Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Pinterest

Tanggal 06 Oktober 2018 merupakan hari "bersejarah" bagi saya. Hari itu saya resmi mengundurkan diri. Setelah berkali-kali kata resign hanya ada di angan-angan dan diucapkan hanya sebatas omongan, nggak nyangka akhirnya sekarang malah menjadi kenyataan. 

Keinginan resign ini panjang banget kalau diceritain. Dari sekian banyak alasan, saya lebih memilih alasan personal yang melatarbelakanginya. Berhubung saya tipe introvert, yang lebih suka memendam perasaan ketimbang bicara, maka saya akan mencoba mengutarakan perasaan saya lewat tulisan.

***

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga konvensional, indikator kesuksesan seorang anak cenderung linear dan bersifat mengikuti norma-norma pada umumnya : lulus kuliah, kemudian bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Mindset ini tanpa sadar tertanam sejak dini, bahkan sekalipun saya memiliki cita-cita lain, pada akhirnya saya "terdampar" pada kenyataan dan menyerah pada mindset yang terlanjur ditanam. Sepintas memang tidak ada masalah, kan? Toh, gimana pun realitas memang berbicara begitu. Saya butuh uang untuk kebutuhan hidup, jadi saya sempat berpikir, "sudah lah takdir saya memang di bidang ini. Yang penting dapat gaji buat belanja, jalan-jalan, dan bantu orang tua. Itu udah bikin saya bahagia."

Tapi benar kata orang...
Ada beberapa kebahagiaan yang tidak bisa di ukur hanya dengan rezeki berbentuk materi. Kegelisahan itu muncul di tahun kedua saya bekerja. Untuk kali pertama saya menemukan diri saya tidak memiliki motivasi, tidak bersemangat, tidak tahu tujuan hidup saya apa, dan merasa kosong. Hidup seperti menekan tombol repeat : tidur, makan, berangkat kerja, tidur. Kalau pun ada yang membuat saya tetap waras, itu adalah hobi tercinta saya : menulis, nonton drakor, dan membaca buku **ditipuk.

Selama ini saya mencoba bertahan dengan pikiran serealistis mungkin : "mencari pekerjaan itu susah, loh. Kamu pernah merasakannya." Ya, saya pernah merasakan susahnya mencari pekerjaan. Sampai hal klise yang sering digaungkan banyak orang : "di luar sana masih banyak orang-orang yang berjuang mencari pekerjaan." Once again yes, thats true. Saya bukan tidak memikirkan. Saya berpikir ribuan kali. Dan pada akhirnya, saya memilih bertahan. Lebih pada ketakutan saya pada hal-hal yang akan terjadi dan ketidakberdayaan saya mengatasi rasa takut itu.

Sebagai seorang Muslim akhirnya saya hanya bisa berdoa. Doa yang paling saya ingat adalah doa setelah sholat dzuha yang isinya : "Ya Allah, jika pekerjaan saya adalah yang terbaik, tolong kuatkan saya untuk bertahan. Tapi jika tidak, tolong berikan yang lebih baik." Berkali-kali berdoa, berkali-kali diyakinkan untuk bertahan. Saya tetap berdoa. Saya tetap minta diyakinkan.

Kemudian pada awal bulan September saya mendapatkan email dari HRD bahwa saya akan di rolling ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Saya sudah punya feeling bahwa orang tua tidak akan mengizinkan. Terus tiba-tiba saya teringat oleh doa saya. Meskipun begitu saya ingin mencoba meminta izin. Saya ingin tahu jawaban mereka.
"Bu, aku dipindah ke kantor sana."
Ibu udah pasang tampang nggak enak (hahaha).
"Udah lah resign aja."
"Kenapa?"
"Kejauhan."
"Yakin?"
"Iya, lagian mungkin memang sudah jalannya. Bukan yang terbaik."

PERSIS SEPERTI DOA SAYA PEMIRSAAAH!

Kemudian coba ke Bapak. Biasanya beliau lebih cerewet karena nasehat-nasehatnya. Alamak, belum ngomong apa-apa mata saya udah berkaca-kaca. Ngebayangin mungkin ini akan melukai hati beliau yang selama ini setia mengantar jemput saya ke kantor.
"Pak..."
"Iya, udah keluar aja."
Ebuset belum ngomong apa-apa.
"Beneran?"
"Emang berani naik bus sendirian kalau pulang malam?"
"Ya nggak"
"Gaji kamu berapa?"
"Segini *sebutin angka*"
"Alah, bakal boros kalau ngekost juga."
HAHAHA PENGEN KETAWA.

KEMUDIAN MENATAP SEDIH SALDO TABUNGAN

Setelah itu saya jadi ingat ucapan teman : "Ami, kalau belum menikah ridho Allah ada di tangan orang tua. Jika orang tua ridho, maka Allah juga ridho."

INI KOK KAYA LAGI MENCARI JODOH YA?

Terakhir dan yang paling penting, adalah bertanya pada diri sendiri. Beberapa hari saya merenung. Mencoba mendengar isi hati meskipun saya orangnya nggak peka. Jangan kan mempelajari petunjuk semesta, isi hati aja sering diabaikan. Belum apa-apa pikiran buruk sudah menggelayuti (haha bahasanya berat)
"Aduh, gimana kalau nanti susah cari pekerjaan lagi?"
"Gimana kalau mau belanja di online shop?" (teteup ya teteuup)
"Gimana kalau mau travelling?" 
Dan seribu pertanyaan gimana gimana lainnya. Lambat laun keputusan itu datang, bersamaan dengan hati yang mantap. Ya pastinya ada banyak komentar.
"Yakin? Susah loh cari kerja tuh."
"Sayang banget udah karyawan tetap."
"Nggak mau coba dulu?"
"Harusnya bersyukur masih kerja."
Dan banyak lagi.
Awalnya jadi ragu lagi, tapi saya lebih memilih berpikir positif. Lagian banyak teman yang kasih semangat, jadi makin yakin dengan keputusan yang dibuat. Ini sih yang bikin terharu. Mereka nggak menghakimi keputusan saya.

Percayalah, nggak ada orang yang mau kehilangan pekerjaan. Se-nggaknyamannya dengan lingkungan kerja, jika dia masih memiliki alasan untuk bertahan, ya dia akan bertahan.

Saya tahu keputusan ini mengandung resiko besar, tapi saya ingin memberikan kesempatan pada diri saya untuk mencoba. Mencoba sesuatu yang saya yakini. Dan memutuskan resign di usia produktif bukan hal yang mudah. Ini seperti gambling. Kalau dibilang nggak takut itu bohong banget. Saya masih takut sampai sekarang. Gimana pun saya juga manusia biasa, bukan malaikat apalagi bidadari.

Di hari pertama saya tidak bekerja, pagi hari Ibu langsung bertanya :
"Ami, nggak lagi ingat kerja,kan?"
Saya tahu Ibu khawatir, padahal saya baik-baik saja. Saya akui, ada rasa kosong di dalam hati, tapi bagi saya itu wajar. Seperti kita beradaptasi dengan suasana baru. Perlu waktu. Dan saya yakin, saya bisa bangkit lagi.

Rasa takut biasanya di iringi dengan rasa berani dan rasa berani di iringi dengan keyakinan. Itu betul loh. Kalau takut gagal terus, kita nggak tahu kan kesempatannya datang kapan lagi? Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang dihadapi.

Jadi, kalau ada yang bertanya rencana saya selanjutnya apa, jawaban saya tetap sama : saya punya rencana, tapi sementara akan menjalani hidup dengan apa yang saya hadapi nanti. Saya tidak memaksa orang lain untuk mengerti jalan pikiran saya. Yang jelas saya menikmati kebebasan ini. Menikmati untuk memilih apa yang saya inginkan.

Mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang bukan hanya "sekadar hidup", tapi juga "benar-benar hidup". Manusia yang bukan hanya menerima manfaat, tapi juga dapat memberi manfaat.

I will walk on my way,
I will shining with my light,
and I will find my dreams.


Love,
Amelia Utami 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Judul : Susah Sinyal
Penulis : Ika Natassa dan Ernest Prakasa
Gramedia, 2018
272 hlm.

Membaca novel Susah Sinyal mengingatan saya pada masa-masa SMP dimana saya suka membeli novel yang diadaptasi dari film Indonesia. Contoh saja : Heart, Kawin Kontrak, dan Rumah Pondok Indah, yang menurut saya "gagal" karena ceritanya malah lebih bagus versi film. Lalu bagaimana dengan Susah Sinyal? Novel ini adalah hasil kolaborasi Ika Natassa dan Ernest Prakasa dari film berjudul sama. Saya sendiri nggak sempat menonton filmnya yang katanya bagus. Saya sih percaya because he is Ernest! Saya jatuh cinta dengan karyanya setelah nonton film Cek Toko Sebelah 😍 Dan begitu tahu film Susah Sinyal akan di novelkan, saya langsung membeli apalagi yang menulis Mbak Ika. Pasti tidak akan ditulis dengan sembarangan dan asal memindahkan adegan film ke buku.

So, this is my review!

(Beware spoiler) 😏

Novel ini bercerita tentang kehidupan Ellen, pengacara yang sukses di usia muda. Ellen selalu punya solusi untuk segalanya, kecuali untuk anaknya sendiri, Kiara, remaja pemberontak yang lebih sering melampiaskan emosi dan kreativitasnya di media sosial. Sebagai single mom, Ellen membesarkan Kiara dibantu ibunya. Tanpa Ellen sadari, hubungan mereka kian renggang dan selalu terganjal masa lalu yang Ellen simpan rapat-rapat.

Salah satu alasan mengapa saya membeli novel ini adalah karena tema yang di angkat, yaitu tentang hubungan ibu dan anak. Di novel Unspoken Words saya menangis, di Susah Sinyal saya termenung. Sebagai perempuan dan ibu, jelas Ellen ini sosok yang tangguh, tegar, dan pantang menyerah. Namun, di balik kesuksesannya siapa sangka bahwa Ellen sangat "takut" dengan anaknya. Ia merasa bukan ibu yang baik selama ini walaupun tujuannya kerja keras siang malam sampai menginap di kantor, semata-mata untuk kehidupan  dan masa depan Kiara.

Segala ada pada waktunya, dan segalanya juga bisa tiada pada waktunya.

Ellen yang mengandalkan mamanya dalam pengasuhan Kiara, akhirnya harus menghadapi anaknya sendiri ketika mamanya meninggal dunia. Disini emosi saya mulai naik. Berasa banget bagaimana canggungnya Ellen dan Kiara saat memulai obrolan, bagaimana anehnya saat Kiara bercerita tentang mimpi dan ambisinya. Mereka seperti dua orang asing. Tidak seperti ibu dan anak.

Kesempatan Ellen untuk memperbaiki hubungannya dengan Kiara didapat ketika mereka berlibur ke Sumba. Meskipun awalnya canggung dan sempat bersitegang, toh mereka menikmati liburan mereka. Dan saya baru paham mengapa judulnya Susah Sinyal. Yes, di Sumba sinyal HP jarang-jarang, apalagi diceritakan bahwa wifi hotel suka hidup mati. Makin terkurung lah Ellen dan Kiara. Tapi tak disangka moment susah sinyal itu membuat Ellen dan Kiara pelan-pelan mulai saling memahami. Betapa Ellen sangat mencintai Kiara, tapi tidak bisa mengatakannya. Betapa Kiara membutuhkan Ellen, tapi takut mengatakannya.

Endingnya...boom!
Cukup mengaduk aduk perasaan. Apalagi saat Ellen menceritakan masa lalunya bersama Andrew, mantan suami dan papa Kiara. Saya semacam...ya ampun jadi ini toh rahasia Ellen. Dan sebagai ibu, Ellen beruntung memiliki anak berbakat seperti Kiara.

4 bintang dari 5 untuk Susah Sinyal!
Untuk kesekian kali saya tidak kecewa dengan tulisan Mbak Ika, dari semua novelnya, mungkin ini salah satu yang saya suka banget. Lugas, to the point, dan gaya menulisnya mengalir seperti ciri khasnya. Oh ya, ada beberapa kalimat yang bikin ketawa ngakak. Nggak diragukan lagi, itu pasti tulisan Ernest!


"Yang tidak banyak dibahas orang secara terbuka adalah bagaimana menjadi ibu tidak pernah hanya satu atau dua dimensi. Motherhood is not state, it's a journey." (Hal 75)



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Gambar pribadi

Melbourne Wedding Marathon
Penulis : Almira Bastari
GRASINDO, 2017, 217 hlm.

BLURB :

Sydney Deyanira
Wanita cerdas, mandiri, ambisius, dan perfeksionis. Sydney merasa patah hati ketika sahabat yang ia kencani selama satu semester terakhir memilih berpacaran dengan orang lain. Dijuluki sebagai ahli percintaan prematur, Sydney mulai berpikir untuk melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menjalin hubungan palsu dengan orang baru.

Anantha Daniswara
Pria sukses, arogan, suka bergonta-ganti pasangan namun masih belum berdamai dengan masa lalunya. Demi memenuhi tantangan mantan pacarnya, Anantha nekat meminta pelayannya sendiri untuk menjadi kekasihnya.

Melbourne bukan kota cinta dan jauh dari kata romantis. Sebagai kota yang paling nyaman ditinggali di dunia, Melbourne menjadi awal baru bagi dua insan yang tertekan dengan rentetan pesta pernikahan!

***

Jadi, setelah membaca novel Resign! saya langsung suka dengan gaya penulisan Almira dan tertarik untuk membaca novel lain dari penulis yang ternyata sebelumnya sudah mengeluarkan novel, yaitu MWM (disingkat aja ya gaes judulnya biar nggak pegel ngetik 😁). Saya beli MWM ini udah edisi revisi karena katanya dicetakan pertama terdapat luar binasa sekali typonya bahkan nama tokohnya tertukar! (editornya mana niiiih?😏)

Awal cerita dimulai dari Sydney yang patah hati karena sahabat yang ia taksir, Rafka, jadian dengan perempuan lain. Sydney yang gagal kembali menjalin hubungan dengan pria, nekat menerima tawaran untuk menjadi koki pribadi di sebuah penthouse milik pria Indonesia bernama Anantha.

Anantha yang belum bisa move on dari pengkhianatan kekasihnya, Danisha, nekat menerima tantangan Danisha untuk pergi ke pesta pernikahan rekan mereka dengan membawa pasangan. Dan satu ide muncul di benak Anantha, menyewa Sydney untuk menjadi pacarnya selama 30 hari dan bersedia menemani dia untuk menghadari pesta pernikahan para koleganya di Melbourne! Singkat cerita, mereka sepakat dan menandatangani kontrak hubungan palsu mereka.

Saya akan review novel ini dari poin-poin yang saya suka, sampai yang kurang saya suka (ini sih selera ya)

Hal-hal yang saya suka dari novel MWM :

  • Judul, blurb, dan tema cerita yang diangkat. Meskipun temanya klise yaitu tentang hubungan palsu, tetapi alasan tokoh utama melakukan itu bagi saya cukup menarik. Jangankan di Melbourne ya, di Indonesia pun banyak yang tertekan oleh rentetan pesta pernikahan dari teman-temannya (sumpah, ini bukan curhat 🤣)
  • Suka banget sama couple Anantha dan Sydney ini! Berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri. Oke, saya jadi tahu satu lagi kelebihan penulis yaitu pintar membentuk karakter tokohnya. Anantha-Sydney mengingatkan saya pada Rara-Tigran di novel Resign! yang sama-sama bikin saya baper. Sydney ini setipe sama Rara : perempuan cerdas, mandiri, dan punya pendirian. Kalau Anantha...hmmm well nggak searogan yang digambarkan di blurb cerita ya. Justru bagi saya Anantha ini termasuk humble untuk tokoh yang dibilang arogan itu, serta saya nggak ngerasa kalau Anantha ini tipe pria yang suka gonta ganti pasangan (???)
  • Saya suka detail-detail dari sikap Anantha dan Sydney. Duh sumpah bikin gremet-gremet gemas 🤣 Anantha yang bersandar di bahu Sydney, Sydney yang merawat Anantha saat sakit, Anantha yang cemburu, Sydney yang lempeng (pokoknya baca aja deh, tar saya diprotes spoiler, lagi 🙈)
  • Endingnya, saya nggak terlalu dapet feel-nya sih, tetapi cukup manis dan so pasti happy ending 😎

Hal-hal yang saya kurang suka dari novel MWM :
  • Masih aja ada typo eeeeerrgghhtt! Nggak ganggu sih, tetapi please deh ini tuh udah edisi revisi.
  • Waktu awal-awal baca saya agak keganggu sama nama-nama tokohnya yang panjang dan suka bikin keselipet lidah, terutama nama lengkap Sydney.
  • Saya nggak suka sama Rafka, baik sebagai sahabat maupun sebagai pria. Sebagai sahabat dia ini....(spoiler) udah mah lebih milih jadian sama Clara daripada Sydney, terus pas Sydney deket sama Anantha dengan mudahnya dia bilang Sydney perempuan gampangan! Cih, padahal Rafka tahu Sydney ada perasaan sama dia, tetapi dia nggak pede karena Sydney lebih pintar dari dia makanya dia pilih cewek lain, tetapi juga cemburu liat Anantha. Maunya apa, toh? Pas dia emosi juga seolah-olah Sydney itu milik dia dan tahu segalanya tentang Sydney. Rasanya tuh pengen bilang ke Rafka :

  • Saya nggak suka sama Danisha dan Clara. Kakak dan adik ini nyaris nggak ada bedanya, dari mulai gaya hidup sama sikap sok berkuasa dan menganggap Sydney itu rakjel (rakyat jelata). Sydney yang kuliah di Melbourne aja dibilang rakjel, apalagi gue yaaaaa hmmm baiklah.
  • Saya nggak suka sama kakek Anantha. Siapa itu? Nah iya, Daniswara! Udah mana nongolnya cuma dikit di novel ini, sekali nongol malah kaya tokoh FTV (spoiler) : menyuruh Sydney menjauhi Anantha dengan menawarkan dia mobil, apartemen, dan segepok uang. Hmmm saya pikir taktik picisan ini sudah musnah.

Terlepas dari semua itu, saya menikmati membaca MWM. Ceritanya ringan khas metropop, ditambah gaya penulis yang lincah dan enak dibaca. Sepertinya, Almira Bastari akan menjadi penulis yang saya tunggu karya-karya selanjutnya.

"Setiap orang pasti memiliki seseorang, yang ia tunggu kabar putusnya."
(Hlm 8)

"Hidup itu pasang surut. Surut kalau kamu jomblo, pasang kalau kamu taken."
(Hlm 20)

"Setiap orang punya pilihan bagaimana ingin mengakhiri cerita yang mereka mulai." (Hlm 187)


Bintang 3,5 dari 5!


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Gambar di ambil dari google
Unspoken Words
Penulis : Alicia Lidwina

Novel ini menjadi novel kedua yang saya baca di tahun 2018 setelah Resign! yang kocak itu. Sengaja beli karena dari blurb-nya kaya sedih gitu. Dan yaaa benar saja :)

Pernah ngerasa bersalah karena pernah dengan sengaja membuang bekal makanan yang di masak Bunda/Mama/Ibu? 
(Saya pernah, waktu SD)

Pernah berantem sama Bunda/Mama/Ibu sampai nggak saling bicara selama beberapa hari?
(Saya pernah, seringkali)

Pernah nggak sengaja membentak dan berkata kasar pada Bunda/Mama/Ibu saat emosi meledak? 
(Saya pernah, dan setelahnya amat sangat menyesal)

Jika kamu juga pernah melakukan hal-hal di atas, maka bersiaplah novel ini akan membawa kamu pada memori masa kecil bersama Bunda tersayang, mengaduk-aduk emosi, kemudian diam-diam menghadirkan penyesalan. 

Unspoken Words menceritakan tentang Kemuning yang bermimpi bertemu dengan almrh Bundanya setelah tujuh tahun kepergiannya. Disetiap mimpi, pembaca dibawa ke memori masa lalu Kemuning, mulai dari kehilangan Ayah, masa kanak-kanak, SD, SMP, SMA sampai kemudian bertemu dengan Samudra, suaminya. 

Novel ini minim dialog. Meskipun begitu pembaca merasakan nostalgia masa kecil. Saya terbayang rumah khas tahun 90-an, gang-gang kecil, lapangan dan teman-teman bermain. Konfliknya hanya seputar antara Bunda-Kemuning, serta Bunda-Kemuning-Samudra. 
Awal-awal memang sedikit membosankan, tapi tahaaaan. Semakin membalik halaman, konflik akan semakin jelas : bagaimana hubungan Kemuning dan Bunda, bagaimana mereka berdua sampai tak saling bicara, bagaimana akhirnya Kemuning menyesal karena tindakannya pada Bunda, hingga tujuan Bunda hadir di mimpi Kemuning. Semua konflik dibuka perlahan-lahan seolah mengajak pembaca untuk menikmati dulu setiap memori demi memori yang diceritakan.

Dari review goodreads sebenarnya udah tau bahwa novel ini akan sedih, tapi saya sangsi karena di bab-bab awal saya masih merasakan perasaan biasa saja meskipun dalam beberapa cerita "saya banget", seperti membuang bekal itu hehehe :))) kemudian memasuki bab-bab terakhir....
YA ALLAH SUDAH ADA AIR MATA DI PELUPUK MATA! INI KENAPA SEDIHNYA MENDEKATI ENDING SIH??? AAARGHHH....


Yang membuat saya kurang puas adalah ending Kemuning dan Samudra. Jadi, setelah saya puas dengan ending Kemuning dan Bunda, saya berharap Kemuning dan Samudra mendapatkan "hadiah" setelah tujuh tahun pernikahan mereka, tapi ternyata tidak. Saya terkecoh dengan kata-kata di mimpi terakhir Kemuning saat Bunda bilang, "Sekarang saatnya kamu yang menjadi Ibu."

4 bintang untuk novel Unspoken Words :

  1. Saya dapat merasakan penyesalan Kemuning.
  2. Saya dapat merasakan rasa kecewa Bunda, tapi di satu sisi dia sangat mencintai anaknya.
  3. Saya suka Samudra sebagai suami. Peran dia pas gitu. Nggak sok menceramahi dan sabar banget mendampingi Kemuning.
  4. Saya merasa sedang nostalgia dengan masa kecil saya.

Finally, buat kamu yang memang sedang rindu dengan Mama/Bunda/Ibu atau belum sempat mengucapkan kata maaf karena telah menyakitinya, novel ini bisa dijadikan reminder. Mudah-mudahan tidak terlambat, karena benar kata orang, saat dia sudah pergi baru terasa penyesalannya :)



Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Gambar pribadi
Cuma butuh satu hari sebenarnya untuk selesaiin novel ini seandainya saya nggak sakit. Sayangnya, saya tumbang jadi baru hari ke dua saya beres ngikutin cerita para cungpret. Itupun saya selesaiin dikantor saking penasarannya!

Satu kata setelah baca Resign! : Ringan. Saking ringannya, nggak kerasa tiba-tiba udah mau beres. Ringan disini artinya bukan nggak berkualitas ya. Tapi ceritanya seger gitu. Gaya bahasa penulisnya nggak belibet. Nah, saya suka nih sama novel-novel metropop model begini. Selain ceritanya yang relate sama kehidupan sehari-hari kita, bahasa yang digunakan juga kebanyakan bahasa Indonesia, nggak campur-campur (ehem).

Oh ya, meskipun metropop, novel ini sangat "ramah" dalam penyebutan brand barang-barang atau tempat makan yang biasanya saya bayangin "wow, gila. Pasti harganya mahal banget" (secara cungpret jelata macam saya biasa makan nasi bungkus kalau makan siang, ye kaaan). Sebelumnya saya juga khawatir karena tokoh-tokohnya kerja di kantor konsultan (yang pasti gajinya nggak kaya saya 🤣), gaya hidup mereka juga hedon. Eh, saya sudah suudzon. Meskipun bos dan cungpretnya merupakan lulusan luar negeri, pernah tinggal diluar negeri dan dari keluarga berada, nggak bikin mereka terkesan "berada" sih. Bahkan si bos suka makan yang menurut saya "gue juga bisa makan disitu" 🤣

Sekarang kita bahas ceritanya :

Jauh sebelum rilis, novel ini sudah populer di situs wattpad. Karena saya bukan penggemar wattpad (saya harus minta maaf sebelumnya karena pernah baca novel wattpad dan sorry ceritanya hmm hmm kaya halu gitu. Tokoh yang terlalu sempurna, setting yang entah ada dimana, logika cerita yang mirip ftv dsb. So, saya pesimis kalau ada cerita wattpad yang naik cetak). Jaminan saya untuk beli Resign! selain ada label Gramedia (entah kenapa saya percaya tim Gramedia nggak mungkin asal pilih cerita di wattpad dan alhamdulillah nggak ada embel-embel tulisan "sudah di baca 5 juta orang di wattpad" pada covernya), juga karena feeling saya berkata cerita Resign! ini saya banget (hehehe curhat terooos).

Resign! bercerita tentang para geng cungpret alias kacung kampret yang anggotanya terdiri dari Alranita, Andre, Karen dan Carlo. Mereka bekerja di kantor konsultan yang memiliki bos super duper nyebelin bernama Tigran. Saking nyebelinnya si bos, mereka sampai buat taruhan siapa yang paling dulu resign! 

Dari sinopsisnya aja, udah nggak sabar kan ngikutin cerita cungpret?

Google

Dan terbukti tingkah konyol mereka, terutama saat gosipin bosnya, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Asli, omongannya pada sempak semua. Nggak ada yang bener. Guyonan khas orang kantoran.

Google
Tokoh favorit pertama saya adalah Rara alias Alranita. Tuh cewek sumpah apes banget nasibnya. Mana punya bos nyebelin, gagal mulu untuk wawancara di tempat kerja baru (yang anehnya selalu ketauan sama si bos) plus selalu kena imbas kalau mood bos lagi nggak bagus. Pokoknya Rara ini hidupnya cuma bangun-kerja-lembur. Besoknya tinggal teken tombol repeat! Ajaibnya, nih cewek masih punya energi untuk bergosip. MBAK, ELING MBAK, TOBAAAAAT! 🤣🤣🤣

Tokoh kedua, Mbak Karen. Dibandingkan Andre, Carlo atau Sandra si anak baru, Mbak Karen ini wonder woman menurut saya. Meskipun sering dimarahin dan dituduh nggak pernah bener kerjanya sama si bos, dia tuh nggak pernah membantah atau jawab sekenanya macam Rara. Tapi ya tapiiii, setelah si bos nggak ada baru deh keluar sumpah serapahnya 🤣

Mbak Karen keluar dari ruangan Tigran :


Geng Cungpret ke Mbak Karen :


Tigran :


Tokoh ketiga favorit saya tentu sajaaaaa (teriak nggak yaaaa), Tigran. Nggak peduli para cungpret ini gosipin dia tiap hari atau ngatain bujang lapuk nggak laku (sempak, kan? 😂), tapi Tigran ini sebenarnya baik loh. Oke omongan dia nyebelin plus kalau ngasih revisi kerjaan lebih kejam dari dosen pembimbing saya waktu kuliah, tapi kalau dipikir-pikir lagi dia tuh sebenarnya kesepian. Kurang kasih sayang karena keluarganya pada jauhan gitu kali ya. Kalau saya sih punya bos ganteng, single, tajir melintir, plus kalau ngasih bonus nggak pelit, HAMBA RELA DI MARAHIN!

Oke Tigran, I'm comiiiing


*digaplok sama para cungpret*

Meskipun Resign! nyaris sempurna, bukan berarti novel ini tanpa cela. Masalah teknis sih kaya masih ada typo atau paragraf sama yang di ulang sampai tiga kali! Ehem ehem PR buat editornya nih kalau nanti cetak ulang.


Liat review di goodreads katanya ending cerita terlalu terburu-buru. Menurut saya sih enggak ya, justru yang masih keganjal di hati itu perpindahan perasaan Rara dari yang nggak suka bosnya sampai kemudian jatuh cinta. Itu bagi saya kurang detail dan gregeeet!

PEMBACA BUTUH ALUR TARIK MUNDUR CANTIK BIAR DEG DEG SEEEER!


Terus ya terus si Tigran ini ganteng-ganteng, tapi norak. Masa nembak Rara di parkiran kantor??? Ketahuan si Carlo, lagi!

Yang lebih apeu banget, si Tigran ngelamar Rara di bioskop! Yup, tajir-tajir sableng 🤣 ajak ke restoran kek, Tigran.

Terus.....
Ko nggak ada kisseu-nya khas metropop?

EH BUSET PEMBACA BANYAK MAUNYAAA!


Akhir kata, Resign! sangat menghibur. Serius, fresh banget abis baca buku ini. Bukannya mau resign, saya malah mau ngetawain diri sendiri 😁 Thank you geng cungpret dan pastinya Mbak Almira. Di tunggu novel selanjutnya, ya 😎

Oh ya, kata-kata paling ngena menurut saya :

Diambil dari instagram penulis : almirabastari

Kalau bos saya ngomong kaya gini...RESIGN, JANGAN?

Star 4,5 dari 5 untuk Resign!



Love,
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Buku ini sempat menjadi trending topic di berbagai media sosial dan setelah dua bulan sejak membeli -ya, bahkan sudah berganti tahun 😁, akhirnya saya selesai juga membaca kisah hidup pemilik toko buku sekaligus pecinta buku, A.J Fikry. Begitu menutup buku, saya menghembuskan nafas dalam. Bukan karena ceritanya membosankan, tapi karena ending cerita yang tak terduga cukup mengaduk-aduk perasaan saya. Sedih, tapi bahagia. Begitulah kira-kira.

Cerita di mulai dari bab pertama berupa cuplikan novel Lamb to the Slaughter, 1953, karya Roald Dahl (jangan tanya novelnya, gue juga nggak tau 😂😂😂) ; "Istri membunuh suaminya dengan kaki domba beku, kemudian "mengenyahkan" senjata tersebut dengan menyajikannya ke para polisi." Bab awal yang menarik menurut saya. Oh ya, jangan kaget karena setiap bab akan ada cuplikan dari novel-novel pilihan A.J. Fikry dan..baiklah nggak ada satu pun novel yang diceritakan pernah saya tau apalagi baca *jawaban yang jujur* 🤣🤣🤣

Setelah kehilangan istrinya karena meninggal akibat kecelakaan, A.J. (btw, saya bacanya ajay. Bodo amet 🤣) merasa hidupnya hampa dan tidak terlalu bersemangat dalam mengolah toko bukunya sehingga penjualan merosot tajam. Harta berharga satu-satunya, yaitu buku kumpulan puisi Poe yang langka, hilang di curi orang (dan di akhir cerita sedikit kaget begitu tau siapa yang mengambilnya). Di saat A.J. semakin terjerumus oleh tumpukan buku-buku, ia bertemu dengan wiraniaga buku dari penerbit bernama Amelia dan menemuka "paket" di toko bukunya berupa seorang balita berusia dua tahun, yang kemudian diberi nama Maya dan di adopsi A.J. sebagai anaknya. 

Hari berlalu, pelan-pelan A.J menemukan kembali semangat hidup dan melupakan kesedihannya. Bersama Amelia, A.J. banyak berdiskusi -berdebat lebih tepatnya- mengenai judul-judul buku yang di sukai maupun yang tidak di sukai. Hidupnya juga lebih berwarna karena kehadiran Maya yang cerdas dan menyukai buku sehingga Maya seperti "hadiah" atas kesedihannya selama ini.

The Storied Life of A.J. Fikry ini sebenarnya cerita yang ringan (menjadi berat karena saya tidak tau judul-judul buku yang ada di dalamnya apalagi jika sudah di kaitkan dengan percakapan🤣). Mungkin faktor itu yang membuat novel ini menurut saya jadi biasa aja. Tapi terlepas dari itu, kisah hidup A.J. memberikan saya pelajaran ; manusia tidak bisa hidup sendiri. Bahkan manusia kaku dan "sinis" seperti A.J. membutuhkan wanita dan teman baik dalam hidupnya. 

Kutipan pada bab terakhir adalah favorit saya, sekaligus paling emosional dalam membaca kisah A.J di detik-detik terakhir ;

Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian.
Kita membaca karena kita sendirian.
Kita membaca dan kita tidak sendirian.
Kita tidak sendirian. (Hal 263)

A.J. seperti pahlawan di Pulau Alice. Bahkan ketika dia sudah tiada. Toko bukunya. Buku-buku yang di jual. Festival buku yang di adakan. Perdebatan yang sengit tentang alur cerita. Seperti baru kemarin, tapi ternyata sudah bertahun-tahun berlalu. Perasaan "kehilangan" itu setidaknya mengena di hati saya sampai halaman terakhir 😊

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Photo by Pinterest
Sebagai mbak-mbak kantoran yang sudah bekerja lebih dari dua tahun, bohong banget kalau selama itu saya selalu menikmati pekerjaan saya. Ada kalanya saya dalam keadaan tertekan, stress karena jumlah pekerjaan yang banyak, bosan dengan rutinitas kerja yang itu-itu saja atau karena sedang tidak sepaham dengan rekan kerja. Jika ada yang berkata : "Gue mah nggak pernah stress di tempat kerja", yang langsung ada di benak saya : "Seriously? Gimana caranya? Ko saya nggak bisa? Bahkan saya pernah nangis ketika tiba dari rumah selepas pulang kerja". Biasanya karena keletihan yang luar biasa menguras fisik atau karena simply saya merasa pekerjaan semakin nggak terkendali.

Pernah merasakan? Tenaaang kamu nggak sendirian. Sesekali mengeluh itu manusiawi. Toh kita manusia biasa. Bukannya kita tidak bersyukur dengan pekerjaan yang kita miliki, tapi ada keadaan yang memang tidak dapat kita kendalikan. Ya nggak apa-apa. Di keluarkan saja. Kalau mau nangis, ya nangis. Mau marah, ya silakan (asal jangan di depan orang lain atau malah sering kebablasan nggak sadar seperti saya? Haha). Intinya kalau udah merasa stress atau tertekan, nggak usah sok-sokan tegar atau kuat. Kita memang bukan superman atau supergirl ko. 

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari rasa stress itu, minimal kita tau apa yang harus kita lakuin saat stress melanda kembali 😂 menurut pengalaman pribadi, stress dapat di atasi ketika kita tahu penyebab atau pemicunya. Misalnya, saya biasanya akan stress ketika menjelang akhir bulan. Kenapa? Karena kerjaan numpuk bak air bah hahahha lebay tapi serius. Terus biasanya menjelang datang bulan. Bagi perempuan, pasti tau banget deh rasanya gimana. Mood kacau, tapi kerjaan harus tetap selesai tepat waktu. Kemudian saat bos beres cuti atau meeting dari luar kota, karena pekerjaan saya membutuhkan tanda tangan beliau, otomatis kalau beliau nggak ada pekerjaan saya terpending dan akan super busy beberapa hari kemudian.

AAAAARRGGGHHH!!!!

Atasan saya di kantor pernah bilang, saat rekannya bertanya dia harus bagaimana saat stress menghadapi pekerjaan, beliau dengan enteng menjawab : "Ya nggak gimana-gimana. Di kerjakan lah". Dari situ saya mikir. Ada benarnya juga ya. Maksudnya gini loh, saat kita stress menghadapi pekerjaan jalan satu-satunya ya memang harus di hadapi dan di kerjakan. Kalau cuma diem dan meratapi juga percuma. Pekerjaan nggak kelar-kelar, stress juga nggak berkurang. Yang ada malah nambah. Tapi ketika kita berhasil menyelesaikan pekerjaan kita (dengan di iringi rasa tertekan, marah yang membuncah, mengeluh dan bla bla bla), setidaknya beban kerjaan kita berkurang daaan biasanya rasa stress juga ikut berkurang.

Inget aja mantra : "This is just a bad day, not a bad life" sambil menyelesaikan pekerjaan. Pokoknya saat sedang stress di tempat kerja, sebisa mungkin saya bilang dalam hati : "Ini akan segera berlalu" atau "Kalau dikerjakan nanti, bakal numpuk ni kerjaan dan yang ada gue makin stress". Haha sejauh ini sih ampuh. Oh iya, yang paling penting istirahat sejenak saat mulai merasa letih. Biasanya sih saya ngobrol sama rekan kerja atau jajan di warung depan kantor 😁

Memiliki hubungan baik dengan atasan dan rekan kerja juga sangat penting dalam mengatasi stress di tempat kerja. Justru keduanya berperan besar saat kita berada di lingkungan kerja. Kebayang dong makin stressnya kalau kerjaan numpuk, punya atasan yang nyebelin atau rekan kerja yang annoying? Hih! gaji besar juga rasanya percuma ya. Maka beruntunglah kamu jika hanya sekedar stress dengan pekerjaan, tapi memiliki atasan yang masih memberikan support atau rekan kerja yang masih bersedia membantu.



Semangat bekerja!

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Peringatan :
Yang belum nonton filmnya di harapkan jangan membaca tulisan ini karena akan bertebaran spoiler-spoiler yang tidak dapat di tahan oleh penulis.


Gambar di ambil dari google
Memutuskan untuk memilih menonton film Ayat-ayat Cinta 2 bukan hanya sekedar mengisi hari libur, tapi juga ada "kewajiban" sendiri karena tahun 2008 saya membaca novel dan menonton film Ayat-ayat Cinta 1 dan yeah untuk tahun segitu film dengan tema religi masih sangat baru. Wajar jika sekuel pertama sangat booming dan meraih jumlah jutaan penonton. Siapa yang tidak kagum dengan sosok Fahri? Pintar, sederhana, rajin ibadah dan memiliki hati yang baik.

TA'ARUFIN AKU, FAHRI....
TA'ARUFIN AKUUUUU...

*mulai gila*

Bagaimana dengan sekuel keduanya? Duh sebelumnya pengen banget bilang. Apa sekarang lagi musim ya, film ada sekuelnya gitu? Padahal sekuel pertama endingnya sudah sangat jelas bagi saya, kecuali film AADC 2 yang memang endingnya gantung kaya jemuran belum kering. Oh ya, nanti bulan Februari juga ada film Eiffel I'm In Love 2. Pada latah kah? Atau beneran mau mengajak penonton nostalgia? *merasa tua*. Tapi kayanya saya bakalan nonton juga deh *anaknya mudah tergoda*

Oke, balik lagi ke film Ayat-ayat Cinta 2. Tanpa membaca novelnya (bahkan saya tidak tau ada lanjutan novelnya), film ini masih bisa di ikuti dengan mudah. Saya akan bahas dari segi pemain yang beberapa ada yang baru dan di ganti.

  1. Fahri (Fedi Nuril) not change. Bahkan sudah 9 tahun berlalu, bahkan sudah ada cincin yang melingkari jarinya ehem. Not change dalam artian dia tetap Fahri yang dulu, yang bisa ibadah dimana saja bahkan di dalam kelas dengan diliatin oleh mahasiswa-mahasiswanya (ini serius) dan bisa ditebak beberapa mahasiswi yang cantik itu terkagum-kagum padanya. Bukan hanya mereka, karyawan Fahri di mini market bahkan Hulya, sepupu Aisha, ngefans kepadanya! Intinya, Fahri tetep di gandrungi oleh ciwi-ciwi di sekitarnya. Oh ya, jangan khawatir dengan akting Fedi Nuril. Dia memerankan Fahri sama seperti dulu! Ya ekspresinya, ya muka kucelnya yang sederhana (haha), cara bicaranya serta suaranya dalam melantunkan ayat-ayat al-quran yang seketika bikin hati adem kaya di payungin (apaan 🤣)
  2. Aisha (Dewi Sandra, sebelumnya diperankan oleh Rianti C) bagi saya porsinya sedikit di film ini untuk ukuran istri Fahri. Tidak banyak bicara dan lebih banyak diam. Mungkin ini karena...(nanti dibahas dalam segi cerita). Akting Dewi Sandra not bad lah, meskipun saya masih terbayang-bayang wajah Rianti saat menontonnya hehe.
  3. Hulya (Tatjana Saphira). Saya jatuh cinta dengan akting Tatjana sejak film Sweet 20 dan sebagai Hulya, she is impressive! Karakter Hulya termasuk yang mencuri perhatian saya : pintar, ramah, mudah bergaul dan ceplas ceplos. Lihatlah beberapa kali Fahri sampai terkesima dan salah tingkah dengan segala perhatian Hulya.
  4. Keira (Chelsea Islan) berperan sebagai violist yang memendam kebencian kepada Fahri karena kematian ayahnya saat bom bunuh diri di London akibat serangan terorist. Keluarga Keira menganggap Fahri dan semua muslim adalah terorist. Saking bencinya, setiap bertemu Fahri, kerjaan Keira ini hanya marah-marah atau mengumpat sampai matanya melotot (perlu banget nih sampai melotot? 🙄)
  5. Hulusi (Pandji), asisten Fahri dan Misbah (Arie Untung), teman Fahri adalah dua pemain pembantu yang bagi saya "menyelamatkan" film ini dari unsur dark dan serius. Akting mereka berdua selalu mengundang tawa, juga sangat setia menemani Fahri melewati hari-harinya yang muram.

Selanjutnya saya akan membahas dari segi cerita :

Cerita di mulai dari hilangnya Aisha yang menjadi relawan di daerah konflik Gaza, Palestina. Diceritakan sudah lama tidak ada kabar dari Aisha dan tidak jelas nasibnya apakah sudah meninggal atau masih hidup, sehingga membuat hari-hari Fahri menjadi muram. Untungnya kegiatan Fahri sebagai dosen di Universitas Edinburgh sedikit membuat Fahri melupakan kesedihannya. Hingga datanglah Hulya, sepupu Aisha dari Jerman, untuk melanjutkan studi di universitas yang sama seperti Fahri. Hulya membuat hari-hari Fahri kembali ceria.

Konflik pertama di mulai ketika Fahri membantu seorang wanita bercadar bernama Sabina dan menampungnya di rumah sebagai asisten RT. Semua penonton langsung ribut-ribut.

ITU PASTI AISHAAAAAAAA!

Tapi kemudian inget lagunya Five Minutes :

AISHA TELAH PERGI. 
PERGI MENINGGALKANKUUUU.....

Oke, maap.

Pelan-pelan kehadiran Hulya membuat Fahri memiliki tekad untuk melanjutkan hidupnya. Singkat cerita, keluarga Hulya datang ke London dan berniat menikahkan Fahri dengan Hulya. Disinilah terkuak bahwa Sabina sebenarnya adalah Aisha.

TUH KAN NALURI PENONTON TUH TIDAK PERNAH BERDUSTA, WAHAI BAPAK SUTRADARA!

Alasan Aisha selama ini berbohong adalah karena ingin menutupi wajahnya yang cacat akibat terluka saat di penjara di Gaza (rada ngeri pas adegan ini) dan sebagai wanita dia sudah gagal karena mengalami keguguran 2x dan akan susah untuk hamil kembali.

Puncak konflik adalah ketika Fahri memutuskan untuk move on dan melamar Hulya sebagai istrinya. Aisha atau Sabina yang menyaksikannya tidak tahan untuk pergi dan menangis. Kenapa ya tokoh Aisha ini dari Ayat-ayat Cinta 1 selalu dalam posisi mengalah, berkorban dan ikhlas menerima? Dengan alasan "asal Fahri bahagia, saya juga bahagia". ATUHLAH! *mulai emosi*

Hulya hamil anak pertama Fahri dan itu membuat penonton yang tadinya berharap Fahri akan bertemu kembali dengan Aisha, pupus seketika. Mungkin selamanya Aisha akan menjadi Sabina...

Tapi ya tapi namanya juga film, selalu ada kejutan yang tak terbayangkan hahaha. Hulya ini nasibnya seperti Maria, menjadi istri Fahri hanya sebentar. Iya, sebentar. Hulya yang tengah hamil besar, tak sengaja bertemu dengan Bahadur (inget tokoh jahat di ayat-ayat cinta 1?) dan terluka saat menyelamatkan Aisha. Hulya berhasil melahirkan anaknya dengan selamat, tapi nyawanya tidak tertolong lagi. Saat menunggu Hulya di RS, Fahri baru menyadari bahwa Sabina adalah Aisha. Sambil menangis Fahri meminta maaf karena selama ini telah buta tidak menyadari kehadiran Aisha...

TELAT, MAS. MADINGNYA UDAH KEBURU TERBIT! 

Hmmmm lagian emosi juga sama si Fahri. Okelah muka Aisha itu tertutup cadar dan (maaf) cacat, tapi masa sih nggak menyadari suara istrinya atau gesture tubuhnya? SUNGGUH TEGANYA DIRIMU DIRIMUUUUUU ~~~~

Dan yang lebih nggak masuk akal, saat wajah Aisha di operasi plastik menyerupai Hulya. YA KENAPA HARUS MIRIP HULYA? KENAPA NGGAK MUKANYA AISHA AJA? PENONTON BUTUH PENJELASAAAAN!

Dan tokoh Keira juga, udah di bantu oleh Fahri diam-diam dan ketika tau, ujug-ujug minta di nikahin. CIH, EMANG MENIKAH SEMUDAH ITU? JANGAN HARAP!

Jadi, kesimpulannya apa ?
Kesimpulannya adalah untuk kembali ke Aisha, Fahri harus poligami dulu hahaha. Nggak ding, bercanda. Ya kesimpulannya ayat-ayat cinta si Fahri itu ya Aisha. Mau di buat ayat-ayat cinta ke 5 juga kayanya ujungnya tetap sama Aisha. Dan menurut saya tidak ada laki-laki yang sempurna seperti Fahri yang tetap berbuat baik kepada orang-orang yang menyakitinya. Tidak ada pula wanita yang sempurna seperti Aisha yang menerima dengan ikhlas cinta suaminya terbagi dengan alasan asal Fahri bahagia.
Tapi kita semua bisa mengambil pelajaran dari film ini bahwa berbuat baik itu tidak mengenal siapa dia, darimana dia berasal dan agamanya apa. Dan terakhir, ada satu ucapan Fahri yang membekas, intinya adalah yang membuat kita memiliki cinta adalah rasa cinta itu sendiri, yang membuat kita memiliki sikap permusuhan adalah rasa permusuhan itu sendiri.

Happy holiday!

Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pinterest
Pernah nggak sih kita merasa begitu sedih ketika orang-orang yang pernah dekat dengan kita, satu persatu pergi dan nggak menyisakan kesan apa-apa? Ya pergi aja gitu. Udah. Seolah-olah keberadaan kita bagi dia atau mereka sebatas itu saja. Sebatas "gue pergi ya". Dan akhirnya blaaaas. Tidak ada kabar. Ketika bertemu, hanya bertegur sapa sepantasnya. Tidak ada lagi obrolan akrab yang mengundang cerita, apalagi tawa.

Kemudian satu persatu pertanyaan muncul di kepala : "gue punya salah apa ya?" atau pikiran "jangan-jangan selama ini gue yang terlalu baik sampai menganggap dia atau mereka yang dekat dengan kita adalah segalanya" dan berbagai pikiran lain yang akhirnya hanya akan menyalahkan diri kita sendiri.


It's life, darling...

Orang-orang datang dalam kehidupan kita.
Mengisi hari-hari. Membawa cerita. 
Kemudian mereka pergi.
Mungkin bukan karena kita.
Mungkin karena sudah saatnya pergi, meskipun tanpa meninggalkan pesan dan alasan.

Memang begitulah hidup,

Bertemu dan berpisah
Datang dan pergi
Yang tersisa hanya diri sendiri dan...orang-orang yang masih dapat kita lihat.
Maka berterima kasihlah kepada mereka, atas keberadaannya di antara yang sudah tiada.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Suatu hari pernah bilang ke Defbry : "Dep, jangan jadi pasangan yang insecure ya. Perasaan insecure itu lebih berbahaya dari cemburu."

Kenapa berbahaya? Insecure bisa di artikan sebagai perasaan tidak aman atau tidak percaya diri sehingga menimbulkan perasaan yang selalu curiga dan prasangka buruk. Ini tidak baik bagi sebuah hubungan karena kita wajib melaporkan segala kegiatan kita (lagi ngapain, ada dimana, sama siapa dan bla bla) dalam periode waktu yang berdekatan dan nyaris tanpa jeda. Awalnya rasa insecure itu mirip dengan rasa peduli atau kekhawatiran, tapi menjadi tidak wajar jika sudah mengganggu kehidupan kita.

Saya pribadi pernah mengalaminya. Itulah kenapa saya ingin sharing melalui tulisan di blog ini. Ketika awal-awal pacaran dengan Defbry, namanya juga lagi bahagia-bahagianya ya, kami hampir setiap hari menghabiskan waktu berdua (terlebih kami satu kampus dan jarak kosan kami dekat) : berangkat ke kampus, makan, ngerjain tugas, masak, main ke mall dan lain-lain (kecuali tinggal bareng ya, nanti di grebek lagi 😜). Setiap Defbry nggak ada kabar (padahal baru beberapa jam lalu ketemu) bawaannya khawatir mulu. Takut dia lagi jalan sama cewek lain atau dia lagi bales chat teman-teman ceweknya sedangkan chat saya di abaikan. Rasa nggak aman itu berlanjut dengan membombardir Defbry melalui chat whatsapp atau telfon berkali-kali. Terus begitu sampai ada kabar kalau dia lagi ngapain dan dimana. Lengkap dengan omelan panjang saya yang nggak terima karena nggak di kasih kabar. Apakah sampai situ saya sudah puas? Belum! Ketika bertemu Defbry hal pertama yang saya lakukan adalah meminjam HP dia. Memeriksa seluruh chatnya, media sosial bahkan saya pernah cek inbox email dia (hahahampun da! Sinting banget kalau di inget-inget). Secara pribadi Defbry memang nggak keberatan karena dia merasa nggak ada yang di sembunyiin. Chat-chat dengan teman perempuannya tidak ada yang dia hapus. Tapi anehnya, saya masih merasa tidak aman. Saya masih merasa...bahwa saya di bohongin.

Tanpa sadar, saya sudah terjangkit "virus" insecure... 🤣

Gimana saya bisa sadar dan terlepas dari insecure? Saat kami LDR! Saya pulang ke Indramayu dan Defbry masih stay di Bandung. Di saat hubungan kami rawan selingkuh atau retak karena jarak, justru saya lebih rileks menjalani hubungan dengan Defbry. Perasaan takut, khawatir dan prasangka buruk hilang perlahan-lahan. Mungkin karena saya lebih menghargai waktu pertemuan kami yang nggak se-intens dulu. Ditambah saat Defbry harus kuliah di luar negeri dan saya sudah sibuk bekerja, saya justru nggak ada pikiran buruk sama sekali tentang hubungan kami. Saya lebih memilih berpikir positif. Dan pikiran positif membantu saya dalam me-manage waktu kerja, menghubungi Defbry dan waktu untuk diri sendiri. Disaat semua balance, saya merasa happy.

Insecure itu melelahkan loh karena pikiran kita terkuras untuk "meladeni" pikiran buruk dan rasa tidak aman. Meskipun insecure tidak separah posesif yang sampai melarang kita berkegiatan atau bertemu dengan orang-oramg selain dia, tetap saja insecure tidak dibenarkan menurut saya. 

Oke, dia pasangan kamu, tapi hidup dia bukan hanya seputar tentang kamu selama 24 jam full. She/he is just human too. Dia punya keluarga, kehidupan sosial, kehidupan pekerjaan, hang out bersama teman-temannya dan tentu saja waktu me time. Insecure one of relationship goals? No, itu termasuk gejala mental illness! Kalau nggak ngecek hp pasangan, berasa nggak aman. Kalau pasangan sedang bersama dengan teman-temannya, berasa nggak aman. Kalau pasangan nggak ngabarin lebih dahulu, berasa nggak aman. Kalau insecure dijadikan alasan supaya pasangan nggak selingkuh, ya ampun apa kabar yang LDR beda negara. Kalau nggak mengandalkan teknologi dan kepercayaan, mau mengandalkan apa haaaaa? Percaya deh, kalau orang dasarnya mau selingkuh, insecure atau nggak insecure, dia akan tetap cari cara untuk sembunyiin.

LELAH NGGAK SIH, BOOO?

Jadi come on ...

Ngebebasin pasangan tuh bukan berarti kita nggak peduli atau nggak sayang. Tapi memang ada waktunya kita menghabiskan waktu dengan pasangan, sama keluarga, teman-teman atau bahkan waktu buat diri sendiri.

You are special. You are everything. Tapi give me time to karokean sama temen-temen tanpa hp bunyi ribut dengan pertanyaan insecure kamu, please...

Hahahaha.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Iseng-iseng ngadain pooling di Instagram mau bikin postingan apa di blog, dua dari lima DM yang masuk, menyarankan untuk posting review skincare. Baiklaaah, posting pertama akan bahas skincare dulu. 

DAN LANEIGE LAGI!

APAKAH INI EFEK BRAND AMBASSADOR-NYA YANG BARU NIKAH? 🤣

Nggak, dasar aja saya ketagihan *elus-elus dompet* 

Setelah postingan sebelumnya membahas Laneige Anti-Pollution Care kali ini saya akan membahas Laneige Good Night Care Kit dan Sun Cream. Semuanya kemasan kit ya alias travel size. 

1. Lip Sleeping Mask


Ini favorit banget. Super love! Jangan judge ukurannya yang super mini. Isinya padat dan sekali colek bisa buat olesin seluruh bibir. Digunakan sebelum tidur. Wangi stroberinya harum dan lembab di bibir. Sampai bangun tidur pun masih terasa lembab. Sebelumnya, saya suka pake lip balm dulu sebelum pake lisptik karena bibir saya kering dan suka ngelupas. Sejak pake Lip Sleeping Mask, saya bisa langsung pake lipstik yeeey! 😄

2. Eye Sleeping Mask


Kabar baik untuk yang memiliki mata panda 🐼. Eye Sleeping Mask bisa membantu kamu mengurangi lingkaran hitam dibawah mata. Bentuknya gel. Setelah menggunakan kurang lebih 2 minggu, terlihat lingkaran hitam dibawah mata saya memudar. Hilang keseluruhan sih belum ya, tapi setidaknya nggak keliatan hitam banget. Kesannya lelah banget ya booo menjalani hidup yang berat ini #tsaaaaah.

3. Water Sleeping Mask


Sleeping Mask sudah di bahas di postingan sebelumnya ya. Bedanya hanya di aroma saja, yaitu Lavender. Karena ini kali kedua saya pake sleeping mask, sesuai anjuran dari web resmi Laneige, cukup digunakan 3 sampai 4 kali dalam seminggu.

KEBAYANG NGGAK TUH SEBELUM TIDUR PAKE 3 SKINCARE SEKALIGUS! 🤣🤣🤣

4. Watery Sun Cream


Awalnya iseng beli ini karena sun cream saya abis. Saya pikir bentuknya gel atau air gitu, ternyata bentuknya krim padat. So far sih cocok di wajah saya karena belum ada efek samping kaya wajah merah atau timbul jerawat. Meskipun cocok, tapi saya merasa kurang nyaman digunakan diwajah saya dibandingkan dengan sun cream sebelumnya dengan merk lain. Nggak nyamannya karena saat di aplikasikan di wajah, saya merasa wajah saya tebal kaya pake bb cream (btw, saya nggak suka pake bb cream karena nggak cocok). Belum lagi creamnya agak basah (mungkin karena watery) jadi saat ditimpa pake bedak, ya bedaknya kurang nempel. Selama ini solusinya, setelah pake laneige sun cream, saya diemin dulu beberapa menit baru setelah itu ditimpa bedak. Untuk daya tahan okelah, karena dipake aktivitas siang hari sampai sore muka masih tetap cerah 😃

Sekian review-nya, sekali lagi balik ke kondisi kulit wajah masing-masing ya. Belum tentu cocok atau nggak cocok. Kalau saya tipe orang yang nekad kalau cobain skincare. Beli dulu, baru tau hasilnya. Tapi ada baiknya baca review produknya dulu.


Love.
Amelia Utami
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • DRAMA KOREA (5)
  • KATA BICARA (4)
  • RANDOM (1)
  • REVIEW (49)
  • SahabatDifabel (1)
  • SHARING (24)
  • THOUGHT (81)
  • TRAVEL (17)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  November 2020 (1)
      • Dilema Penulis Pemula
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (3)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (2)
    • ►  Februari 2018 (2)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (47)
    • ►  Desember 2017 (3)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (5)
    • ►  Agustus 2017 (8)
    • ►  Juli 2017 (6)
    • ►  Juni 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (6)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (2)
    • ►  Februari 2017 (5)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (23)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (4)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Juli 2016 (3)
    • ►  Juni 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (1)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember 2015 (2)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  Oktober 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (4)
    • ►  Juli 2015 (5)
    • ►  Juni 2015 (6)
    • ►  Mei 2015 (15)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (3)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (2)
  • ►  2014 (25)
    • ►  Desember 2014 (2)
    • ►  November 2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  Agustus 2014 (5)
    • ►  Juli 2014 (4)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (1)
    • ►  Maret 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (2)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Agustus 2013 (2)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  Januari 2013 (2)
  • ►  2012 (13)
    • ►  Desember 2012 (2)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Agustus 2012 (4)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  Februari 2012 (1)

Pinterest

Visitors

Followers

Populer Post

  • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
    Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
  • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
    Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
  • Pengalaman Belanja Buku Via Online
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
  • Pengalaman Menjalankan Diet GM
    Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
  • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
    Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

Profil

Foto saya
Amelia Utami.
Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates