Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"



Dear all my friends, who are still trying to search a job....

I'm writing this post because I want to give support to you and oh yeah me too. You are not alone. I understand your feelings when your friends, family or everyone else asks : "Kapan kerja?" or "Kamu udah kerja belum?". The question was not ONCE, but SEVERAL TIME asked. They don't care whether the question makes us down or stress. Sometimes they ask without giving aid alias basa-basi alias just kepo.

That makes me sad is when people start to underestimate. They don't know how we are trying so hard. Mereka bahkan tidak tau kita rela bangun pagi-pagi buta untuk tidak terlambat berangkat interview, mereka tidak tau kita pernah menahan tangis saat meminta restu kepada orang tua, mereka tidak tau kita belajar sangat rajin untuk mempersiapkan test psikotest pekerjaan dan mereka tidak tau ada doa panjang yang selalu kita panjatkan kepada Tuhan sambil terisak bahkan merengek memohon.

Don't listen to those who underestimate you!
You must keep positive thinking. Listen to negative words and then put it in your mind will only waste your energy and make you lose. No matter what they say about you, you have to show them. You are determining your own life, no them! Remember that. 

Everyone has a different way of life.
Kita bisa saja berencana A, B dan C, but we never know what will happen. Lulus kuliah cepat dan IPK tinggi ternyata tidak menjamin kita cepat mendapatkan pekerjaan. Don't worry about it! God has a different way to us and we must believe it's the best way. 

"Let us be comfortable with who we are, what we have and what we are capable of. Let us never feel inferior or superior, just content, tolerant and grateful". -88LoveLife

Keep trying and never give up!
Tidak ada usaha yang mudah. Kita pasti pernah mengalami kesalahan dan kegagalan berkali-kali. Kita pernah kecewa, menangis, marah dan merasa putus asa. Kita juga pasti pernah merasa iri pada teman-teman yang sudah bekerja atau bahkan sudah sukses. Don't think too much about it! Focus, trying and pray. You must be strong. There or without support of others, you have to move with confidence. You must believe your abilities and YOU ARE AMAZING!


Cheeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Museum Linggarjati

Lokasi:
Jl. Gedung Perundingan Linggarjati
Desa Linggarjati, Kec. Cilimus, Kab. Kuningan
(23 km selatan Cirebon)

Jam Kunjungan :
Senin-Jumat (07.00-15.00 WIB)
Sabtu-Minggu (08.00-17.00 WIB)

Tiket :
Donasi 




Gedung perjanjian linggarjati adalah sebuah rumah yang menjadi tempat berlangsungnya perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Belanda (11-12 November 1946), yang menghasilkan perjanjian linggarjati. Informasi lengkap dapat mengunjungi :
http://www.museumindonesia.com/museum/7/1/Gedung_Perundingan_Linggarjati_Linggarjati,_Kuningan



This place reminds me of my childhood and I'm so happy it isn't changed.





Take a picture.......





Cheeeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Selama kita hidup, kita pasti pernah melakukan kesalahan-kesalahan. Baik itu kesalahan kecil maupun besar. Dari kesalahan itu tak jarang kita menyalahkan diri kita sendiri atau yang lebih sering kita merasa menyesal terus-menerus. Kenapa bisa terjadi? Kenapa saya bodoh sekali?

Meskipun kesalahan itu sudah lama terjadi atau baru saja terjadi --tetap saja judulnya sudah terjadi--, kita masih sering memikirkannya, bahkan terbawa sampai mimpi. Hidup seperti ada yang mengganjal. Tidak sepenuhnya menikmati jalannya kehidupan.

Belum lama ini saya sendiri pernah melakukan kesalahan yang "duh, harusnya ini nggak terjadi". Semenjak lulus kuliah pada bulan April 2014, saya memang sedang mencari pekerjaan. Beberapa kali saya dipanggil untuk mengikuti interview, bahkan setelah dinyatakan lolos interview, saya berhak mengikuti tes tulis dan psikotest. Tapi setelah gagal tes psikotest sebanyak tiga kali, saya mulai down. Kepercayaan diri saya turun. Saya menyesal terus menerus. Seperti tidak ada lagi kesempatan. Tapi, di sanalah saya baru menyadari ada yang tidak "beres". Saya seperti melakukan kesalahan, yaitu terlalu meremehkan tes pekerjaan dengan dalil : "ya, kalau rezeki pasti nggak kemana". Anggapan itu memang benar. Tapi jika kita tidak berusaha secara maksimal rezeki itu tidak akan datang kan? Begitu ada panggilan tes psikotest pekerjaan lagi, saya tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Saya berusaha fokus dan belajar. Sempet diledekin katanya saya terlalu serius. Dih, bodo amet! Kalau mau dapet yang terbaik ya harus serius, hehehe.

Bagi saya, untuk menata hidup lebih baik lagi dimulai dari belajar memperbaiki kesalahan. Dan kita memerlukan guru. Maka kesalahan kita-lah guru terbaik. Tidak peduli seberapa besar kita tidak ingin mengingatnya, kita harus melangkah ke depan dengan tidak membawa beban rasa penyesalan akibat pernah melakukan kesalahan. Perbaiki lalu melupakan. Itu jauh lebih baik untuk meringankan langkah kita. 
Tidak mudah? Pasti. Saya, kamu dan kalian pernah mengalaminya. Bagaimana niat memperbaiki kesalahan dimasa lalu terbelenggu oleh pikiran kita sendiri. Kita lebih suka menyesali ketimbang memperbaiki dan move on. Padahal pikiran tersebut akan menghambat kita ketika dihadapkan oleh situasi yang sama persis dimasa depan.

Your best teacher is your last mistake..

Cheeeers!
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pada kesempatan yang lalu, saya dan teman-teman saya mengunjungi tempat wisata yang cukup populer di kawasan Lembang, Kab. Bandung. Let's go....

1. Floating Market Lembang

Floating Market Lembang merupakan tempat wisata yang menawarkan keunikan wisata pasar terapung seperti di Bangkok, Thailand atau Kalimantan. Bedanya, aktivitas pedagang dsini hanya diperuntukkan untuk wisata.

Lokasi : 
Jalan Grand Hotel No. 33E, Lembang.

Tiket masuk : 
Rp. 15.000/orang (belum termasuk biaya parkir kendaraan)

Jam buka operasional :
Weekdays : Pukul 10 pagi-5 sore
Weekend : Pukul 9 pagi-10 malam



















YAY :
  • Harga tiket masuk terjangkau dan dapat ditukar dengan minuman didalam area wisata
  • Konsep wisata unik 
  • Area wisata yang luas dan bersih
  • Tempat parkir luas, toilet bersih dan ada Musholah
  • Pemandangan alam yang oke

NAY :
  • Lokasi jauh dari pusat kota dan tidak ada transportasi umum yang langsung menuju kesana. Mau nggak mau kita harus menggunakan kendaraan pribadi.
  • Harga makanan di dalam area wisata cukup mahal. Meskipun ini dapat dimaklumi disetiap tempat wisata. 

Secara keseluruhan Floating Market Lembang dapat menjadi alternatif wisata di hari libur atau sekedar melepas penat. Udara dingin pegunungan khas Lembang dan pemandangan alam yang memanjakan mata dijamin bikin betah berlama-lama disana. Jangan lupa mengambil gambar yang banyak ya :)


2. Observatorium Bosscha

Nah, kalau kesini sih nggak sengaja. Pengen mampir aja hehe. Kebetulan lokasinya nggak jauh dari Floating Market. Karena hari udah sore, kita cuma numpang foto-foto. 





Finally, take a selfie...




Cheeers!
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
gambar di ambil dari www.chatelas.com


Meskipun memperbaiki diri harus dilakukan setiap hari, tapi momentum pergantian tahun dapat dipergunakan sebagai salah satu upaya memperbaiki diri lebih baik lagi. Tentunya kita harus belajar dari 365 hari selama tahun 2014 yang baru saja berakhir. Tahun baru juga dapat dipergunakan sebagai perenungan atas segala sesuatu yang sudah atau belum kita capai, sehingga kita dapat memperbaiki dan mempertahankannya di tahun ini.

Saya mencoba mengingat apa saja resolusi yang sudah dan belum tercapai pada tahun 2014, berdasarkan resolusi yang saya tulis di notebook.

Yang sudah tercapai :
  • Lulus sarjana tepat waktu (30 April 2014)
  • Travelling bersama sahabat ke Dieng (17 Mei 2014)
  • Wisuda (7 Juni 2014)
  • Rajin menulis blog
  • Menulis cerita 
  • Khatam Al-Quran di bulan Ramadhan (keliatannya ini simpel tapi saya bahagia sekali untuk pertama kali khatam Al-Quran dalam 30 hari).

My little trip in 2014

Yang belum tercapai :
  • Mendapatkan pekerjaan (HAHAHA)
  • Travelling ke Semarang 
Yang diluar rencana :
  • Mengikuti Gramedia Writing Project (Desember 2014)
  • Wisata kuliner yang ternyata lebih banyak hehe
  • Masih diberikan umur panjang (24 Desember 2014)

Saya bersyukur atas segala yang sudah saya capai dan belum, I'm proud of myself!. Tahun 2015 akan menjadi hari baru, lembaran baru dan kesempatan baru, sekaligus challenge. Yeah, welcome 2015!


"365 days, 365 chance"

Oh ya ini status saya di media sosial line hari ini :

"3 of 365 days, I still trying to get a job and slowly realize my dreams. 
No special resolution, I just try harder and pray more".



Thank you 2014 :)


Cheeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

By Diana Rikasari
Illustrator : Dinda Puspitasari



After finished reading it, I was very surprised. 
This amazing book!
For me, this book is not only motivation book but also self reminder.
Many sentences that inspire and give positive energy to myself.


one of my favorite #88LoveLife :





Cheeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Begitu di ajak Defbry untuk nonton film prancis dalam rangkaian Festival Sinema Prancis 2014, saya langsung pesimis. Meskipun sedikit interest karena ini pertama kalinya saya nonton film prancis, namun dibenak saya sudah terpikir : filmnya akan membosankan, tidak ada translate, durasinya lama atau saya akan mengantuk.

Saya semakin pesimis begitu Defbry mengirimkan tiket dan disitu tercetak judul film yang akan ditonton. Alamaaak, judulnya aja susah dibaca, nggak tau artinya, gimana bakal ngerti filmnya nanti? Karena sudah pasrah akhirnya saya nggak nanya film itu ceritanya tentang apa, kenapa pilih film ini dan lain-lain. Pokoknya liat tar aja, deh.


Tiket film
Hari itu pun tiba. Tanggal 6 Desember 2014. Pukul 19.00 WIB. XXI CIWALK.

Setelah duduk manis dan beli popcorn, film pun segera dimulai. Ternyata penontonnya banyak juga. Kebanyakan sih bule yang bawa anak-anaknya. Lucu, deh. Ada juga yang bawa pasangan, teman-teman dan keluarganya. 

Baru beberapa menit film diputar, para penonton langsung tertawa terbahak-bahak. Defbry juga. Saya sendiri bengong. Disaat saya masih mencerna translate bahasa inggris yang ada dilayar (karena saya sama sekali tidak mengerti bahasa prancis meskipun pernah belajar hehehe), para penonton malah sudah tertawa. Wah, ternyata ini film komedi keluarga!


Suasana sebelum film dimulai

Semakin lama saya semakin menikmati filmnya. Saya tidak terlalu mempedulikan translate bahasa inggris atau dialog bahasa prancis, karena melihat ekspresi pemainnya saja sudah bikin ketawa. Ceritanya sederhana. Tentang keluarga prancis yang memiliki empat anak perempuan, tiga di antaranya menikah dengan laki-laki beda ras dan agama. Yang satu beragama islam dan keturunan Arab, yang satu beragama yahudi dan keturunan Israel dan satu laginya kalau nggak salah keturunan China. Dan lucunya, anak ke empat juga pacaran dengan pria Afrika dan berkulit hitam pula! Hahaha padahal si anak perempuan ke empat ini harapan satu-satu ibunya agar si anak dapat menikah dengan pria Prancis dan satu agama dengan mereka, yaitu Katolik.

Jadi, inti dari cerita film ini adalah menggambarkan keluarga multikultural namun tetap menjunjung tinggi toleransi dan tidak rasis. Saya jadi mengerti mengapa film ini diberi judul : Qu'est-ce qu'on a fait au bon dieu? yang artinya apa yang kita lakukan bagi Tuhan yang baik?. Dibelahan bumi ini masih saja ada sekelompok manusia yang mendapatkan diskriminasi karena berbeda ras, warna kulit dan agama. Padahal Tuhan sudah sangat baik menciptakan manusia dengan bentuk yang unik dan memiliki ciri khas sendiri. Bukankah Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling menghormati dan menyayangi? Tidak peduli dari bangsa mana kita berasal, apa warna kulit kita, agama kita maupun latar belakang kita, manusia diciptakan untuk hidup saling berdampingan dan saling menghormati sesama. 

Rasanya durasi dua jam tidak terasa karena ceritanya yang mengalir dan dibalut dengan dialog komedi yang apik. Begitu keluar dari bioskop saya langsung bilang ke Defbry : aku nggak nyesel nonton film pranciiiiiiiis hehehe. Recommended!


Love,
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jika ada yang bertanya kepada saya jenis buku bacaan apa saja yang saya baca, maka saya akan menjawab : tergantung! Ya, saya termasuk orang yang tidak mengkotak-kotakkan selera buku bacaan. Dalam kamus saya buku itu hanya dua : enak dibaca dan nggak enak dibaca! Maksudnya dalam arti saya tidak peduli apapun jenis buku bacaannya (entah itu politik, sejarah, fiksi, agama, apapun itu) selama ceritanya menarik atau isinya berkualitas, mudah di pahami dan pastinya tidak merugikan orang lain, maka saya oke-oke saja membacanya.



Gambar di ambil dari blog.um.ac.id


Bohong banget kalau saya nggak punya buku favorit. Tapi yaaa itu tadi masih fleksibel dan bukan fans berat yang selalu bela-belain harus beli buku tersebut. Oh nooo! Ngefans sama sesuatu atau seseorang secara berlebihan itu bukan saya banget! Hehehe.

Oke, kembali ke buku favorit. Jadi, dari semua jenis buku yang sudah saya baca, saya berkesimpulan bahwa ternyata saya lebih menyukai buku fiksi macem novel, komik dan kawan-kawan. Saya punya alasan kuat kenapa saya menyukainya, karena dari SD ketika saya disuruh pilih mau beli buku apa, saya memilih buku dongeng terus membeli novel ketika SMP, SMA dan sampai lulus kuliah!

Eits, tunggu duluuu. Suka bukan berarti sembarangan pilih buku ya. Saya termasuk orang yang ketat menyeleksi novel yang akan saya beli. Meskipun kedengerannya baca novel itu dianggap sepele dan nggak perlu mikir, saya paling nggak suka beli novel yang ceritanya udah umum, mudah ketebak atau yang lebih parah ceritanya garing banget sampai baru baca beberapa halaman udah pengen cepet-cepet kelar atau berhenti gitu aja. Nggak mau kan sampai begitu? Udah beli mahal-mahal begitu dibaca bikin nyesel. Mana harga novel makin mahal lagi. Duh!

Karena saya suka baca Novel, ada sedikit tips dari saya nih saat membeli novel, ini selalu saya lakukan :
  • Sebelum ke toko buku baiknya kita udah tau mau beli novel dengan judul apa, siapa pengarangnya, siapa penerbitnya dan harganya berapa. Setelah itu usahakan untuk baca riview-nya dulu di internet. Situs riview buku favorit saya adalah goodreads karena disana lengkap ada sinopsis, riview dari para pembaca sedetail-detailnya -mulai dari kekurangan sampai kelebihan buku—, rating menurut pembaca dan asiknya pembaca boleh bebas bikin riview tentang buku itu sebagai referensi untuk pembaca lain. Disana kita bisa lihat kalau rating buku disana rata-rata berapa. Patokan saya kalau ratingnya 3,5-5 berarti buku itu recommended!
  • Bagaimana kalau kita belum tau mau beli novel apa? Yaaaa, mau nggak mau kita harus langsung ke toko buku untuk lihat-lihat. Siapa tau ada buku yang kita suka. Gimana untuk tau buku recommended? Ya, tinggal lihat aja di rak best seller atau recommended! Tapi saya kapok pergi ke toko buku tanpa persiapan buku apa saja yang mau saya beli. Label best seller atau recommended di toko buku ternyata tidak semuanya benar menurut saya. Saya pernah beberapa kali membeli buku dengan bermodalkan kata-kata best seller yang terpampang di rak buku, pas dibaca lah, ko ceritanya biasa aja? Biasa aja dalam arti memang ceritanya nggak menarik secara keseluruhan! Ko bisa best seller? Ya saya nggak tau selera orang kan beda-beda. Bisa jadi karena penulisnya udah terkenal jadi udah punya penggemar sendiri. Tapi harusnya kan kalau udah best seller itu artinya karya dia berhasil memikat hati pembaca kebanyakan. Jadi, saat itu saya lebih baik cari tau tentang novelnya dulu secara keseluruhan sebelum pergi ke toko buku untuk membeli.
  • Kalau kita memang sama sekali belum tau mau beli novel apa, ada baiknya kita rajin googling atau follow penulis Indonesia maupun penulis luar. Biasanya mereka suka sharing novel yang sedang mereka baca dan suka kasih riview. Jangan sekali-kali membeli novel dengan pertimbangan feeling, misalnya menurut gue novel ini ceritanya bagus, deh! LAH, TAU DARIMANA? Atau beli novel karena covernya lucu atau menarik. Memang beberapa novel dengan cover menarik ceritanya juga bagus. TAPI NGGAK SEMUANYA! Saya pernah ketipu juga nih gara-gara covernya menarik, warnanya bagus, pokoknya eye-catching banget lah. Pas dibaca ceritanya…saya langsung bilang dalam hati : wassalammualaikum! Saya pun berhenti baca tu buku.
  • Jangan hanya membeli karya penulis terkenal saja. Memang karya dari penulis yang sudah terkenal tidak diragukan lagi. Tapi bukan berarti penulis yang masih pemula atau tidak terlalu dikenal, karyanya jelek. Saya beberapa kali membeli novel dari penuls yang mukanya aja saya nggak tau dan nggak ada di halaman profil bukunya, tapi karyanya bagus. Saran saya, kalau beli novel jangan diliat dari siapa penulisnya tapi isi ceritanya. Sekali lagi, jangan males untuk cari-cari riview atau minimal sinopsis dari novel yang akan dibeli.
  • Kembali ke selera masing-masing! Meskipun satu juta orang bilang atau riview buku A menarik, enak dibaca dan bla bla bla tapi kalau menurut kamu biasa aja bahkan jelek ya jangan salahin yang ngasih tau, dong! Suruh siapa ikut-ikutan. Iya, nggak?


Intinya, membeli buku dan membaca buku itu aktivitas yang bermanfaat. Masalah jenis buku apa yang dibaca itu adalah masalah selera. Yang terpenting saat kita selesai membaca buku kita mendapatkan pengetahuan atau wawasan yang baru. Atau bahkan mendapatkan ide untuk menulis. Saya bisa tau nama-nama tempat yang ada dunia dengan hanya membaca buku. Mengunjungi tempatnya mungkin akan terasa lebih nyata, namun membayangkan tempatnya saja juga sudah terasa menyenangkan, bukan?


Cheeers!
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
REVIEW


Location : 
Jln. Ir. H. Juanda N0.155, Bandung -Jawa Barat





Suka K-Pop? Nah, Caffe Bene ini cocok untuk para penggemar K-Pop karena nuansa caffenya memang berbau korea. Begitu masuk ke dalam caffe, lagu-lagu K-Pop langsung terdengar. Karena saya datang kesana tidak di rencanakan alias cuma mampir, jadi saya tidak tau menu apa yang menjadi andalan mereka.

Saya memesan minuman green tea latte yang merupakan minuman favorit saya dan rasa green tea latte di caffe ini....ENAK BANGET! Saya nggak bohong. Green tea nya nggak pahit meskipun harganya lumayan mahal yaitu Rp. 32.000 untuk cup small. Yaaa, harga nggak menipu ya secara green tea nya enak gitu ditambah suasananya tenang, nggak berisik dan nggak banyak pengunjung. Desain caffe nya juga unik. Dan ini yang paling membahagiakan, wi-fi di caffe ini kenceng banget. Jadi, nggak heran banyak pengunjung yang bawa laptop dan berlama-lama di caffe ini hehehe.







Kesimpulannya caffe ini recommended !


Photo by Defbry dan Ami


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Dibandingan dengan bapak, ibu saya jauh lebih galaaak dalam mendidik anak. Mungkin karena bapak bekerja seharian di kantor (pergi pagi-pulang malam), sehingga peran mendidik anak-anak lebih banyak di serahkan pada ibu yang bekerja di rumah.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, sejak kecil saya sudah di didik "keras" oleh ibu. Meskipun hanya ibu rumah tangga, pekerjaan ibu saya ternyata lebih merepotkan. Itulah yang menyebabkan ibu mengajarkan disiplin dan mandiri sejak saya masih kecil. Ketika TK, saat teman-teman saya masih di antar dan di temani oleh ibunya setiap hari, saya malah pergi sendiri tanpa ditemani oleh ibu. Ibu hanya sesekali menemani dan menjemput.

Dalam urusan spiritual, ibu juga lebih "galak" dari bapak. Sejak TK, saya sudah dimasukkan ke sekolah madrasah. Ketika saya mengeluh tidak mau berangkat sekolah mengaji (karena waktunya adalah siang hari dimana jam tidur siang dan ada telenovela anak-anak kesukaan saya), ibu tidak segan-segan menjewer telinga saya atau memarahi saya. Tidak ada ruang bagi saya untuk mencari-cari alasan agar tidak berangkat sekolah mengaji, sekalipun alasannya adalah istirahat tidur siang.

Malam harinya, ibu mewajibkan anak-anaknya untuk pergi ke Musholla untuk sholat maghrib dan isha berjamaah dan mengaji Al-Quran. Ibu juga sampai mengundang ustad ke rumah untuk mengajari saya belajar Iqra, Juz 'Amma sampai lancar membaca Al-Quran. Tidak ada ruang juga bagi saya untuk membolos dari rutinitas ini. Bahkan ibu pernah memukul saya ketika saya malas mengaji dan menghafal surat-surat pendek.

Dalam urusan belajar, ibu termasuk orang tua yang sistematis dalam menjadwal anaknya belajar. Meskipun ibu hanya lulusan SMA, tapi ibu tidak mau main-main dalam masalah pendidikan anaknya. Setiap hari sejak saya SD sampai SMA ibu menjadwal saya belajar dan tak segan ibu ikut menemani saya belajar. Satu minggu dua kali ibu mengundang seorang guru privat agar saya lebih fokus dan lebih memahami pelajaran yang di ajarkan di sekolah. Saya pun tidak diperbolehkan menonton tv sebelum saya belajar.
Berkat didikan ibu itu, saya selalu mendapat ranking di kelas dan saya hampir tak pernah mengecewakan beliau. Saya sempat kecewa ketika saya masuk perguruan tinggi swasta, tapi ibu membesarkan hati saya, bahwa yang namanya menuntut ilmu tidak bisa dibatasi oleh perguruan tinggi negeri atau swasta. Semua sama saja. Tergantung pada pribadi kita. Dan saya pun bisa menjalankan masa kuliah saya dengan baik dan lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan.

Dalam urusan pergaulan, ibu termasuk orang tua yang kolot. Tidak membebaskan saya untuk main sesuka hati saya. Pulang sekolah saya harus tepat waktu, tidak boleh main ke rumah teman. Tidak boleh berkeliaran kemana-mana. Makan pun harus dirumah. Ibu juga harus tau siapa teman-teman saya dan rumahnya dimana. Maka dari itu saya termasuk anak yang homey, lebih suka menghabiskan waktu dirumah daripada bermain kemana-mana bersama-sama teman-teman. Dulu saya sempat iri melihat teman-teman yang dibebaskan oleh orang tuanya pergi kemana pun.
Saat saya menjadi anak kost dan kuliah di Bandung, tidak lantas membuat pengawasan ibu menjadi longgar. Ibu menelfon saya setiap hari, minimal lima kali sehari. Hanya sekedar menanyakan saya sudah makan belum atau saya ada dimana. Ibu tak segan memarahi saya jika saya belum sampai tempat kost padahal hari sudah malam. 

*****

Kini usia saya 22 tahun...

Saya baru merasakan manfaat dari didikan "keras" ibu. Di saat banyak teman-teman saya terjebak dalam pergaulan bebas, saya bersyukur teramat sangat memiliki orang tua yang menjaga saya dengan sangat erat. Disaat beberapa teman saya malas menuntut ilmu, saya bersyukur teramat sangat memiliki orang tua yang mendidik saya sejak kecil bahwa ilmu adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. 

Sama seperti anak-anak lainnya, saya pun memiliki periode bandel dan nakal. Itu terjadi ketika saya SMP sampai SMA. Bandel saya terbilang parah karena menyangkut masalah spiritual. Saat itu saya tidak bandel dengan belajar saya disekolah tapi saya bandel karena mulai malas sholat dan mengaji. Saya kering iman. Jiwa saya kurang hidup. Jarang bersyukur dan lain-lain.

Periode itu berakhir ketika saya masuk kuliah. Berakhirnya pun unik, yaitu tiba-tiba saya ingat dengan kenangan masa kecil dimana senang mengaji Al-Quran dan kaki ini ringan menuju Mushola untuk sholat berjamaah. Kenangan itu sangat membekas di hati saya dan menimbulkan kerinduan. Rindu untuk berdekatan mesra dengan Yang Maha Kuasa. 
Setelah itu saya memutuskan untuk mengenakan hijab dan kembali mempelajari agama lebih baik lagi. 

Kelak, semoga saya dapat menjadi seorang ibu yang dapat membawa kehidupan anaknya lebih baik lagi...
Seperti yang sudah di ajarkan oleh ibu saya.


Cheeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

"Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, 
lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi".

Pidi Baiq



Selamat ulang tahun Bandung yang ke 204.
Ini tahun pertama bagi saya melewatkan hari jadimu di tempat yang lain. 
Masa studi saya di Bandung telah selesai beberapa bulan yang lalu dan karena saya bukan orang Bandung, maka saya harus pulang ke kampung halaman saya.

Benar apa yang dikatakan oleh penulis favorit saya, Pidi Baiq, bahwa Bandung bukan hanya urusan wilayah geografis semata, tapi lebih dari itu. Siapapun yang pernah tinggal di Bandung akan merasakan bahwa kota ini mampu membuat siapapun memendam kerinduan untuk kembali berkunjung kesana.

Bagi saya, kerinduan terhadap Bandung akan selalu ada.
Saya jatuh cinta pada kota ini, tempat saya menuntut ilmu, tempat saya menghabiskan uang untuk berwisata kuliner maupun belanja dan ajaibnya semesta mempertemukan saya dengan orang-orang hebat di Bandung. Orang-orang yang memberikan makna dalam sebuah perjalanan hidup saya.

Terima kasih Bandung.
Tuhan Maha Ajaib mencipatakanmu dengan segala pesonanya.


Cheeers!
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates