Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"


Jadi, malem ini mood saya lagi nggak bagus. Padahal tadi pagi saya berangkat kerja dengan semangat dan perasaan optimis, meskipun 5 hari ke depan harus membantu pekerjaan teman saya yang sedang cuti menikah. It's okay. Dan hari ini pun saya melewati hari yang cukup lancar. Pekerjaan beres, pulang kerja nggak terlalu sore dan sebenarnya nggak terlalu capek sih. 

Tapi nggak tau kenapa ketika sampai di dalam kamar, sudah berganti pakaian dan hanya duduk santai, mood saya mendadak kacau. Down begitu saja. Pernah nggak kalian mengalami hal ini? Tanpa sebab, tiba-tiba mood jadi nggak bagus. Mendadak mellow. Mendadak ingin nangis. Mendadak capek pikiran luar biasa. Dan yeah, sore tadi saya mengalami itu. Dari kantor padahal sudah excited ngerencanain begitu sampai rumah langsung mandi, terus malemnya nonton drakor seperti biasa.

Tapi...

Yang saya lakuin cuma main hp, diem, main hp lagi, diem. Sampai akhirnya saya nggak mood nonton drakor dan coba tebak, saya baru mandi tepat jam 9 malem! Taraaaa...

Setelah mandi pikiran lumayan segar. Mood juga agak membaik. Kemudian saya merenung *berat ya hidup gue? Hahaha*, menjalani rutinitas yang sama setiap hari itu kadang menjenuhkan. Bangun pagi - kerja - pulang kerja - malemnya tidur lagi. Besok tinggal tekan tombol repeat. Ya semua itu memang sudah konsekuensi orang yang bekerja, tapi merasa jenuh itu manusiawi ko. Apalagi saya libur hanya di hari minggu (kadang kala masuk piket), butuh usaha keras untuk tetap happy dan semangat. Meskipun saya akui banyak gagalnya. Kalau gagal biasanya saya marah-marah (wkwk) atau tiba-tiba nangis dan pengen teriak "please gue capek. Give me a break!"

Kadang ya (kadang loh), saya kangen masa pengangguran. Bukan karena kangen nggak punya penghasilan (ih, siapa juga coba yang nggak sedih kalau nggak punya duit), tapi lebih kepada kangen masa-masa produktif saya. Berarti kerja nggak produktif? Ya produktif dan tentu saja menghasilkan, tapi seperti yang sudah saya katakan. Tinggal tekan tombol repeat! 

I miss random schedule. Dari bangun pagi sudah punya rencana mau ngapain dan mau kemana. I mean, saat sudah bekerja kita mungkin masih bisa melakukan hal yang sama seperti itu, tapi nyatanya saya sendiri lebih sering memilih menggunakan hari libur untuk istirahat. Badan capek dan pikiran capek. Kadang mau keluar rumah pun harus mikir 2x. "Hari ini mau tidur siang aja" atau mau ngelakuin kegiatan mengisi waktu luang juga lebih banyak malesnya. Beberapa kali emang berhasil, tapi kebanyakan gagal.

Mungkin saya butuh waktu lebih dari 24 jam? HAHAHA

....

Pada akhirnya ini hanyalah tulisan random pelepas penat dan lelah. Mungkin saya nggak sendirian. So, if you want judge saya nggak bersyukur, nggak apa-apa. Berarti kamu manusia strong. Kalau saya sih manusia yang masih banyak ngeluh dan sedikit-sedikit curhat macam penonton mamah dedeh. 

"JAMAAAAH....."

Mari tidur karena besok masih hari jumat ~


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sore ini saya membaca salah satu postingan media sosial teman sebaya saya yang sudah memiliki...2 anak. Yup, dia menikah sekitar umur 22 tahun. Kalau tanya saya lagi ngapain di umur segitu, jawabannya saya baru kelar sidang skripsi dan sedang menunggu wisuda.

Apakah saat umur 22 saya memikirkan pernikahan? Hanya terlintas atau hanya jadi bahan candaan bersama teman-teman kuliah. "Cie...udah lulus kuliah. Mau kerja atau nikah nih?" Candaan jayus antar kami. Dengan yakin saya bilang. "Kerja lah. Mau ngerasain punya penghasilan sendiri".

Dan sampailah saya pada hari ini. Umur 25 tahun dan belum menikah.

Saya pikir saya akan merasa stress karena akan sering ditanya "kapan menikah?", "sudah punya calon belum? Atau "kerja udah dapet, mau nunggu apalagi?". Tapi nyatanya sampai detik ini, saya masih enjoy dan happy dengan segala rutinitas yang saya lakukan di usia 25 tahun. Saya masih nangis dan ketawa kalau nonton drama korea, saya masih plin plan kalau beli tas atau sepatu atau sereceh saya uring-uringan kalau lagi download film udah 99 % tapi gagal.

I'm abnormal? Maybe 
I'm like a teenagers? Oh of course, my soul still forever young xoxo

Saya punya pacar dan ya biasa aja. Nggak setiap hari merasa terbebani dengan pikiran "harus menikah secepat mungkin". Rencana menikah pasti ada, tapi lebih pada berdoa dan berusaha. Nggak menggebu-gebu karena di kejar target umur.

Nggak takut di katain perawan tua dan nggak laku?

Nggak. Sama sekali nggak. Norak banget kalau masih ada yang ngatain perempuan dewasa yang belum menikah karena nggak laku. Emangnya barang jualanan pake laku nggak laku.

Bagi saya (terlepas dari faktor umur), seseorang dalam memutuskan untuk menikah itu nggak sembarangan. Ada pertimbangan yang sifatnya personal. Nggak ujug-ujug "saya udah umur segini, saya harus cepat nikah" atau "pacaran bertahun-tahun harus cepet nikah tar nggak jodoh, lagi". Nggak, bukan begitu. Kamu menikah muda di usia 22 tahun mungkin saja karena sudah siap, baik secara finansial maupun mental. Kamu belum menikah di usia 25 tahun, bisa jadi ada hal yang masih di jadikan prioritas utama seperti keluarga, impian, karir, pendidikan atau alasan receh macam "gue masih mau sendiri". Pertimbangan-pertimbangan tersebut sangat personal dan saya pikir tidak semua orang bisa memahami dan menerima.

Kamu akan menikah bukan dengan lingkungan kamu yang bilang perempuan yang belum menikah di usia 25 tahun atau lebih adalah perempuan yang kurang beruntung.

Kamu akan menikah bukan dengan keluarga besar kamu atau teman-teman yang suka resek nanya kapan nikah mulu.

Kamu akan menikah bukan dengan pikiran sempit kamu yang mengatakan belum menikah = nggak laku.

Kamu akan menikah dengan laki-laki pilihan kamu. Yang terbaik. Nggak ada yang namanya menikah telat karena umur. Yang ada hanyalah kamu belum menikah ya simpel karena memang belum waktunya. Dan perlu diingat, nggak semua perempuan dengan mudah memutuskan "Ya, besok saya mau menikah".

Makan tuh centong mejikjer...

.
.
.

Jadi, sebenarnya tulisan ini agak berbau curhat pribadi sih. Hahaha tapi serius loh apa cuma saya doang yang sudah umur 25 tahun tapi kelakuan masih receh nan menggemaskan? * ditipuk*

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Hai, gaes....

Di penghujung bulan Juni ini dan besok udah mulai masuk kerja (hmmm mendadak bete 😂), saya akan membahas tentang Self Reward. Yang udah baca tulisan saya tentang Sharing : Uang Gaji Kalian di Pergunakan untuk apa? pasti kalian sudah tau bahwa setiap bulannya saya selalu menyisihkan uang gaji saya untuk memberikan achievement kepada diri saya sendiri atau biasa disebut self reward.

Apa itu self reward?

Secara sederhana self reward bisa di artikan sebagai memberikan penghargaan kepada diri sendiri karena sudah bekerja keras, berusaha melakukan yang terbaik atau mencapai target dalam hidup atau pekerjaan. Bentuknya macam-macam : seperti pergi berlibur, pergi ke salon atau spa, membeli tas, baju, sepatu, make up dan lain-lain. Intinya, self reward itu menyenangkan diri sendiri. Jadi biasanya kita melakukan dan membeli barang yang sebenarnya nggak terlalu kita butuhkan, lebih kepada yang kita inginkan. Hehehe namanya juga menyenangkan diri sendiri. Ya kan? *alasan supaya nggak di bilang boros*.

Seperti bulan ini saya membeli sepatu yang saya pengenin dari beberapa bulan yang lalu sebagai self reward. Bukan hanya bulan ini, tapi setiap bulan saya hampir melakukan self reward. Beli buku, baju, beli makanan yang di pengenin atau belanja online.

Bagi saya pribadi, self reward itu penting sebagai menghargai diri sendiri karena sudah bekerja keras selama satu bulan : menghadapi pekerjaan menumpuk, stress saat ada sesuatu yang terjadi diluar kendali, emosi yang keluar tak terkontrol ataupun karena berhasil bekerja sesuai target yang direncanakan. Self reward semacam "hiburan" agar hati tetap senang atau pikiran tetap positif seperti..."nggak apa-apa hari ini pulang lembur, nanti pas gajian saya mau beli baju yang saya mau di online shop". 

Yes, self reward being keep positive.

Apakah self reward bisa di lakukan saat mengalami kegagalan?

Sangat bisa dan disarankan agar terhindar dari self punishment. Saat gagal, kita cenderung menghukum diri sendiri dengan mengatakan kata-kata negatif seperti..."saya gagal karena saya ceroboh atau usaha saya tidak maksimal". 

Self reward bisa mengalihkan pemikiran negatif tersebut dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Saya pernah melakukannya ketika gagal interview kerja tahun 2014 lalu. Ketika nama saya tidak ada dalam daftar peserta yang lolos interview, saya otomatis kecewa dan menangis. Terlebih karena itu bukanlah kegagalan saya yang pertama. Kemudian saya mengajak Defbry untuk jalan-jalan naik motor di malam hari. Kita keliling kota Bandung nggak tentu arah. Selama di perjalanan, saya berusaha menghibur diri saya dengan kata-kata positif..."nggak apa-apa Ami, gagal itu hal biasa. Kamu udah melakukan yang terbaik". Sampai akhirnya saya minta berhenti di warung nasi padang dan makan di sana. Besoknya? Saya udah happy lagi 😊

Jadi, buat teman-teman, khususnya yang pekerjaanya penuh under pressure seperti saya, nggak ada salahnya melakukan self reward setiap bulan. Bukan pemborosan, tapi lebih ke upaya agar diri kita tetap semangat bekerja atau melalui hari-hari dengan perasaan gembira. Memang sih motivasi bukan hanya dari self reward saja, tapi setidaknya selain diri kita, siapa lagi yang bisa lebih di andalkan? So, doing self reward! Xoxo

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai, I'm comeback! 

Ramadhan Story kali ini saya akan membahas tentang salah satu buku fiksi Indonesia yang melegenda, khususnya untuk anak-anak atau remaja tahun 80-90an. Yup, siapa yang tidak kenal tokoh Lupus? Bocah SMA yang terkenal dengan penampilan rambut jambul ala vokalis Duran-Duran, tas selempang yang talinya sengaja dipanjangin dan hobi banget makan permen karet.

Lupus tidak seperti tokoh fiksi yang di gambarkan dalam novel-novel jaman sekarang : cakep, tajir, punya geng, naksir cewek cantik dan hobi foya-foya. Bagi saya sendiri khususnya, salah satu daya pikat yang membuat tokoh Lupus masih di kenang hingga sekarang adalah karena banyak sifat dan kehidupan sehari-hari Lupus (yang keliatan sepele) tapi bisa di jadikan teladan.

Dalam seri novelnya, Lupus diceritakan sebagai anak SMA yang apa adanya (kadang terlalu polos), ceria dan hobi ngebanyol (bercanda). Dia hanya tinggal bersama Mami dan adik semata wayangnya bernama Lulu. Keluarga Lupus sederhana tapi membahagiakan. Lupus juga memiliki teman akrab bernama Boim (yang hobi ngutang di warung dan gombalin cewek-cewek) dan Gusur yang kalau makan bisa ngabisin nasi satu bakul.

Salah satu cerita yang paling membekas di ingatan saya adalah Pameran Foto Tunggal (dalam serial novel Makhluk Manis Dalam Bus). Di sana di ceritakan bahwa Anto, teman sekelas Lupus, mempertanyakan mengapa Lupus sangat di sukai oleh teman-teman dan para Guru? Padahal Lupus tidak pintar (tidak pernah masuk ranking 20 besar), hobinya bercanda, puisi-puisi buatannya sederhana, tapi berhasil di tempel di mading. 

Salah satu puisi Lupus dengan judul Sayur Asem :

Sayur asem adalah sayur kesenanganku
Eh, karena kebanyakan makan sayur asem 
semut-semut yang biasanya mengerubungi air seniku, kini tidak lagi karena...asam....

Entah selera humor saya yang receh atau gimana, tapi saya ketawa baca puisinya. Apa adanya gitu loh walaupun garing. 

Dan dari sana Anto menemukan salah satu hal yang patut di tiru daari Lupus adalah...Lupus selalu memandang hidup itu indah.

Saya sebagai pembaca novel Lupus dari seri anak, remaja hingga dewasa, dapat merasakan energi positif dari tokoh fiksi tersebut. Lupus memang tidak pintar dalam akademik, tapi dia pintar menulis dan membuat puisi. Dia tidak malu magang di kantor penerbit dan alasannya sederhana : royalti dari nulisnya dia beliin permen karet, membelikan cokelat toblerone untuk adiknya atau membeli kacamata untuk ibunya. Dalam pergaulan sehari-hari, Lupus selalu menjadi dirinya sendiri. Selalu saja ada ide konyol untuk ngisengin temennya atau ngobrol hal-hal yang seru yang membuat teman-temannya tertawa. Keluarga Lupus bukan keluarga kaya, tapi keluarganya sangat hangat, suka bercanda dan saling membantu. Maminya tidak pernah menuntut Lupus menjadi anak pintar, Mami hanya ingin Lupus tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia.

Dan yeah....

I'm learning a lot from Lupus.

Yang paling penting bukan lah hidup yang sempurna, tapi hidup yang bahagia.

Dengan segala kekurangan kita, tapi tidak rendah diri. 
Dengan segala kelebihan kita, tapi tidak menyombongkan diri.

Kalau kata Lupus : "Selama kita masih bisa melihat matahari pagi, berarti kita masih di berikan kesempatan untuk menikmati hidup. Jadi bersyukur dan berbahagialah".




Oh ya, jika ada yang bertanya, buku apa yang tidak akan pernah saya jual dan berikan kepada orang lain?

Yup, tentu saja, Lupus.


Saya mengoleksi buku Lupus sejak tahun 1997, beberapa ada yang warisan dari kakak saya, beberapa ada yang beli sendiri. Karena saya tipe orang yang kalau suka sama sesuatu, bakal saya simpan dengan sebaiknya-baiknya 😊 Oh ya, awal saya suka membaca dan menulis juga karena terinspirasi dari Lupus.

*nggak ada yang nanya, woooy*

AHAHAHAH


*mudah-mudahan suatu saat bisa ketemu sama penulis aslinya, Hilman.

Amin.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Bagi penggemar Kpop pasti udah pada tau kalau salah satu personil boyband Big Bang, T.O.P di larikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri. T.O.P diduga mencoba bunuh diri sehingga penyanyi asal Korea Selatan tersebut sampai masuk ruang ICU. 

Baca beritanya disini.

Menurut berita yang di lansir, T.O.P di duga overdosis obat anti depresan karena stress dengan kasus narkoba yang di hadapinya. Saya bukan penggemar T.O.P atau Big Bang. Denger lagu-lagunya aja belum pernah (di tipukin penggemarnya 😜). Tapi di dunia selebriti, kasus T.O.P bukan kali pertama atau mungkin banyak selebriti lain yang mengalaminya juga tapi nggak ke-publish media. Dan di dunia ini, khususnya di Indonesia, banyak kasus-kasus mental illness yang masih dianggap sepele. Padahal hal tersebut bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan berakhir dengan...upaya melakukan bunuh diri.

Walaupun saya bukan penggemarnya, saya ikut merasakan apa yang di rasakan abang T.O.P (sok akrab). Bukan sebagai penderita, tapi sebagai orang yang memiliki anggota keluarga penderita mental illness. 

Awalnya, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, saya menganggap sakit mental itu lebay dan mengada-ada. "Ah, kurang bersyukur kali" atau "Ah, lebay itu bukan sakit mental. Itu mah lagi banyak pikiran aja". Ya, saya bicara begitu karena tidak merasakan apa yang di alami penderita. Hingga suatu hari kakak laki-laki saya menderita mental illness. Dari sana saya seperti di tampar.

Nggak banyak yang tau (dan memang saya memilih untuk nggak cerita) kalau kakak saya penderita  mental illness. Sudah satu tahun ini dia melakukan konsultasi dan mengkonsumsi obat-obatan dari psikiater. Dengan harga obat yang tidak murah, I feel it. Feel deep. Tapi sesungguhnya segala keletihan, kesabaran dan usaha kami bukan berawal dari sana. Jauh sejak bertahun-tahun lalu.

Kakak laki-laki saya ini basic-nya memang bandel dari SMP : suka bolos sekolah, bohong ke orang tua, lulus kuliah lama, nggak pernah betah kerja dan lain-lain yang nggak mungkin saya cerita semua di sini. Awalnya kami anggap semua itu hanya kenakalan biasa. Ya namanya juga laki-laki ya. Hingga pernah waktu kuliah dia pulang ke rumah dan ujug-ujug nangis pengen bunuh diri. Kakak saya bawa-bawa pisau di depan ibu. I still remember. Dengan muka polos anak SMP saya cuma bisa nangis.

Bodohnya, kami semua menganggap itu berlalu begitu saja. Tidak ada rasa curiga terhadap kesehatan mental kakak saya. Lagi-lagi kami menganggap itu drama anak kuliah labil yang lagi patah hati. Saya saja baru menyadari ketika sudah dewasa. Ketika semua hampir terlambat untuk di sembuhkan.

Puncaknya tahun 2012 ketika kakak saya resign dari pekerjaannya. Pelan-pelan dia mulai menarik diri dari kehidupan sosial. Kakak saya jadi pemurung, nggak banyak bicara, nggak suka berbaur lagi, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Dia juga mulai kehilangan minat dalam beraktivitas, yang dia lakuin cuma tidur, makan dan mandi. Sholat pun harus di paksa dulu dengan susah payah. Kami semua sudah curiga namun belum ada yang berani ambil tindakan. Jadi kakak saya sempet di biarin aja gitu. Terlebih setiap di tanya jawabnya ngasal atau sambil marah-marah atau nggak di jawab sama sekali. 

Kita mulai sadar (yeah, we are stupid or etc) kalau kakak saya menderita mental illness ketika dia mulai berbicara sendiri, tertawa sendiri dan mengamuk sambil membanting barang-barang di sekitarnya. Saya harus melewati semua itu bertahun-tahun. Mendengar bantingan barang-barang, jeritan bapak saya, tangisan ibu dan kakak perempuan saya.

Saya melewati fase-fase yang mungkin orang lain nggak paham. Dan ini alasan kenapa saya memilih untuk nggak cerita. Orang mungkin bisa mendengarkan cerita saya, tapi belum tentu bisa memahami.

  • Saya pernah ada di fase membenci kakak saya, memutuskan untuk tidak peduli dan membiarkan kakak saya begitu saja. Saya mungkin adik yang jahat, tapi saya manusia biasa yang pernah merasakan capek luar biasa menghadapi kakak saya.
  • Saya pernah ada di fase menangis keras di dalam kamar sendirian kalau kakak saya sudah mengamuk dan tidak terkontrol.
  • Saya pernah ada di fase tidak berani keluar rumah karena malu dengan omongan tetangga.
  • Saya pernah ada di fase bisa marah sejadi-jadinya hanya karena kakak saya tidak bisa membedakan mana gelas miliknya dan milik saya.
  • Saya pernah ada di fase teriak kencang-kencang ketika saya mendapati kakak saya berbicara sendiri tanpa lawan bicara.
  • Saya pernah ada di fase saya malu punya kakak penderita  mental illness.
  • Saya pernah ada di fase paling rendah : pikiran semrawut, stress, nggak tau harus bagaimana dan rasanya pengen menyerah saja.

Tahun 2014 kami baru memulai pengobatan untuk kakak saya. Kami nggak langsung ke psikiater, tapi ke....habib. Semacam pengobatan spiritual. Ya di jaman modern ini, orang tua saya masih berpikir kalau kakak saya mental illness karena ada yang "ganggu". Hmmm oke walaupun agak nganu ya. Satu tahun nggak ada perubahan. Kami mulai nyerah lagi.

Tahun 2016 baru kami memutuskan mulai membawa kakak saya ke psikiater. Bapak menduga kakak saya menderita skizofrenia karena sering mengalami halusinasi, baik halusinasi pendengaran maupun penglihatan. Tapi menurut psikiater, kakak saya menderita depresi. Dan itu sudah lama. Sejak bertahun-tahun lalu. Faktor penyebabnya banyak : bisa karena trauma, rasa tidak percaya diri, mental yang lemah atau ada kejadian menyakitkan yang membekas di ingatannya. Itu yang masih kami cari tau sampai sekarang.

Sejak itu saya mulai berdamai dengan diri sendiri. Lebih tepatnya mulai menerima keadaan kakak saya. Awalnya memang nggak mudah. Saya masih sering emosi dan ujungnya marah-marah. Kemudian lama-lama saya memutuskan untuk membantu penyembuhan kakak saya. Di mulai dari hal-hal kecil seperi menegur kalau dia mulai melamun atau lupa menyimpan barang, mengulang perintah dan pertanyaan dengan sabar, mengajak bicara meskipun tatapan matanya masih kosong dan memperlakukannya seperti orang sehat pada umumnya. Saya mulai memahami dia, bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai manusia.

Oh ya, saya cerita begini bukan untuk di kasihani ya. I accepted sympathy but didn't accepted pity. Keadaan kakak saya juga sekarang jauuuh lebih baik. Ada kemajuan meskipun nggak pesat. Setidaknya dia sudah nggak ngamuk-ngamuk lagi. Dia juga sudah mulai kerja meskipun cuma bantu-bantu. Mau beraktivitas seperti biasa dan pelan-pelan sudah bisa di ajak ngobrol seperti biasa. Periode halusinasinya pun sudah berkurang.

Dari sharing ini saya cuma mau bilang bahwa di sekitar kita sebenarnya banyak yang mengalami hal yang sama seperti kakak saya atau T.O.P Big Bang. Mereka sebenarnya butuh bantuan, tapi banyak yang nggak peka sehingga penderita memilih menanggung beban sendirian atau memilih jalan akhir yang ekstrim. 

Terakhir, mengutip dari kata-kata dalam drama korea It's Okay That's Love :

"Semua orang memiliki penyakit jiwa, hanya saja tidak menyadarinya"

It's true....

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

*note : foto di ambil dari google
 
Dari sebelum Ramadhan tiba, saya berniat menulis sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Ide banyak, tapi eksekusi selalu tertunda karena dasar memang saya pemalas hahaha. Oh iya, penggunaan tema Ramadhan Story ini tidak sengaja ya, tiba-tiba terlintas aja gitu di pikiran xixi.

Daaaan....
Ini merupakan tulisan request dari teman kuliah saya yang juga suka nulis di blog bernama Dhiny. Silakan berkunjung ke blognya untuk membaca tulisannya yang berkualitas disini.

Oke, ngomongin bulan Ramadhan tidak lengkap rasanya tanpa membahas Ta'jil. Apa itu Ta'jil?


"Takjil atau lebih tepat kalau ditulis dengan TA'JIL karena koma diatas sebagai tanda dari huruf AIN (ع). Ta'jil artinya penyegaran. Yang dimaksudkan penyegeraan untuk menyelesaikan atau membatalkan puasa dengan memakan sesuatu. Dalam islam dianjurkan sebelum berbuka terlebih dahulu dibatalkan dengan makan kecil atau bukan makan pokok yang manis, yang dicontohkan rasulullah SAW adalah Kurma" -tulisan di ambil dari berbagai sumber di google.

Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, bulan Ramadhan di Indonesia tentu lebih meriah, termasuk dalam urusan menu berbuka puasa. Sebenarnya sih ya menu Ta'jil itu makanan dan minuman yang sering kita jumpai sehari-hari, tapi berhubung sudah berhasil menahan lapar dan haus seharian, siapa juga yang tidak tergoda untuk membeli es kelapa muda atau es pisang ijo coba haaah? Haha.

Kata Defbry, beruntunglah jadi orang Indonesia karena banyak makanan dan minuman yang bervariasi untuk berbuka puasa. Itu betul. Di Eropa sana, mungkin tidak ada yang jual kolak pisang atau makanan receh macam gorengan bala-bala dan sambal kacangnya.

Berikut Ta'jil favorit saya (selain teh manis hangat) yang mungkin sudah tidak asing atau mungkin hanya ada di daerah saya aja 😁

  • Sop Buah


Sop buah ini bikin sendiri, lupa di hari ke berapa puasa. Saya ganti gulanya dengan sirup tjampolay. Yang belum tau sirup tjampolay, itu salah satu oleh-oleh khas Indramayu dan Cirebon. Favorit saya rasa pisang susu. Nih bentuknya begini : 


  • Es Sarang Burung


Favorit kedua nih selain es buah. Nggak tau sih kalau di daerah lain namanya apa, tapi kalau di Indramayu namanya es sarang burung, terdiri dari agar-agar yang di potong tipis dan buah nanas. Warna umumnya kuning atau hijau muda seperti di gambar. Tergantung warna agar-agarnya sih. 

  • Kurma Keju


Kurma keju di populerkan oleh selebtwit bernama Falla Adinda. Sebenarnya pengen nyobain dari beberapa tahun yang lalu, tapi selalu ragu. Alasannya takut enek atau rasanya aneh. Hingga beberapa hari yang lalu ada sisa keju di kulkas dan kebetulan ada kurma, jadilah saya tergerak untuk mencobanya. Hmmm awal-awal rasanya sedikit aneh, tapi lama-lama.....EH KO ENAK? kemudian tambah lagi. Menurut saya perpaduan rasanya tuh pas : kurma manis, keju asin. Secara saya nggak terlalu suka makan kurma karena suka giung. Jadi, kurma keju bisa jadi alternatif menu ta'jil.

  • Bubur Lemu


Nah, untuk bubur yang satu ini mungkin udah nggak asing ya karena di beberapa daerah juga ada, mungkin namanya saja yang berbeda. Saya nggak tau sih kenapa di namakan bubur lemu. Ada yang tau? Hehe. Mungkin karena buburnya padat jadi di sebut lemu (bahasa jawa yang artinya gemuk). Sotoy banget! 😂

  • Semanggen


Semanggen sebenarnya nggak cocok sih di sebut ta'jil karena biasanya saya jadiin cemilan kalau setelah sholat taraweh. Ya you know lah kalau abis taraweh kan suka lapar lagi, mau makan nasi ya keberatan, jadi makan yang ringan aja macam Semanggen ini. Tambahannya bala-bala atau gorengan lain atau kerupuk mlarat. Oh iya, yang belum tau Semanggen itu jenis makanan apa, saya kasih tau seadanya ya karena saya juga nggak tau bahasa indonesia Semanggen itu apa ya Allah. 😑Semanggen itu jenis tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar sawah. Setau saya tumbuhannya di rebus terus sambalnya pake sambal kelapa. Rasanya enak. Dan setau saya cuma ada di Indramayu hehe.

****

Itulah beberapa ta'jil favorit saya.

Ta'jil favorit kamu apa?


Love.
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat itu tanggal 26 Mei 2017 pukul lima sore, satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan, saya baru saja tiba dirumah. Masih menggunakan baju kerja lengkap, saya duduk di atas tempat tidur. Jangan heran, kebiasaan saya pulang kerja memang begitu. Duduk bengong di atas tempat tidur. Kadang main hp, kadang cuma diem (nggak penting? Emberaaaan 😂)


*note : foto di ambil dari google

Sayup-sayup dari luar rumah terdengar gerombolan anak kecil berjalan sambil bernyanyi "Ramadhan tiba, Ramadhan tiba". Kedengerannya sih biasa aja kali ya, tapi yang unik justru saya jadi ingat momen-momen Ramadhan saya waktu seusia mereka. Boleh tanya sama anak-anak yang menghabiskan masa kecil di tahun 90-an, bulan Ramadhan adalah salah satu momen yang paling ditunggu. Yang membahagiakan. Belajar berpuasa meskipun belum mengerti betul kenapa harus menahan lapar dan haus, meskipun hanya tau berpuasa itu untuk menuju lebaran. But it's happiness!

"There is always one moment in childhood when the door opens and lets the future in" -Graham Greene

Bulan Ramadhan saat masih kanak-kanak tentu berbeda dengan saat saya sudah dewasa. Bukan terletak pada kesibukannya, tapi pada feel terhadap bulan Ramadhan itu sendiri.

Hayo ngaku deh, siapa yang merasa makin dewasa makin nggak antusias menyambut bulan Ramadhan? Saya salah satunya tentu saja! 😁

Yaaa kalau di ingat-ingat bulan Ramadhan saat sudah dewasa hampir tidak meninggalkan banyak kesan. Biasa saja gitu. Puasa ya puasa. Sholat ya sholat. Membaca Al-quran ya membaca Al-quran. But my feel so empty. Bukan karena makna ibadahnya ya, tapi lebih ke suasana yang tidak seperti bulan puasa. Apa ini perasaan saya aja? Maybe.

Ketika masih kecil, di luar menjalankan ibadah, saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan bermain. Bulan Ramadhan saat itu terasa sekali suasananya. Di mulai dari jalan-jalan pagi selepas subuh, kemudian di lanjut dari dzuhur sampai ashar main di Musholla. Yeah, we play in holy place (hahaha) : tidur-tiduran, main petak umpet pake mukenah, mendengarkan lagu di radio (I brought it from house 😛) sampai main air di sekitar sumur Musholla. Kemudian saat maghrib kita berebut takjil dan sambil menunggu sholat taraweh, kita rebutan nelfon ke telepon umum. We are happy! Puasa seharian pun nggak kerasa. Beneran deh! Wkwk

Saya tidak tau apakah anak-anak jaman sekarang melakukan hal yang sama seperti saya dulu. Bisa jadi iya. Tapi mungkin sambil bawa hp atau tab 😝 hal yang di bahas juga mungkin bukan seputar telenovela, kartun kesayangan atau lagu-lagu di radio.

Tapi yaaa terlepas dari itu semua, saya rindu bulan Ramadhan saat masih kanak-kanak : tidak ada alasan untuk menunda ibadah karena pekerjaan, tidak ada alasan untuk mengurangi ibadah karena lelah bekerja dan tidak banyak mengeluh haus dan lapar pastinya hehe.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Gila, judulnya panjang bener ya udah mirip pakarnya aje, padahal mah masih amatiran haha.





*note : foto di ambil dari google.

Bagi yang memiliki blog atau orangnya sering di sebut blogger, menulis posting baru adalah sebuah kewajiban (iya nggak sih? Itu mah gue aja kali ya 😀). Ya meskipun nggak setiap hari, minimal satu minggu sekali atau satu bulan ada satu posting baru lah ya. Seorang blogger "dituntut" (terutama oleh diri sendiri) untuk menulis posting baru demi konsistensi dalam menulis atau alasan lainnya hmmmm biar blognya nggak di anggurin gitu loh. Kan sayang udah bikin, tapi nggak di isi-isi sama tulisan.

Alasannya macam-macam....

Belum ada waktu. Alasan yang masuk akal. Saya juga kadang gitu sih. Jangankan buat ngetik tulisannya, buka laptopnya aja males. Hhhh

Takut nggak ada yang baca. Ya kalau nggak ada yang baca memang kenapa? Mau tutup akun blognya haaaah? Nulis blog salah satu tujuannya memang untuk di baca orang, tapi bukan di jadikan tujuan utama. Come on, nulis mah nulis aja. Selama kontennya baik, ya maju terus. Anggap aja sebagai latihan. Ye kaaan?

Nggak ada ide.

NAH INI NIH. INI YANG MAU DI BAHAS.

HASRAT (((HASRAT YA ALLAH HAHA))) MENULIS SUDAH ADA, TAPI IDE NGGAK DATANG-DATANG. TENAAAAANG, KAMU NGGAK SENDIRIAN. 

Saya bukan blogger profesional sih, tapi saya mau sharing berdasarkan pengalaman pribadi bagaimana mendapatkan ide untuk menulis posting blog.

*kalau ada yang mau menambahkan dengan senang hatiiii....
  1. Perasaan. Pernah denger orang yang lagi patah hati atau jatuh cinta bisa nulis sebuah novel dengan ratusan halaman? Nah, itu bukti bahwa perasaan yang sedang kita alami bisa di jadikan ide tulisan. Itu sih cuma contoh aja. Karena nulis posting blog nggak usah banyak-banyak kata kaya nulis novel. Tapi intinya sama, perasaan yang kita alami, entah senang, sedih, marah, kecewa bahkan putus asa, bisa di jadikan ide menulis. Jadi, energi negatif kamu tersalurkan lewat tulisan sehingga berubah jadi energi yang positif. Tapi selalu ingat, bahwa menulis tetap membutuhkan etika. Walaupun menulis berdasarkan perasaan, kata-kata kasar atau mengumpat apalagi sampai merugikan orang lain  tidak di perbolehkan ya. 
  2. Profesi. Kamu bisa menceritakan tentang profesi yang sedang kamu jalankan lewat tulisan di blog. Bagaimana suka duka dan keseruannya sampai informasi-informasi yang mungkin bermanfaat untuk pembaca.
  3. Membaca buku. Kamu bisa membuat review buku yang sudah selesai kamu baca. Ini akan sangat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan referensi buku.
  4. Menonton film. Atau drama korea (itu mah gue, gue. Puas lo? Wkwk). Biasanya kalau selesai nonton film, selain pengen buat review, kita juga kadang terinspirasi lewat ceritanya atau kebetulan ceritanya mirip dengan kehidupan kita atau dengan perasaan yang sedang kita alami. Nah, daripada galau nangis di pojokan mending langsung "hajar" lewat tulisan. Ya siapa tau ada yang merasakan hal yang sama.
  5. Travelling. Aduuuh kalau ada blogger yang ngga nulis padahal dia baru pulang dari travelling, piknik, jalan-jalan atau apalah itu, sayang banget ih. Travelling itu sumber ide paling manjur dan kemungkinan banyak yang bakal baca.
  6. Hobi. Selain travelling, hobi adalah ide menulis paling manjur. Apalagi kalau kamu punya hobi unik dan beda sama yang lain, misalnya ngejar-ngejar cinta si dia (naon sia Ami?). Hobi membuat kesempatan kamu untuk sharing lebih besar. Siapa tau kamu bisa ketemu temen yang hobinya sama. Seru kan?
  7. Thought. Kamu sedang gelisah dengan keadaan negeri ini? Atau dengan keadaan lingkungan kamu? Kamu bisa sharing pemikiran kamu lewat tulisan di blog. Jangan takut tulisan kamu di labeli aneh-aneh. Selama tujuannya baik, maju teruuus.
  8. Curhatan temen. Hayo siapa yang suka dapet ide tulisan setelah mendengarkan curhatan teman? Jangan lupa minta izin ke temen kamu sebelum di posting ya. Kalau nggak berani izin, jangan sampai mencantumkan nama hehe. Kalau kamu pintar mengolah tulisan hasil curhatan (dalam artian tidak di buat-buat), kamu bisa menghasilkan tulisan yang menarik.
  9. Pengalaman. Namanya juga hidup ya. Kita pasti pernah mengalami peristiwa, baik itu yang menyenangkan atau pun yang tidak menyenangkan. Kamu bisa menjadikannya sebagai pelajaran. Misalnya itu pengalaman yang kurang menyenangkan, kamu bisa sharing lewat tulisan di blog agar pembaca lebih waspada sehingga tidak mengalami hal yang sama seperti kamu.
Itulah sembilan *eh banyak banget ya? Haha* bagaimana mendapatkan ide dalam menulis posting blog. Oh ya, bagi saya menulis itu ada golden time-nya. Jadi begitu ada ide, secepat mungkin saya eksekusi. Seandainya saya lagi sibuk padahal ide menulis sedang membuncah (edan bahasanya), biasanya saya nulis sebisa saya dulu di notes hp. Saran saya sih, jangan terlalu lama ide tulisan mengendap di kepala. Selain nanti lupa, biasanya feel terhadap ide tulisan itu jadi hilang begitu aja. Ujung-ujungnya ya nggak jadi nulis. Curhat yeee? Iyeee. Hihi

Akhir kata, semangat menulis.

Semoga bermanfaat.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


*note : foto di ambil dari google

Empat tahun mengenyam pendidikan di Kota Besar sebagai mahasiswa bagi saya adalah salah satu pengalaman yang paling berharga. Bukan hanya tentang prestasi akademik atau gelar sarjana, tapi juga pengalaman sebagai anak kost dari daerah yang hidupnya jauh dari orang tua. Bertemu dengan teman-teman dari daerah lain di Indonesia bahkan beberapa dari negara lain dan meng-upgrade ilmu secara berkala dengan mengikuti banyak kegiatan positif hanyalah sebagian kecil pengalaman yang di dapat ketika sekolah di Kota Besar. Terbiasa hidup mandiri dengan segala fasilitis umum yang serba ada, tentu suatu hal yang wajar jika saya mendambakan bekerja di kota dan ogah untuk balik ke kampung halaman.

Tapi....life is funny, right?

Yang di ogah-ogahain justru menjadi takdir.

Sejujurnya awalnya berat ya apalagi udah terlanjur nyaman. Ya kaya kamu *eh gimana? Wkwkwk. Tapi lama-lama terbiasa ko. Buktinya udah tiga tahun saya balik kampung dan dapet kerja di sini saya masih baik-baik aja. Masih bahagia. Asal jangan ajak main ke bioskop aja hahaha.

Bagi saya pribadi, mau kerja di Kota ataupun di Kampung pasti memiliki plus minus. Berhubung saya kerja dikampung halaman, jadi saya mau bahas plus minus kerja disini. 

Plus
  1. Dekat dengan keluarga. Pulang kampung sama aja kembali pada keluarga. Memang seru jadi anak perantauan, tapi lebih nikmat tinggal bersama keluarga. Nggak perlu ngeluh home sick atau kangen masakan ibu. Kita juga nggak perlu takut kehabisan tiket angkutan umum saat mudik lebaran. Kalau sakit juga ada yang nemenin. Nah, jadi bersyukur ya.
  2. Menghemat pengeluaran gaji. Buat kamu yang belum menikah dan masih tinggal dengan orang tua, bekerja di kampung halaman bisa menghemat gaji kamu. Tempat tinggal gratis dan makan juga gratis. Nggak perlu pusing mikirin bayar uang kost, listrik dan biaya hidup bulanan. Jadi kesempatan kamu untuk menabung jauh lebih besar. Horeeee!
  3. Meminimalisir sifat boros. Ya namanya juga hidup dikampung ya gaes. Nothing mall, nothing cinema, nothing cafe, nothing KFC, Starbucks, Pizza Hut dan kawan-kawan. Sisi positifnya kita jadi lebih hemat. Nggak ada yang ngajak makan ke Susi Tei atau ke cafe-cafe, yang ada ngajak ke warung sate atau ayam goreng 😂. But you know, bagi saya makanan di kampung tuh lebih enak. Dan pastinya harganya lebih murah. 
  4. Mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja. Bekerja di kampung halaman membuat kita bertemu dengan rekan kerja dari satu daerah. Bisa jadi kamu satu kantor dengan saudara kamu, teman sekolah kamu atau tetangga kamu sehingga kamu tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi, karena memiliki kultur sosial dan budaya yang sama. 
  5. Mengaplikasikan ilmu. Jika kamu memilih pulang kampung dan membuka usaha, ini saatnya kamu untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah kamu dapat. Kamu bisa membuka lowongan pekerjaan dan membantu mengurangi angka pengangguran di daerah 😊.

MINUS

  1. Berpotensi terjebak comfort zone. Berawal dari sikap rendah diri "yaaah gue mah cuma kerja di kampung" akan membuat diri kita seolah tidak ada hasrat untuk berkembang. Di samping persaingan karir dikampung tidak seketat dikota, karena banyak yang mikir..."Yaaaah gue cukup begini aja lah. Yang penting digaji". Sebagai jalan akhirnya, kita memilih berada di zona nyaman. Udah mah tinggal di kampung, kerja di kampung, kita malas mengasah kemampuan kita juga. Ya ini juga sebenarnya curhat sih wkwkwk
  2. Jenjang karir lambat. Jadi, buat kamu-kamu yang memiliki ambisi besar dalam karir, visi karir yang wow, kamu kurang cocok kerja di kampung. You know what I mean!
  3. Kalau lagi penat kerja dan hasrat belanja lagi membuncah serta butuh hiburan, yaaa nggak bisa kemana-mana karena tempatnya terbatas. Hahaha oke itu mah curhat lagi. Jadi ada untungnya juga saya hobi baca buku dan nonton drama korea. Lumayan menghilangkan penat loooh. Lagian belanja kan nggak mesti di mall, di online shop juga bisa. Akan selalu ada cara untuk menghabiskan uang *eh
Udah ah pegel ngetiknya. Sekian plus minus kerja di kampung halaman menurut saya. Intinya, kerja dikampung itu bukan sesuatu yang memalukan, yang memalukan itu kalau kita kerja ngambil hak orang lain. Oke oce? 😁

Semangat bekerja karena besok gajian dan bulan depan dapet THR! Lumayan bisa nabung lagi buat modal nikah *wkwk


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

"Jangan pernah meremehkan doa sekecil apapun". Itu yang Ibu saya bilang sejak saya kecil. Doa itu sifatnya sakral karena berhubungan langsung dengan Sang Pendengar yaitu Allah. 

Tapi pernah kah kamu berdoa hanya sekedar "iseng" tapi Allah mengabulkan?

Yang di maksud dengan doa "iseng" adalah doa yang tidak sungguh-sungguh kita inginkan. Ya di kabulkan syukur, nggak juga nggak papa. Dalam hidup kita pasti pernah berdoa begitu. Contohnya : "Ya Allah saya pengen beli sepatu, tapi nggak punya duit". Hahaha receh nggak sih? Tapi ya saya pernah berdoa begitu. Mungkin karena sejak kecil saya membiasakan diri untuk "terbuka" sama Allah, termasuk dalam doa. Mau cerita masalah-masalah yang besar sampai hal-hal yang remeh seperti itu.  

Dan nggak pernah menyangka bahwa beberapa doa "iseng" saya itu pernah di kabulkan. Antara lain, waktu kuliah saya pernah berdoa "iseng" untuk sekali saja di berikan kesempatan pergi ke luar negeri dan satu bulan kemudian saya dapat rezeki pergi ke Singapore. Terus saya pernah naksir sama cowok. Bertahun-tahun saya pendam. Nggak berani bilang siapa-siapa sampai saya berdoa "iseng" kalau memang nggak jodoh tolong di hilangkan perasaan ini. Percaya nggak percaya, besok paginya pas bangun tidur perasaan ke dia langsung hilang blas nggak kesisa. Padahal ya cuma "iseng". Pengennya sih biar jodoh kaya di film2 wkwkwk.

Doa itu harus serius. Betul. Ada kalanya kita berdoa sambil menangis, terisak, tersedu sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Tapi yang perlu kita ingat, Allah itu Maha Pendengar. Se-enggak penting apapun doa kita, pasti di dengar. Dan Allah ngabulin doa itu nggak setengah-setengah. Pasti full. Kalau di rasa bagi Allah mengabulkan doa kita dengan cepat, pasti Allah kasih. Kalau pun agak lama, bukan berarti nggak di kabulkan atau nggak di dengar. Bisa jadi Allah mau kita usaha dulu atau Allah mau kita tunggu sampai waktu yang tepat.

Saya berdoa dari umur 15 tahun untuk jadi penulis profesional. Allah belum kasih sampai sekarang. Ya nggak papa. Mungkin saya harus usaha lebih keras lagi. Mungkin juga memang belum waktunya.

Saya ngidam (duileee bahasanya ngidam) pergi ke Semarang dari kuliah tahun 2011 yang lalu. Niatnya mau pergi sama temen yang kuliah di sana. Tapi entah kenapa selalu gagal mulu. Saya baru di kasih kesempatan pergi kesana tahun 2016. Bareng keluarga. Allah itu kadang begitu. Meskipun saya hanya berdoa "iseng" untuk berlibur ke Semarang, tapi Allah tetep ngabulin. Meskipun baru ngasih lima tahun kemudian.

Dan saya selalu percaya jangan kan melalui doa, tanpa kita ngomong apa-apa, Allah tau apa maunya kita. Allah lebih tau apa yang ada di hati dan pikiran kita. Makanya ibu saya selalu bilang, penting sekali untuk memiliki pikiran dan hati yang positif. 

Jadi kesimpulannya apa dari ocehan saya yang kurang berfaedah ini? Wkwk.

Jangan ragu untuk berdoa. Jangan malu untuk mengungkapkan sesuatu di hadapan Tuhan. Seberat apapun masalah kita, se-receh apapun keinginan kita, ya ngomong aja gitu sama Tuhan. Masalah di kabulin kapan ya biar jadi urusan Tuhan. Oh ya kalau kata Sudjiwotedjo sih "Tuhan itu Maha Asyik". Hahaiii benar juga, malah tanpa kita sadari kadang Tuhan suka ngajak "bercanda".


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Gambar di ambil dari google.
Sebelum review, saya mau cerita sedikit. Saya termasuk orang yang males pergi ke bioskop dan jujur saja tidak mengikuti film yang sedang tayang di bioskop. Saya bela-belain pergi ke sana hanya karena dua alasan : pertama, filmnya bagus. Kedua, filmnya di angkat dari sebuah novel yang sudah saya baca. Nah, saya menonton film Critical Eleven karena alasan kedua dan saya suka novelnya. Jadi, semacam ada kewajiban nonton karena apakah filmnya membuat perasaan saya sama atau berbeda ketika saat saya membaca novelnya. Yang belum tau cerita CE bisa baca disini

Setelah selesai menonton filmnya, ada beberapa point yang menjadi catatan saya sebagai penonton dan pembaca :

  • Cerita cukup beda dari novelnya. Yup, penambahan tokoh baru yang tidak ada dalam novel seperti Doni dan Renata, serta beberapa adegan yang tidak ada dalam novel juga. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah adegan memerah ASIP. Di novel tidak di ceritakan, tapi saya pernah baca di goodreads salah satu pembaca CE yang kecewa mengatakan bahwa kehilangan anak yang siap lahir tidak sesimpel yang Ika ceritakan dalam novel. Payudara akan merasakan sakit yang luar biasa karena air asi sudah siap keluar. Nah, adegan tersebut muncul dalam film. Entah penulis membacanya atau mereset ulang tentang hal itu. Saya tidak tau.
  • Akting para pemain. Keputusan memilih Reza Rahadian sebagai Ale bagi saya tidak terlalu keliru. Meskipun saya bosan, Reza lagi, Reza lagi, but it's ok. Akting Reza memerankan Ale baik sekali. Emosinya dapet, penampilannya juga Ale banget. Adinia Wirasti juga cukup baik dalam memerankan Anya, but so sorry emosinya kurang dapet. Karena mungkin dari saat membaca novel, saya memang kurang simpati dengan tokoh Anya. Kejutannya, Astrid Tyar dan Hana sangaaat apik sekali menjadi Tara dan Agnes. Sesuai dugaan saya, mereka bakalan heboh dan ceriwis.
  • Adegan ciuman yang intens. Dari baca novelnya aja udah ketebak ya hehehe. Jadi, ini peringatan untuk orang tua untuk tidak membawa anak kecil karena ini film dewasa. Selain adegan ciuman, juga ada adegan ranjang hmm hmm. Ini juga peringatan bagi yang jomblo kalau tidak mau baper. Seriously, Anya-Ale ini berdua mulu. Nempel sedikit, cium. Geser sedikit, cium. Hahahaaampuuun!
  • Kehadiran tokoh Doni. Terlepas dari cakepnya Hamish Daud, saya bertanya, untuk apa tokoh Doni di munculkan? Ya emang suka-suka penulis sih, tapi tokoh Doni bagi saya kesannya cuma gimmick. Tidak berpengaruh terhadap konflik Anya-Ale. Ada dan nggak ada tokoh Doni, konflik Anya-Ale tetep kerasa. Saya pikir Doni ini semacam laki-laki yang mau merebut Anya dari Ale. Ternyata tidak. Meskipun di ceritakan Doni memendam perasaan pada Anya, tapi nggak keliatan di mata saya. Nggak tau kalau penonton lain. Ya udah sih lagian Doni akhirnya mendapatkan pujaan hati yang lain 😐 *spoileeer*
  • Pemeran cameo yang terkenal. Film CE ini betul-betul bertaburan bintang. Selain pemain utama dan pemain pendukung, cameonya juga tak kalah terkenal. Mikha Tambayong, Dwi Suseno sampai Nino Fernandez. Mikha sama Dwi sih masih mending kedapetan dialog, lah Neno cuma sepintas doang numpang senyum di akhir film hahaha. Overall, tanpa mereka film ini nggak mungkin berhasil.
  • Durasi film. Saya pikir film CE berdurasi 90 menit seperti kebanyakan film Indonesia lain, tapi ternyata....hampir 2,5 jam booo! 30 menit terakhir saya udah mulai nggak fokus nonton. Selain kebelet pipis, yeah I'm kinda booring. Kelamaan nggak sih menurut kamu?
  • Ending cerita. Bagi pembaca novel CE yang sedikit kecewa karena ending cerita yang menggantung, jangan sedih karena di film ending cerita sangat sangat jelas. 
Sedikit keluhan nih ya, meskipun ini bukan film tentang Harris, tapi saya sempat berharap dengan adanya tokoh Harris dan Keara, ada adegan Harris menggoda Keara dan sebaliknya. Tapi di film CE Harris ko kalem banget? Penonton kecewaaaa hahaha.

Oh ya, kata penulis dan orang-orang yang sudah nonton katanya harus bawa tissue nonton film CE. Sesedih itu kah? Tapi ternyata meskipun Reza Rahadian sudah mengeluarkan emosi dan air matanya, saya tidak menangis. Berkaca-berkaca pun tidak. Suprising! Padahal waktu baca novelnya saya berkaca-kaca mau nangis loh.

So, bagi kamu-kamu yang sudah baca novel CE, luangkan waktu untuk nonton filmnya. Recommended, terutama bagi fans berat Ale macam saya. Meskipun sangat susah untuk tidak membandingkan film dengan novelnya, saran saya sih begitu filmya di mulai, buang jauh-jauh ekspektasi dan nikmati saja filmnya sampai selesai.

Kalau ditanya, lebih suka film atau novelnya? Hmmm kalau boleh jujur, saya lebih suka novelnya. Tapi bukan berarti filmnya jelek. Karena menjadikan cerita dalam novel ke bentuk visual bagi saya tidak mudah. Jadi saya mengapresiasi untuk semua pemain, penulis dan kru film Critical Eleven atas seluruh kerja kerasnya dalam mewujudkan film ini 😊

Love.
Amelia Utami.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates