggak bisa atur waktu seenaknya, termasuk dalam pesan makanan. Ceritanya keluar dari De Mata hujan, maksud hati ingin yang anget-anget macam pelukan kamu eh salah macam nuget dan kentang goreng, apa daya nugetnya baru di goreng udah di tungguin di bus. NUGETNYA SETENGAH MATANG WOY DI MAKANNYA! HMMMM UNTUNG LAPER.

  •  Tempat ketiga yang di kunjungi tiada lain dan tiada bukan tentu saja Malioboro. Bagaimana pun pesenan emak harus di beli, jika tidak, terancam tidak boleh masuk rumah. Padahal yaaaaa belinya cuma daster yang di pasar juga ada kaliii. Ya tapi sekali lagi, emak tidaq pernah salah.

Lumayan crowded ye jalan Malioboro kalau abis hujan, becek, nggak ada ojek.
Udah lama nggak ke Malioboro ternyata banyak perubahan. Udah mirip Bandung sih, trotoarnya ada tempat buat nongkrong-nongkrong cantik terus di sediain bangku juga. Tapi bagi saya tetep sumpek jalanannya, ya mungkin karena jalanan tujuan wisata kali ya.
  • Tujuan selanjutnya yang kita kunjungi besok harinya adalah LAVA TOUR MERAPI. Yes, dari sekian itinerary, Lava Tour yang paling di tunggu-tunggu. Awalnya saya nggak begitu tertarik sih. Ya mikirnya paling begitu-begitu saja. Sengaja nggak cari tau di google sampai detail juga. Ternyata....YA AMPUUUUN SERU BANGET!!! Di atas mobil jeep saya nggak bisa berhenti teriak dan ketawa. Gila, gila, pikir saya. Ini sih bener-bener pelampiasan rasa suntuk selama kerja. Yang saya salut, driver dari jeep saya bener-bener good service banget. Cerita waktu evakuasi warga saat erupsi merapi terus saya juga tanya-tanya dari mulai harga jeep, jumlah komunitas jeep, jumlah mobil jeep sampai nanya yang nggak penting macam : "Kalau malam ada penerangan nggak?". YAKALIII DI HUTAN.
Lava Tour ini ada paketnya. Nah, saya dan rombongan ambil paket yang 350 ribu. Satu jeep di isi lima orang plus driver dan lama perjalanan sekitar dua jam. Kita berhenti tiga kali, yang pertama di Museum Mini, Batu Alien dan terakhir di Bunker Kaliadem. Minus rumah mbah Marijan karena ternyata beda paket hehehe
  • Di Museum Mini, jadi ini sepertinya rumah warga yang barang-barangnya nggak sempet di selamatkan. Soalnya ada bangkai binatang, motor, komputer, tv sampai perabotan macam gelas, piring dan lemari. Oh ya, ada pameran foto juga saat evakuasi warga. Nggak liat semuanya karena saya nggak tega hehehe.
 

 

 

 
  • Batu Alien.  Sampai sekarang aing nggak ngerti, mukanya aliennya macam mana pulaaaak. Yaudah yang penting foto-foto. 
 

COBA JELASKAN MUKA ALIENNYA MANA??? 

 
Yang pake hijab biru lagi nyari ikat rambut yang lepas btw
 Dari sekian banyak foto, ini favorit saya. Ibu penjual bunga edelweis

 
    • Bunker Kaliadem. Jadi, sampai tujuan yang lain foto-foto saya pilih ke warung beli gorengan. Laper booo setelah di guncang-guncang naik mobil jeep. Fyi, harga gorengannya 3.000/biji. Kecil pulak. Maklum sih ya namanya juga tempat wisata. Saya sih positif thinking aja,mungkin gorengnya pake lava sisa merapi *oke nggak lucu*. Oh ya, saya nggak masuk ke dalam bunkernya. Takut hahahaha.
     

    TERLALU MANIS UNTUK DI LUPAKAN ~~~

     

    • Lokasi terakhir yang di kunjungi adalah Jogja Bay. Waterboom gitu sih. Yang lain pada berenang, saya pilih mandi ke kamar mandinya hahaha ya gimana badan kucel abis dari Lava Tour. 
     

    Sebenarnya ada cerita nggak enaknya sih sepanjang perjalanan, tapi saya memilih untuk nggak sharing. Kenapa? Karena kalau masih banyak cerita seru dan menyenangkan, kenapa harus pilih cerita yang nggak enak? Yang penting kan kita senang. Iya nggak? Iya nggak?

    SALAM SAHABAT SETIA SELAMANYA

     

    SELFIE GENG REMPONG HAHA



    Love,
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar


    Ini novel kedua Tere Liye yang saya baca setelah Hujan (yang nggak sempat saya review karena keburu lupa sama ceritanya). Saya bukan penggemar Tere Liye jadi saya nggak mengikuti novel-novel beliau. Tapi setelah membaca Hujan saya akui, tulisan beliau bagus. Saya nggak peduli tentang omongan-omongan tentang beliau yang sempat ramai di media sosial, yang saya nilai kan karyanya, bukan pribadinya hehehe. Balik lagi ke novel Tentang Kamu. Di bandingkan Hujan, dari segi cerita saya lebih suka Tentang Kamu. Alur ceritanya lebih tertata walaupun settingnya berbeda-beda dan periode rentang waktunya sangat jauh. Untungnya penulis tetap konsisten dari awal sampai akhir. Istilahnya nggak kehilangan konsentrasi gitu.

    Tentang Kamu bercerita tentang Zaman, pemuda asal Indonesia yang bekerja sebagai pengacara di firma hukum bernama Thompson & Co di London. Suatu hari Zaman menangani masalah warisan seorang klien yang baru saja meninggal dunia. Klien itu mewariskan aset berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar poundsterling alias 19 triliun rupiah! Zaman lebih tercengang lagi karena klien tersebut adalah wanita asal Indonesia. Yup, namanya Sri Ningsih. Lebih lebih tercengang lagi karena Sri Ningsih meninggal (dan selama ini tinggal) di sebuah panti jompo di Paris. Wow, bagaimana bisa wanita yang tinggal di panti jompo bisa memiliki kekayaan seluar biasa itu?

    Itu lah tugas Zaman....

    Sekaligus mencari siapa ahli waris dari Sri Ningsih. Jika dalam tenggat waktu tertentu tidak ada yang mengklaim, maka warisan Sri Ningsih akan di kelola oleh pihak Kerajaan Inggris. Kurang lebihnya seperti itu.

    Dengan modal buku harian milik Sri Ningsih yang dia temukan di panti jompo, Zaman mulai menelusuri jejak kehidupan klien penting tersebut. Buku harian tersebut terdiri dari lima bab perjalanan hidup Sri Ningsih, sekaligus menjadi petunjuk penting bagi Zaman dalam menemukan ahli warisnya.
    1. Bab pertama menceritakan kehidupan masa kecil Sri di Pulau Bungin, Sumbawa, pada tahun 1940-an. Bagaimana dia menghabiskan masa kecilnya sebagai anak dari pelaut tangguh bernama Nugroho dan seorang ibu bersahaja (yang belum pernah ia lihat wajahnya karena meninggal begitu melahirkan Sri) bernama Rahayu. Di bab pertama, saya sudah di buat sedih (tipikal penulisnya nih yang bisa aja buat pembacanya terhanyut dalam setiap ceritanya). Bagaimana anak sekecil Sri harus menghadapi beberapa kepahitan hidup ; setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi kemudian ayahnya meninggal dan ia harus hidup di bawah penyiksaan ibu tirinya yang menganggap Sri adalah "anak yang dikutuk".
    2. Bab kedua menceritakan tentang masa remaja Sri di sebuah pondok pesantren di Surakarta. Di bab pertama udahlah di buat sedih, di bab kedua di bikin ngeri. Di ceritakan saat Sri remaja pada tahun 1965, saat itu terjadi peristiwa G30SPKI. Salah satu teman di pondok Sri berkhianat dan berakhir dengan pembantaian Kiai dan para santri di pondoknya. Peristiwa tersebut meninggalkan kenangan buruk untuk Sri.
    3. Bab ketiga menceritakan tentang perjalanan hidup Sri setelah lulus mondok. Dia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Di bab ketiga ini saya mulai kagum oleh sosok Sri yang berjuang hidup di Jakarta, jatuh bangun dia dalam merintis usaha sampai akhirnya memiliki perusahaan sendiri.
    4. Bab keempat menceritakan perjalanan hidup Sri selanjutnya setelah hijrah ke London, Inggris. Dan di sana juga ia menemukan jodohnya. Ini bab paling bangke menurut saya hahahhaa. Bagaiman nggak, seakan penulis kurang puas "memberikan" cobaan bertubi-tubi pada Sri sejak kecil, masih juga di beri cobaan dan lebih berat. Nggak sanggup saya reviewnya, baca aja sendiri. Ku sebel pokoknya!
    5. Nah bab terakhir dalam perjalanan hidupnya ya menceritakan sisa-sisa hidupnya yang dia habiskan di panti jompo di Paris.
    JADI INTI CERITA NOVEL INI APA? TENTANG KEMALANGAN SRI NINGSIH MENURUT SAYA.

    Dan sebagai pembaca novel yang receh macam saya, cerita Tentang Kamu memang susah di tebak. Saya memang sengaja nggak penasaran karena ya menikmati ceritanya. Ternyata banyak info-info kecil yang baru saya tau, salah satunya singkatan dari mobil kijang adalah mobil Kerjasama Indonesia-Jepang.

    YA ALLAH AMI KEMANE AJA?

    Kelebihan lain dari novel ini adalah banyak isu yang di bahas dengan rentang periode waktu yang panjang. Mulai dari peristiwa G30SPKI, peristiwa malari, peristiwa ekonomi dunia, kekerasan pada anak sampai perang dingin. Tenang tenaaang semua hal itu cuma numpang lewat doang sih. Cuma gimmick hehe.

    Penulis memberikan kejutan di endingnya yaitu memberikan dua klimaks, untuk Sri Ningsih dan Zaman. Dari total 523 halaman, bagian paling baper bagi saya bukan kisah cinta Sri Ningsihh dan Hakan Karim yang notabene adalah tokoh utama.

    COBA TEBAK BAGIAN MANA YANG BUAT SAYA BAPER? IYAAAA....KISAH CINTA ZAMAN DENGAN PEGAWAI PANTI BERNAMA AIMEE, GADIS CANTIK BAIK HATI ASAL PARIS.

    Dan asal kalian tau, kisah cinta mereka cuma di ceritakan secuil. DI BAGIAN EPILOG PULA!


    FIX. GUE PEMBACA RECEHAN. HAHAHAHA

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Hasil gambar untuk love

    Jika di definiskan, mencintai itu seperti apa?

    Untuk beberapa orang, tentu sangat mudah menjawab pertanyaan ini. Sesimpel mengatakan I love you atau I can't life without you. Yeah, you are free to describe it was like. 

    Ada yang berkata ; "Ah, mencintai sih nggak perlu definisi, nggak perlu dikatakan seperti apa dan digambarkan bagaimana. Mencintai itu tentang rasa, yang kemudian di wujudkan dengan action".

    Wow, kalau seperti itu saya bisa jatuh cinta berkali-kali. Bisa jatuh cinta sama siapa aja. 

    Atau.....

    "Mencintai itu tentang kesabaran. Walaupun tidak di anggap, walaupun sering di sakiti, walaupun dia mencintai orang lain".

    Gaeeeees, kalau kamu punya temen kaya gitu, segera sadarkan. Penyebabnya kemungkinan ada dua ; dia terlalu menghayati nonton drama korea atau dia kebanyakan baca novel dwitasari.

    Betul, setiap orang memiliki definisi mencintai berbeda-beda, termasuk saya. Bagi saya, mencintai itu bukan hanya perkara rasa, bukan juga hanya tentang action, tapi lebih pada tentang komitmen. Komitmen agar tetap "sadar" bahwa rasa dan action saya ini benar.

    Kita mencintai seseorang dengan menyakiti orang lain. Itu bukan cinta, tapi hawa nafsu.
    Kita mencintai seseorang, tapi kita mau di manfaatkan oleh dia. Itu bukan cinta, tapi bodoh.
    Kita mencintai seseorang, tapi dia tidak mencintai kita. Itu bukan cinta, tapi menyiksa diri.

    Mencintai tidak semudah yang di suguhkan oleh drama korea, tapi tidak juga sesulit yang diceritakan di novel picisan. Kita hanya perlu tetap "sadar" agar tidak terbuai. Setidaknya dengan tetap "sadar", kita bisa tau bagaimana cara mencintai dengan benar. Semoga. 😊

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    1 komentar

    Hasil gambar untuk semua ikan di langit

    Sinopsis :

    Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan -mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya- tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang di nyanyikan di kepala seorang penumpang...bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian.

    Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru : mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.

    *****

    Saya tak sengaja menemukan buku ini, bukan di toko buku, tapi di goodreads, ketika saya sedang mencari-cari buku bacaan yang sekiranya akan saya beli. Yang membuat saya tertarik pertama kali tentu saja nama penulisnya yang panjang banget (dan saya baru tau ternyata si penulis sudah cukup populer di kalangan penggemar buku sastra, coba saja searching karyanya), yang kedua adalah review-review tentang buku ini di goodreads yang mengatakan bahwa novel Semua Ikan di Langit merupakan Pemenang Pertama sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Apalagi ketika membaca bahwa dewan juri memutuskan untuk tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya. Wow, saya makin penasaran! Rasa penasaran semakin bertambah ketika reader goodreads banyak mengatakan bahwa novel ini ceritanya absurd dan butuh pemikiran mendalam untuk memahaminya.

    Ya, ya, ya, saya nggak tahan juga dan "menodong" Defbry untuk membelinya ketika di Bandung. Alasannya, Defbry terbiasa dan suka membaca novel absurd macam Dunia Sophie dan Gadis Jeruk, jadi saya berharap dia membacanya pertama kali lalu ceritakan pada saya. Eh pada akhirnya saya yang membacanya  duluan karena sekali lagi keburu penasaran. Menceritakan tentang apa sih novel ini? Tapi asli, judulnya emang unik banget dan sempat jadi bahan candaan saya dengan Defbry.

    Mari kita mulai saja review-nya.....

    JRENG...JRENG...

    Butuh hampir satu bulan untuk menyelesaikan membaca novel Semua Ikan di Langit (yang kemudian saya paksakan membacanya sampai selesai hari ini di kantor hahaha). Alasan utamanya karena genre novel ini bukan favorit saya jadi butuh waktu untuk membacanya.

    Bagi saya pribadi, novel ini bukan hanya absurd, tapi juga beda. Di mulai dari pemilihan tokoh utamanya yaitu bus kota Damri (menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu "saya"), yang kemudian bertemu dengan anak kecil laki-laki yang dia panggil Beliau dan segerombolan ikan julung-julung. Beliau bukan anak kecil laki-laki sembarangan, Beliau ajaib, karena Beliau terbang (kakinya tidak menapak tanah) dan tidak pernah bicara, namun dapat mendengar dan mengerti (Au ah!). Setelah bertemu dengan Beliau, tokoh saya berubah menjadi bus yang terbang menemani Beliau kemanapun Beliau ingin pergi. Tidak mengenal hari, tidak mengenal waktu, tidak mengenal masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Intinya mereka terbang saja, baik di bumi maupun keluar angkasa.

    Yang membuat kening saya berkerut terus-terusan adalah karena setiap bab yang di ceritakan tidak benar-benar saling berhubungan. Di mulai dari bab menyelamatkan seekor kucing di luar angkasa dari Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia. Jangan bayangkan berantakannya seperti apa. Kucing saja harus di selamatkan dengan segera. Kisah bergulir menyelamatkan seekor kecoa dan anak-anaknya dari tempat pembantaian di luar angkasa. Kecoa tersebut bernama Nadezhda -yang kemudian di panggil Nad-, berasal dari Rusia dan dapat berbicara dan pengetahuannya tentang segala hal luar biasa. Setelah di selamatkan, anak-anak Nad berubah menjadi ikan julung-julung, sedangkan Nad bergabung dengan tokoh saya, menemani Beliau jalan-jalan -_-

    Baru di bab "Mengenal Beliau : yang membuat Beliau Marah, Sedih dan Bahagia", saya baru menikmati ceritanya. Ada beberapa bab yang membuat saya terharu dan membuat saya berpikir "yaaa tidak semua manusia itu baik, tapi tidak semua manusia juga jahat". Salah satu bab yang membuat saya berkaca-kaca adalah bab "Anak yang Terlempar dari Ayunan". Mengisahkan seorang anak kecil yang di pukuli oleh ibunya. Dia bermain ayunan terus-menerus hingga tubuhnya terlempar sampai ruang angkasa. Ada juga kisah toko roti yang pemiliknya jahat dan baik, dan masing-masing mendapatkan imbalannya atas perbuatan mereka. Terus ada bab yang mengisahkan Beliau menyelamatkan seorang gadis yang baru membunuh seorang pria. Setelah itu saya tau, mereka sedang berada di Auschwitz, Jerman, tahun 1944. Mungkin saat itu sedang perang. 

    Total dari 259 halaman, sepertinya hanya setengah halaman saja yang betul-betul saya mengerti ceritanya. Selebihnya saya baca agak maksa (hehehe). Saya juga sempat bingung apakah membacanya sampai selesai atau stop saja di tengah jalan. Harus saya akui, imajinasi mba Ziggy ini "gila" banget. Luar biasa pokoknya. Saking luar biasanya, cerita  imajinasi yang dia buat banyak yang nggak ketangkep di otak saya (HAHAHAHA). 

    Selain itu semakin saya membacanya, semakin saya mengenal sosok Beliau. Hmmmm Beliau ini ko agak mirip Tuhan ya? hehehe. Soalnya Beliau ini diceritakan bisa menciptakan planet, galaxy, tumbuhan, hewan, dan manusia. Beliau juga bisa menghukum orang jahat dan memberi hadiah kepada orang baik. Beliau tau kapan sosok di lahirkan dan kapan sosok itu kembali pada Beliau. Jujur saja agak janggal bagi saya. Sebagai orang yang percaya pada Allah yang Maha Esa, saya agak gimanaaa gitu ya membacanya. Karena setau saya tidak ada yang tau bentuknya Allah itu seperti apa. Allah juga tidak bisa di umpamakan seperti anak kecil atau dengan bentuk lainnya. Sorry, terlepas dari apapun maksud penulis menciptakan tokoh Beliau, tapi bagi saya ini agak sensitif. Apalagi ada dua bab yang kisahnya mirip sekali dengan kisah Nabi Luth dan kaumnya yang dzolim serta Nabi Ibrahim yang di selamatkan oleh Allah dari api yang membakarnya.

    TAPI....

    Sisi positif dari novel ini banyak juga. Terutama tentang bagaimana hubungan antar makhluk hidup (manusia, tumbuhan dan hewan), alam serta Tuhan. Dan mengingatkan saya, bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya. Entah itu perbuatan baik maupun buruk. Seperti Beliau yang menghukum seorang pemuda dengan menjahit sebelah matanya karena menendang kakek tua di pasar. 

    Sisi humorisnya ada tidak? adaaaa! Favorit saya ketika tokoh saya bercerita tentang dirinya yang gendut dan sudah tua. Cerita-cerita Chinar (pohon yang dapat bicara) juga menarik. Apalagi Chinar ini kalau ngomong pasti di awali dengan hmmmm di akhiri juga dengan hmmmm. Jadi saya suka kepikiran hmmm hmmm mulu. 

    Sisi romantisnya? ada doooong! Ketika tokoh saya mulai mencintai Beliau dan ternyata Beliau juga mencintainya. Bahkan rasa cinta Beliau jauh jauh lebih besar di bandingkan tokoh saya mencintai Beliau. Hmmm mungkin ini seperti rasa cinta Allah kepada manusia yang tidak bisa di ukur dengan apapun. Hehehe saya sok tau ya? ya kira-kira seperti itulah pemahaman saya terhadap keseluruhan isi cerita dalam novel Semua Ikan di Langit. 

    Saya pikir Semua Ikan di Langit memang layak menjadi pemenang satu-satunya. Gaya bahasa mbak Ziggy yang apa adanya (mirip Pidi Baiq kalau kata saya), keterampilan mengolah kata yang di atas rata-rata, keunikan judul dan tema, serta jalan ceritanya yang nggak biasa.

    Saran saya, kalau tidak terbiasa membaca buku dengan tema absurd, lebih baik jangan membacanya. Kalau memang mau mencoba (apalagi yang suka penasaran seperti saya), lebih baik membacanya dengan pikiran yang jernih. Nggak seperti saya, yang membacanya campur capek karena pulang kerja atau ngantuk ingin tidur karena kelelahan. Jadi, mohon maaf kalau pemahaman terhadap novel ini nggak begitu sampai di saya. Ya balik lagi mungkin ini masalah selera atau emang imajinasi saya yang terbatas untuk membayangkan segala yang di ceritakan dalam novel ini.



    Happy reading!

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    2 komentar

    Hollaaaaa!!!!

    Hari sabtu kemarin saya dan teman-teman berkunjung ke salah satu objek wisata di daerah Ciwidey. Kali ini saya nggak akan review panjang-panjang tentang tempatnya (cari aja di google lokasinya yaaa *padahal males*) haha.

    Oke saya mau kesana sejujurnya karena terinspirasi dari mba Raisa yang cantik jelita mempesona itu. Ko dia bisa tetep cantik ya walaupun foto sama Rusa? Saat itu saya langsung googling tempatnya. Dan bertekad akan kesana jika ada kesempatan.

    Awalnya saya hanya pergi bersama teman-teman saya yang bernama Qonita dan Iyan (mau nggak disebutin takut protes), sampai pada seketika muncullah seorang laki-laki dari negeri antah berantah. Ya, dia Defbry, pacar saya yang pulang dari Jerman nggak bilang-bilang. Emang cowok dimana-mana sama aja! *kibas hijab*

    Kami memutuskan untuk menggunakan kendaraan motor. Saya pikir, oh mungkin nggak terlalu jauh. Tapiiiii, mboook jauh juga ternyata. Kita pergi dari Bandung kota lewat jalur Batununggal-Soreang-Banjaran dan entahlah daerah apalagi saya nggak memperhatikan. Yang jelas di daerah Banjaran itu macet parah. Mungkin karena daerah industri kali ya jadi banyak mobil truck besar lewat, di tambah kondisi jalan yang nggak begitu luas dan dua arah gitu.

    Satu jam....
    Dua jam....

    EH KO NGGAK NYAMPE-NYAMPE???

    Pantat saya udah mulai tumusan kayanya 😓

    Dua jam setengah....

    UDARA MULAI DINGIN, GERIMISI RINTIK- RINTIK....HAYATI MULAI NGANTUK! 😭

    Jam empat sore (setelah tiga jam berlalu) akhirnya kami sampai. Horeee! *elus-elus punggung*. Ternyata lokasinya nggak jauh dari Kawah Putih.

    Gerbang tempat wisata

    Tapi kami mesti bersabar lagi karena ternyata......

    Dari gerbang masuk itu masih jauuuuh lagi menuju tempat wisatanya.

    Ngelewatin hutan, jembatan dan oh ya jalannya nggak mulus. Banyak batu kecil-kecil gitu. Jadi buat pengendara motor harus hati-hati. Sepanjang jalan Defbry nggak berhenti ngomel : "Ini ada orang nggak sih? Sepi amet". Hahaha karena motor yang lewat saat itu benar-benar cuma motor kami.

    Kondisi jalannya seperti ini 😣

    Dan sebelum masuk tempat wisata, ada gerbang lagi, yaitu gerbang tiket. (Ribet amet ya padahal cuma mau kasih makan Rusa 😅). Tiket masuk hanya Rp. 11.000 ribu ya gaeeesss. Belum termasuk biaya parkir.

    Setelah parkir motor kami langsung cuuus ke tempat penangkaran Rusa karena hari sudah sore di tambah udara makin dingin dan hujan gerimis. Kalau kata Iyan sih, takut Rusanya udah masuk kandang dan bobok cantik.

    Awalnya takut HAHAHAHAHA

    Untuk beli makanan Rusanya, yaitu wortel, kita harus mengeluarkan uang Rp. 10.000. Dapet satu plastik wortel gitu. Tersedia juga penyewaan sepatu boot bagi kamu yang tertarik untuk ngasih makan Rusa dengan turun ke lumpur.

    Akhirnya berani horeeee

    Selebihnya saya mau kasih foto-foto aja deh yaaaaa.....

    Santai kaya di pantai

    Kapan lagi bisa duduk di depan Rusa, biasanya duduk depan monitor komputer.

    Perjalanan jauh rasanya terbayarkan dengan pemandangan yang indah dan suasana yang adem. Bagi mbak-mbak kantoran kaya saya yang kerja dari hari Senin-Sabtu, ini sudah termasuk liburan mewah sih hehe

    Foto ala inces syahrini

    Fasilitas yang di sediakan :
    1. Parkir luas
    2. Banyak warung jadi nggak takut kelaparan hahaha
    3. Buat yang mau kemah di sediakan sewa tenda. Untuk harga saya nggak tanya 😅
    4. Ada permainan outbond juga.






    *****

    Foto berdua dulu deh 😁

    Saran saya, mending kesana naik mobil. Selain jauh, udaranya juga dingin banget. Saya aja pake jaket masih tetep menggigil. Awalnya kami niat kemah, tapi bersyukur nggak jadi. Angkat tangan saya sama cuacanya. Hihihi

    Buat yang kesana naik motor, saya saranin kesana siang atau nggak terlalu sore. Kami keluar lokasi pukul setengah enam sore. Kabut mulai tebal, jalanan nggak mulus, kanan-kiri hutan, jarang ada kendaraan yang lewat, di tambah penerangan yang nggak baik. What a spooky! 😱

    FOTO TERAKHIR....

    MUKE UDAH KEDINGINAN HAHAHA

    Happy holiday!

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar

    Pulanglah ke rumah, 
    meski tak ada orang yang kau temui.
    meski tak ada orang yang bisa kau ajak bicara.
    meski tak ada alasan.
    Pulanglah ke rumah....

    Pulanglah ke rumah, 
    meski kehidupan di luar lebih menggembirakan.
    meski orang yang kau temui di luar lebih menghangatkan.
    meski di tempat lain kau merasakan kenyamanan.
    meski sekalipun di luar kau tak bertemu siapa-siapa dan tak menemukan apa-apa.
    Pulang lah ke rumah...

    Pulanglah ke rumah,
    setidaknya kau memiliki tempat untuk kembali, beristirahat sejenak, meskipun nanti kau akan pergi lagi. 
    setidaknya, rumah akan selalu menanti kedatanganmu kembali. 

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Gambar Ilustrasi. Di ambil dari google.

    Sore tadi kakak perempuan saya bercerita, ia bertemu dengan salah satu tetangga kami yang sudah pindah tempat tinggal. Kakak saya otomatis menyapanya dengan ramah, namun alangkah terkejutnya ketika orang yang di sapa itu jangankan menjawab sapaannya, tersenyum pun tidak. Padahal jelas-jelas mereka berhadapan. Dan yang lebih tidak menyangkanya lagi, orang tersebut dulunya dekat dengan keluarga kami.

    Sambil mendengarkan ceritanya, kemudian saya merenung. Bukan tentang cerita sapaan tadi, tapi tentang apa yang telah hilang di masa sekarang, yang mungkin tanpa kita sadari : keramahan, saling bertegur sapa atau hal sepele seperti tersenyum ketika bertemu di jalan. Bukan hanya pada tetangga, tapi juga pada teman dan orang yang kita kenal.

    Menyadari realita itu saya sendiri seperti di tampar. Kalau hanya bertegur sapa, alhamdulillah sampai sekarang saya masih sering melakukannya. Ya minimal senyum lah ya. Walaupun saya kadang agak lupa sama wajahnya. Apalagi mata saya minus kadang suka nggak jelas liat wajah orang hehehe. Oh iya saya jadi ingat sama drama korea Reply 1988. Di sana di gambarkan jelas bagaimana hubungan antar tetangga. Sampai hal-hal sepele kaya bagi-bagi makanan pun di ceritakan.

    Kemudian lagi-lagi saya yeaaah hmmm sedikit merasa bersalah. Jujur saja, semenjak dewasa saya hampir tidak peduli dengan lingkungan sekitar rumah 😢 . Saya tidak tau apakah saya punya tetangga baru? (padahal waktu kecil saya suka excited kalau ada tetangga yang baru pindah dan pastinya minta kenalan 😅), apakah tetangga saya ada yang sakit? apakah warna cat rumah tetangga saya berubah? (ini penting nggak sih?😅). 

    Apakah saya rindu dengan suasana tersebut? Iya! Saya aja kadang sedih sendiri tetangga yang waktu kecil suka main bareng sekarang jadi jauh, negur seadanya, ditambah dia jadi doyan gosip nggak jelas (nah, ini salah satu alasan kenapa saya memilih nggak "peduli"). Boooo, jaman dulu juga banyak tetangga yang doyan gosip, tapi nggak semengerikan jaman sekarang. Belum nikah aja sampe di gosipin. *curcol hahahaha. Yang paling saya kangenin sih ngobrol di depan rumah sama tetangga. Ngobrol ya bukan gosip. Terus yang lebih sedih, ketika di tanya nama tetangga saya, tapi saya nggak tauuuuuu. Ini miris sih, bukan sedih lagi 😢 Apalagi saya tinggal di kampung, bukan di kota yang  masyarakatnya konon katanya lebih cuek bebek sama tetangga. 

    Dipikir-pikir, bener ya kata orang, semakin majunya jaman ditambah dengan canggihnya teknologi, justru membuat hubungan antar manusia jadi jauh. Hal sepele seperti tersenyum saat bertemu teman atau tetangga di jalan terasa menjadi sesuatu yang di paksakan. Ada juga yang sengaja menghindar. Padahal kalau di renungkan lagi, hal yang sepele tersebut bisa berdampak besar di kemudian hari, misalnya barangkali membutuhkan bantuan tetangga ketika keluarga kita mengalami kesulitan. Karena tetangga adalah orang terdekat di lingkungan rumah. Betul nggak? Hehehe.


    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Sambil menunggu lumpia matang, saya mau cerita sedikit ah....

    Saya itu termasuk anak yang suka menyimpan benda-benda dari masa lalu. Entah dari masa kecil saya atau pemberian dari orang-orang yang memiliki keterikatan kenangan dengan saya. Saya tidak memiliki alasan yang jelas mengapa saya masih menyimpannya hingga sekarang. Saya hanya merasa....benda-benda itu sebagai kenangan bahwa saya pernah memiliki cerita bersamanya.

    Saya masih menyimpan komik dengan tulisan tangan saya yang masih jelek, disana ada tulisan...

    Amelia Utami, 2000.

    Saya pernah membelinya tahun 2000. Tujuh belas tahun yang lalu. Sesimpel itu ingatannya. Tapi begitu membekas bahwa saya pernah bahagia hanya dengan membaca komik.

    Saya masih menyimpan sapu tangan dekil pemberian ibu yang pernah saya hilangkan. Sapu tangan itu baru di temukan satu minggu setelahnya. Dan selama seminggu itu pula saya nangis setiap pergi sekolah.

    Kemudian saya masih menyimpan dengan baik biodata teman-teman SD saya. Disana tertulis hobi dan cita-cita mereka. Saya ingin sekali bertanya, apakah mereka sudah mewujudkan cita-citanya? 

    Banyak benda-benda lain yang masih tersimpan rapih di kotak besar di kamar saya. Ada kamera, klise film, bola bekel, perangko, surat, tazos, papan monopoli, kaset dan banyak lagi. 

    Kamera pemberian bapak tahun 1998. Benda yang masih saya simpan dengan baik.

    Dan ketika dewasa koleksi benda saya beralih pada buku dan oleh-oleh dari berbagai negara. Sekalipun itu hanya gantungan kunci, saya akan menyimpannya. Tidak ada niat untuk di pergunakan.

    Bagi orang lain mungkin terasa aneh, tapi bagi saya, tidak perlu alasan khusus untuk menjelaskan semua itu. Saya hanya ingin menyimpannya. Itu saja. Maka ketika saya rindu, saya bisa membuka dan mengingatnya. Ketika mungkin orang lain sudah membuangnya, saya masih menyimpannya. Untuk berbagai kenangan yang tidak mampu saya hapus. Entah sampai kapan 😊


    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Jadi, akhir-akhir ini saya sedikit kecewa melihat beranda media sosial beberapa teman  saya. Tidak ada yang melarang sih mereka mau membuat status apa atau mau sharing tentang apa. Yang membuat saya kecewa adalah konten yang mereka bicarakan atau yang mereka sharing. 

    Ada beberapa teman saya yang sudah resign dari pekerjaannya. Itu pilihannya. Terlepas dari apa yang menjadi alasannya, saya menghormati keputusannya, termasuk menghormati jalan hidup yang di pilihnya sekarang. 

    Tapi saya kecewa ketika mereka malah membuat seolah-olah pilihan hidupnya adalah yang terbaik dan pilihan hidup orang lain yang tidak sama dengannya adalah kurang baik. Bagaimana bisa dia membandingkan pilihan hidupnya dengan pilihan  hidup orang lain? Bagaimana bisa dia menghakimi pilihan hidup orang lain tanpa tau alasan-alasan di baliknya? Bagi saya itu seperti terlalu terburu-buru dalam menilai.

    I'm totally lost respect!

    Begini ya, kalau kamu tidak suka menjadi karyawan dan lebih suka menjadi wirausahawan, ya sudah tidak apa-apa. Itu pilihan kamu. Tapi bukan berarti kamu boleh merendahkan pilihan teman-teman kamu yang masih bertahan menjadi karyawan. 

    Kalau kamu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, ya sudah tidak apa-apa. Itu pilihan kamu. Tapi bukan berarti kamu boleh merendahkan pilihan teman-teman kamu yang lebih memilih menjadi wanita karir.

    Kalau kamu memilih untuk bekerja di bandingkan melanjutkan sekolah, ya sudah tidak apa-apa. Tapi bukan berarti kamu boleh merendahkan teman-teman kamu yang melanjutkan sekolah.

    Kalau kamu memilih jalan hidup yang lain-lain, ya sudah tidak apa-apa. Itu pilihan kamu. Tapi bukan berarti kamu boleh merendahkan teman-teman kamu yang berbeda jalan dengan kamu.

    Life choice is not general. It's personal.

    Intinya, pilihan hidup yang kamu jalani belum tentu yang terbaik untuk orang lain dan pilihan hidup orang lain juga belum tentu yang terbaik untuk kamu. Kamu nggak bisa memaksakan pilihan kamu ke orang lain. Begitu juga sebaliknya.

    Yang harus kamu ketahui, setiap orang dalam membuat keputusan pasti di dasari oleh alasan dan pertimbangan pribadi. 

    Yang penting kamu happy sama pilihan hidup kamu.
    Yang penting kamu bertanggung jawab sama pilihan hidup kamu.
    Itu udah cukup. 
    Karena pilihan hidup yang kamu jalani bukan untuk menyenangkan orang lain 😊

    Love
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Kemarin saya memutuskan untuk mengirimkan kembali naskah novel saya kepada penerbit. Naskah yang sama yang saya buat dua tahun lalu ketika saya masih menjadi pengangguran. Naskah yang sama yang pernah saya kirimkan ke penerbit yang berbeda. 

    Ini bukan kali pertama saya mengirimkan naskah novel. Sudah sekian kali saya mengirimkan novel dan selalu berakhir pada ketidakjelasan kabar, apakah novel saya di terima atau di tolak atau bahkan tidak di baca sama sekali oleh editor. Saya tidak tau.

    Kemudian pada akhirnya saya bekerja menjadi karyawan, saya mulai mengubur pelan-pelan mimpi saya menjadi seorang penulis. Saya merasa terlalu ambisius dan terlalu mengawang-ngawang. Pernah saya berpikir untuk berhenti menulis saja dan tidak lagi menyentuh laptop untuk mengetik cerita. Saya memilih untuk fokus menjadi karyawan saja, mencari uang dan tidak usah bermimpi yang aneh-aneh.


    Tapi memang benar kata orang, yang namanya passion, semakin di jauhkan dan semakin berusaha di lupakan, percaya atau tidak, akan kembali lagi. Itu yang saya rasakan. Ketika ide-ide cerita muncul di kepala, saya tergiur kembali untuk menulis. Kemudian saya berpikir. Harusnya saya tidak seperti ini, tidak "melarikan diri" hanya karena gagal berkali-kali. Harusnya saya percaya diri dan bangga karena berhasil memulai cerita dan mengakhirinya sampai halaman terakhir. 

    Seandainya kali ini saya gagal lagi, tidak apa-apa, saya akan mencoba lagi....

    I'm stay true to my dream!



    Untuk kamu yang masih berusaha mewujudkan mimpi, tetap semangat dan berusaha ya karena kamu nggak sendirian 😄

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Gambar di ambil dari Google
    Sinopsis :

    Liam Kendrict dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sebagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang di sayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik.

    Mereka memahami arti berduka, meski belum mengerti caranya...

    ***

    Ini pertama kali saya membaca novel Winna Efendi. Sebelum-nya saya mengetahui namanya ketika menonton film yang di adaptasi dari novelnya, Refrain. Saya belum pernah membaca novelnya, tapi saya suka filmnya. 

    Saat membaca halaman pertama, saya sudah mengeluh, pemakaian bahasa baku tidak terbiasa untuk saya. Rasanya kaku dan terkesan seperti novel terjemahan. Oke, ini novel dengan setting luar negeri dimana tokoh-tokohnya kebanyakan bule atau keturunan bule. Bertebaran kata-kata bahasa inggris sudah biasa. Percakapan dengan  bahasa indonesia yang baku, lets see.

    Kemudian saya membaca halaman selanjutnya dan selanjutnya, kemudian pelan-pelan saya jatuh cinta. Dengan ceritanya, dengan cara mbak Winna mendeskripsikan suasana dan tempat. Ada banyak kata suka ketika megikuti cerita Rory dan Liam.
    1. Saya suka cara Liam mendekati Rory. Natural, santai, tidak memaksa dan selanjutnya mengalir begitu saja. Mereka menonton film, mengobrol, jalan-jalan di sekitar Sydney dan melakukan tantangan makanan dengan wisata kuliner, yang nama makanannya susah banget di sebutin 😂. Saya nggak tau tu makanan-makanan bentuknya macam gimana. Anehnya, saya nggak terganggu meskipun mau nggak mau saya harus mengejanya 😅
    2. Saya suka kesedihan Rory di ceritakan dengan porsi yang pas. Tidak berlebihan. Apa adanya. Ya memang begitulah rasanya kehilangan orang-orang yang di sayang. 
    3. Saya suka persahabatan tulus antara Rory, Daphne, Angelo dan Noah. Beberapa candaan mereka ada yang cheesy bagi saya, tapi it's ok. Mereka baik banget. 
    4. Saya suka Stan, Julie and Homey. Bener kata Liam, they are warm. Homey, terutama, dengan hanya membayangkannya saja, saya dapat merasakan tempat itu hangat seperti rumah. 
    5. Saya suka kisah kasih tak sampai antara Liam dan Wendy tidak banyak drama layaknya novel-novel pada umumnya. Adegan layaknya drama ada, tapi kemudian setelahnya they are move on. Tidak ada adegan patah hati yang mendayu-dayu.
    6. Dan yang terakhir....saya suka ending-nya. Manis. Sesuai dengan tebakan saya. Hahaha.
    Sebenarnya saya tidak merencanakan membeli Some Kind of Wonderful. Novel yang saya pesan kosong, mau nggak mau saya harus menggantinya. Tergiur dengan hadiah pouch dan tanda tangan penulis, akhirnya saya ikut PO. Saya tidak memiliki ekspektasi yang tinggi. Saya hanya butuh bacaan ringan. Dan seperti yang sudah saya review di atas, novel ini tidak mengecewakan, meskipun masih banyak typo di sana sini. I'm lucky karena lagi-lagi nggak salah pilih 😜.

    Di tunggu novel selanjutnya, mbak Winna 😄 btw, pouch-nya sangat berguna, loh.

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Newer Posts
    Older Posts

    Categories

    • DRAMA KOREA (5)
    • KATA BICARA (4)
    • RANDOM (1)
    • REVIEW (49)
    • SahabatDifabel (1)
    • SHARING (24)
    • THOUGHT (81)
    • TRAVEL (17)

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2020 (2)
      • ▼  November 2020 (1)
        • Dilema Penulis Pemula
      • ►  Januari 2020 (1)
    • ►  2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (1)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (7)
      • ►  November 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (1)
      • ►  Maret 2018 (2)
      • ►  Februari 2018 (2)
      • ►  Januari 2018 (1)
    • ►  2017 (47)
      • ►  Desember 2017 (3)
      • ►  November 2017 (2)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  September 2017 (5)
      • ►  Agustus 2017 (8)
      • ►  Juli 2017 (6)
      • ►  Juni 2017 (4)
      • ►  Mei 2017 (6)
      • ►  April 2017 (3)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (5)
      • ►  Januari 2017 (2)
    • ►  2016 (23)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (4)
      • ►  September 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (3)
      • ►  Juni 2016 (2)
      • ►  Mei 2016 (1)
      • ►  April 2016 (3)
      • ►  Maret 2016 (1)
      • ►  Februari 2016 (2)
    • ►  2015 (44)
      • ►  Desember 2015 (2)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  Oktober 2015 (1)
      • ►  Agustus 2015 (4)
      • ►  Juli 2015 (5)
      • ►  Juni 2015 (6)
      • ►  Mei 2015 (15)
      • ►  April 2015 (1)
      • ►  Maret 2015 (3)
      • ►  Februari 2015 (3)
      • ►  Januari 2015 (2)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Desember 2014 (2)
      • ►  November 2014 (2)
      • ►  Oktober 2014 (1)
      • ►  September 2014 (4)
      • ►  Agustus 2014 (5)
      • ►  Juli 2014 (4)
      • ►  Juni 2014 (1)
      • ►  Mei 2014 (1)
      • ►  Maret 2014 (3)
      • ►  Februari 2014 (2)
    • ►  2013 (7)
      • ►  Desember 2013 (1)
      • ►  Agustus 2013 (2)
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  Januari 2013 (2)
    • ►  2012 (13)
      • ►  Desember 2012 (2)
      • ►  Oktober 2012 (1)
      • ►  September 2012 (1)
      • ►  Agustus 2012 (4)
      • ►  April 2012 (4)
      • ►  Februari 2012 (1)

    Pinterest

    Visitors

    Followers

    Populer Post

    • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
      Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
    • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
      Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
    • Pengalaman Belanja Buku Via Online
      Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
    • Pengalaman Menjalankan Diet GM
      Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
    • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
      Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

    Profil

    Foto saya
    Amelia Utami.
    Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
    Lihat profil lengkapku

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates