Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Selama 24 tahun saya hidup, bisa di katakan kehidupan saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu banyak cerita. Bahkan cenderung membosankan. Ya, sejak SD sampai sekarang, sebutan anak baik-baik melekat pada diri saya. Entah karena faktor wajah saya atau karena hal lain. Tapi yang jelas sejak kecil saya hampir tidak pernah berbuat kenakalan, yang kelak kata banyak orang akan menjadi cerita yang akan di kenang di masa datang. Saya tipikal anak yang patuh pada aturan dan tidak berani berbuat yang aneh-aneh. 

Saya masih ingat, ketika teman sekolah saya sudah berani menggunakan biaya sekolah untuk uang jajan, saya lebih memilih untuk diam dan tidak ikut-ikutan. Padahal jika menuruti jiwa labil saya kala itu, saya bisa saja melakukannya. Tapi lagi-lagi, saya tidak berani melakukan hal yang seperti itu. Suatu hari, saya pernah di tertawakan oleh salah satu teman laki-laki saya di sekolah. Dengan bangganya dia bercerita tentang aktivitas pacarannya yang menurut dia sudah "dewasa". Saya yang saat itu pacarannya masih dalam tahap masih dalam batasnya, mendapatkan tawa yang keras dari dia. "Kamu cupu banget sih, Mi. Polos lagi". Dan saya sempat "panas" dan hampir terpengaruh. Sejak saat itu saya sudah terbiasa mendengar jika ada teman yang mengatakan : "Hidup kamu nggak asyik". "Nakal tuh tantangan, tau!". 

Selurus itu kah hidup saya?

Sore ini saya mendapatkan pesan bbm dari salah satu teman sekolah saya. Dia cerita bahwa dia sudah menikah, tapi hidupnya tidak pernah bahagia karena dia di madu. Dia mengatakan bahwa dia depresi dan hampir putus asa. Saya sedih membacanya. Banget. Satu pertanyaan yang langsung terbersit : "Apa yang membuatnya masih bertahan jika dia tidak pernah bahagia dengan pernikahannya?". "Mengapa dia memilih jalan hidup yang rumit?"

Dan pesan teman saya itu mengingatkan kembali pada teman-teman yang suka mengolok "hidup saya yang nggak asyik karena terlalu lurus". Nyatanya, mereka yang mengatakan itu hidupnya sekarang nggak lebih baik dari saya. Ada yang tidak melanjutkan sekolah, ada yang hidupnya cuma main-main saja, ada yang -maaf- hamil di luar nikah dan lainnya yang jika di ceritakan memang suprising sekali.

Segala keputusan hidup seseorang memang menjadi hak dan tanggung jawabnya. Bukan hak saya juga untuk men-judge hidup orang lain. Saya hanya merasa...why? why? why?. Dan hari ini saya baru menyadari, menjalani hidup yang lurus-lurus saja ternyata bukan keputusan yang memalukan. Hidup saya memang membosankan. Sekolah, kuliah, kerja, pulang lagi ke rumah dan sebagainya. Kenakalan saya saat kuliah hanya sampai batas manjat pagar kosan. Itu bisa di jadikan kenangan kan? Hahaha.

Terlepas dari itu semua, saya bangga menjalani hidup saya seperti ini. Saya bangga dengan keputusan-keputusan hidup yang saya ambil sampai hari ini. Nggak masalah orang bilang hidup saya nggak asyik dan nggak ada tantangan. Saya lebih khawatir jika hidup saya berantakan hanya karena ikut-ikutan memilih jalan orang lain :)

Love.
Amelia Utami.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Pada tanggal 24 Agustus 2016 kemarin, saya genap satu tahun bekerja. Saya pikir saya sudah berada di tempat kerja yang baru, tapi nyatanya saya masih bertahan di tempat kerja yang sama. Mungkin Tuhan belum memberikan kesempatan kepada saya di tempat yang lain atau bisa jadi saya sudah terlanjur nyaman berada di sana sehingga malas mencari pekerjaan lain. Yeah, di era banyak sarjana yang pengangguran ini, mencari pekerjaan tidak akan semudah itu kan? Tiba-tiba saya teringat perkataan salah satu teman kuliah saya. Dia bilang, ada dua jenis pekerja di dunia ini :
  1. Pekerja yang bekerja karena passion. Mereka jenis pekerja yang sangat beruntung. Orang yang bekerja sesuai dengan passion-nya sudah pasti mencintai pekerjaanya.
  2. Pekerja yang bekerja karena kebutuhan hidup. Tipe pekerja seperti ini biasanya mengabaikan apakah dia bekerja sesuai passion atau tidak. Yang penting dari hasil kerjanya, mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. 
Jika saya di minta memilih, sudah jelas saya masuk kategori nomor dua. Apa sih tujuan saya bekerja? realistis saja, tentu saja untuk cari uang! Untuk digunakan apa saja uangnya? wah, ya macam-macam. Makan, beli baju, sepatu, jalan-jalan bahkan untuk menabung. Dan untuk membeli semua itu saya nggak mungkin terus-terusan minta ke orang tua. Jika di tanya lagi apakah saya mencintai pekerjaan saya? itu hal yang berbeda menurut saya. Walaupun saya tidak mencintai pekerjaan saya, bukan berarti saya tidak bergairah untuk bekerja. Selain cinta, ada banyak hal yang membuat seseorang tetap semangat pergi bekerja : memiliki rekan kerja yang baik, atasan yang kooperatif, rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan atau motivasi kecil macam : "gaji bulan ini beli sepatu ah" atau "gaji bulan ini di tabung untuk travelling". See? selama satun ini saya bertahan bekerja karena faktor-faktor seperti itu. Bukan berarti saya nggak pernah mengeluh. Berkali-kali saya memiliki niat untuk resign secepat mungkin, keluar dari tempat yang saya pikir tidak semestinya saya berada di sana. Tapi sekali lagi, saya memilih bertahan. Terus-terusan mengutuki pekerjaan yang tidak saya cintai, tidak akan ada gunanya. Karena saya sadar diri, saya bisa membeli barang-barang dan memenuhi kebutuhan hidup saya ya dari hasil kerja saya.

Apakah saya melupakan passion saya? tidak! saya tetap menulis walaupun intensitasnya menurun drastis. Saya masih punya "tanggung jawab" untuk tetap menghidupkan passion saya. Biasanya saya menulis setelah pulang kerja atau sebelum saya berangkat kerja. Sejauh ini saya happy-happy saja. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan ya jalan, "bekerja" untuk passion juga tetap jalan. Intinya, kembali lagi pada kita yang menjalankan. Setiap orang punya jalan yang di pilih, kan?

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Penulis : Ika Natassa

Setelah membeli buku ini, saya baru tau bahwa kisah TAOL di ambil dari #pollstory twitter penulis. Saya nggak mengikuti rangkaian #pollstory tersebut karena sekarang saya jarang sekali buka twitter. TAOL adalah novel kedua Ika yang saya baca setelah Critical Eleven. Secara cerita, TAOL menurut saya lebih ringan di bandingkan CE yang konfliknya bikin perasaan saya sentimentil sampai mau nangis. Konflik di TAOL ini justru bikin saya gemas.

TAOL menceritakan tentang Raia Risjad, penulis novel Indonesia best seller, yang sedang mengalami writing block akibat kehilangan muse-nya.  Sudah empat tahun Raia tidak menghasilkan sebuah karya dan dia memutuskan untuk "berlibur" ke New York dengan harapan dapat menemukan kembali inspirasi menulisnya. Pada suatu pesta tahun baru yang di adakan oleh salah satu temannya, tak sengaja Raia bertemu dengan cowok bernama River, seorang arsitek dari Indonesia juga. Bagi Raia, River ini orangnya aneh, misterius dan dingin. Tapi bersama River lah Raia dapat berkeliling menikmati kota New York. River mengajarkan Raia melihat kota New York dengan cara yang berbeda.

Salah satu alasan mengapa saya suka dengan tulisan Ika Natassa adalah dia selalu menjabarkan profesi setiap tokohnya dengan sangat detail. Mungkin tokoh Raia ini menggambarkan diri Ika sendiri sebagai penulis. Bagaimana rasanya mengalami kebuntuan ide (yes, saya juga pernah mengalami!), di kejar-kejar editor, di tanyai mulu sama penggemarnya kapan novel barunya terbit. Itu emang kaya beban mental sih ya.
Sama seperti buku sebelumnya, mbak Ika selalu menyelipkan informasi-informasi di setiap ceritanya. Dan menurut saya itu sangaaaat bermanfaat. Salut banget bisa menggambarkan tempat-tempat di New York dengan gamblang. Informasi kecil kaya tempat jualan burger, kopi atau makanan yang enak di New York sampai di ceritain loh. Belum lagi informasi-informasi setiap bangunan di New York beserta sejarahnya. Ini semacam baca buku sekalian "touring" dan mbak Ika jadi travel guide-nya. 

Cerita cintanya juga menurut saya nggak terlalu mellow, meskipun cerita masa lalu Raia dan River lumayan bikin nyesek dan seriously saya sampai berhenti baca dulu saking "Ih, apaan sih. Bikin nyesek aja". Begitulah reaksi pembaca alay macam saya, hahaha. Lucu banget setiap mereka berdua memanggil dengan sebutan nama Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya. Cheesy tapi ko ya romantis! Hehehe. Oh ya, satu quote favorit saya dari novel ini kira-kira bunyinya begini : "Orang yang sedang jatuh cinta biasanya akan lebih mudah "menandai" orang tersebut. Dia akan jauh lebih peka, bahkan untuk hal-hal kecil seperti wangi parfumnya, makanan kesukaannya, gaya rambutnya dan barang-barang yang dia pakai dari ujung kepala sampai ujung kaki". LAH, IYA. INI BENER BANGET!

Endingnya agak menggantung gitu ya tapi sebagai pembaca saya tau lah perasaan Raia dan River itu bagaimana *alaaaah*. Oh iya, saya seneng banget di novel TAOL ini bisa ketemu lagi dengan Ale dan Anya beserta anak mereka. Nggak tau kenapa saya ikut seneng mereka akhirnya memiliki anak kembali. 

Yang jelas, TAOL recommended untuk dibaca dan tulisan Ika Natassa tidak usah di ragukan lagi :)

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Hallo sunday ....

Di hari minggu yang cerah ceria ini (yaila), saya akan mereview salah satu novel yang sudah selesai saya baca. Berhubung review di goodreads bagus-bagus (walaupun nggak menjamin juga), ditambah dengan profil penulis yang merupakan alumni Gramedia Writing Project 2 (Apa itu GWP ? cek disini), itu jadi salah satu alasan saya membeli novel ini tanpa ragu *tsaaaaaaaah*.

 

Covernya manis banget meskipun tipikal cover-cover yang kurang menjanjikan bagi saya.Pertama kali melihat cover dan judulnya, jujur aja awalnya saya mengira novel ini akan 100% bercerita tentang cinta-cintaan yang sudah umum. Tapi sekali lagi, never judge a book by cover or tittle! Karena begitu membaca Cinta Akhir Pekan hmmm saya seperti makan permen manis. Pengen lama-lama di emut di dalam mulut saking sukanya. Manisnya pas, nggak berlebihan. 
Oke langsung aja review ceritanya :

Arlin menghabiskan akhir pekannya bersama lima temannya, yaitu Dita, Bisma, Ferdy, Chandra dan Edwin di sebuah villa. Setelah semalam menghabiskan waktu dengan berpesta dan mabuk-mabukkan, keesokan paginya Arlin mendapatkan dirinya sudah...naked! Yes, Arlin yakin telah di perkosa semalam. Meskipun dia tidak begitu ingat apa yang terjadi karena pengaruh alkohol.

Dan nggak nyangka banget, ternyata Arlin ini tipe cewek yang lugu, polos dan nggak pernah minum-minum. Di tambah dia berbohong pada Mamanya agar bisa pergi dengan mereka. Nah, kan kena batunya! Huft.

Arlin yakin laki-laki yang tega memperkosanya ada di antara empat teman prianya. Tapi masalahnya, setelah di investigasi dan di interogasi, ke empat teman prianya ini memiliki alibi yang kuat bahwa mereka bukan pelakunya. Seakan sudah jatuh, tertimba tangga pula, Arlin yang sudah di perkosa dan belum menemukan pelakunya, ternyata hamil! Hidupnya saat itu seakan hancur dalam semalam. Hanya kepada Mamah dan Dita lah, Arlin menumpahkan kesedihannya. 

Ketika akhirnya salah seorang dari mereka mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin serta merta tak percaya. Dia mengenal pria itu sejak di bangku SMP dan dia terkenal memiliki sifat yang baik. Ironisnya, keluarga Arlin justru mendukung Arlin menikah dengan pria tersebut agar benih yang di kandungnya tidak di cap sebagai anak haram. Dengan terpaksa Arlin menerima pernikahannya dan bertekad menjadikan rumah tangganya sebagai neraka bagi pria itu.

Nah, nah, penasaran kan siapa pria yang mau bertanggung jawab itu? Yup, Chandra tentunya. Dari awal sudah bisa ditebak dari ke empat pria itu, cuma Chandra yang pembawaannya kalem, baik dan ramah. Tapi sebagai pembaca, jelas saya tidak mau tertipu. Sebagaimana kata Arlin, Chandra ini memang terlalu baik untuk melakukan hal bejat seperti itu. Dan saya langsung menebak, bahwa pelaku yang sebenarnya adalah orang itu. Tapi saya tidak mau terburu-buru menyelesaikannya, saya ingin menikmati ceritanya. Terharu banget ada cowok baik kaya Chandra. Walaupun di perlakukan semena-mena oleh Arlin, dia tetap memperlakukan Arlin sebagai seorang istri. DUUUUUH KZL!

Sampai akhirnya pelan-pelan rahasia itu mulai terkuak dan jeng....jeng...jeng....tebakan saya ternyata benar! Pelaku yang sebenarnya memang orang itu. Bagusnya, mas Dadan tidak terburu-buru mengungkapkannya. Penulis ingin mengajak pembaca mengikuti petunjuk-petunjuk yang di berikannya sehingga bisa menebak-nebak siapa pelaku yang sebenarnya. Ending ceritanya juga membuat saya tersenyum dan bilang : "ya orang baik emang jodohnya sama yang baik". Yang jahat mending ke laut ajeeeee! *emosi*

Notes : 
Ini pertama kalinya bagi saya membaca novel dari penulis GWP. Suprising, nggak mengecewakan. Saya sendiri pernah mengikuti ajang GWP tahun 2015 yang lalu, tapi belum rezekinya kali ya novel saya belum di lirik editor hehehehe. Bagi yang suka novel, saya sarankan untuk membuat akun di GWP. Siapa tau rezeki kaaaaaaan. Good luck!

Love.
Amelia Utami 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 

Begitu tau novel Sabtu Bersama Bapak di buatkan filmnya, saya adalah salah satu orang yang antusias dan langsung bilang : "gue harus nonton!". Apalagi melihat castingnya oke-oke. Ada tante Ira Wibowo, Abimana, Acha, Deva sama terakhir Arifin Putra *elap ingus*. Dan jadilah minggu kemarin saya memaksa Ibu dan teteh untuk ikut menonton. Sengaja nontonnya agak telat karena saya sendiri sudah baca novelnya tahun lalu dan ceritanya masih melekat di ingatan saya. Wajar aja sih karena di novelnya bertaburan quote-quote motivasi yang sebenarnya sederhana tapi bikin mikir "oh iya bener juga ya".

Bagaimana dengan filmnya? Ini yang nggak bisa dihindari. Mulut saya tuh suka nggak tahan untuk nggak ngebanding-bandingin setiap scene di film sama cerita di novelnya. Untuk lebih jelasnya, berikut penilaian saya terhadap film Sabtu Bersama Bapak :

note : ini murni pendapat pribadi ya.
  1. Saya harus mengakui bahwa akting Abimana dalam memerankan tokoh bapak itu....sangat menjiwai! Pantes banget pokoknya lah. Di scene-scene awal aja mata saya udah di buat berkaca-kaca. Padahal waktu baca novelnya, mata saya baru berkaca-kaca di tengah cerita.
  2. Suprising banget tokoh Cakra alias Saka di versi film bisa lucu banget. Baik akting maupun dialognya. Nggak heran Deva dapat memerankan tokoh Cakra dengan mudah, secara akting lucunya sudah teruji di sitkom Tetangga Masa Gitu? Bagi saya Deva berhasil "menjadi" Cakra yang kesulitan mencari jodoh karena di anggap terlalu kaku, booring dan garing. Nah kurang apes apalagi coba! Hahahaha. Sejujurnya, waktu baca novelnya tokoh Cakra beserta joke-joke-nya nggak berhasil membuat saya tertawa lepas. Lucu sih, tapi ya nggak lucu banget. Tapi di filmnya...tawa saya meledak! Pokoknya scene Cakra favorit banget. Apalagi tokoh Wati dan Firman ini membantu banget menghidupkan film yang harusnya sendu dan bikin mewek.
  3. Arifin Putra cucok banget meranin tokoh Satya yang tegas, keras, tapi sayang banget sama keluarganya. Aduuuh hatiku meleleh *mulai lebai*. Nah, di novel di ceritakan Satya dan Risa memiliki tiga anak.Laki-laki juga. Namanya Dani. Tapi entah alasannya apa, di film di ceritakan hanya memiliki dua anak. Saya sampai bisik-bisik ke teteh : "Nih, bentar lagi Acha (Risa) hamil anak ke tiga". Eeeeh, tapi sampai akhir cerita si Risa nggak hamil-hamil lagi. Oh ya saya mau kritisi satu hal, eeeerrrr saya agak terganggu sama akting Ryan dan Miku yang menurut saya terlalu kaku dan kurang greget, sehingga chemistrinya bersama Acha dan Arifin Putra pun memudar. Saya liatnya mereka bukan kaya anak sama orang tuanya. Sayang bangeeeeet :( Padahal di novel saya jatuh cinta sama anak-anaknya Satya dan Risa. Kurang di arahin aktingnya atau susah nyari pemain anak-anak ya?????
  4. Secara cerita sih nggak ada masalah ya. Walaupun ceritanya nggak utuh kaya di novel karena alasan durasi, tapi jalan ceritanya masih bisa di mengerti dan di nikmati. Menurut saya alur ceritanya seimbang gitu. Setelah scene sedih sampai pengen nangis, scene berikutnya bikin ketawa karena Cakra. Scene berikutnya bikin baper karena Arifin Putra, terus penonton di bawa ke scene sedih lagi. Begitu terus sampai akhir cerita.
  5. Ngerasa nggak sih kalau durasi film Sabtu Bersama Bapak ini hmmmm agak lama? sekitar 110 menit ternyata saat saya baca. Bukannya booring sih ya, tapi saya cuma ngerasa "hmmmm ko filmnya nggak kelar-kelar". Apa cuma perasaan saya doang? hehehe.
  6. And the last, saya berterima kasih sekali kepada kang Adhitya Mulya karena sudah membuat novel dan film yang bukan hanya menghibur, tapi juga memberikan pelajaran berarti untuk pembaca dan penontonnya. Di tunggu karya selanjutnya, kang! :)
Kesimpulannya, film Sabtu Bersama Bapak recommended untuk di tonton, apalagi buat kamu yang sedang rindu bapak. Siap-siap aja nahan untuk nggak nangis :)

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saya termasuk orang yang susah banget cocok sama yang namanya lipstik. Ini karena jenis bibir saya yang kering dan kulit wajah saya yang juga cenderung kering. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, saya lebih memilih menggunakan tint balm ketimbang lipstik. Beberapa jenis merk lipstik pernah saya coba, dari yang harganya mahal sampai yang harga standar. Hasilnya ya saya nggak begitu suka. Entah itu karena warnanya atau kurang cocok di bibir saya.

Sampai pada kemarin saya iseng cari lipstik di toserba terdekat. Saya teringat Wardah meluncurkan Lip Cream beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya nggak tertarik karena ssaya pernah membeli Lip Pallete produk mereka dan hasilnya benar-benar membuat bibir saya tambah kering. Saat itu saya kapok membeli produk mereka.



Tapi karena lagi-lagi saya orangnya penasaran di tambah harganya lagi diskon, saya akhirnya memutuskan untuk membeli. Saya coba dulu testernya dan wow nggak nyangka bibir saya bisa secantik ini hahaha lebay ya. Karena warna kulit saya yang terang, saya memilih Lip Cream No 2 yaitu warna Fushia. Pink terang gitu tapi nggak terlalu mencolok. Justru membuat wajah saya semakin terang. Dan kelebihannya lagi, Lip Cream-nya cepet kering dan tahan lama di bibir. Cocok banget sama saya yang kerja sampai sore dan males dandan lagi. Hehehe.

Dengan harga Rp. 59.000 saya rasa sangat terjangkau untuk memiliki Lip Cream dengan kualitas yang baik. Oh ya, tersedia juga beberapa warna. Silakan bisa cari di google ya. Karena balik lagi, milih lipstik itu bukan hanya sesuai selera dan budget, tapi juga sesuai dengan warna kulit dan jenis bibir kita. 

Aslinya warna pinknya lebih terang.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Orang tua saya termasuk orang tua yang konvensional dalam urusan mendidik anak. Saya dan kakak-kakak saya sejak kecil dilatih untuk disiplin, mulai dari makan, tidur, belajar, termasuk dalam jam main bersama teman-teman. Sejak kecil sebenarnya saya tidak terlalu bebas bermain karena aturan ketat dari orang tua saya, khususnya ibu. Saya tidak boleh bermain di luar rumah saat jam tidur siang, saat jam mengaji dan saat jam les privat. Keliatannya sangat menyebalkan memang, di saat anak-anak usia saya bebas bermain bahkan sampai malam dan tidak di cari oleh orang tua mereka, saya justru sudah di teriaki namanya dari jauh oleh ibu untuk segera pulang jika sudah melebihi jam bermain. 

Beranjak SMP, aturan itu masih tetap berlaku. Saya bahkan pernah pergi ke bioskop diam-diam hanya untuk menonton film. Pualngnya? ya di marahin. But, I'm not regret. Karena saya merasa tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Just watching film. Nggak kebih dari itu. Kemudian ketika saya SMA, aturan itu sudah mulai sedikit longgar. Mungkin orang tua saya sudah sedikit memahami dunia remaja. Saya di perbolehkan menginap di rumah teman saya, nonton film di bioskop dan ehem pacaran hehehe. Tapi saya masih belum puas. Saya merasa belum "bebas" seutuhnya. Oleh karena itu saya bertekad untuk kuliah di Bandung. Jadi anak kost dan jauh dari aturan orang tua.

Keinginan itu terwujud dan saya merasa senang. Saya pikir saya sudah mendapatkan kebebasan yang selama ini saya impikan. Bebas dari jam pulang, bebas kemana aja tanpa harus di cari dan bebas berbuat apapun. Tapi ternyata kenyaataannya tidak seperti itu. Saya tetap menjadi anak rumahan. Nggak suka main malam lebih dari jam sebelas, tetap nggak berani melakukan hal-hal nakal, tetap mager di kosan kalau nggak ada jam kuliah dan nggak pernah main ke tempat yang jauh-jauh. Saya melakukan itu karena merasa nyaman dan tidak menyangka bahwa aturan-aturan ketat orang tua saya dapat bermanfaat saat saya jauh dari mereka. Saat saya sendirian. 

Beberapa hari yang lalu, SMP saya mengadakan acara reuni dan buka bersama. Malam harinya, saya dan teman-teman dekat memutuskan untuk jalan sekalian temu kangen karena kami sudah lama tidak bertemu. Kami baru berangkat pukul sepuluh malam. Berbekal izin ibu, akhirnya saya ikut. Tiba di lokasi pukul sebelas malam. Anehnya, saya sudah merasa gelisah, padahal makanan dan minuman belum juga di pesan. Saya merasa tidak semestinya saya di sana. Bukan, bukan karena teman-teman saya. Karena sejujurnya saya kangen banget sama mereka. Tapi saya merasa...ini sudah melebihi batas jam main "nyaman" saya. Saya semakin gelisah karena makanan yang kami pesan baru jadi pukul setengah dua belas malam!.

Salah satu teman saya berusaha menenangkan : 

"Kapan lagi Mi bisa kumpul begini, setahun sekali juga jarang".

Oke. Itu benar. Dan saya sedikit tenang. Di tambah dengan obrolan dan guyonan mereka yang nggak berubah. Tetap sableng dan edan. Beberapa kali tawa saya meledak dan rasa gelisah itu pelan-pelan pergi.

Kemudian teman saya yang lain menimpali :

"Jam segini mah Mi masih sore".

Saya langsung nggak setuju. 

Saat itu mendadak saya pengen pulang, terus tidur.

Ah, mungkin benar saya nggak berubah. Saya tetap Ami yang dulu. Anak rumahan yang susah dapat ijin main malam, bahkan oleh diri saya sendiri. Yang lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah sambil membaca novel atau menonton drama korea. Yang lebih sering pergi kemana-mana bersama keluarga. Yang lebih nyaman memilih waktu bermain bersama teman nggak lebih dari jam sepuluh malam.

Karena bagi saya, waktu malam tetap tidak berubah. Malam adalah waktunya istirahat. Dan kamu boleh nggak setuju. 

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Melihat anak remaja jaman sekarang yang berlomba-lomba untuk eksis di dunia maya dengan berusaha memperoleh followers sebanyak-banyaknya, dengan cara yang "gila" sekalipun. Kemudian saya jadi teringat dengan kisah saya sendiri di masa lalu. Bedanya, ini terjadi di dunia nyata. Karena jaman remaja saya dulu tidak kenal media sosial.

Masa remaja adalah masa dimana eksistensi adalah nomor satu. Tidak peduli dengan cara apapun, hampir setiap remaja "bertaruh" agar menjadi anak yang eksis. Baik di mata guru-gurunya maupun dimata teman-temannya. Dan yeah mee too... waktu itu saya pengen punya banyak teman. Sounds like a normal teenagers, right? Saya melakukan segala cara agar saya punya banyak teman. Jika teman-teman yang lain melakukannya dengan cara yang terang-terangan, seperti mengajak main bersama, basa basi sok akrab dan lainnya. Saya memilih cara dengan tampil menjadi "orang lain", tapi berkedok bahwa itu adalah diri saya sebenarnya. Saya berusaha tampil cantik seperti si A, saya maksa-maksa cari bahan obrolan supaya keliatan lebih ramah, saya ikut-ikutan pake baju kaya si B biar keliatan lebih "wah" di mata teman-teman saya. 

Saya tidak menyadari itu adalah sebuah kesalahan besar karena saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah : saya harus "survive" ketika berada di lingkungan sekolah. Lebih tepatnya ketakutan sih. Bagi saya, tidak memiliki banyak teman sama saja seperti di kucilkan. Susah nanti kalau ada apa-apa, contoh kecilnya kaya informasi sekolah atau PR. You can judge me, but hey di antara kamu pasti pernah mengalaminya kan?

Terus hasil yang saya dapatkan apa ketika menjadi "orang lain"? Yang jelas adalah capek. Capek karena harus berubah-ubah terus, tapi pada akhirnya teman-teman yang dekat hanya selintas saja. Selebihnya? ya saya sendiri lagi. Saya menyadari ini ketika masuk kuliah. Sama seperti waktu sekolah, masa awal-awal kuliah adalah masa mencari teman sebanyak mungkin. Saya melakukannya. Tapi tidak lagi dengan cara yang sama seperti dulu. Saya berusaha memperkenalkan diri saya yang sebenarnya. Apalagi ketika ada beberapa teman yang mengecewakan saya dan make a pain in my heart, ya yaudahlah mau di apain lagi. Dendam? nggak. Marah? pasti. Tapi dari situ saya belajar mandiri. Tidak ketergantungan pada orang lain. Tidak berharap banyak orang lain akan memperlakukan saya dengan baik. Kemana-mana kalau bisa sendiri, ya sendiri. Belajar tetap teguh kalau saya orangnya begini. Dan belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri.

Awalnya saya takut jika tidak memiliki banyak teman, saya akan susah "survive" ketika berada di tengah-tengah lingkungan. Tapi kenyataannya, ketakutan saya itu tidak terbukti. Saya baik-baik saja. Saya bahagia walaupun hanya memiliki segelintir teman. Memiliki teman sedikit atau banyak, itu bukan lagi masalah yang besar bagi saya. Masalah yang akan membuat saya menjadi "orang lain" lagi. Sejujurnya, I'm welcome anyone to be my friend. Walaupun pada akhirnya saya "menyeleksi" mereka, but it was normal, isn't it?

So be original. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Don't be afraid you have no friends or followers. Don't worry you will be lonely. Be your self more important than anything. Klise but true....

Love 
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hallo, I' m back.

I've promised to share a story about my job, and now is the time....

Dari kecil saya memiliki kemampuan yang bisa di bilang lemah dalam pelajaran hitung-menghitung alias matematika. Itu terbukti dari telatnya saya "menangkap" pelajaran tersebut ketika berada di sekolah dasar. Ketika teman-teman sekelas saya sudah bisa menghitung perkalian dan pembagian, saya masih stuck di penambahan dan pengurangan. Nilai matematika saya di rapot pun nggak bagus, meskipun nggak jelek juga. Suprising ketika SMA saya berhasil masukan jurusan IPA dengan kemampuan matematika saya yang pas-pasan. Modal saya waktu itu cuma pengen belajar supaya nilainya nggak jelek. Titik.

Untuk mempelajari matematika lebih dalam? BIG NO! Cukup di bangku sekolah aja. Makanya ketika kuliah saya pilih jurusan yang aman dari pelajaran angka-angka. Dan resmi lah saya menjadi mahasiswa FISIP. Meskipun ada mata kuliah statistik nggak masalah. Toh cuma ketemu sekali.

Dengan gelar sarjana Ilmu Politik yang berhasil saya dapatkan setelah berjuang kuliah selama empat tahun, saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang walaupun melenceng, setidaknya nggak ketemu angka-angka. Serius, kadang saya separno itu sama matematika. Hahaha.

Tapi apa daya manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Berawal dari lamanya saya mendapatkan pekerjaan (ini pun di luar ekspektasi saya), akhirnya saya memutuskan untuk bekerja apa saja. Apa saja dalam arti nggak banyak pilih. Nggak harus di bidang ini itu dan bla bla. Yang penting kerja. Karena percayalah menjadi pengangguran lebih tidak mengenakan.

Panggilan dari perusahaan swasta di bidang pembiayaan akhirnya menjadi jawaban dari doa-doa serta usaha saya untuk mendapatkan pekerjaan. Sekaligus menjadi jalan sampai saya berada di posisi sekarang. Awalnya saya masuk sebagai karyawan honor. Tapi ketika itu saya merasa bahagia banget. Ya siapa yang nggak bahagia sih setelah lama menganggur akhirnya dapet pekerjaan? nggak peduli itu honor atau apa. Yang penting ada pekerjaan.

Tiga bulan masa kontrak honor saya. Saat itu tanpa pikir panjang saya menerimanya. Saya anggap tiga bulan adalah waktu training. Hitung-hitung untuk pengalaman kerja. Saat itu saya di tempatkan di Customer Service. Baru genap dua hari di posisi CS, saya di suruh pindah ke Back Office, tepatnya di Credit Admin, sampai kontrak honor saya abis. Dan tibalah saat kontrak honor saya berakhir. Saya kembali menjadi job seeker. 

Dua minggu setelah saya mengganggur, saya di panggil kembali oleh perusahaan tersebut untuk menepati posisi teller karena teller-nya sedang cuti melahirkan. Saya bisa aja sih menolak, toh status saya nggak berubah. Tetep honor. Sambil menunggu penggilan kerja, saya akhirnya menerima tawaran itu. Baru dua minggu saya menjadi teller, saya di suruh ikut tes psikotes karyawan reguler. Dengan posisi Finance Staff karena Finance Staff sebelumnya mau resign. Saya bengong. Ko bisa milih saya? dalam hati saya teriak-teriak menolak. Saya tau banget Finance Staff itu kerjaannya kaya gimana. Tau dari siapa? ya liat sendiri lah. Waktu itu saya bimbang. Karena sejujurnya saya udah tertekan banget di posisi teller. Setiap hari di bayang-bayangin duit nasabah yang banyak. Setiap hari berdoa supaya uangnya nggak selisih, nggak salah input atau nggak ketemu uang palsu. Belum lagi ketemu nasabah aneh yang suka marah-marah, cerewet, bawel dan sebagainya.

Apa job desk Finance Staff?

Pada dasarnya tugas Finance Staff adalah bertanggung jawab terhadap keuangan perusahaan. Di perusahaan tempat saya bekerja, Finance Staff terdiri dari dua bagian, yaitu Finance Out dan In. Saya kebagian di Finance In, yaitu bertanggung jawab terhadap uang yang masuk, dalam hal ini uang setoran dari nasabah, baik melalui tunai maupun menggunakan PDC/cek. Maka dari itu Finance In berhubungan langsung dengan teller. Mulai dari proses closing, stock opname fisik uang, sampai penyetoran uang ke bank.

Bagaimana perasaannya di hari pertama menjabat sebagai Finance Staff? 

Gemetar. Serius. Saya panas dingin karena ini pekerjaan yang high risk. Menyangkut uang. Dan seorang Finance Staff harus bertanggung jawab terhadap cash box dan lemari brankas finance.

Kendala apa yang dihadapi selama menjabat sebagai Finance Staff?

Adaptasi terhadap job desk. Di awal-awal menjabat sebagai Finance Staff, saya hampir tiap hari pulang malam dan berangkat pagi-pagi. Pekerjaan kayanya nggak beres-beres. Adaptasi saya terhitung lama karena saya nggak di training secara maksimal. Training-nya ya sambil ngerjain kerjaan. Makanya saya selalu gemetar dan ketar ketir karena takut salah.

Tantangan apa yang dihadapi oleh seorang Finance Staff?
  1. Menghitung uang dengan cepat, teliti dan tepat. Awal-awal saya mengalami kesulitan menghitung uang dengan menggunakan tiga jari, tapi karena setiap hari saya berhubungan dengan teller lama-lama terbiasa menghitung uang dengan cepat.
  2. Tidak boleh ada selisih uang. Baik selisih lebih atau kurang. Fisik uang dengan jumlah uang yang di input di sistem harus sama. Maka dari itu Finance In dan teller harus bekerja sama. Karena jika selisih, seorang Finance In harus mencari selisih itu sampai ketemu.
  3. Seorang Finance Staff harus mengerjakan report harian, berupa Rekonsil Bank dan Rekonsil Kas Angsuran. Dan harus balance. Tidak boleh ada uang yang selisih juga.
  4. Seorang Finance Staff harus konsentrasi, teliti dan tidak boleh ceroboh. Karena dia bertanggung jawab terhadap kunci cashbox, kunci brankas dan kerahasiaan kodenya.
  5. Me-manage waktu. Pekerjaan seorang Finance Staff itu banyak. Jika tidak bisa me-manage waktu, maka saya akan selalu pulang malam. Dan bagi saya ini adalah tantangan bagaimana saya harus mengatur waktu agar pekerjaan saya selesai tepat waktu.
  6. Mencari selisih. Inilah tantangan paling berat. Jika ada selisih satu saja, kemungkinan akan kacau semua. Beberapa kali saya pernah mengalami selisih, yaitu selisih jumlah fisik uang, selisih karena salah catat jumlah uang, selisih karena salah kode bank dan selisih karena salah nulis remarks. Pokoknya uring-uringan kalau udah ketemu selisih. Nggak selera makan, mau ngerjain ini itu nggak tenang, sampai saya pernah nangis karena selisihnya jutaan rupiah. Selisih itu harus ketemu karena akan mempengaruhi Rekonsil Bank dan Rekonsil Kas Angsuran.
Apa suka duka menjadi Finance Staff?
Dukanya....
  1. of course, nombok uang. Beberapa kali ngalamin jumlah fisik uang dengan di sistem nggak sama. Di cari selisihnya nggak ketemu, ya mau nggak mau harus gantiin pake duit pribadi. Alhamdulillah selama ini sih kalau nombok jumlahnya nggak besar. Amit-amit banget deh. Jujur aja, terhindar dari selisih adalah salah satu isi doa saya setiap hari sebelum berangkat kerja.
  2. Kalau closing bulanan pulangnya malem dan uang yang di setor jumlahnya bisa banyak banget.
  3. Kalau tellernya nggak masuk, seorang Finance Staff harus siap menggantikan. Ini sih yang bikin bete banget. Karena saya harus double job, melakukan pekerjaan teller dan Finance dalam waktu bersamaan.
Sukanya....menjadi Finance Staff itu kalau udah lancar dan udah tau pola kerjanya, ternyata nggak berat-berat amat. Jika ketemu selisih, saya minimal tau cara pertama yang saya tempuh sampai selisih itu ketemu.

Itulah sedikit pengalaman tentang job saya sehari-hari. High risk, penuh tantangan dan konsentrasi. Kalau ada yang tanya apakah saya mencintai pekerjaan saya, honestly no, tapi saya harus survive kan? jadi saya memilih untuk berusaha menjalani pekerjaan saya ini dengan ikhlas, tidak banyak mengeluh dan niatnya ibadah.

Salam selfie dari meja Finance


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Setelah sempat kehabisan tiket padahal sudah antri panjang, saya akhirnya mendapatkan tiket juga untuk menonton film yang di tunggu-tunggu kelanjutan kisahnya setelah 14 tahun berlalu. Bagi yang mengalami masa remaja atau dewasa muda pada sekitar tahun 2002, film AADC mungkin menjadi film yang paling berkesan atau memorable. Jangankan bagi penonton, bagi pemainnya saya rasa juga begitu. Terbukti setelah membintangi film AADC, seluruh pemain utama menjadi artis dan aktor papan atas Indonesia. Sampai sekarang.
Kenapa saya perlu review film ini? selain AADC adalah salah satu film tonggak kebangkitan film Indonesia, AADC juga merupakan pelopor film romantis mainstream di Indonesia. Coba tanya sama kakak, om atau tante kalian, siapa yang nggak tau kisah Rangga dan Cinta? :p

Gambar di ambil dari Google.
 Judul Film : 
Ada Apa dengan Cinta 2?
 Pemain : 
Nicholas Saputra
Dian Sastrowardoyo
Adinia Wirasti
Titi Kamal
Sissy Pricillia
Dennis Adhiswara

Sedikit flashback, tahun 2002 saya masih kelas lima SD dan film AADC tentu bukan film yang sesuai dengan umur saya. Jadi saat itu saya cukup puas hanya mendengarkan ost-nya yang SEMUANYA bagus. Tuh, anak SD aja ngerti hehehe. Saya baru menonton film ini SMP kelas tiga dan masih di putar ulang sampai sekarang. Bagi saya film AADC itu tidak lekang oleh masa. Lebay ya? tapi bener ko. Mau diputar ulang berkali-kali juga nggak bosenin. Dan itu membuktikan bahwa film AADC adalah film yang berkualitas.

Bagaimana dengan AADC 2?

Berawal dari Line yang sukses merilis video pendek kelanjutan kisah AADC, penonton beramai-ramai menginginkan kelanjutan kisah Rangga dan Cinta yang masih menggantung dalam bentuk film. Mira Lesmana dan Riri Reza akhirnya mewujudkan itu. Tayang perdana pada tanggal 28 April 2016, AADC 2 langsung mendapatkan sambutan yang luar biasa. Terbukti dari tiket yang sold out serta antrian panjang di bioskop.

Seperti film-film lainnya, film AADC 2 juga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Perlu di ingat, ini adalah pendapat saya pribadi sebagai penonton. Jadi review yang saya buat juga menurut kacamata pribadi. Boleh setuju ataupun tidak.

Kita mulai bahas dari kekurangannya dulu ya :
  1. Absennya Ladya Cheryl sebagai sosok Alya, salah satu anggota geng Cinta. Selain Rangga dan Cinta, sosok Alya adalah favorit saya. Kisahnya yang sering dipukulin bapaknya dan berusaha bunuh diri, menjadikan sosok Alya adalah pemain center selain Rangga dan Cinta. Absennya Alya di AADC 2 membuat geng Cinta serasa ada yang kurang, apalagi Alya dikisahkan meninggal dunia karena kecelakaan. Duuuuh :(
  2. Ini perasaan saya aja atau gimana ya. Saya rasa pergantian dari adegan satu ke adegan lain itu agak maksa. Nggak mengalir alami gitu. Jadi saya belum mencerna adegan sebelumnya, eh udah di ganti adegan lain. Mungkin karena durasi yang terbatas kali ya.
  3. Ada beberapa adegan yang ko....ftv banget? hehehe.
  4. Ada beberapa dialog yang baku yang kalau di praktekin sama pacar kamu di tahun 2016, mungkin kamu akan di tanya : "Kamu ngomong apa sih?". Tapi karena yang ngomong itu Rangga dan Cinta jadi dialog itu termaafkan walaupun sedikit geli di telinga.
  5. Sepanjang film di putar saya nggak bisa nggak komentar tentang penampilan Rangga yang menurut saya kucel. Cuci muka belum sih? huft. Tapi itu bisa saya maaafkan karena Nicholas sudah ganteng dari lahir. Lah. Hahaha.
Nah, cuma segitu bagi saya kekurangannya. Kelebihannya? Oh, pasti ada!
  1.  Akting pemainnya. Untuk yang satu ini, nggak usah di ragukan lagi ya. Kalau di AADC pertama sosok favorit saya itu Alya, nah di AADC 2 Milly. Sumpah ya, AADC 2 harus berterimakasih pada aktingnya Sissy yang nggak berubah memerankan tokoh Milly. Tetep tulalit dan mengundang tawa.
  2. Puisi-puisi Rangga! Bagi saya, kekuatan film AADC 1 dan 2 terletak pada puisi-puisi Rangga dan intonasi membacanya yang "udahlah cuma Nicholas yang bisa baca puisi begitu". Kalau di AADC 1 puisi - puisinya berasal dari buku Aku karya Sjuman Djaya, nah di AADC 2 puisi-puisinya berasal dari penulis muda Aan Mansyur yang nggak kalah kerennya. Siap-siap aja baper deh dengernya.
  3. Setting yang kebanyakan di Yogyakarta membuat saya memberikan nilai lebih untuk film ini. Banyak tempat-tempat di Yogyakarta yang belum familier bagi saya dan oh ya jangan lupakan adegan yang teater boneka itu. Sumpah keren abis! Kalau ada kesempatan ke Yogya, saya mau nonton juga.
  4. Chemistry Nicholas dan Dian nggak berubah. Bagi saya itu yang paling penting. Membangun chemistry kembali setelah 14 tahun berlalu itu pasti nggak mudah. Tapi saya lega karena mereka memerankan sosok Rangga dan Cinta sama seperti 14 tahun yang lalu.
  5. Ost-nya tetep bikin baper! ada beberapa ost dari AADC pertama yang di recycle ulang dan itu menambah suasana nostalgia. Thank you kak Melly Goeslaw :)
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, saya mengapresiasi tinggi film AADC 2. Membuat kelanjutan cerita dari film 14 tahun yang lalu tentu tidak mudah. Menghidupkan kembali tokoh-tokohnya pun tidak mudah. Terima kasih kepada seluruh tim yang sudah bekerja keras mewujudkan kerinduan penonton akan kelanjutan kisah Rangga dan Cinta. Saya jamin, sebagai penonton yang rela ngantri untuk dapetin tiketnya, film AADC 2 tidak mengecewakan.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Waktu kuliah saya pernah mengagumi temen baik saya (sampai sekarang pun masih menjadi teman baik alhamdulillah). Bukan karena dia cantik/ganteng, bukan karena dia mahasiswa populer, bukan karena dia cerdas, apalagi bukan karena dia orang kaya. Saya mengagumi dia atau lebih tepatnya suka berteman dengan dia karena "kegeloan" dia dalam menyikapi hidup. Serius, mungkin ini terdengar "what the....?" tapi yeah begitu lah kenyataannya.

Awal ketemu sama dia saat kita di pertemukan (ceila di pertemukan romantis banget! haha) di satu kegiatan kampus yang membuat kita sering bertemu. Setelah basa-basi saling memperkenalkan diri, kita berdua mulai akrab. Disamping dia orang nya mudah akrab sama orang baru.

Pada suatu perbincangan....

"Nungguin siapa, Mi?"
*sebutin salah satu teman dekat saya*
"Kenapa sih kalian kemana-mana selalu berdua? temenan kan nggak mesti kemana-mana bareng".
*saya melongo*
"Kalau dia jatuh ke sungai, kamu juga ikutan jatuh?"

Sumpah asli ini orang nyebelin banget. Blak-blakan. Ngomongnya pedes dan tajam. Setajam Feni Rose waktu bilang "Setajam Silet".

Oh ya, dia orang pertama yang berani-beraninya bilang lagu-lagu di playlist hp saya dengan sebutan "lagu-lagu Dahsyat (tau kan acara musik itu?)". Kampret banget! Hahaha. 

Awal-awal jadi mahasiswa baru, saya ini orangnya kaku. Apa-apa harus serba teratur (walaupun sampai sekarang masih tapi nggak separah dulu). Kakunya saya itu termasuk dalam hal belajar. Dari SD saya lebih suka menghafal daripada menghitung. Itu di buktikan dengan nilai matematika saya yang pas-pasan. Nah waktu menghadapi ujian pertama di bangku kuliah, sistem belajar menghafal itu masih saya terapkan. Saya nggak mau ambil resiko. Semuanya saya lahap. Saya afalin. Nggak ada materi yang kelewat satu pun.

Tiba-tiba kosan saya kedatangan tamu, yaitu temen saya itu (ceritanya kita emang udah akrab). Dia kaget banget liat keadaan kosan saya yang udah mirip kosan mahasiswa teladan tingkat nasional. Dimana-mana buku-buku dan catatan materi kuliah bertebaran. Di meja, karpet sampai tempat tidur. Seolah-olah besok saya akan menghadapi ujian hidup yang berat. 

"Astaga, ami lagi ngapain?" *dengan tampang dia yang akting abis*
"Lagi belajar lah. Besok kan ujian".
"Oh my Gooood. Ini semua di afalin?" 
"Iya dong!" *dengan muka bangga*.
"Ngapain di afalin?"
*saya melongo*. Ngapain dia afalin? ya biar bisa jawab soal-soal ujian lah. 
"Nggak usah sampai di afalin juga kali".
"Emang kenapa?"
"Percuma di afalin. Kelar ujian pasti tar lupa semua".
Dalem hati ngomong : Ya bodo banget lah lupa juga. Yang penting ujian hari itu selamet met met!

DIA MALAH KETAWA. BENER-BENER KETAWA!

"Belajar yang bener itu di pahamin, Mi. Bukan di afalin. Afal belum tentu paham".
Tiba-tiba saya kaya di tampar keras gitu!
"Jadi, santai aja. Yang penting baca dan pahamin materinya. Kalau udah paham, nggak perlu menghafal".

Pada suatu hari saya cemberut sepanjang hari karena salah satu mata kuliah dapet nilai C. Nilai yang nggak saya harapkan karena saya sudah belajar sangat keras. Ini lah salah satu kekakuan saya yang lain. Saya menganggap kuliah itu sama dengan SMA, SMP bahkan SD yang menganggap parameter mahasiswa yang pinter itu mendapatkan nilai yang bagus, kalau bisa sempurna. Mendapatkan nilai bagus itu berarti saya sudah berhasil menjawab soal-soal dengan bener. Ternyata saya salah besar....

"Aku pernah dapet nilai C dan biasa aja".
"Ko bisa nggak kepikiran?".
"Ngapain di pikirin? berarti kemampuan aku cuma segitu. Aku harus belajar lagi".
Saya diem aja. Nggak tau harus jawab apa. Sumpah ya seumur hidup saya baru ketemu sama orang se-enjoy itu dalam menghadapi masalah yang genting. Nilai kuliah dimata saya itu masalah genting loh. Hahahaha.
"Emang tujuan kuliah itu apa sih, Mi? Biar dapet nilai bagus?"
"Ya iya lah".
"Tapi kamu bisa pertanggung jawabin nilai-nilai bagus kamu itu nggak? bukan sekarang, tapi nanti kalau udah lulus kuliah".
Saya diem aja.
"Tanggung jawabnya berat loh".
"Kamu dapet nilai bagus itu paham nggak sama materi kuliahnya?"
Saya makin mingkem.
"Nilai itu bukan tujuan utama, Mi. Yang penting ilmunya "dapet" nggak. Itu yang penting".

LAH, BENER JUGA YA!  

Perlu diketahui, temen saya ini bagi orang lain mungkin biasa aja. Nggak pinter. Tapi bagi saya dia itu pinter banget dan pinternya tuh nggak keliatan. Dasar emang orangnya gelo. Dia bisa menguasai beberapa bahasa asing dengan belajar sendiri, nggak pake kursus-kursusan. Dan prinsip hidup dia yang "jadilah manusia yang bermanfaat untuk orang lain", saya akui, saya terinspirasi dari dia. Saya belajar bahwa untuk jadi pintar bukan hanya dengan nilai-nilai mata kuliah yang bagus, tapi juga bisa memberikan ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Saya juga diperkenalkan sama kegiatan-kegiatan yang positif, salah satunya di Museum. Untuk yang satu ini, saya berterima kasih banget. Karena ilmunya bermanfaat ketika saya terjun di lingkungan kerja.

Oh ya, kalau belum kenal dekat, dia ini orangnya nyebelin. Banget. Berpotensi bikin orang kesel. Tapi bener kata Defbry, se-nyebelin-nyebelin-nya dia, kita nggak akan bisa marah sama dia. Dan itu bener! Satu kejadian yang nggak pernah bisa saya lupain yaitu setiap saya berantem sama Defbry, dia hampir selalu ada dan setelah kita selesai berantem, dia bilang : "Traktir gue makan dong!". Kurang ajar banget, kan? hahahaha.

Dan saya bahagia sekarang dia sudah menemukan someone special-nya :)

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates