Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

REVIEW SHARING THOUGHT TRAVEL

Amelia Utami.

"I never mean to start blogging, I think it's late. But if I didn't start to write, I would never start nothing"

Gambar di ambil dari asianwiki.com
Release Date : 
6 November 2015 - 16 Januari 2016

Network : TvN

Plot :

Pada tahun 1988, Duk Sun (Hyeri), Jung Hwan (Ryoo Joon-Yeol), Sun Woo (Ko Gyung-Pyo) dan Dong Ryong (Lee Dong-Hwi) adalah pelajar SMA dan Taek (Park Bo-Gum) adalah pemain Baduk profesional. Kelima orang itu sudah berteman sejak mereka kecil. Mereka semua tumbuh bersama sebagai tetangga dan keluarga mereka sangat dekat satu sama lain. Mereka selalu berkumpul di kamar Taek dan menghabiskan waktu bersama-sama.

Keluarga Duk Sun miskin dan mereka tinggal di rumah bawah tanah. Ayah Duk Sun (Sung Dong-Il) kehilangan uang karena menjamin hutang untuk orang lain. Namun demikian, Duk Sun memiliki kepribadian yang ceria dan suka menyanyi dan menari. Dia suka berkelahi dengan kakaknya, Bo-Ra (Ryoo Hye-Young).

Jung Hwan sangat suka sepak bola dan keluarganya paling kaya di antara teman-temannya. Sedangkan Sun Woo adalah murid teladan di sekolah, anak yang baik dan kakak yang baik dirumah. Ibu Sun Woo membesarkan Sun Woo dan adiknya sendirian sejak ayah Sun Woo meninggal dunia. Dong Ryong gemar menari dan bergaul dengan empat teman-temannya. Dia menyerah mendaftar ke universitas karena skor akademisnya buruk.

Taek adalah pemain baduk dan suka dijuluki sebagai "Tuhan". Semenjak Drop Out dari sekolah, teman-temannya hanya Duk Sun, Jung Hwan, Sun Woo dan Dong Ryong saja.

sumber dari AsianWiki


*****

Meskipun saya penggemar berat drama korea, tapi saya tidak pernah membuat review khusus di blog saya. Alasannya karena pasti ulasannya banyak dan jujur saja saya males hehe. Tapi untuk drama yang satu ini, saya sengaja membuat review khusus. Sayang saja kalau tidak dibuatkan review.

Oke,kita mulai saja...

Dibandingkan series Reply sebelumnya, yaitu Reply 1997 dan Reply 1994 (belum nonton sampai selesai), bagi saya Reply 1988 adalah yang TERBAIK dan HIGH RECOMMENDED! Terlepas dari #teamJungHwan atau #teamTaek, terlepas dari banyak kritikan netizen yang mengatakan dua episode terakhir adalah yang paling buruk (alah, ini sih bagi #teamJungHwan kaliiii :p), drama ini memiliki banyak pesan moral.

Plot utamanya masih tetap sama ala series Reply, yaitu menebak siapa yang akan menjadi suami Duk Sun di antara ke empat sahabat laki-lakinya. Kalau di Reply 1997 kental sekali cerita romance-nya, di Reply 1988 semuanya imbang. Persahabatan, kekeluargaan, percintaan dan hubungan antar tetangga.

Oh ya waktu drama ini rame akan segera tayang, saya sempat meragukan bahwa Reply 1988 tidak akan sesukses series Reply sebelum-sebelumnya. Alasannya karena semua pemain utamanya tidak terkenal dan tampangnya ya saya akui biasa-biasa saja. Ditambah dengan setting tahun 1988 yang lebih jadul dari 1994 dan 1997. Kebayang dong gaya fashion mereka kaya apa hahaha. Dan awalnya saya pikir akan mengalami kesulitan ketika mengikuti drama ini.

Reply 1988 juga mencatat sebagai series Reply dengan episode terbanyak, yaitu 20 episode dengan durasi yang panjang yaitu satu setengah jam-dua jam/episode.

Ada beberapa kelebihan yang di miliki oleh Reply 1988 yang membuat drama ini berkualitas :


  • Tema. Semua imbang. Walau benang merahnya tetap menebak siapa yang akan menjadi suami Duk Sun. Kamu akan merasakan paket komplit ketika menonton drama ini : persahabatan, kekeluargaan, percintaan dan hubungan antar tetangga. Yang terakhir, saya harus memberi tepuk tangan untuk penulis skenarionya. Siapa sih yang kepikiran akan membawa tema hubungan antar tetangga di sebuah drama? ini secara tidak langsung "menampar" para penonton. Di zaman modern ini, hubungan antar tetangga tidak sedekat ketika kita masih kecil. Sekarang kita lebih acuh dan cuek. Tidak lagi tau apa yang terjadi dengan tetangga kita. Kita hanya bertemu dengan mereka di jalan saja dan hanya menyapa. Di Reply 1988, kita akan menyaksikan bagaimana hangatnya hubungan antar tetangga yang sekarang jarang kita temukan : saling berbagi makanan, menengok tetangga ketika sakit, membantu ketika tetangga mengalami kesulitan dan ikut bahagia ketika mendengar kabar baik dari tetangga.

Belum bisa makan malam kalau belum bagi-bagi makanan ke tetangga :D 
  • Plot yang matang dan rapih. Dari episode pertama sampai terakhir memiliki line story yang unik. Reply 1988 adalah drama korea pertama dengan durasi panjang yang tidak membuat saya bosan. Durasi satu setengah jam tidak terasa karena saya menikmati alur cerita dan jatuh cinta pada setiap karakter tokohnya.
  • Alur cerita lambat tapi masih enak di ikuti. Bisa di hitung dengan jari scene Duk Sun dewasa dan suaminya di tahun 2015. Selebihnya alur mundur. Bahkan di episode ke 18 belum ada tanda-tanda jelas yang menunjukkan siapa suami Duk Sun! Bikin frustasi pokoknya. Semua masih serba bias. Menonton drama ini juga dijamin membuat perasaan kita jungkir balik. Ketawa ngakak, senyam-senyum, terharu sampai nangis termehek-mehek. 
  • Akting para pemainnya. Baru kali ini juga saya jatuh cinta pada semua pemeran di sebuah drama korea. Bukan cuma pemeran utamanya saja, tapi pemeran pembantunya juga. Akting mereka tidak ada yang berlebihan. Semua sesuai dengan porsi peran masing-masing. Dan ciri khas dari series Reply adalah akting pemainnya yang natural. 
  • Properti yang digunakan benar-benar mengajak kita ke kehidupan tahun 1988. Adegan iklan di tv sama olimpiade juara banget! Entah dapet darimana semua properti itu.
  • Drama yang memorable. Reply 1988 akan menjadi drama paling memorable. Saat drama ini selesai, sejujurnya saya ikut sedih karena sepanjang 20 episode saya di ajak bernostalgia dan ikut merasakan kenangan-kenangan masa muda yang di alami oleh para pemainnya. Apalagi ada backsounds dengan lagu-lagu barat yang terkenal pada tahun 80an, seperti Right Here Waiting, Falling in Love With You dll. Sepertinya saya akan susah move on nih hmmmm.
Berikut adegan-adegan terbaik dari Reply 1988 

Adegan terlucu :

Kapan lagi nemu adegan edan ini selain di Reply 1988? HAHAHA

Adegan romantis untuk tim Jung Hwan :



Adegan romantis untuk tim Taek :




PUKPUK UNTUK JUNGHWAN!!!!

Adegan paling haru :

CERITA TENTANG KELUARGA DOK SUN. UDAH ITU AJA.

Saat ayah memberikan kejutan ultah untuk Dok Sun. Karena keluarga Dok Sun miskin, ayah merayakan ultah Dok Sun dan Bora secara bersamaan setiap tahunnya.
Dok Sun menangis saat melihat kamar kosan kakaknya sangat kecil
Ayah memberitahu pada ibu bahwa hutangnya sudah lunas dibayarkan dan mereka bisa hidup kembali dengan layak seperti keluarga lainnya.
Saat para tetangga memberikan bunga kepada Sung Dong Ill yang akan menghadiri perpisahan pensiun dini.
 KAPAN LAGI COBA BISA LIAT TETANGGA YANG PEDULI BEGITU? HUH!
Dok Sun membacakan plakat untuk ayahnya karena sudah bekerja keras dan sekarang resmi pensiun
Satu hari sebelum Bora menikah, ayah membuatkan nasi goreng untuknya dan mereka berdua makan bersama. Mau nangis rasanya karena bisa ngerasain perasaan seorang ayah yang akan ditinggal putrinya menikah.
    ADEGAN YANG BIKIN PATAH HATI :


    SURUH SIAPA NGGAK BERANI NGUNGKAPIN CINTA? SURUH SIAPA HAAAH? GILIRAN DI DULUIN TEMEN SENDIRI MALAH NYALAHIN TIMING. BAAAAH!
    *emosi banget banget pas adegan ini*

    Adegan yang bikin nangis termehek-mehek:

    PERNIKAHAN BORA

    Sung Dong Il bener-bener jago meranin ayah dengan muka memelas begitu. Adek sampai nangis, bang :(


    Bora melihat sepatu yang ia berikan pada ayahnya ternyata kebesaran dan disumpal dengan menggunakan tissue.
    Saat ayah membaca surat dari Bora
    Saat Bora membaca surat dari ayah. Siapin tissue yang banyak :(
    YANG AKAN DI RINDUKAN :






    *****

    SATU KEKURANGAN DARI REPLY 1988, YAITU TIDAK DITAMPILKANNYA PERNIKAHAN DOKSUN DAN TAEK. YANG DITAMPILKAN JUSTRU PERNIKAHAN BORA. PADAHAL BUKAN MEREKA YANG JADI PEMERAN UTAMAAAA GGRRRRR!


    Dok Suk dan Taek di masa tua. Pokoknya jangan ngarepin adegan yang banyak dari mereka. Mereka cuma mau nongol di akhir-akhir episode.


    Kesimpulan :

    Sebenarnya dari awal saya termasuk #teamTaek. Bukan karena tidak suka Jung Hwan, bukan itu. Karena kalau akhirnya sama Jung Hwan pun itu nggak berpengaruh untuk saya. Saya menonton drama ini murni karena suka dengan tema-tema yang di angkatnya, termasuk adegan-adegan yang bikin baper hehehe. Saat tau suami Duk Suk adalah Taek, saya akui saya bahagia banget. Tapi terlepas dari itu, percaya deh, tanpa adanya ship-ship-an, drama ini layak banget untuk di tonton.

    *****

    Terima kasih sudah membaca. Salam dari Jin Joo.


    Notes :

    Gambar di ambil dari pribadi dan berbagai sumber


    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    2 komentar
    Sebelum me-review bukunya, saya mau sedikit curhat dulu. Sebenarnya saya merasa bersalah, tepatnya pada diri saya sendiri karena postingan pertama di tahun 2016 ini baru dimulai di bulan Februari. Telat banget kan? huhuhu. Karena kesibukan saya bekerja yang hampir tiap hari pulang malam, saya nggak punya waktu dan energi untuk menulis. Padahal di kepala kecil saya ini sudah banyak ide-ide berterbangan, tapi terpaksa ditahan-tahan dan akhirnya....lupa! Hahaha.

    Cukup disini curhatnya,mari kita mulai review bukunya. ^^



    Gambar di ambil dari bentangpustaka.com
    Saya memutuskan untuk membeli novel ini karena dua alasan : 
    1. Penasaran. Walaupun saya anaknya penakut, tapi membaca cerita horror saat travelling bagi saya adalah hal menarik. Travelling yang identik dengan kegiatan have fun justru tidak lepas dari kejadian-kejadian ganjil yang tidak terlupakan. Dan membaca cerita horror travelling tentu feel-nya sangat berbeda dengan menonton film horror. Imajinasi kita lebih "hidup" dan rasakan sendiri sensasinya hahaha.
    2. Novel ini ditulis rame-rame. Bukan hanya oleh mbak Trinity saja, tapi juga oleh sebelas traveler lainnya. Ini juga menarik karena setiap traveler pasti punya cerita horror masing-masing.
    Dari sebelas cerita horror yang ditulis, hanya tiga cerita saja yang membuat saya benar-benar merinding dan minta ditemenin ke kamar mandi hahaha.
    • Oh No, Nagano! (Trinity) 
    Rasanya tepat sekali menempatkan Oh No, Nagano! sebagai cerita pembuka. Masih dengan gaya khas penulisan Trinity, cerita ini berhasil membuat saya merinding dan sempat terbayang-bayang. Nggak tau kenapa pas baca saya keingetan hantu Sadako dan sudah tidak diragukan lagi bahwa hantu-hantu Jepang adalah yang paling seram. Jangan lupakan ilustrasinya yang benar-benar bikin nggak bisa lupa sama ceritanya.
    • Gedebug! (Ariy)
    Urutan kedua ada Gedebug! Saya ini dari kecil suka banget baca cerita horror dari bangunan-bangunan tua penginggalan zaman penjajahan Belanda. Seperti ada nilai history-nya gitu, bukan hanya cerita horror biasa. Nah, cerita  Gedebug! ini kebetulan lokasinya di Semarang, nggak jauh dari Lawang Sewu. Nah, baca sendiri deh! 
    • Bermalam Jumat di Balai Desa Little Batavia (Rocky Martakusumah)
    Ini juga sama nih. Lokasinya di Lebong Tandai, kawasan tambang emas yang terkenal pada zaman penjajahan Belanda. Emas yang ada di tugu Monas berasal dari sana. Julukannya kala itu adalah "Batavia Kecil". Menurut saya yang membuat seram justru bukan cerita horror yang di alami oleh sang penulis, tapi justru perjalanan penulis menuju tempat itu. Bayangkan kalau kamu ada di rombongan mereka, malem-malem naik kereta mini bernama "molek", yaitu kereta kayu kecil bermesin diesel 10 PK yang digunakan untuk menyusuri hutan belantara sekitar tiga hingga empat jam, bo!

    ...sering kali molek nyasar ke luar jalur dan penumpang harus turun untuk gotong royong mengangkat molek kembali ke rel (hal 131)

    Duh...nggak kebayang gimana seremnya! Belum lagi hutannya masih lebat. Gimana kalau ada harimau Sumatera nongol? atau makhluk-makhluk lainnya? Hiiiiiiy!!!



    ****

    Cerita lainnya, bagi saya tidak terlalu seram. Bahkan ada yang tidak seram sama sekali dan sempat membuat kening saya keriting. Itu cerita horror atau lagi curhat? Saking booring-nya! Jadi, buat kamu-kamu yang penakut seperti saya, jangan takut. Percaya deh, novel ini nggak begitu seram, hanya sedikit menakutkan.

    Bintang 4 dari 5.
              
    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    1 komentar
    Kalau udah pernah liat drama korea Producers pasti tau deh dengan tokoh Cindy yang di perankan oleh artis cantik IU. Nah, Cindy ini punya hobi mewarnai kalau dia lagi nggak ada job (ceritanya doi penyanyi) atau kalau dia lagi stress.
    Awalnya saya pikir ko kaya anak-anak ya hobinya. Tapi ternyata kegiatan mewarnai sekarang sedang trend di kalangan orang dewasa. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan, tapi secara psikologi, mewarnai dapat meredakan stress, kecemasan dan penat, terutama bagi karyawan seperti saya yang kerjanya selalu menggunakan otak kiri. Untuk lebih jelasnya bisa baca disini.

    Sekarang buku mewarnai untuk dewasa sudah banyak beredar di toko buku, baik membeli langsung atau lewat online. Banyak tema dan covernya yang menarik. Serius deh, saya aja rasanya pengen memborong semua. Gemes-gemes ilustrasi covernya! (Tuh bayangin, baru liat covernya aja udah happy!). 

    Pilihan saya jatuh pada The Magical City terbitan Gramedia. Alasannya karena bukunya besar jadi puas mewarnainya, illustrasinya juga kayanya akan "saya banget" karena imajinasi saya serasa akan di ajak jalan-jalan beneran. Soal harga, relatif mahal tapi it's ok dengan isi 100 halaman. Walaupun saya harus kecewa karena buku tersebut stoknya kosong di toko buku online langganan saya. Akhirnya saya pilih buku colouring dari Penerbit Haru. Hmmm saya baru denger nih nama penerbitnya. Tapi karena di iming-imingi diskon 30% karena baru terbit di tambah cover dan judulnya oke, yaitu Once Upon A Time. Illustrasinya pasti tentang negeri dongeng nih! Sip, menarik.

    Penampakan bukunya. Bonus stiker, loh. Hehe

    Illustrated by :
    Irene Ritonga 

    68 Halaman

    Penerbit Haru

    Harga : Rp. 45.500 (30%)

    bukabuku.com


    REVIEW

    Cover, judul dan tema menarik bagi saya. Untuk harga standar ya di bandingkan buku colouring dari illustrator luar. Ilustrasinya yang sudah saya duga, gemas-able banget! Rasanya pengen di warnain cepet-cepet semuanya. Oh ya, untuk gambar bolak-balik ya. Awalnya saya pikir akan tembus setelah di warnai, ternyata nggak! Kertasnya tebal, jadi kalau mau mewarnai pake spidol atau crayon nggak akan tembus kayanya. Ukurannya yang nggak lebar dan jumlah halamannya yang nggak banyak, bikin buku ini nyaman di bawa kemana-mana. Yang mengganggu hanya satu yaitu buku ini fisiknya kaya buku bacaan, yaitu lemnya rekat banget. Kalau buku bacaan sih nggak masalah, toh isinya tulisan. Kalau buku mewarnai? Hmmm agak mengganggu ya ketika membalikkan halaman selanjutnya. Jadi, mewarnainya kurang leluasa.




    Untuk pensil warna, saya pilih Faber Castell (ini bukan promosi ya haha) isi 36. Lumayan lengkap warnanya dan untuk kualitas silakan menilai sendiri.



    Sekian review-nya dan HAPPY COLOURING!!!! :)


    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Kebetulan banget ini hari kamis alias malam jumat. Kalau di twitter sih nanti malem pasti rame main hastag #memetwit, yaitu orang-orang yang cerita tentang pengalamannya bertemu dengan makhluk halus. Berhubung gue orangnya agak penakut, jadi memutuskan untuk cerita di siang bolong. Alasannya? ya menurut eloooooo?

    Sebenarnya gue nggak di anugerahi bisa "melihat" yang begitu (puji Tuhan bersyukur banget dan amit-amit jangan sampai ketemu), tapi gue kadang-kadang sensitif denger suara "mereka". Macam-macam bentuk suaranya. Dan gue nggak bisa mastiin juga sih kalau itu "mereka". Ya bisa aja tikus, benda jatuh atau suara tetangga gue. Tapi suara yang selama ini gue denger sih, gue jamin itu "mereka".

    ****

    Pengalaman pertama denger suara begitu sekitar umur delapan atau sembilan tahun. Gue lupa persisnya. Yang jelas waktu itu rumah gue belum semodern sekarang, masih model rumah tahun 90'an dengan jendela nako dan kaca yang besar-besar. Nah, di samping rumah gue itu ada tanah kosong. Nggak luas. Karena di depannya itu ada rumah pemiliknya. Kalau gue bilang sih itu kaya halaman rumah tapi agak nggak keurus aja. 

    Ceritanya malem hari (ya iyalah kalau siang mana ada!). Jadi gue waktu kecil tidurnya bertiga sama teteh dan ibu di kamar tengah. Kamar itu persis berhadapan banget sama tanah kosong itu. Jadi gue sering denger tetangga gue nyapu atau ngobrol. Gue kebangun tengah malem karena denger suara perempuan ketawa. Ketawa keras yang ngikik-ngikik. Dan tawanya keputus-putus. Gue dengerin aja sambil nutupin muka gue pake bantal. Suaranya kedengeran sampai tiga kali. Setelah itu....blas. Nggak ada lagi. Gue yang waktu itu masih polos nggak ngerti itu suara apaan sampai pagi harinya gue cerita ke teteh, dan ternyata....teteh dan ibu juga denger. Dan katanya udah biasa. Secara di situ juga ada kandang ayam dan biasanya "mereka" itu nakut-nakutin si ayam. Gue juga nggak paham sih. Gue cuma bisa bengong karena sebenarnya tanah kosong itu tempat favorit gue kalau lagi main petak umpet malem-malem -_____-'".Oh ya, sekarang tanah kosong itu udah di bangun rumah.

    Pengalaman kedua waktu gue kelas dua SMP. Waktu SMP kan gue ikut eskul paskibra dan waktu itu mau ngadain kemping di Cibulan, Kuningan. Sebenarnya ini bukan acara resmi sekolah, tapi acara internal eskul yang dapet izin dari sekolah. (ribet!). Kita janjian di sekolah dari jam sepuluh pagi untuk briefing dan bla bla. Rencananya kita berangkat siang karena nggak mau sampai sana kesorean. Secara jarak Jatibarang-Kuningan sekitar tiga jam. Belum lagi naik ke tempat kemahnya yang katanya di daerah pegunungan. 

    Jam dua siang mobil yang mau membawa kita belum dateng-dateng juga. Entah kenapa waktu itu gue punya firasat nggak enak. Gue udah mau batalin ikut tapi ngak enak sama temen-temen yang lain. Setelah nunggu lumayan lama, akhirnya mobilnya dateng jam....tiga sore. Di perjalanan kita nyanyi-nyanyi, ngobrol dan...tidur. Begitu bangun, matahari udah tenggelam dan kita belum sampai juga. Gue mulai panik. Dari kecil gue paling nggak demen naik-naik daerah pegunungan saat matahari udah tenggelam. Ya you know lah.

    Sekitar jam setengah tujuh malam, mobil berhenti di depan rumah besar. Rupanya jalan kecil di samping rumah itu adalah patokan jalan masuk menuju perkemahan Cibulan. Yang artinya kita harus jalan kaki menuju tempat kemah. Gue pikir tempat perkemahannya itu deket, jadi okelah nggak masalah jalan kaki juga. Lagian rame-rame ini. 

    Eh tapi ternyata......
    Track jalannya itu kaya naik gunung, bo! Naik-naik terus. Hampir nggak ada jalanan datar. Gue dan temen-temen lainnya harus ekstra hati-hati jalannya sambil bergandengan tangan, karena jalannya bener-bener curam, gelap dan yang pegang lampu senter cuma beberapa orang. Jalanan makin naik, nafas gue mulai tersengal-sengal. Sedikit-sedikit berhenti dan setiap kali berhenti, yang gue liat cuma jalanan gelap. Nggak ada tanda-tanda orang kemah. Firasat gue makin nggak enak karena kita udah jalan hampir satu jam dan belum sampai-sampai ke tempat perkemahan, sedangkan hari makin gelap, perut laper dan tenaga udah hampir abis karena cape di jalan. 

    Usut punya usut, ternyata kita salah jalan euy...
    Pelatih gue agak-agak lupa sama rute jalannya karena waktu survey itu siang, sedangkan kita sampai pada malam hari. Gue akhirnya mulai tumbang, nafas gue rasanya udah mulai abis. Gue minta istirahat sebentar di tanah datar sambil kakinya di pijitin sama salah satu pelatih gue. Baru aja beberapa menit duduk, sayup-sayup dari arah belakang gue kedengeran suara anak laki-laki kecil lagi nangis. Gue liat sekeliling gue, temen-temen gue pada cuek. Mereka lagi minum dan istirahat juga. Gue akhirnya diem aja, karena mungkin itu cuma perasaan gue aja. 

    Sebagian temen-temen gue memutuskan untuk jalan duluan, sebagian lagi tetap istirahat. Suara orang nangis di belakang gue makin deket dan kenceng. Gue mulai gemeteran. Nggak berani nengok ke belakang. Masalahnya nggak mungkin banget ada anak kecil di tengah pegunungan kaya gini. Malem-malem lagi. Dan di belakang gue itu kalau nggak salah tebing jurang. Gue mulai kesel ke temen-temen gue yang masih pada cuek. Masa sih mereka nggak denger? padahal suara tangisnya itu kenceng banget, cenderung memilukan. 

    Akhirnya gue memutuskan untuk jalan. Pelatih gue kaget karena kaki gue masih kram. Tapi gue nggak peduli. Mending kaki gue kram daripada denger suara orang nangis mulu tapi nggak jelas sumbernya darimana. Makin gue jauh jalan, suara nangis itu makin nggak kedengeran. Kami akhirnya tiba di tempat perkemahan yang aslinya sih rame banget. Kita bikin tenda, beres-beres, masak, makan dan langsung tidur. Pagi harinya gue udah lupa sama suara serem itu karena di suguhi oleh pemandangan air terjun yang menakjubkan.


    ****

    Itu cuma sebagian pengalaman sih, sebenarnya ada cerita lagi tapi nanti deh kapan-kapan gue ceritain. Ini aja gue ngetiknya sambil nengok kanan kiri. Huahahahaha.

    Love.
    Amelia Utami.
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Pekerjaan sudah di dapat, walaupun tidak sesuai dengan minat dan bakat, tapi saya masih merasa nyaman. Karena apa? karena uang salary hampir selalu saya habiskan untuk menyalurkan hobi saya, seperti membeli buku, membeli barang-barang perintilan untuk mendekor kamar dan sisanya saya tabungkan untuk bekal travelling. Ditambah saya memiliki rekan-kerja yang baik. Dengan semua itu harusnya sih saya sudah puas dan cukup happy, tapi kenyatannya hati saya masih terus mencari. Mencari sesuatu yang harusnya "masih" bisa saya kejar. Kamu boleh bilang saya masih belum ikhlas, kurang bersyukur atau serakah. Terserah, sih. Tapi itu yang akhir-akhir ini saya rasakan.

    Dan puncaknya, saat Defbry menelfon dan kita nggak sengaja ngobrolin topik ini. Saya bilang :

    "Aku ini bingung sebenarnya mau jadi apa".

    "Loh, kan udah kerja?"

    "Iya, tapi kurang puas sama management-nya".

    "Yaudah resign".

    "Terus mau cari kerja apalagi?".

    Kerja sesuai dengan minat itu nggak mudah. Butuh waktu yang lama, konsistensi, fokus dan nggak boleh menyerah. Baru keberuntungan itu datang. Sedangkan kerja nggak sesuai minat juga nggak mudah, butuh semangat baja dan hati yang lapang. Dan saya berada di tengah-tengah. Lebih parah. Karena saya tidak bisa mengambil keputusan yang tegas. Galau. Mau melangkah kesana takut nyesel. Mau tetap bertahan takut kesiksa.

    Akhirnya Defbry jawab begini :

    "Yaudah kerjain aja apa yang kamu bisa sekarang".

    "Iya".

    "Kerjain apa yang udah di mulai".

    "Iya".

    "Tetep berpikir positif, maka yang akan datang pada kita adalah hal-hal yang positif juga".

    "Iya"

    Sebelumnya sempat berpikir, apa saya kurang beruntung ya? tapi buru-buru pikiran itu di tepis. Alih-alih buruk sangka sama Sang Pengatur Hidup, benar kata Defbry, lebih baik saya intropeksi diri sambil terus belajar. Nggak masalah terus mencari, toh kalau itu memang "milik" kita, pasti segala sesuatunya akan di tunjukkan. 

    Be positive!

    Love.
    Amelia Utami.
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Saat saya masih duduk di bangku SD, saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi murid SMP. Kemudian setelah merasakan, kembali saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi murid SMA, kemudian menjadi mahasiswa dan bekerja. Apakah saya akan mengalami banyak kesulitan ketika menjalankannya atau semua fase itu berlalu begitu saja tanpa banyak hambatan, hanya menyisakan kenangan indah dan kurang indah yang tidak bisa di hindarkan.

    Kenyataanya, tumbuh menjadi dewasa tidaklah mudah, namun tidaklah juga sulit. Tergantung bagaimana kita menghadapinya dan bagaimana kita dapat melihat dari berbagai sisi. Bukan hanya sisi positif saja berupa catatan kebaikan-kebaikan kita, tapi juga sisi negatif yang akan membuat kita belajar tentang hal-hal yang tidak terduga.

    Sekarang umur saya sudah 23 tahun. Umur yang katanya sudah mulai masuk tahap dewasa. 23 tahun yang menurut saya cukup "mengejutkan", tapi juga terasa biasa-biasa saja tanpa banyak perubahan berarti. 23 tahun yang bagi saya tidak pernah di bayangkan akan seperti apa, akan menjadi apa dan akan terjadi apa. Banyak hal-hal tentunya di luar dugaan saya. Tidak jarang membuat saya sedih, kecewa, marah, bahkan sampai pada titik yang terpuruk. Banyak keinginan yang tidak terwujud, harapan-harapan yang tidak tersampai bahkan mimpi-mimpi yang masih menggantung. 

    Pada satu titik saya berpikir : "Oh ternyata seperti ini permasalahan yang di hadapi oleh orang dewasa". Bukan hanya sekedar permasalahan cinta atau bingung memilih model sepatu, tapi jauh lebih kompleks dari itu. And yeah life is school, we all are students (88 Love Life).

    Tumbuh menjadi dewasa berarti harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena keputusan kecil saja bisa berdampak bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk beberapa tahun ke depan. Bukan berarti saya takut untuk berani melangkah. Hanya saja ada beberapa pertimbangan yang harus di pikirkan matang-matang.

    Tumbuh menjadi dewasa berarti harus belajar berlapang dada jika keinginan saya tidak terwujud. Ada hal-hal yang memang bukan "milik" saya dan saya harus lebih percaya akan ada banyak hal yang lebih baik kedepannya.

    Tumbuh menjadi dewasa bukan berarti terbebas dari kesalahan. Saya kadang bertindak tanpa berpikir, berbicara tanpa merasakan, mempercayai orang dengan mudah dan melakukan banyak kesalahan. I admit it and want to learn to correct that mistake, isn't that the point? dan jangan terburu-buru untuk menghakimi kesalahan orang lain. Learn to listening their reason.

    Tumbuh menjadi dewasa harus bisa memilih mana masalah yang dapat di bagi ke orang lain, mana masalah yang cukup di simpan untuk diri sendiri. Bukan untuk sok tegar, tapi terlebih karena menyimpannya jauh membuat diri saya lebih baik. 

    Tumbuh menjadi dewasa harus berusaha kuat untuk berdiri dengan kaki sendiri, tidak selalu bergantung pada orang lain. Belajar untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan sendiri. 

    Sampai detik ini saya juga masih merasa gamang dan bingung, lebih tepatnya cemas jika apa yang sudah saya kerjakan hari ini atau keputusan yang sudah saya ambil akan membuat saya menyesal di kemudian hari. Namun, di sisi lain saya banyak bersyukur karena masih di beri kemampuan untuk menghadapi hal-hal yang ada di depan mata saya, serta berani mewujudkan mimpi saya pelan-pelan. Saya tau, saya tidak akan sendirian. Saya memiliki orang-orang yang menyayangi saya. Saya memiliki diri saya yang kuat dan percaya diri.

    Dan pada akhirnya waktu tetap berjalan, usia semakin bertambah dan kita akan menjadi tua. Yang dapat di pikirkan bukan lagi kita yang akan tumbuh dewasa, tapi hal-hal terbaik apa yang dapat kita lakukan untuk hidup kita :)

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    2 komentar
    Hai, ketemu lagi! :)

    Waktu saya masih menjadi pengangguran, saya pernah janji pada diri saya sendiri untuk menulis posting ketika saya sudah bekerja and finally it's time....udah lumayan telat sih ya sebenarnya, tapi ada beberapa alasan kenapa saya menunda terus memposting hal ini. 
    Yang pertama, saya bekerja dari hari Senin-Sabtu. Punya hari libur cuma hari minggu, itu juga di pake buat istirahat full di rumah atau sekedar bermalas-malasan. Kapan lagi kan, ya? 
    Yang kedua, karena bagi saya bekerja adalah hal yang paling saya tunggu selama hampir satu tahun ini, jadi begitu kesempatan itu datang, rasanya bahagia banget. Saking bahagianya, saya perlu waktu untuk "mencerna" semua ini pelan-pelan. Ibaratnya, saya sudah terbiasa diam di rumah dengan segala kenyamanannya, begitu dapet kerja, ada rasa seperti ketakutan bahwa saya nggak yakin bisa melewati ini semua. Di hari pertama bekerja sih lebih parah, saya sempet-sempetnya merindukan masa-masa pengangguran hahahahaha.

    Bagaimana rasanya bekerja?
    Secara umum saya nggak mengalami kesulitan. Awalnya memang stress, karena di tempat saya bekerja, saya di tuntut untuk bukan hanya menguasai satu posisi jabatan, tapi juga harus siap-siap belajar untuk posisi jabatan yang lain. Awalnya saya di tempatkan di Customer Service, kemudian saya di pindah ke Back Office. Dan sekarang saya sedang belajar teller. Awalnya aneh dan sempet ngeluh-ngeluh mulu, tapi lama kelamaan terbiasa. Saya berusaha mengambil sisi positifnya saja, hitung-hitung saya belajar dan menambah ilmu.

    Menariknya, saya bukan hanya belajar yang berkaitan dengan jobdesk saya, tapi justru saya banyak belajar dari hal-hal lain. Seperti belajar memahami karakter rekan-rekan kerja, misalnya. Dan saya nggak berhenti bersyukur karena saya di beri rekan-rekan kerja yang asik dan menyenangkan. Serta tidak segan-segan membantu ketika saya mengalami kesulitan, baik dalam bekerja maupun dalam beradaptasi. Dari rekan-rekan kerja saya lah saya banyak mendengar cerita mereka. Ada yang terpaksa meninggalkan anaknya yang masih balita demi membantu keuangan keluarganya, ada yang rela berangkat pagi-pagi buta demi supaya nggak telat bekerja, ada yang ikhlas berjauhan dengan istri dan anaknya karena tempat kerja dan rumah jaraknya jauh. Dan ada yang awalnya menjadi OB, satpam dan kini berhasil menduduki posisi jabatan yang strategis. 

    Sejauh ini saya menikmati pekerjaan saya, mensyukuri setiap peluh dan rasa capek yang saya dapatkan. Karena sekali lagi, untuk mendapatkan pekerjaan ini, saya sudah menunggu bukan hanya dengan usaha yang keras, tapi juga dengan doa yang tak pernah putus :)

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Gambar dari laruno.com
    Pulang adalah satu kata yang memiliki definisi bagi setiap orang. Bukan hanya sekedar mengantarkan raga ke tempat tujuan masing-masing, tapi juga selalu ada perasaan dan cerita yang di bawa.

    Bagi seorang TKI yang sudah bertahun-tahun bekerja di luar negeri dan bisa kembali ke tanah air, pulang mungkin adalah sebuah mimpi yang akhirnya dapat terwujud. Sekian lama tepisah jarak dan perbedaan waktu dengan suami, istri, anak dan anggota keluarga lain, menjadikan pulang sebagai sesuatu yang mahal. Dia rela menukarnya dengan pekerjaan yang gajinya tak sedikit dan berhadapan dengan resiko ketidakpastiaan nasib karir mereka setelah pulang. Semua itu hanya untuk bertemu, memeluk mereka, menyentuh pipi dan tangan, mengobrol dan bertatapan langsung dengan mereka. Dan dia membawa perasaan rindu yang selama ini ia tekan kuat-kuat dan hanya dapat di salurkan lewat dunia maya.

    Bagi seseorang yang sudah bekerja seharian, pulang adalah sesuatu yang di nanti bahkan sebelum menginjakkan kaki di kantor. Pulang bukan hanya membebaskan mereka dari beban pekerjaan untuk sementara waktu, tapi juga kesempatan untuk mengistirahatkan raga dan jiwa mereka agar tetap sehat dan waras.
    Meskipun hanya sejenak, ada rasa syukur yang diam-diam menyelinap di dalam hati. Ada yang menunggu dan menyambutnya di rumah, ada yang sudah menghidangkan makanan untuknya di atas meja, ada yang memeluknya dengan hangat, serta ada yang meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita atau keluh kesahnya. Pulang bagi mereka adalah kebahagiaan sederhana yang bernilai, karena bertemu orang-orang tercinta dapat membuat lelah mereka berkurang. Menjadikannya penyemangat dalam bekerja dan alasan kuat untuk tetap kembali.

    Dan bagi sebagian orang, pulang adalah sesuatu yang biasa saja. Rutinitas rutin tanpa makna. Tidak ada yang spesial selain ingin makan, mandi, tidur dan besoknya kembali beraktivitas. Tidak ada orang yang harus di sapanya, tidak ada orang yang ingin di ajaknya mengobrol dan segalanya berjalan dengan sangat cepat. Pulang bagi mereka mungkin hanya sebagai singgah sementara, terlebih karena tidak ada tempat tujuan lain.

    Bagaimana definisi pulang bagi kamu? :)

    Love.
    Amelia Utami
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Gambar di ambil dari goodreads.com
    Sinopsis :

    Dalam dunia penerbangan, di kenal dengan istilah critical eleven, sebelas menit paling krisis di dalam pesawat-tiga menit setelah take off  dan delapan menit sebelum landing- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

    In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah -delapan menit ketika senyum, tindak tanduk dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

    Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

    ****

    Sebelum bahas review-nya, saya mau curhat sedikit. Saya agak kapok baca novel jenis metropop, salah satunya adalah karena tipe ceritanya hampir sama : gaya hidup hedon dan kebanyakan tokohnya sempurna banget. Tapi pas lagi beli buku di toko buku online, Critical Eleven membayangi pelupuk mata saya terus. (Alah!). Apalagi katanya ini cerita panjang dari cerpen Ika di kumcer Autumn Once More dan banyak mendapatkan pujian.
    Setelah perang batin selama berminggu-minggu, (Iya, saya orangnya seribet itu kalau beli barang, termasuk buku), akhirnya memutuskan untuk beli karena tertarik membuat review-nya. Dengan ekspektasi NOL besar.

    Daaaan ini lah hasilnya :


    1. Oke, mungkin ini sudah jadi khasnya novel metropop yang susah di hilangkan : banyak kata-kata bahasa Inggris dan dialog gado-gado Indonesia-Inggris. Di halaman-halama awal, saya baca sambil di temani oleh google translate. Serius! Entah karena kemampuan bahasa Inggris saya belum jago atau kata-kata Inggris Ika terlalu njlimet. But thanks God, di halaman-halaman selanjutnya, dialog bahasa Inggrisnya lebih mudah di mengerti. 
    2. Ika menjelaskan sesuatu dengan cara berputar-putar. Mengajak pembaca untuk membaca informasi-informasi yang di tulisnya sebelum sampai ke inti cerita. Membahas tentang kopi, judul-judul film (saya menyerah membaca judul-judulnya, yang saya tau cuma film Breakfast at Tiffany's yang di sebutkan disana), judul-judul buku dan tempat-tempat makan di Jakarta (mulai pinggir jalan sampai fancy place). Awalnya saya antusias, tapi lama-lama agak jenuh. Kenapa nggak langsung ke inti ceritanya aja sih? 
    3. Terlepas dari itu, I like the information that is given by Ika. Yes, sure, menambah informasi baru. Termasuk saya jadi tau jenis-jenis kopi, kerjaan management consultant itu gimana dan oh yeah harga sepatu Louboutin! Jadi, suatu hari kalau saya jadi orang kaya raya (ngimpi dulu boleh ya?), saya nggak kaget atau baca istighfar berkali-kali pas mau beli sepatu dengan harga yang hampir sama dengan harga cicilan KPR.
    4. Ceritanya sebenarnya biasa. Tentang konflik rumah tangga. Tapi Ika "meraciknya" cantik banget. Alurnya maju-mundur, tapi smooth dan nggak bikin bingung. Konfliknya dapet. Diceritakan dengan sudut pandang Ale dan Anya secara bergantian. Berhasil membuat saya sirik, baper, senyam-senyum dan terharu dalam waktu yang berdekatan!
    5. I love so damn much, Ale! Terserah orang-orang pada suka Harris, adik Ale. (sudah di ceritakan Ika dalam novel Antalogi Rasa). Saya tetap lebih milih Ale. Saya suka dia memperlakukan istrinya dan karena dia rajin sholat (hahaha penting nggak sih?). But come on, kalau ada cowok ganteng, kaya, baik hatinya kurang ajar banget, plus rajin sholat, kenapa nggak pilih dia? Iya, kan? *swing swing
    6. Saya nggak terlalu simpati sama Anya. Menurut saya dia itu agak-agak selfish, childish,...whatever it! Saya tau dia berduka dan terluka, tapi tapi tapi dia nggak buta kan kalau Ale cinta mati sama dia dan mau memperbaiki kesalahannya dengan tulus? zzzz.
    7. Endingnya. Saya bengong beberapa detik pas baca halaman terakhir. "Eh, beneran ini udah beres?". Lah, bener. Udah beres. Antara lega dan nggak rela ceritanya selesai. Yaaah padahal saya mau tau reaksi Ale waktu Anya kasih tau kalau dia...*ah udah ah tar spoiler
    8. Suka covernya dan pembatas bukunya yang bergambar boarding pass. Unik aja sih.
    9. Banyak kata-kata quoteble yang berseliweran. Favorit saya adalah :

    "It's even said that expectation is the root of all disappoinment" (hal.14)

    Yes, right. Kata saya dalam hati.

    "Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita" (hal 252)


    ****

    Well, saya harus mengakui, Critical Eleven menjadi novel metropop pertama favorit saya. Ika masih memasukkan barang-barang branded dan tempat-tempat fancy, tapi space-nya tidak dominan. Hanya selintas-selintas di sebutkan. Ika concern pada cerita, pada konflik yang di bangunnya dan...berhasil menurut saya. I'm totally agree Critical Eleven is the most anticipated book of the year!

    notes : 
    Saya perhatiin kayanya penulis novel Indonesia ini sukanya memilih profesi untuk tokoh utama laki-lakinya adalah tukang ngebor minyak di luar negeri. Entah di negara manapun. Di novel 23 Episentrum, tokoh Prama, bekerja di Kilang Minyak di luar negeri. Di novel Sabtu Bersama Bapak pun demikian, di ceritakan tokoh Satya berprofesi sejenis. And then now...Critical Eleven!. Kayanya suka yang ngebor-ngebor ya? hihihi.

    Love.
    Amelia Utami.
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    No komentar
    Lokasi :

    Jalan Mariwati Km.7, Desa Kawungluwuk,
    Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur, Jawa Barat.

    Tiket : 30.000/orang


    Untuk kedua kalinya saya mengunjungi tempat wisata ini, sempat kaget karena banyak perubahan di sana-sini, juga harga tiket yang naik 10ribu. Yang lainnya sih nggak ada yang berubah, bunga-bunganya tetep fresh, tempatnya semakin bersih, dan yang jelas Taman Bunga ini bisa di jadikan wisata alternatif untuk berlibur atau sekedar mengisi waktu luang.


    Loket Tiket










    Pohon Jodoh
    Taman Perancis

    Note : 
    Jangan heran kalau kalian melihat banyak turis Arab, karena di sekitar taman bunga ada kampung Arab. Sampai ada restoran Arab juga nih di komplek wisata hihi.



    Love.
    Amelia Utami
    #30hariproduktifmenulis

    ****

    FOTO MILIK PRIBADI. DILARANG MENGAMBIL TANPA IZIN.
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    2 komentar
    Kalau ada yang tanya, apa hobi saya, saya akan menjawab dengan lantang :

    1. Menulis
    2. Membaca Novel
    3. Menonton Drama Korea

    Yup betul, semua hobi itu di lakukan di dalam rumah! Tidak ada pemandangan gunung, pantai, atau gedung-gedung tinggi. Hobi saya bisa di lakukan sambil duduk, tengkurap, tidur-tiduran bahkan tidur beneran. Nggak usah pake baju bagus-bagus, cukup pake baju rumah atau daster sekalian. Mau nggak pake baju? terseraaaaah!.

    Ada yang nganggap hobi saya aneh, karena dia liat saya nggak pernah ngerasa bosan. Ada, nggak ada duit, katanya saya tetep seneng-seneng aja. Lah ya iyalah, orang hobi saya murah. Kecuali saya hobi ngoleksi berlian, baru deh kalang kabut.

    Bandingkan dengan dia katanya, kerja hampir tiap hari. Dapet gaji, bela-belain nabung, lalu jalan kesana kemari. Anehnya, dia ngerasa nggak begitu bahagia walaupun udah buang duit banyak.  
    Giliran saya yang sirik. Rasanya pengen bilang, "Eh, justru elo yang enak kaliiiii. Bisa mengunjungi tempat-tempat baru. Daripada gue, diem di rumah. Lama-lama bisa bertelor!"

    Akhirnya saya jawab, "Mungkin travelling bukan hobi kamu, tapi cuma sekedar memenuhi kebutuhan aja. Karena penat di kantor, ya kamu butuh liburan".

    Temukan hobi. Itu mungkin hal yang sepele. Tapi sebenarnya sih cukup krusial. Hobi itu bukan sekedar kegiatan di waktu luang, tapi juga salah satu yang bikin kita  tetap waras. Tetap bahagia. Walaupun kata orang lain hobi kita aneh, abaikan. Selama hobinya itu hal-hal yang positif. Bukan hobi ngoleksi narkoba atau nyolong duit. 

    Bagi saya, di sebut hobi itu jika kita melakukannya berkali-kali dan perasaan kita tetap sama saat melakukannya, yaitu bahagia, antusias, rileks dan lain-lain. Itu yang saya rasakan. Lagi sedih, terus nonton drama korea, rasanya seperti di hibur. Bisa ketawa lagi atau minimal senyum. Lagi bete, baca novel, rasanya kaya di ajak ngomong. Lagi putus asa, terus menulis, rasanya kaya beban tuh pelan-pelan di angkat. Ya semacam itu lah.

    Hobi itu kaya pelampiasan positif saat saya lagi marah, kesel, sedih atau pengen nyekik orang (hahahaha). Orang yang tidak memiliki hobi, mungkin akan melakukan pelampiasan ke hal-hal yang negatif, yang berujung pada merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Dan satu lagi, kalau sesuatu yang kita anggap hobi itu justru membuat kita tambah mengeluh, ya berarti itu bukan hobi. Jangan di terusin. Ngapain? Menyengsarakan!

    Love.
    Amelia Utami
    #30hariproduktifmenulis
    Share
    Tweet
    Pin
    Share
    1 komentar
    Newer Posts
    Older Posts

    Categories

    • DRAMA KOREA (5)
    • KATA BICARA (4)
    • RANDOM (1)
    • REVIEW (49)
    • SahabatDifabel (1)
    • SHARING (24)
    • THOUGHT (81)
    • TRAVEL (17)

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2020 (2)
      • ▼  November 2020 (1)
        • Dilema Penulis Pemula
      • ►  Januari 2020 (1)
    • ►  2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (1)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (7)
      • ►  November 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (1)
      • ►  Maret 2018 (2)
      • ►  Februari 2018 (2)
      • ►  Januari 2018 (1)
    • ►  2017 (47)
      • ►  Desember 2017 (3)
      • ►  November 2017 (2)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  September 2017 (5)
      • ►  Agustus 2017 (8)
      • ►  Juli 2017 (6)
      • ►  Juni 2017 (4)
      • ►  Mei 2017 (6)
      • ►  April 2017 (3)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (5)
      • ►  Januari 2017 (2)
    • ►  2016 (23)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (4)
      • ►  September 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (3)
      • ►  Juni 2016 (2)
      • ►  Mei 2016 (1)
      • ►  April 2016 (3)
      • ►  Maret 2016 (1)
      • ►  Februari 2016 (2)
    • ►  2015 (44)
      • ►  Desember 2015 (2)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  Oktober 2015 (1)
      • ►  Agustus 2015 (4)
      • ►  Juli 2015 (5)
      • ►  Juni 2015 (6)
      • ►  Mei 2015 (15)
      • ►  April 2015 (1)
      • ►  Maret 2015 (3)
      • ►  Februari 2015 (3)
      • ►  Januari 2015 (2)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Desember 2014 (2)
      • ►  November 2014 (2)
      • ►  Oktober 2014 (1)
      • ►  September 2014 (4)
      • ►  Agustus 2014 (5)
      • ►  Juli 2014 (4)
      • ►  Juni 2014 (1)
      • ►  Mei 2014 (1)
      • ►  Maret 2014 (3)
      • ►  Februari 2014 (2)
    • ►  2013 (7)
      • ►  Desember 2013 (1)
      • ►  Agustus 2013 (2)
      • ►  April 2013 (2)
      • ►  Januari 2013 (2)
    • ►  2012 (13)
      • ►  Desember 2012 (2)
      • ►  Oktober 2012 (1)
      • ►  September 2012 (1)
      • ►  Agustus 2012 (4)
      • ►  April 2012 (4)
      • ►  Februari 2012 (1)

    Pinterest

    Visitors

    Followers

    Populer Post

    • Review Dilan Bagian Kedua : Dia adalah Dilanku Tahun 1991
      Hai, karena saya lagi "libur" puasa dan kebetulan laptop kakak saya lagi nggak di pake, ijinkan saya melanjutkan kembali posting...
    • Bulan Ramadhan : Waktunya untuk Lebih Intropeksi Diri
      Hai, baru bisa  update posting #30hariproduktifmenulis. Sebenarnya ini murni karena kemalasan saya. Maafkan *salim*. Karena sekar...
    • Pengalaman Belanja Buku Via Online
      Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan sebuah akun... Membeli dan membaca buku adalah salah satu hobi saya yang cukup konsist...
    • Pengalaman Menjalankan Diet GM
      Duh, sebenarnya geli ya bikin postingan tentang diet. Seumur hidup saya nggak pernah menjalankan diet karena badan saya pernah terlalu...
    • Jangan Terjebak Cinta yang Rumit
      Perlu di sadari, kehidupan cinta di kehidupan nyata sangat berbeda dengan kehidupan cinta dalam drama korea. Apapun bisa terjadi ...

    Profil

    Foto saya
    Amelia Utami.
    Random blogger. Kadang suka nulis serius, kadang galau, tapi lebih sering curhat.
    Lihat profil lengkapku

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates