Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"



Sinopsis :


Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya -mantan aktivis 1998- yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.

Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one? 

*****

Mendengar nama Alanda Kariza membawa kembali ingatan saya ketika SMP, saat berlangganan membeli majalah KawanKu. Saya masih ingat bahwa saya pernah membaca profilnya yang menurut saya menginspirasi. Karena di usianya yang masih muda ketika itu, seingat saya Alanda sudah memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap lingkungannya. Generasi anak muda yang akan sukses pikir saya.

Saat tak sengaja melihat di Goodreads, ternyata Alanda sudah menerbitkan beberapa buku, tapi entah kenapa saya belum tertarik untuk membaca buku-bukunya hingga (lagi-lagi tak sengaja) melihat Instagram Gramedia, Alanda menerbitkan novel baru dengan judul yang sangat menarik : Sophismata. Jadi, ada empat alasan mengapa saya tertarik membeli bukunya. Yang pertama, judulnya. Kedua, cover bukunya yang eye catching. Ketiga, sinopsis ceritanya. Keempat, saya ingin membaca tulisan Alanda Kariza untuk pertama kalinya.

I'm so interested!

*****

Membaca halaman-halaman awal Sophismata, saya seperti sedang mengikuti kelas mata kuliah ilmu politik dimana dosennya sedang menceritakan salah satu tokoh politik Indonesia beserta sepak terjangnya didunia politik. Gimana ya. Menarik sih, tapi sempat bikin ngantuk dan kening saya berkerut berkali-kali. Entah karena dasarnya saya nggak begitu tertarik dengan dunia politik atau karena sang penulis menceritakannya dengan gaya teoritis dan terlalu struktural. Hal tersebut bisa di baca dari percakapan antara Johar dan Timur yang menurut saya...terlalu cerewet nggak sih itu si Johar jelasinnya? I'm kinda booring. Jadi pembaca seolah-olah sedang menyimak obrolan seorang dosen dan mahasiswa, bukan sedang membaca novel. IMHO aja sih.

Saat tokoh Johar pamit dari pertemuannya dengan Timur, jujur saja saya mengucap alhamdulillah dalam hati. Bodo amet Johar ini anggota DPR, mantan aktivis atau idolanya Sigi. Bagi saya, Johar lebih mirip dosen yang membosankan ketika menyampaikan materi mata kuliah. Bikin mahasiswanya pengen cepet-cepet keluar kelas sebelum jam kuliah beres :(

Dan part yang saya tunggu-tunggu akhirnya dateng juga, yaitu interaksi antara Sigi dan Timur. Dari cerita flashback keduanya saat satu sekolah dulu di SMA, saya langsung suka pada kedua tokoh ini. Kenapa? Karena mereka sama-sama pintar. Tipe-tipe anak yang rajin belajar dan berprestasi, tapi ketika keduanya saling tertarik satu sama lain, bikin yang baca jadi pengen ciye-ciye-in. 

Fyi, saya komentar begitu baru baca halaman ke-23 loh.... 

Baru halaman 23 saja kau sudah banyak komentar, Amiiii.

*di geplak*


Poin plusnya dari novel ini, dari pekerjaan Sigi sebagai staf administrasi DPR, saya jadi tau seluk beluk pekerjaan anggota DPR dan stafnya, rapat-rapat yang diselenggarakan, proses RUU serta rumor dan intrik-intrik politik yang mengiringinya. Pengetahuan baru untuk saya juga didapat dari pekerjaan Timur sebagai criminal justice. Bidang peradilan pidana. Yang menarik justru bukan pekerjaan utama Timur, tapi pekerjaan sampingannya sebagai sekjen sebuah partai baru yang di dirikan bersama kedua temannya, Gani dan Tirto. Disini saya bisa tau lebih jelas bagaimana proses sebuah partai baru di dirikan mulai dari awal. Agak familier juga dengan hal begini karena dikampus saya dulu juga ada partai-partai kampus, meskipun skalanya untuk pemilihan ketua BEM.

Kalau bilang Sophismata novel yang lumayan berat karena berkaitan dengan politik, saya pikir nggak juga. Dari awal membeli saya sudah tau bahwa ini mirip novel MetroPop yang kebetulan temanya tentang politik yang di bumbui kisah romance antara kedua tokoh utamanya. Sempat surprise karena Sigi dan Timur memulai sebuah hubungan (setelah sekian lama tidak bertemu setelah lulus SMA) dengan melakukan hal yang "berani". Ya you know-lah khas anak muda metropolitan. Drink, mabuk, kiss, kemudian tidur bersama dan besoknya bersikap biasa aja. Aduh di bagian ini saya susah membayangkan bagaimana sosok Timur yang kaku, hobi baca buku, pake kacamata dan suka pake kemeja bisa seromantis itu atau se-"berani" itu? Wkwk. Mungkin karena dia pernah kuliah di luar negeri kali ya jadi bukan hal yang tabu lagi menurutnya. Bisa juga karena pengaruh alkohol atau perasaan tertariknya pada Sigi yang sudah tak tertahan sejak SMA? Ya silakan menerka-nerka saat membacanya.

Terlepas dari itu, saya menikmati setiap interaksi dan isi obrolan antara Sigi dan Timur. Walaupun obrolannya cenderung normatif, tapi tidak membosankan. Justru menambah wawasan bagi saya pribadi yang tidak begitu paham dunia politik. Agak malu sebenarnya sih ya karena saya sendiri sarjana politik tapi tidak dekat dengan dunia tersebut (hehehe). Sigi memahami ketertarikan Timur terhadap politik serta mendukung cita-citanya. Sedangkan Timur tidak menghakimi Sigi walaupun gadis itu berpandangan bahwa politik dimatanya sama saja : abu-abu. Tidak jelas warnanya hitam atau putih. Seperti hubungan mereka.

Cieeeee... 

Tuh kan saya ciye-ciye-in lagi. Hahahaha

Pada akhirnya Sophismata menghadirkan cerita yang segar bagi saya. Politik di balut dengan romansa anak muda yang cerdas. Kurang lebih saya setuju dengan review dari Salman Aristo-Producer, Sutradara dan Penulis Skenario tentang Sophisnata yang tercetak di cover belakang novel. 

"Politik. Anak muda. Mimpi. Kisah cinta. Apa lagi yang hendak kalian dustakan, wahai millenials? Buku ini diracik dari, tentang, dan untuk kalian. Ambil. Resapi"

Well, sepertinya Alanda Kariza akan masuk ke list penulis yang buku selanjutnya akan saya nantikan :)

Bintang 4 dari 5 untuk Sophismata!



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Hari ini saya mau narsis. Kenapa? Karena saya akan cerita tentang diri saya. 

Pede ya? Hahahaha.

Tulisan ini sebenarnya berakar dari pertanyaan beberapa teman yang bertanya bagaimana mulanya saya hobi membaca buku dan menulis -sampai memutuskan untuk membuat personal blog dan masih konsisten menulis postingan terbaru. Waktu itu nggak pede jawabnya karena saya cuma blogger biasa yang doyan nulis hal-hal yang receh :(

Tapi yaudah saya sharing lewat blog aja deh ya, barangkali juga ada yang mengalami hal yang sama seperti saya. 

Awal suka membaca buku itu (udah pernah saya post di status facebook kalau nggak salah) karena waktu kecil saya suka di beliin buku-buku dongeng macam Alibaba dan 40 Penyamun, Angsa Emas, Hansel dan Gretel, Gadis Korek Api dan sejenisnya. Terus berlanjut baca komik serial Detective Conan (sampai sekarang sih). Perkenalan saya dengan novel fiksi itu di mulai dari SD saat membaca novel serial Lupus milik kakak saya. Dari situ saya mulai "kecanduan" baca buku. Kalau ada kesempatan pergi sama orang tua, saya pasti minta mampir ke toko buku. Dan ya seiring berjalannya usia, buku bacaan favorit saya itu emang buku fiksi macam novel-novel Indonesia hihi.

Sedikit curhat, nih. Sepanjang membeli, membaca dan mengoleksi novel-novel Indonesia atau buku fiksi lainnya, saya sering banget dapet "celaan" : "Duh, bacaannya ko nggak berbobot". Sempet sedih sih ya. Tapi kemudian teringat oleh twit Ika Natassa, salah satu penulis novel best seller.

Twitnya mewakili diri saya banget. Jadi saran aja, bacalah buku yang kamu suka. Referensi orang tentu dibutuhkan, tapi balik lagi. Buku yang kamu baca belum tentu bagus di mata orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Kemudian terkait dengan hobi menulis. Benar kata orang, kalau kita hobi membaca maka secara tidak langsung akan hobi menulis juga. Iya, saya juga begitu. Karena sering baca novel, maka saya lebih suka menulis cerita dan hal-hal ringan tentang personal life. Mungkin kalau saya hobi baca buku "serius", maka mungkin saya juga akan terbiasa menulis hal-hal "serius". Bagi saya pribadi, buku yang kita baca itu sangat berpengaruh terhadap tulisan yang kita tulis.

Tapi dibalik alasan-alasan basic seperti itu, ada alasan personal kenapa saya suka menulis. Dari kecil saya nggak punya banyak teman dan sering mengalami kesulitan dalam bergaul. Temen dekat saya sampai sekarang bisa dihitung dengan jari. Banyak orang yang menganggap saya ini cepet akrab sama orang, ceriwis, suka ketawa dan kadang suka ngelucu. Ya memang. Tapi untuk ke beberapa orang saja. Selebihnya saya tipe penyendiri. Lebih suka didalam rumah kalau nggak ada keperluan diluar. Menghabiskan waktu didalam kamar. Entah membaca buku, menulis, mendengarkan musik, menonton film, ngobrol dengan keluarga atau mengkhayal sambil ngemil. Aduh yang terakhir jangan ditiru ya hahaha.

Jadi begitulah...

Tahun 2012 saat pulang travelling dari Singapore, saya memutuskan untuk membuat personal blog. Dan sejak itu....

Kalau lagi sedih, saya nulis.
Kalau lagi galau, saya nulis.
Kalau lagi bahagia, saya nulis.
Kalau abis mendengarkan cerita orang dan menginspirasi, ya saya nulis.
Kalau lagi suntuk sama kerjaan, saya kadang nulis.
Apalagi kalau abis baca buku dan pulang travelling, ya pasti saya nulis.

Bagi saya, menulis itu selain bisa menjadi "teman" saat kesepian, juga bisa dijadikan "pelampiasan" segala perasaan yang sedang dirasakan. Ya daripada saya nangis atau marah-marah nggak jelas, lebih baik energi negatifnya saya salurkan lewat tulisan kan? Kalau kata penulis novel sih, lebih baik energi negatifnya disalurkan lewat karya. Kalau saya sih belum punya karya, jadi nulis sebatas di blog aja.

Aduh jadi panjang gini ya tulisannya. Maaf atuh. Yaudah segitu aja kali ya. Abis nggak tau lagi apa yang mau ditulis.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sore ini turun hujan kembali setelah sekian lama. Meskipun hanya rintik-rintik dan tidak besar. Ah, semoga jalan rumahku tidak banjir. Meskipun banjir semoga cepat surut.

Kata orang jika hujan turun perasaan kita jauh lebih melankolis. Tiba-tiba teringat mantan, teringat kenangan dulu dan menghayal tentang masa depan. Aha, yang terakhir sedang aku pikirkan sekarang. Menghayal masa depan. Nampak keren, kan? Bukan masa depanku seorang diri sejujurnya, tapi bersama anak-anakku kelak jika nanti di berikan kepercayaan oleh Allah. Amin.

Apa yang di khayalin? Menikah saja belum. Hahaha ya silakan kalian boleh tertawa karena memang nyatanya aku belum menikah dan mungkin aku terlalu jauh berandai-andai. Boleh kan? Toh gratis. Oh ya jangan bertanya kapan aku menikah, kalau sudah waktunya aku pasti undang kalian *salim*

Sambil mendengar suara hujan, aku mulai berpikir berapa banyak cerita yang nanti aku ceritakan pada anak-anakku kelak. Tentang diriku pastinya karena aku ibunya wkwk. Tapi bisa saja tentang orang lain. Atau saudara. Maka dari itu mulai sekarang aku memutuskan untuk mempertajam ingatanku agar bisa mengingat-ingat segala peristiwa yang sudah aku lalui, setidaknya hingga hari ini. Mana yang dapat di jadikan pelajaran, mana yang akan aku bagikan dan mana yang cukup di simpan dalam memori saja. Tinggal di sana selamanya.

Nak, saat menulis tulisan ini, calon ibumu berusia 25 tahun. Yup, sudah sering ditanya kapan menikah, tapi alhamdulillah belum pernah ditanya kapan mati hihi. Calon ibumu ini sering mengeluh tentang pekerjaannya karena sering bikin bosan, capek dan lain-lain. Namanya saja mengeluh pasti banyak alasan hahaha. Tapi percayalah walaupun sering mengeluh segala pekerjaan kantor selalu selesai tepat waktu. Begitulah nak, jika nanti kamu kelak bertemu dengan hal yang seperti itu, tetaplah bertanggung jawab melakukan yang terbaik. 

Aku belajar banyak dari lingkungan sekitar. Orang tua aku, mereka orang yang hangat dan sayang keluarga, tapi sayangnya kami, anak-anaknya, tidak di biasakan mengungkapkan perasaan kami. Jadi, dari kecil aku sendiri terbiasa memendam segala perasaan di dalam hati. Itu sesuatu yang kurang baik karena bisa berdampak pada kondisi psikologi. Oleh karena itu, aku tidak mau seperti itu. Kelak, aku ingin bukan hanya jadi ibu, tapi juga bisa jadi teman anak-anakku. Saling berbagi perasaan satu sama lain. Aduh, di bayangkannya saja sudah indah.

Hujan masih turun rintik-rintik. Tidak terasa cerita makin panjang. Padahal baru permulaaan. Nah, loh. Ya namanya juga berandai-andai. Pasti panjang dan sulit berhenti. Hehehe.

Nak, aku kurang tepat pilih jurusan kuliah. Mungkin kedengarannya sepele, tapi itu tidak untuk di tiru. Mungkin aku baik-baik saja, tapi ada penyesalan. Meskipun tidak banyak. Hal itu membuktikan bahwa aku galau, kurang teguh pendirian serta tidak berani memperjuangkan passion yang di miliki. Kelak jika kamu punya passion di bidang apapun, kamu harus berani melangkah. Jadi kamu tidak akan mengalami ke-tidak-nyambungan dalam hidup. Passion apa, jurusan kuliah apa dan pekerjaan apa. Ya Allah jadi curhat........

Dari beberapa hal yang akan diceritakan (mungkin juga tidak penting) , ada satu hal yang ingin aku banggakan padamu. Aku, suka sekali membaca buku. Walaupun itu novel dan bukan buku kuliah (hehe). Semaju apapun nanti, 20 tahun mendatang atau satu milenium yang akan datang, buku tetaplah jendela dunia. Meskipun nanti teknologi akan lebih canggih untuk mendapatkan ilmu dan informasi, tetap pilihlah buku. Jangan pernah malas membaca dan membeli buku. *agak maksa* *muka galak* hahaha.

Yang terakhir...

Karena hujan mulai berhenti.

Aku, suka nonton drama korea!

HAHAHAHA

Nggak apa-apa kalau kamu nggak suka. Nggak maksa. Karena kegiatan ini bagi sebagian orang tidak berfaedah. Tapi bagiku itu hiburan pelepas penat dan lelah.

Bahagia itu sederhana, nak.

Oke nampaknya aku lapar dan ada hidangan ayam balado di meja makan. Oh ya, sampai detik ini aku nggak pinter masak. Mudah-mudahan nanti bisa belajar. Kalaupun tetep nggak pinter masak, mudah-mudahan ada yang maksa aku belajar hehehe.

Udah ah segitu dulu. Nanti bersambung lagi. Kapan-kapan. Kalau sudah punya anak beneran.

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Teman saya pernah cerita bahwa beberapa hari sebelum menikah dia mendapatkan pesan dari salah satu temannya. Pesannya kira-kira berbunyi bahwa temannya tersebut menanyakan berapa isi amplop uang kondangan yang teman saya berikan kepada dia saat menikah, karena menurut pengakuannya, nama teman saya tidak ada dalam catatan tamu undangan yang memberikan amplop kondangan. Teman saya seketika terkejut karena tidak terbiasa dengan pertanyaan tersebut. Lebih terkejut lagi karena temannya itu bertanya secara terang-terangan meskipun hanya melalui pesan bbm.


Dengan kikuk teman saya menjawab bahwa dia lupa. Dia bukan pura-pura lupa, tapi beneran lupa karena dia bukan tipikal orang yang mengingat-ingat berapa isi amplopnya setiap pergi kondangan dan dia juga tidak punya catatan seperti yang temannya katakan.

Tapi temannya tetep kekeuh bertanya dan teman saya akhirnya menjawab bahwa setiap kondangan biasanya dia selalu memberikan uang sebesar sekian. Dan coba tebak apa jawaban temannya? Temannya tersebut berkata bahwa mungkin dia akan memberikan uang kondangan lebih kecil dari yang teman saya berikan.

TEMAN SAYA BUKAN HANYA TERKEJUT LAGI, TAPI LANGSUNG ILFIL SEJADI-JADINYA!

Ya coba aja kalau kamu jadi teman saya, tanpa basa basi di tanya seperti itu, gimana perasaannya? Kalau saya sih bakal jawab : "ELO NGGAK DATENG JUGA NGGAK MASALAH!" *kibas hijab*

Hmmm hmmm saya jadi inget cerita ibu saya beberapa bulan lalu kalau ada tetangga kami yang berantem gara-gara uang kondangan. Jadi ceritanya begini, tetangga A memberikan uang kondangan sebesar 200 ribu ke tetangga B, berapa hari kemudian tetangga B mendatangi rumah tetangga A untuk menagih. IYA, MENAGIH. MENAGIH APA COBA? MENAGIH UANG KONDANGAN YANG KURANG! Lengkap dengan membawa catatan. Ternyata tetangga A hanya memberikan uang kondangan sebesar 100 ribu. Dan kemudian mereka tidak saling bertegur sapa.

Waktu diceritain ini, saya dan kakak perempuan saya sampai tertawa terbahak-bahak. Apa ya? Konyol gitu. Hanya perkara uang kondangan jadi merusak hubungan antar tetangga.

Saya sendiri juga kalau pergi kondangan (entah ke teman dekat atau teman yang saya kenal baik), pasti memberikan sesuatu. Entah kado atau sejumlah uang di amplop. Tapi ya nggak pernah di catat dan nggak pernah di ingat. Kalau tanya kenapa, ya karena saya niat kondangan tuh ikhlas. Mau ngasih sesuatu sebagai bentuk rasa ikut bahagia atas pernikahan mereka. Sembari sambil silaturahmi karena bisa ketemu sama teman-teman yang lain. Ya sesimpel itu dan sejujurnya saya nggak mengharapkan balasan. Jika suatu saat saya menikah dan teman yang saya kondangin ini nggak hadir (entah apapun alasannya), inshaa alllah saya nggak akan mempermasalahkan. Balik lagi ke niat awal, saya pergi ke pernikahan teman untuk apa. 

Jadi rasanya bagi saya pribadi aneh jika ada orang yang mau pergi ke pernikahan teman atau saudara, tapi banyak pertimbangan seperti : "saya nggak mau hadir karena dia juga nggak dateng ke nikahan saya" atau "saya mau dateng tapi bisanya cuma ngasih uang kondangan segini karena dia juga ngasih ke saya segini". Eh ya Allah dasar centong nasi, kalau bisa dateng mah ya dateng ajalah. Ribet amet. Kecuali memang ada halangan atau keperluan yang membuatnya nggak bisa dateng. 

Kenapa harus bales-balesan gitu sih? Tradisi atau niatnya yang memang nggak ikhlas?

Kalau ngasih uang kondangan 20 ribu, dia bales ngasih 20 ribu lagi.
Kalau ngasih satu juta, bales satu juta lagi gitu?
Kalau kita nggak dateng ke pernikahan mereka, mereka juga nggak mesti dateng ke pernikahan kita?

Hahahaha i'm so sorry, terlepas dari itu adalah tradisi atau sebuah "kepantasan", saya tetap merasa janggal dan ya merasa gimana gitu. Apalagi kalau niatnya pamrih. Naudzubillah mindalik. Kalau saya jadi tuan rumah yang ngadain pesta pernikahan sih, saya pengennya semua orang yang dateng tuh happy dan nggak usah terbebani sama isi amplop undangan atau isi kado. Doa yang tulus walaupun kesannya ko ya munafik banget kaya nggak butuh duit, setidaknya di ucapkan dengan ikhlas. Daripada ngasih kado atau uang tapi di permasalahkan sampai merusak hubungan pertemanan.

Balik lagi ke niat. Balik lagi ke niat.

Apalagi dalam ajaran agama islam sudah di katakan bahwa tujuan mengadakan pesta pernikahan adalah untuk memberitahukan kepada lingkungan sekitar agar tidak menimbulkan fitnah. Mengadakan pesta pernikahan memang butuh modal, tapi ya nggak sampai segitunya sih 😂 Dan oh ya kita sebagai yang datang ke pesta pernikahan tesebut juga sudah selayaknya berniat baik untuk kedua mempelai. Memberikan sesuatu sudah sepantasnya, tapi kalau sampai meyinggung perasaan orang yang mengundang kita atau sampai ribut karena uang atau kado kondangan, IMHO mending nggak usah dateng deh ya. 


Love
Amelia Utami.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jadi, malem ini mood saya lagi nggak bagus. Padahal tadi pagi saya berangkat kerja dengan semangat dan perasaan optimis, meskipun 5 hari ke depan harus membantu pekerjaan teman saya yang sedang cuti menikah. It's okay. Dan hari ini pun saya melewati hari yang cukup lancar. Pekerjaan beres, pulang kerja nggak terlalu sore dan sebenarnya nggak terlalu capek sih. 

Tapi nggak tau kenapa ketika sampai di dalam kamar, sudah berganti pakaian dan hanya duduk santai, mood saya mendadak kacau. Down begitu saja. Pernah nggak kalian mengalami hal ini? Tanpa sebab, tiba-tiba mood jadi nggak bagus. Mendadak mellow. Mendadak ingin nangis. Mendadak capek pikiran luar biasa. Dan yeah, sore tadi saya mengalami itu. Dari kantor padahal sudah excited ngerencanain begitu sampai rumah langsung mandi, terus malemnya nonton drakor seperti biasa.

Tapi...

Yang saya lakuin cuma main hp, diem, main hp lagi, diem. Sampai akhirnya saya nggak mood nonton drakor dan coba tebak, saya baru mandi tepat jam 9 malem! Taraaaa...

Setelah mandi pikiran lumayan segar. Mood juga agak membaik. Kemudian saya merenung *berat ya hidup gue? Hahaha*, menjalani rutinitas yang sama setiap hari itu kadang menjenuhkan. Bangun pagi - kerja - pulang kerja - malemnya tidur lagi. Besok tinggal tekan tombol repeat. Ya semua itu memang sudah konsekuensi orang yang bekerja, tapi merasa jenuh itu manusiawi ko. Apalagi saya libur hanya di hari minggu (kadang kala masuk piket), butuh usaha keras untuk tetap happy dan semangat. Meskipun saya akui banyak gagalnya. Kalau gagal biasanya saya marah-marah (wkwk) atau tiba-tiba nangis dan pengen teriak "please gue capek. Give me a break!"

Kadang ya (kadang loh), saya kangen masa pengangguran. Bukan karena kangen nggak punya penghasilan (ih, siapa juga coba yang nggak sedih kalau nggak punya duit), tapi lebih kepada kangen masa-masa produktif saya. Berarti kerja nggak produktif? Ya produktif dan tentu saja menghasilkan, tapi seperti yang sudah saya katakan. Tinggal tekan tombol repeat! 

I miss random schedule. Dari bangun pagi sudah punya rencana mau ngapain dan mau kemana. I mean, saat sudah bekerja kita mungkin masih bisa melakukan hal yang sama seperti itu, tapi nyatanya saya sendiri lebih sering memilih menggunakan hari libur untuk istirahat. Badan capek dan pikiran capek. Kadang mau keluar rumah pun harus mikir 2x. "Hari ini mau tidur siang aja" atau mau ngelakuin kegiatan mengisi waktu luang juga lebih banyak malesnya. Beberapa kali emang berhasil, tapi kebanyakan gagal.

Mungkin saya butuh waktu lebih dari 24 jam? HAHAHA

....

Pada akhirnya ini hanyalah tulisan random pelepas penat dan lelah. Mungkin saya nggak sendirian. So, if you want judge saya nggak bersyukur, nggak apa-apa. Berarti kamu manusia strong. Kalau saya sih manusia yang masih banyak ngeluh dan sedikit-sedikit curhat macam penonton mamah dedeh. 

"JAMAAAAH....."

Mari tidur karena besok masih hari jumat ~


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sore ini saya membaca salah satu postingan media sosial teman sebaya saya yang sudah memiliki...2 anak. Yup, dia menikah sekitar umur 22 tahun. Kalau tanya saya lagi ngapain di umur segitu, jawabannya saya baru kelar sidang skripsi dan sedang menunggu wisuda.

Apakah saat umur 22 saya memikirkan pernikahan? Hanya terlintas atau hanya jadi bahan candaan bersama teman-teman kuliah. "Cie...udah lulus kuliah. Mau kerja atau nikah nih?" Candaan jayus antar kami. Dengan yakin saya bilang. "Kerja lah. Mau ngerasain punya penghasilan sendiri".

Dan sampailah saya pada hari ini. Umur 25 tahun dan belum menikah.

Saya pikir saya akan merasa stress karena akan sering ditanya "kapan menikah?", "sudah punya calon belum? Atau "kerja udah dapet, mau nunggu apalagi?". Tapi nyatanya sampai detik ini, saya masih enjoy dan happy dengan segala rutinitas yang saya lakukan di usia 25 tahun. Saya masih nangis dan ketawa kalau nonton drama korea, saya masih plin plan kalau beli tas atau sepatu atau sereceh saya uring-uringan kalau lagi download film udah 99 % tapi gagal.

I'm abnormal? Maybe 
I'm like a teenagers? Oh of course, my soul still forever young xoxo

Saya punya pacar dan ya biasa aja. Nggak setiap hari merasa terbebani dengan pikiran "harus menikah secepat mungkin". Rencana menikah pasti ada, tapi lebih pada berdoa dan berusaha. Nggak menggebu-gebu karena di kejar target umur.

Nggak takut di katain perawan tua dan nggak laku?

Nggak. Sama sekali nggak. Norak banget kalau masih ada yang ngatain perempuan dewasa yang belum menikah karena nggak laku. Emangnya barang jualanan pake laku nggak laku.

Bagi saya (terlepas dari faktor umur), seseorang dalam memutuskan untuk menikah itu nggak sembarangan. Ada pertimbangan yang sifatnya personal. Nggak ujug-ujug "saya udah umur segini, saya harus cepat nikah" atau "pacaran bertahun-tahun harus cepet nikah tar nggak jodoh, lagi". Nggak, bukan begitu. Kamu menikah muda di usia 22 tahun mungkin saja karena sudah siap, baik secara finansial maupun mental. Kamu belum menikah di usia 25 tahun, bisa jadi ada hal yang masih di jadikan prioritas utama seperti keluarga, impian, karir, pendidikan atau alasan receh macam "gue masih mau sendiri". Pertimbangan-pertimbangan tersebut sangat personal dan saya pikir tidak semua orang bisa memahami dan menerima.

Kamu akan menikah bukan dengan lingkungan kamu yang bilang perempuan yang belum menikah di usia 25 tahun atau lebih adalah perempuan yang kurang beruntung.

Kamu akan menikah bukan dengan keluarga besar kamu atau teman-teman yang suka resek nanya kapan nikah mulu.

Kamu akan menikah bukan dengan pikiran sempit kamu yang mengatakan belum menikah = nggak laku.

Kamu akan menikah dengan laki-laki pilihan kamu. Yang terbaik. Nggak ada yang namanya menikah telat karena umur. Yang ada hanyalah kamu belum menikah ya simpel karena memang belum waktunya. Dan perlu diingat, nggak semua perempuan dengan mudah memutuskan "Ya, besok saya mau menikah".

Makan tuh centong mejikjer...

.
.
.

Jadi, sebenarnya tulisan ini agak berbau curhat pribadi sih. Hahaha tapi serius loh apa cuma saya doang yang sudah umur 25 tahun tapi kelakuan masih receh nan menggemaskan? * ditipuk*

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Hai, gaes....

Di penghujung bulan Juni ini dan besok udah mulai masuk kerja (hmmm mendadak bete 😂), saya akan membahas tentang Self Reward. Yang udah baca tulisan saya tentang Sharing : Uang Gaji Kalian di Pergunakan untuk apa? pasti kalian sudah tau bahwa setiap bulannya saya selalu menyisihkan uang gaji saya untuk memberikan achievement kepada diri saya sendiri atau biasa disebut self reward.

Apa itu self reward?

Secara sederhana self reward bisa di artikan sebagai memberikan penghargaan kepada diri sendiri karena sudah bekerja keras, berusaha melakukan yang terbaik atau mencapai target dalam hidup atau pekerjaan. Bentuknya macam-macam : seperti pergi berlibur, pergi ke salon atau spa, membeli tas, baju, sepatu, make up dan lain-lain. Intinya, self reward itu menyenangkan diri sendiri. Jadi biasanya kita melakukan dan membeli barang yang sebenarnya nggak terlalu kita butuhkan, lebih kepada yang kita inginkan. Hehehe namanya juga menyenangkan diri sendiri. Ya kan? *alasan supaya nggak di bilang boros*.

Seperti bulan ini saya membeli sepatu yang saya pengenin dari beberapa bulan yang lalu sebagai self reward. Bukan hanya bulan ini, tapi setiap bulan saya hampir melakukan self reward. Beli buku, baju, beli makanan yang di pengenin atau belanja online.

Bagi saya pribadi, self reward itu penting sebagai menghargai diri sendiri karena sudah bekerja keras selama satu bulan : menghadapi pekerjaan menumpuk, stress saat ada sesuatu yang terjadi diluar kendali, emosi yang keluar tak terkontrol ataupun karena berhasil bekerja sesuai target yang direncanakan. Self reward semacam "hiburan" agar hati tetap senang atau pikiran tetap positif seperti..."nggak apa-apa hari ini pulang lembur, nanti pas gajian saya mau beli baju yang saya mau di online shop". 

Yes, self reward being keep positive.

Apakah self reward bisa di lakukan saat mengalami kegagalan?

Sangat bisa dan disarankan agar terhindar dari self punishment. Saat gagal, kita cenderung menghukum diri sendiri dengan mengatakan kata-kata negatif seperti..."saya gagal karena saya ceroboh atau usaha saya tidak maksimal". 

Self reward bisa mengalihkan pemikiran negatif tersebut dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Saya pernah melakukannya ketika gagal interview kerja tahun 2014 lalu. Ketika nama saya tidak ada dalam daftar peserta yang lolos interview, saya otomatis kecewa dan menangis. Terlebih karena itu bukanlah kegagalan saya yang pertama. Kemudian saya mengajak Defbry untuk jalan-jalan naik motor di malam hari. Kita keliling kota Bandung nggak tentu arah. Selama di perjalanan, saya berusaha menghibur diri saya dengan kata-kata positif..."nggak apa-apa Ami, gagal itu hal biasa. Kamu udah melakukan yang terbaik". Sampai akhirnya saya minta berhenti di warung nasi padang dan makan di sana. Besoknya? Saya udah happy lagi 😊

Jadi, buat teman-teman, khususnya yang pekerjaanya penuh under pressure seperti saya, nggak ada salahnya melakukan self reward setiap bulan. Bukan pemborosan, tapi lebih ke upaya agar diri kita tetap semangat bekerja atau melalui hari-hari dengan perasaan gembira. Memang sih motivasi bukan hanya dari self reward saja, tapi setidaknya selain diri kita, siapa lagi yang bisa lebih di andalkan? So, doing self reward! Xoxo

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai, I'm comeback! 

Ramadhan Story kali ini saya akan membahas tentang salah satu buku fiksi Indonesia yang melegenda, khususnya untuk anak-anak atau remaja tahun 80-90an. Yup, siapa yang tidak kenal tokoh Lupus? Bocah SMA yang terkenal dengan penampilan rambut jambul ala vokalis Duran-Duran, tas selempang yang talinya sengaja dipanjangin dan hobi banget makan permen karet.

Lupus tidak seperti tokoh fiksi yang di gambarkan dalam novel-novel jaman sekarang : cakep, tajir, punya geng, naksir cewek cantik dan hobi foya-foya. Bagi saya sendiri khususnya, salah satu daya pikat yang membuat tokoh Lupus masih di kenang hingga sekarang adalah karena banyak sifat dan kehidupan sehari-hari Lupus (yang keliatan sepele) tapi bisa di jadikan teladan.

Dalam seri novelnya, Lupus diceritakan sebagai anak SMA yang apa adanya (kadang terlalu polos), ceria dan hobi ngebanyol (bercanda). Dia hanya tinggal bersama Mami dan adik semata wayangnya bernama Lulu. Keluarga Lupus sederhana tapi membahagiakan. Lupus juga memiliki teman akrab bernama Boim (yang hobi ngutang di warung dan gombalin cewek-cewek) dan Gusur yang kalau makan bisa ngabisin nasi satu bakul.

Salah satu cerita yang paling membekas di ingatan saya adalah Pameran Foto Tunggal (dalam serial novel Makhluk Manis Dalam Bus). Di sana di ceritakan bahwa Anto, teman sekelas Lupus, mempertanyakan mengapa Lupus sangat di sukai oleh teman-teman dan para Guru? Padahal Lupus tidak pintar (tidak pernah masuk ranking 20 besar), hobinya bercanda, puisi-puisi buatannya sederhana, tapi berhasil di tempel di mading. 

Salah satu puisi Lupus dengan judul Sayur Asem :

Sayur asem adalah sayur kesenanganku
Eh, karena kebanyakan makan sayur asem 
semut-semut yang biasanya mengerubungi air seniku, kini tidak lagi karena...asam....

Entah selera humor saya yang receh atau gimana, tapi saya ketawa baca puisinya. Apa adanya gitu loh walaupun garing. 

Dan dari sana Anto menemukan salah satu hal yang patut di tiru daari Lupus adalah...Lupus selalu memandang hidup itu indah.

Saya sebagai pembaca novel Lupus dari seri anak, remaja hingga dewasa, dapat merasakan energi positif dari tokoh fiksi tersebut. Lupus memang tidak pintar dalam akademik, tapi dia pintar menulis dan membuat puisi. Dia tidak malu magang di kantor penerbit dan alasannya sederhana : royalti dari nulisnya dia beliin permen karet, membelikan cokelat toblerone untuk adiknya atau membeli kacamata untuk ibunya. Dalam pergaulan sehari-hari, Lupus selalu menjadi dirinya sendiri. Selalu saja ada ide konyol untuk ngisengin temennya atau ngobrol hal-hal yang seru yang membuat teman-temannya tertawa. Keluarga Lupus bukan keluarga kaya, tapi keluarganya sangat hangat, suka bercanda dan saling membantu. Maminya tidak pernah menuntut Lupus menjadi anak pintar, Mami hanya ingin Lupus tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia.

Dan yeah....

I'm learning a lot from Lupus.

Yang paling penting bukan lah hidup yang sempurna, tapi hidup yang bahagia.

Dengan segala kekurangan kita, tapi tidak rendah diri. 
Dengan segala kelebihan kita, tapi tidak menyombongkan diri.

Kalau kata Lupus : "Selama kita masih bisa melihat matahari pagi, berarti kita masih di berikan kesempatan untuk menikmati hidup. Jadi bersyukur dan berbahagialah".




Oh ya, jika ada yang bertanya, buku apa yang tidak akan pernah saya jual dan berikan kepada orang lain?

Yup, tentu saja, Lupus.


Saya mengoleksi buku Lupus sejak tahun 1997, beberapa ada yang warisan dari kakak saya, beberapa ada yang beli sendiri. Karena saya tipe orang yang kalau suka sama sesuatu, bakal saya simpan dengan sebaiknya-baiknya 😊 Oh ya, awal saya suka membaca dan menulis juga karena terinspirasi dari Lupus.

*nggak ada yang nanya, woooy*

AHAHAHAH


*mudah-mudahan suatu saat bisa ketemu sama penulis aslinya, Hilman.

Amin.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Bagi penggemar Kpop pasti udah pada tau kalau salah satu personil boyband Big Bang, T.O.P di larikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri. T.O.P diduga mencoba bunuh diri sehingga penyanyi asal Korea Selatan tersebut sampai masuk ruang ICU. 

Baca beritanya disini.

Menurut berita yang di lansir, T.O.P di duga overdosis obat anti depresan karena stress dengan kasus narkoba yang di hadapinya. Saya bukan penggemar T.O.P atau Big Bang. Denger lagu-lagunya aja belum pernah (di tipukin penggemarnya 😜). Tapi di dunia selebriti, kasus T.O.P bukan kali pertama atau mungkin banyak selebriti lain yang mengalaminya juga tapi nggak ke-publish media. Dan di dunia ini, khususnya di Indonesia, banyak kasus-kasus mental illness yang masih dianggap sepele. Padahal hal tersebut bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan berakhir dengan...upaya melakukan bunuh diri.

Walaupun saya bukan penggemarnya, saya ikut merasakan apa yang di rasakan abang T.O.P (sok akrab). Bukan sebagai penderita, tapi sebagai orang yang memiliki anggota keluarga penderita mental illness. 

Awalnya, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, saya menganggap sakit mental itu lebay dan mengada-ada. "Ah, kurang bersyukur kali" atau "Ah, lebay itu bukan sakit mental. Itu mah lagi banyak pikiran aja". Ya, saya bicara begitu karena tidak merasakan apa yang di alami penderita. Hingga suatu hari kakak laki-laki saya menderita mental illness. Dari sana saya seperti di tampar.

Nggak banyak yang tau (dan memang saya memilih untuk nggak cerita) kalau kakak saya penderita  mental illness. Sudah satu tahun ini dia melakukan konsultasi dan mengkonsumsi obat-obatan dari psikiater. Dengan harga obat yang tidak murah, I feel it. Feel deep. Tapi sesungguhnya segala keletihan, kesabaran dan usaha kami bukan berawal dari sana. Jauh sejak bertahun-tahun lalu.

Kakak laki-laki saya ini basic-nya memang bandel dari SMP : suka bolos sekolah, bohong ke orang tua, lulus kuliah lama, nggak pernah betah kerja dan lain-lain yang nggak mungkin saya cerita semua di sini. Awalnya kami anggap semua itu hanya kenakalan biasa. Ya namanya juga laki-laki ya. Hingga pernah waktu kuliah dia pulang ke rumah dan ujug-ujug nangis pengen bunuh diri. Kakak saya bawa-bawa pisau di depan ibu. I still remember. Dengan muka polos anak SMP saya cuma bisa nangis.

Bodohnya, kami semua menganggap itu berlalu begitu saja. Tidak ada rasa curiga terhadap kesehatan mental kakak saya. Lagi-lagi kami menganggap itu drama anak kuliah labil yang lagi patah hati. Saya saja baru menyadari ketika sudah dewasa. Ketika semua hampir terlambat untuk di sembuhkan.

Puncaknya tahun 2012 ketika kakak saya resign dari pekerjaannya. Pelan-pelan dia mulai menarik diri dari kehidupan sosial. Kakak saya jadi pemurung, nggak banyak bicara, nggak suka berbaur lagi, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Dia juga mulai kehilangan minat dalam beraktivitas, yang dia lakuin cuma tidur, makan dan mandi. Sholat pun harus di paksa dulu dengan susah payah. Kami semua sudah curiga namun belum ada yang berani ambil tindakan. Jadi kakak saya sempet di biarin aja gitu. Terlebih setiap di tanya jawabnya ngasal atau sambil marah-marah atau nggak di jawab sama sekali. 

Kita mulai sadar (yeah, we are stupid or etc) kalau kakak saya menderita mental illness ketika dia mulai berbicara sendiri, tertawa sendiri dan mengamuk sambil membanting barang-barang di sekitarnya. Saya harus melewati semua itu bertahun-tahun. Mendengar bantingan barang-barang, jeritan bapak saya, tangisan ibu dan kakak perempuan saya.

Saya melewati fase-fase yang mungkin orang lain nggak paham. Dan ini alasan kenapa saya memilih untuk nggak cerita. Orang mungkin bisa mendengarkan cerita saya, tapi belum tentu bisa memahami.

  • Saya pernah ada di fase membenci kakak saya, memutuskan untuk tidak peduli dan membiarkan kakak saya begitu saja. Saya mungkin adik yang jahat, tapi saya manusia biasa yang pernah merasakan capek luar biasa menghadapi kakak saya.
  • Saya pernah ada di fase menangis keras di dalam kamar sendirian kalau kakak saya sudah mengamuk dan tidak terkontrol.
  • Saya pernah ada di fase tidak berani keluar rumah karena malu dengan omongan tetangga.
  • Saya pernah ada di fase bisa marah sejadi-jadinya hanya karena kakak saya tidak bisa membedakan mana gelas miliknya dan milik saya.
  • Saya pernah ada di fase teriak kencang-kencang ketika saya mendapati kakak saya berbicara sendiri tanpa lawan bicara.
  • Saya pernah ada di fase saya malu punya kakak penderita  mental illness.
  • Saya pernah ada di fase paling rendah : pikiran semrawut, stress, nggak tau harus bagaimana dan rasanya pengen menyerah saja.

Tahun 2014 kami baru memulai pengobatan untuk kakak saya. Kami nggak langsung ke psikiater, tapi ke....habib. Semacam pengobatan spiritual. Ya di jaman modern ini, orang tua saya masih berpikir kalau kakak saya mental illness karena ada yang "ganggu". Hmmm oke walaupun agak nganu ya. Satu tahun nggak ada perubahan. Kami mulai nyerah lagi.

Tahun 2016 baru kami memutuskan mulai membawa kakak saya ke psikiater. Bapak menduga kakak saya menderita skizofrenia karena sering mengalami halusinasi, baik halusinasi pendengaran maupun penglihatan. Tapi menurut psikiater, kakak saya menderita depresi. Dan itu sudah lama. Sejak bertahun-tahun lalu. Faktor penyebabnya banyak : bisa karena trauma, rasa tidak percaya diri, mental yang lemah atau ada kejadian menyakitkan yang membekas di ingatannya. Itu yang masih kami cari tau sampai sekarang.

Sejak itu saya mulai berdamai dengan diri sendiri. Lebih tepatnya mulai menerima keadaan kakak saya. Awalnya memang nggak mudah. Saya masih sering emosi dan ujungnya marah-marah. Kemudian lama-lama saya memutuskan untuk membantu penyembuhan kakak saya. Di mulai dari hal-hal kecil seperi menegur kalau dia mulai melamun atau lupa menyimpan barang, mengulang perintah dan pertanyaan dengan sabar, mengajak bicara meskipun tatapan matanya masih kosong dan memperlakukannya seperti orang sehat pada umumnya. Saya mulai memahami dia, bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai manusia.

Oh ya, saya cerita begini bukan untuk di kasihani ya. I accepted sympathy but didn't accepted pity. Keadaan kakak saya juga sekarang jauuuh lebih baik. Ada kemajuan meskipun nggak pesat. Setidaknya dia sudah nggak ngamuk-ngamuk lagi. Dia juga sudah mulai kerja meskipun cuma bantu-bantu. Mau beraktivitas seperti biasa dan pelan-pelan sudah bisa di ajak ngobrol seperti biasa. Periode halusinasinya pun sudah berkurang.

Dari sharing ini saya cuma mau bilang bahwa di sekitar kita sebenarnya banyak yang mengalami hal yang sama seperti kakak saya atau T.O.P Big Bang. Mereka sebenarnya butuh bantuan, tapi banyak yang nggak peka sehingga penderita memilih menanggung beban sendirian atau memilih jalan akhir yang ekstrim. 

Terakhir, mengutip dari kata-kata dalam drama korea It's Okay That's Love :

"Semua orang memiliki penyakit jiwa, hanya saja tidak menyadarinya"

It's true....

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

*note : foto di ambil dari google
 
Dari sebelum Ramadhan tiba, saya berniat menulis sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Ide banyak, tapi eksekusi selalu tertunda karena dasar memang saya pemalas hahaha. Oh iya, penggunaan tema Ramadhan Story ini tidak sengaja ya, tiba-tiba terlintas aja gitu di pikiran xixi.

Daaaan....
Ini merupakan tulisan request dari teman kuliah saya yang juga suka nulis di blog bernama Dhiny. Silakan berkunjung ke blognya untuk membaca tulisannya yang berkualitas disini.

Oke, ngomongin bulan Ramadhan tidak lengkap rasanya tanpa membahas Ta'jil. Apa itu Ta'jil?


"Takjil atau lebih tepat kalau ditulis dengan TA'JIL karena koma diatas sebagai tanda dari huruf AIN (ع). Ta'jil artinya penyegaran. Yang dimaksudkan penyegeraan untuk menyelesaikan atau membatalkan puasa dengan memakan sesuatu. Dalam islam dianjurkan sebelum berbuka terlebih dahulu dibatalkan dengan makan kecil atau bukan makan pokok yang manis, yang dicontohkan rasulullah SAW adalah Kurma" -tulisan di ambil dari berbagai sumber di google.

Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, bulan Ramadhan di Indonesia tentu lebih meriah, termasuk dalam urusan menu berbuka puasa. Sebenarnya sih ya menu Ta'jil itu makanan dan minuman yang sering kita jumpai sehari-hari, tapi berhubung sudah berhasil menahan lapar dan haus seharian, siapa juga yang tidak tergoda untuk membeli es kelapa muda atau es pisang ijo coba haaah? Haha.

Kata Defbry, beruntunglah jadi orang Indonesia karena banyak makanan dan minuman yang bervariasi untuk berbuka puasa. Itu betul. Di Eropa sana, mungkin tidak ada yang jual kolak pisang atau makanan receh macam gorengan bala-bala dan sambal kacangnya.

Berikut Ta'jil favorit saya (selain teh manis hangat) yang mungkin sudah tidak asing atau mungkin hanya ada di daerah saya aja 😁

  • Sop Buah


Sop buah ini bikin sendiri, lupa di hari ke berapa puasa. Saya ganti gulanya dengan sirup tjampolay. Yang belum tau sirup tjampolay, itu salah satu oleh-oleh khas Indramayu dan Cirebon. Favorit saya rasa pisang susu. Nih bentuknya begini : 


  • Es Sarang Burung


Favorit kedua nih selain es buah. Nggak tau sih kalau di daerah lain namanya apa, tapi kalau di Indramayu namanya es sarang burung, terdiri dari agar-agar yang di potong tipis dan buah nanas. Warna umumnya kuning atau hijau muda seperti di gambar. Tergantung warna agar-agarnya sih. 

  • Kurma Keju


Kurma keju di populerkan oleh selebtwit bernama Falla Adinda. Sebenarnya pengen nyobain dari beberapa tahun yang lalu, tapi selalu ragu. Alasannya takut enek atau rasanya aneh. Hingga beberapa hari yang lalu ada sisa keju di kulkas dan kebetulan ada kurma, jadilah saya tergerak untuk mencobanya. Hmmm awal-awal rasanya sedikit aneh, tapi lama-lama.....EH KO ENAK? kemudian tambah lagi. Menurut saya perpaduan rasanya tuh pas : kurma manis, keju asin. Secara saya nggak terlalu suka makan kurma karena suka giung. Jadi, kurma keju bisa jadi alternatif menu ta'jil.

  • Bubur Lemu


Nah, untuk bubur yang satu ini mungkin udah nggak asing ya karena di beberapa daerah juga ada, mungkin namanya saja yang berbeda. Saya nggak tau sih kenapa di namakan bubur lemu. Ada yang tau? Hehe. Mungkin karena buburnya padat jadi di sebut lemu (bahasa jawa yang artinya gemuk). Sotoy banget! 😂

  • Semanggen


Semanggen sebenarnya nggak cocok sih di sebut ta'jil karena biasanya saya jadiin cemilan kalau setelah sholat taraweh. Ya you know lah kalau abis taraweh kan suka lapar lagi, mau makan nasi ya keberatan, jadi makan yang ringan aja macam Semanggen ini. Tambahannya bala-bala atau gorengan lain atau kerupuk mlarat. Oh iya, yang belum tau Semanggen itu jenis makanan apa, saya kasih tau seadanya ya karena saya juga nggak tau bahasa indonesia Semanggen itu apa ya Allah. 😑Semanggen itu jenis tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar sawah. Setau saya tumbuhannya di rebus terus sambalnya pake sambal kelapa. Rasanya enak. Dan setau saya cuma ada di Indramayu hehe.

****

Itulah beberapa ta'jil favorit saya.

Ta'jil favorit kamu apa?


Love.
Amelia Utami

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat itu tanggal 26 Mei 2017 pukul lima sore, satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan, saya baru saja tiba dirumah. Masih menggunakan baju kerja lengkap, saya duduk di atas tempat tidur. Jangan heran, kebiasaan saya pulang kerja memang begitu. Duduk bengong di atas tempat tidur. Kadang main hp, kadang cuma diem (nggak penting? Emberaaaan 😂)


*note : foto di ambil dari google

Sayup-sayup dari luar rumah terdengar gerombolan anak kecil berjalan sambil bernyanyi "Ramadhan tiba, Ramadhan tiba". Kedengerannya sih biasa aja kali ya, tapi yang unik justru saya jadi ingat momen-momen Ramadhan saya waktu seusia mereka. Boleh tanya sama anak-anak yang menghabiskan masa kecil di tahun 90-an, bulan Ramadhan adalah salah satu momen yang paling ditunggu. Yang membahagiakan. Belajar berpuasa meskipun belum mengerti betul kenapa harus menahan lapar dan haus, meskipun hanya tau berpuasa itu untuk menuju lebaran. But it's happiness!

"There is always one moment in childhood when the door opens and lets the future in" -Graham Greene

Bulan Ramadhan saat masih kanak-kanak tentu berbeda dengan saat saya sudah dewasa. Bukan terletak pada kesibukannya, tapi pada feel terhadap bulan Ramadhan itu sendiri.

Hayo ngaku deh, siapa yang merasa makin dewasa makin nggak antusias menyambut bulan Ramadhan? Saya salah satunya tentu saja! 😁

Yaaa kalau di ingat-ingat bulan Ramadhan saat sudah dewasa hampir tidak meninggalkan banyak kesan. Biasa saja gitu. Puasa ya puasa. Sholat ya sholat. Membaca Al-quran ya membaca Al-quran. But my feel so empty. Bukan karena makna ibadahnya ya, tapi lebih ke suasana yang tidak seperti bulan puasa. Apa ini perasaan saya aja? Maybe.

Ketika masih kecil, di luar menjalankan ibadah, saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan bermain. Bulan Ramadhan saat itu terasa sekali suasananya. Di mulai dari jalan-jalan pagi selepas subuh, kemudian di lanjut dari dzuhur sampai ashar main di Musholla. Yeah, we play in holy place (hahaha) : tidur-tiduran, main petak umpet pake mukenah, mendengarkan lagu di radio (I brought it from house 😛) sampai main air di sekitar sumur Musholla. Kemudian saat maghrib kita berebut takjil dan sambil menunggu sholat taraweh, kita rebutan nelfon ke telepon umum. We are happy! Puasa seharian pun nggak kerasa. Beneran deh! Wkwk

Saya tidak tau apakah anak-anak jaman sekarang melakukan hal yang sama seperti saya dulu. Bisa jadi iya. Tapi mungkin sambil bawa hp atau tab 😝 hal yang di bahas juga mungkin bukan seputar telenovela, kartun kesayangan atau lagu-lagu di radio.

Tapi yaaa terlepas dari itu semua, saya rindu bulan Ramadhan saat masih kanak-kanak : tidak ada alasan untuk menunda ibadah karena pekerjaan, tidak ada alasan untuk mengurangi ibadah karena lelah bekerja dan tidak banyak mengeluh haus dan lapar pastinya hehe.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates